Double Exposure

image

“menurutmu aku perlu menanyakan kabarnya atau tidak?”
“untuk apa?”
“ya, kamu tahu, menjaga tali silaturahmi.”
Aku menelengkan kepala sejenak, berpikir. “menurutku selama tidak terdengar dua kabar darinya, semua berjalan baik-baik saja.”
“apa saja?”
“kabar duka, seperti sakit atau meninggal, dan kabar bahagia, misal ketika dia menikah.”
Ia tertawa hingga terlihat barisan rapi giginya. “ada-ada saja. Tapi benar juga sih.”
Aku hanya mengedikkan bahu sembari tersenyum.
Sulit baginya untuk begitu saja bersikap biasa, bersikap seperti laut pasang ketika bulan berjarak dekat dengan bumi. Padahal sebelumnya, bulan mati pun dapat menggulung ombak tinggi dalam hatinya. Ia hanya belum bisa untuk menganggap tak pernah ada apa-apa.
Dan aku tahu itu. Hanya saja aku berharap ia mengerti, tak perlu berlari dari masa lalu, atau berharap kembali ke masa itu. Tak usah. Masa lalu yang bersinggungan dengan masa kini akan membentuk retakan rapuh yang indah: sekeping memori.
                                  ***

Gambar: double exposure di kereta (sok-sokan ceritanya, wkwk) (masih kamera hp belum upgrade) (tapi hasilnya hampir mirip) (alhamdulillaah) (semoga segera)
Cerita: inspirasi di ruang tamu saat seorang teman pamit menuntut ilmu jauh (semoga segera juga)

Advertisements