Apresiasi

There will come a time when there are no human beings remaining to remember that anyone ever existed or that our species ever did anything. There will be no one left to remember Aristotle or Cleopatra, let alone you. Everything that we did and built and wrote and thought and discovered will be forgotten and all of this will have been for naught. Maybe that time is coming soon and maybe it is millions of years away, but even if we survive the collapse of our sun, we will not survive forever. There was time before organisms experienced consciousness, and there will be time after. And if the inevitability of human oblivion worries you, I encourage you to ignore it. God knows that’s what everyone else does.

Entah pada bab berapa di buku The Fault in Our Stars, seorang Gus bercerita tentang ketakutannya, oblivion; dilupakan.

Aku pun sering bertanya-tanya, kelak saat aku dimakamkan, berapa orang yang akan menangis? Seminggu setelahnya, siapa yang masih merindukan kehadiranku disisinya? Setahun kemudian, siapa yang mengingatku setiap lewat warung makan favoritku, atau mendengarkan musik kesukaanku? Aku, seringkali, merasa takut dengan kondisi bahwa suatu saat nanti orang akan terbiasa dengan keadaan tanpaku.

Tapi sebagaimana jawaban Hazel Grace memukau Gus, jawaban tersebut juga menyadarkanku akan suatu hal. Jika Cleopatra yang kecantikannya fenomenal mungkin akan terlupakan beratus tahun lagi, bagaimana denganku yang, yah, tahu sendiri, kan? Prestasiku juga sebatas berhasil bangun pagi di hari Minggu, bukannya menemukan mobil terbang atau apalah. Bisa saja orang melupakanku tepat tiga bulan setelah aku tidak lagi hidup, kan? Aku jadi sadar, betapa bio twitter Chloe Moretz sekitar tahun 2012 yang saat itu membuatku berpikir, ‘ini artinya apa ya’ ternyata masuk akal. Living life to the fullest. Dalam pengertianku, artinya hiduplah sehidup-hidupnya. Bukan agar tidak bisa terlupakan, tapi untuk mengenang diri sendiri saat masih hidup, to discover ourselves. Untuk hidup dan tidak menyesalinya, menghadapi mati dengan ‘Aku sudah hidup, kini aku akan mati’ dan berpikir bahwa itu hanyalah siklus normal.

Hal yang cukup berat untuk menerima suatu hari kita akan mati, walaupun kita tahu kita tidak bisa menolaknya. Aku, di sisa umur belasanku ini, mengerti kalau hidupku belum sehidup-hidupnya. Dan kurasa sampai mendekati mati pun kecil kemungkinan aku akan berpikir telah menjalani hidupku dengan cara terbaik. Aku mungkin kelak bersatu dengan penyesalan-penyesalan akan kesempatan yang tidak kuambil, atau kesempatan yang kuambil namun gagal. Tapi bukan berarti orang lain sepertiku, yang walaupun mampu memaknai living life to the fullest sepenuh hati, aku ragu bisa menjalaninya. Bukan berarti orang lain juga sama. Itulah mengapa aku suka dengan apresiasi. Aku ingin setidaknya ketika orang lain gagal dalam usahanya menjalani hidup sehidup-hidupnya, aku tidak menjadi salah satu penghambat itu. Aku ingin ketika denganku, mereka merasakan satu letupan pikiran ‘iya, aku bisa menjalani hidupku dengan hidup!’. Aku ingin mereka merasa bahwa usahanya tidak sia-sia, dan mereka tahu aku setuju. Aku suka apresiasi, walaupun dalam banyak kesempatan aku masih melupakannya, suatu hari nanti, aku ingin menjadi sosok yang mendorong orang lain agar tidak berkecil hati. Membiarkan mereka lelah tapi bahagia karena mereka tahu aku tahu, aku merasakan kelelahan mereka, dan aku bangga akan hal itu. Aku ingin dengan adanya aku, mereka merasa hidup nyatanya tak seburuk yang mereka duga, dan kata dilupakan tidak terdengar seram, karena di suatu waktu di hidup mereka, aku ada dan hidup masih baik-baik saja. Dan dengan itu, aku tak lagi takut akan dilupakan, karena aku hidup dalam hidup mereka.

#SembilanMinusSatu

Advertisements