I promise

you will never be erased

when the memories collapse

into nothingness

I save you there,

on the street you casually took me,

on the third chapter of the book

which smelled like you,

on the night wind that blew

your name,

I torn you into pieces

and keep you

everywhere,

you will never be erased.

 

II

He Who’s knowledge covers the sky and the earth and the unseen world

Send us a light to guide from this dark path

This world has gotten mad, 

Too much words which cannot be defined, 

Is it a true or is it a lie? 

Trying to believe or choosing sides

But everything is twisted nothing seems easy to trust

So which one is right, to talk or to keep quite? 

I

tenanglah, bunda

jika kudapati diriku menangis lagi karena rindu

akan kubuka pintu menuju teras tamu

ada selasar bambu disitu

tempatmu menyanyikanku sebuah lagu

bersimpuh diatasnya pasti mengusir sendu

engkau ceria, bunda

dan aku yakin aku pun begitu

tenanglah, bunda

kalau hidup menyapu raut wajahku pias

akan bercermin aku di depan kaca rias

dalam bayanganku mengalir darah wanita berkemauan keras

dengan imaji luas tanpa batas

melihat matamu dalam mataku tentu menumbuhkan senyum seulas

engkau kuat, bunda

semangatmu pasti besertaku selaras

Menetap

Sejauh apa batas pemahamanmu tentang menetap? 

Apakah mengiringi tiap langkah itu menetap? 

Apakah mendengar keluh kesah itu menetap?

Lantas jika tidak dapat kaulihat senyumku, tidak dapat menenangkan letihmu suaraku, tidak dapat kaugenggam hangat tanganku

Apakah aku sudah tidak menetap? 

Ketahuilah, ketika definisimu tentangku adalah semu, ketika dalam bayangmu aku berupa udara bebas yang mustahil ditangkap

Aku menetap

Sebelum pergiku dalam doa yang tak pernah letih kupanjatkan agar selalu memelukmu

Aku menetap

Selepas pergiku sebagai kesatuan suka-duka kenangan yang mengendap dalam hatimu

Sebelum

indahnya senja datang sebelum malam menjelang

maaf, jika kebaikan yang kau tanam menguap bersama satu kesalahan

ku ingat lagi

bunga mekar sebelum mahkotanya lunglai melayu

maaf, jika sakit hatiku mengabaikan keindahan tutur dan budimu yang lalu

harus kuakui, aku lama untuk mengerti

sebelum abu, engkaulah batang kayu

sebelum api, engkaulah hangat mentari

kini aku akan belajar

sebelum burukmu, kuingat kebajikanmu

agar aku tidak terlambat

sebelum maaf,

datang seusai sesal


(Orang-orang yang bertakwa adalah) mereka yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya serta (mudah) memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS Ali-Imran 3:134)

One day

In Yogyakarta I learnt how people tend to care about each other. Even not all the people do, it gives me feels still.
In Bandung I learnt how friendship means forgiving. The girl’s sigh under the umbrella released my anger, I’ll keep these brats.
Bogor, well, I heard it is the city of rain. Does the sound of big city with cool breeze excite you? For me it does.
London, city made of art. The road, the buildings, but mostly, the literatures. If I could fall in love with voice, I’d fall for british accent first.
But, no matter how some places won my heart, no matter how bad I want to live there, the only place I wanna go every sunset, the only place I wanna crawl on when I’m too afraid to look up, is her lap.

I found love in the warmth of your skin.

Ik mis je. I miss you.