Owned

“He doesn’t deserve you then.”

Sebuah chat yang masuk pukul 11 malam dari seorang kawan saat sesi curhat colongan membuatku ingin tertawa. Kubalas dengan nada bercanda, “iyalah, yang deserve aku ya bapakku.” kemudian dia menyetujui. Tapi tunggu, sebenarnya siapa yang benar-benar berhak atas diriku?

Usiaku 19 tahun, dan selama menjalani hidup aku masih sering mengeluhkan kulitku yang tidak cerah, hidungku yang tidak mancung, mataku yang tidak simetris, gigiku yang besar-besar, dan masih banyak lagi. Aku tidak pernah berpikir aku terlihat cantik, dan memang kenyataannya seperti itu. Diluar sana, banyak orang merasakan hal serupa. Namun aku cukup beruntung karena tidak pernah dirundung karena hal fisik, yang banyak dialami orang lain dengan fisik mereka. Aku terkadang, atau seringkali, menjadi salah satu orang yang merundung, walau tidak secara langsung. Aku tidak bangga, jelas saja karena itu bukan hal terpuji. Tapi saat ini ketika aku melihat cermin, aku melihat diriku dengan berbeda. Aku tidak cantik, tapi aku punya senyum yang lebar kata mereka, dan menurutku lumayan cerah. Mataku tidak simetris, tapi aku punya bulu mata yang mekar seperti bunga walau tertutup kacamata. Hidungku tidak mancung, tapi ia terlihat harmonis dengan bibir segitigaku. Badanku kurus, tapi aku selalu merasa gendut, bukan karena aku tidak bersyukur, tapi karena dulu memang aku 10kg lebih kurus dari ini. Meskipun aku bilang aku gendut, aku senang, ini yang kumau. Aku melihat cermin dan melihat diriku sendiri seraya berpikir, “ini orang yang harus dilihat orang lain sebagai diriku.” dan ketika aku merasa baik-baik saja melihat diriku sendiri setiap hari, sekarang aku merasa tidak perlu panik kalau orang lain melihatku dan mengomentari sesuatu. Aku sudah melihatnya setiap hari, orang tersebut pasti juga akan terbiasa. Jadi aku oke saja dengan komentarnya. Ini berdampak pada caraku melihat orang lain. Tentu saja aku masih bergumam dalam hati tentang fisiknya, karena manusia diciptakan untuk berprasangka. Tapi aku santai dengan gumamanku, aku tidak perlu bertanya mengapa kulit mereka berjerawat, karena memang itu yang tubuh mereka pilih untuk ditunjukkan. Dan jika dia sanggup melihatnya setiap hari, mengapa aku yang hanya melihatnya beberapa jam harus repot berkomentar? Ketika orang lain memakai baju yang menurutku tidak cocok, mengapa aku harus bertanya padahal mereka biasa saja dengan gaya itu? Aku ingin bilang kepada orang-orang ketika aku nyeletuk ‘wow kamu gendutan!’ berarti aku bahagia untuk mereka. Aku ingin mereka tahu bahwa tidak apa-apa, kamu yang melihat dirimu setiap hari, aku oke dengan itu dan kamu tidak perlu kaget untuk menguruskan diri segera. Pun sama ketika orang lain bilang padaku, ‘kamu kok iteman?’ aku hanya akan menjawab ‘iya habis diklat.’ niat mereka bukan menyuruhku berubah, mereka hanya apresiasi perubahanku. Selama kalimatnya tidak diikuti dengan, ‘harusnya kamu blabla’ berarti santai saja, itu hanyalah ekspresi kaget, bukan berarti menginginkan kita berubah.

Pada akhirnya jawaban dari siapa yang berhak atas diriku ialah aku sendiri. I’ve been dealing with myself, I’ve had enough battle with myself, I was the only one in my room when I cried alone, aku yang bersama diriku setiap hari. Aku berharap aku bisa selalu sesayang ini kepada diriku sendiri.

Thankyou for not hurting yourself,

Thankyou for not hurting others,

Thankyou for accepting yourself.

I am owned, by me, and I’m grateful.

P. S tentu saja Allaah lebih berhak lagi, for He is the one Who hold my life between His fingers.

#SembilanMinusLima

Advertisements