That Day the Sky Looked So Grey

Dulu sekali waktu kecil, aku sering bermain di tanah lapang setiap sore, atau di pantai setiap minggu pagi. Langit dulu terlihat luas, sangat menakutkan bagi bocah ingusan sepertiku. Entah apa yang ada di otakku, tapi setiap kali akuĀ terlentang menghadap langit, hatiku selalu berdebar-debar. Aku selalu merasa akan ada sesuatu yang menarikku ke langit dengan keras dan cepat menuju bentangan biru tanpa batas. Dan percayalah, perasaan itu cukup membuat tercekat tenggorokan karena aku membayangkan jika aku ditarik ke atas sana, akan sampai dimana aku nantinya?

Sekian belas tahun berlalu, rasa takut itu berkurang seiring dengan kedewasaanku yang bertambah. Mana mungkin aku tiba-tiba tertarik ke atas sana, memangnya ada tali sepanjang itu? Apa yang akan menarikku? Ada-ada saja. Dan tadi pagi, tiba-tiba perasaan itu datang lagi. “korbannya silahkan tiduran.” kata salah seorang anggota SAR dalam simulasi water rescue. Aku tidur di atas rescue boat, dan teman-teman mulai memasang colar breast serta tali-tali ke badanku. Mataku membuka ke atas, dan langit terlihat benar-benar luas. Kali ini ia abu-abu, bukan biru. Ketakutan masa kecil yang kembali membuatku berpikir, kalau aku benar-benar “ditarik” keatas sana dengan keadaan saat ini, sampaikah aku di hadapanNya? sudikah Ia menemuiku?

Aku menutup mata. Langit luas tampak abu-abu hari ini.

Ah, tiba-tiba hatiku juga.