Birthday Present

Mungkin karena usia yang semakin tua, aku semakin memaknai hidup lebih dalam. Aku baru saja mendapatkan hadiah ulang tahun terbaik, meskipun telat 4 hari. Hadiah terbaik dari orang baik.

Tanggal 13 September kemarin, kelompok ketrampilan klinik dasarku sepakat untuk pergi ke sebuah kedai ayam goreng, karena salah seorang dari kami ingin mentraktir makan siang. Iya, dia sedang berulang tahun hari itu. Sesampainya disana, kami melakukan ritual umum saat ulangtahun: tiup lilin-potong kue-unggah foto ke snapgram. Tidak berapa lama kemudian, ada seorang pengamen berdiri di depan pintu. Kami hanya menoleh sejenak, kemudian sibuk bermain dengan ponsel masing-masing. Tapi, tiba-tiba temanku yang sedang berulang tahun membuka pintu. Kami kira ia hanya akan memberi recehan pada bapak pengamen, ternyata ia mempersilakan masuk bapak tersebut. Kami kaget, suasana hening diikuti sorot mata tak terdefinisi dari kami. Pernah lihat video proyek sosial yang sering muncul di lini masa Line dimana orang-orang kurang mampu finansial diberi makanan mahal dan direkam reaksinya? Apa yang dilakukan temanku ini mengingatkanku pada hal tersebut. Dan ini bukan proyek sosial untuk meningkatkan rasa empati manusia melalui media sosial, ini hanyalah temanku, di hari ulang tahunnya sedang ingin mentraktir teman-temannya dan tak sengaja ada pengamen datang, jadi kenapa tidak diajak sekalian saja. Ini temanku, yang tidak terlihat seperti orang yang suka mengkampanyekan hak asasi manusia atau lain sebagainya di media sosial. Ini hanya temanku yang sedang lapar kemudian melihat seorang pengamen yang juga terlihat lapar lalu kenapa tidak makan bersama saja. Lalu ia mengambil sepotong kue ulang tahun untuknya sendiri, dan menyodorkan sepotong lain untuk bapak pengamen, yang disambut dengan senyum sungkan. Saat kami semua selesai makan, ia membayar di kasir, ia juga meminta beberapa bungkus ayam goreng. Untuk istri sama anak di rumah ya, Pak, ucapnya saat memberikan bungkusan tersebut pada bapak pengamen. Aku tertegun. Ini temanku, yang usianya lebih muda dariku 4 hari, yang kesehariannya merayu gadis-gadis satu angkatan, yang jarang nongkrong di kafe-kafe mahal, yang tidak pernah mencatat materi tutorial tapi hafal dari anatomi sampai patofisiologi, yang tidak pernah berhenti bercanda dan menyapa semua orang. Kemudian aku melihat cermin panjang di dinding kedai, itu aku, yang masih berfikir dua kali untuk memberi; tapi aku belum ke salon, belum beli rok baru, belum beli kemeja baru. Aku yang merasa peduli pada umat manusia tapi hanya sedikit saja kontribusi dalam implementasinya.

Hari itu, aku belajar dari seorang teman tentang kerendahan hati dan tentang rasa empati. Hari itu, andai dia tahu, ialah kado terindahku selama 20 tahun aku hidup. Aku tidak dapat tas, atau sepatu, atau gamis baru, tapi aku dapat pelajaran untuk berhenti berpikir banyak-banyak dan mulai memberi.

 

 

 

Advertisements