Mungkin

Besok. Mungkin.

Baginya, waktu sudah sangat baik, maju satu per satu tiap detik tidak pernah lompat atau terjerembab. Tapi, orang-oranglah yang membuatnya meragukan lagi kebaikan itu. Baginya, waktu sudah sangat santai dengan berjalan di sampingnya bergandengan. Tapi, orang-oranglah yang membuatnya ingin menyeret waktu yang terasa bergerak lambat.

Lusa. Mungkin.

Sebenarnya ia tak masalah mau sendiri, mau berdua, mau berlima, mau satu desa. Tapi entah bagian mana dari tubuhnya—entah itu matanya, atau hidungnya, atau bibirnya, atau tahi lalat di telapak tangannya—yang berteriak bahwa dia butuh sebuah penggenap. Memangnya aku ini apa, pikirnya. Ia suka sesekali bercermin untuk melihat apakah dirinya seganjil itu, hingga tiap mulut bersikukuh ia perlu segera mencari kepingan hatinya yang bahkan ia sendiri saja tak tahu jika pernah hilang.

Minggu depan. Mungkin.

Kadang ia lelah mendengar pujian-pujian tentang dirinya. Halo, cantik. Katanya ia cantik. Halo, pintar. Katanya ia pintar. Kapan punya pacar? Namun akhirannya tetap sama. Apa tidak bisa ia cantik sendiri, pintar sendiri, untuk dirinya atau tukang sapu di ujung perempatan yang sering ia lewati atau penjual rujak yang mengerti ia suka cabai satu atau burung gereja yang singgah di atap kamarnya padahal bukan gereja. Apa tidak bisa ia cantik dan ia pintar untuk dunia. Apa ia harus cantik dan ia harus pintar untuk pacar.

Suatu hari nanti. Mungkin.

Biasanya ia hanya mengangguk dan tersenyum. Waktu yang baik terus difitnah kalau ia sedang maju meggerus usia. Pujian-pujian untuk dirinya menguap bersama dengan ungkapan ayo cepat, mau tunggu apa. Biasanya ia hanya menjawab satuan waktu yang diurutkan. Besok. Lusa. Minggu depan. Suatu hari nanti. Kemudian ia menambahkan kegetiran, ketidakpastian, yang sebenarnya biasa dalam kehidupan namun mulut mereka mengubahnya menjadi sesuatu yang menakutkan. Mungkin.


with the thought of my fairy, G.

and to women. your birth itself is a triumph.

Advertisements

I

tenanglah, bunda

jika kudapati diriku menangis lagi karena rindu

akan kubuka pintu menuju teras tamu

ada selasar bambu disitu

tempatmu menyanyikanku sebuah lagu

bersimpuh diatasnya pasti mengusir sendu

engkau ceria, bunda

dan aku yakin aku pun begitu

tenanglah, bunda

kalau hidup menyapu raut wajahku pias

akan bercermin aku di depan kaca rias

dalam bayanganku mengalir darah wanita berkemauan keras

dengan imaji luas tanpa batas

melihat matamu dalam mataku tentu menumbuhkan senyum seulas

engkau kuat, bunda

semangatmu pasti besertaku selaras

Menetap

Sejauh apa batas pemahamanmu tentang menetap? 

Apakah mengiringi tiap langkah itu menetap? 

Apakah mendengar keluh kesah itu menetap?

Lantas jika tidak dapat kaulihat senyumku, tidak dapat menenangkan letihmu suaraku, tidak dapat kaugenggam hangat tanganku

Apakah aku sudah tidak menetap? 

Ketahuilah, ketika definisimu tentangku adalah semu, ketika dalam bayangmu aku berupa udara bebas yang mustahil ditangkap

Aku menetap

Sebelum pergiku dalam doa yang tak pernah letih kupanjatkan agar selalu memelukmu

Aku menetap

Selepas pergiku sebagai kesatuan suka-duka kenangan yang mengendap dalam hatimu

Seseorang

Sebuah nama yang belum kutahu siapa

Yang wajahnya putih

Atau kecokelatan?

Yang tangannya kekar

Atau lembut?

Yang matanya tajam

Atau sipit?

Yang tawanya merekah

Atau pemalu?

Tidak peduli

Cukup dua pinta

Yang sejuk dipandang

Yang menenangkan hati

Tanpa atau, tidak pakai tapi

Pembeda (Al-Furqān):74 – Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”