I

tenanglah, bunda

jika kudapati diriku menangis lagi karena rindu

akan kubuka pintu menuju teras tamu

ada selasar bambu disitu

tempatmu menyanyikanku sebuah lagu

bersimpuh diatasnya pasti mengusir sendu

engkau ceria, bunda

dan aku yakin aku pun begitu

tenanglah, bunda

kalau hidup menyapu raut wajahku pias

akan bercermin aku di depan kaca rias

dalam bayanganku mengalir darah wanita berkemauan keras

dengan imaji luas tanpa batas

melihat matamu dalam mataku tentu menumbuhkan senyum seulas

engkau kuat, bunda

semangatmu pasti besertaku selaras

Menetap

Sejauh apa batas pemahamanmu tentang menetap? 

Apakah mengiringi tiap langkah itu menetap? 

Apakah mendengar keluh kesah itu menetap?

Lantas jika tidak dapat kaulihat senyumku, tidak dapat menenangkan letihmu suaraku, tidak dapat kaugenggam hangat tanganku

Apakah aku sudah tidak menetap? 

Ketahuilah, ketika definisimu tentangku adalah semu, ketika dalam bayangmu aku berupa udara bebas yang mustahil ditangkap

Aku menetap

Sebelum pergiku dalam doa yang tak pernah letih kupanjatkan agar selalu memelukmu

Aku menetap

Selepas pergiku sebagai kesatuan suka-duka kenangan yang mengendap dalam hatimu

Seseorang

Sebuah nama yang belum kutahu siapa

Yang wajahnya putih

Atau kecokelatan?

Yang tangannya kekar

Atau lembut?

Yang matanya tajam

Atau sipit?

Yang tawanya merekah

Atau pemalu?

Tidak peduli

Cukup dua pinta

Yang sejuk dipandang

Yang menenangkan hati

Tanpa atau, tidak pakai tapi

Pembeda (Al-Furqān):74 – Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”