three musculus

334997f88a10fc5f7f1571f8aca8767b

source: https://www.pinterest.com/pin/361062095108557422/

tahukah kamu?

ternyata kita hanya butuh setidaknya 3 musculus untuk merubah dunia! scientifically approved!

wah, bagaimana bisa ya?

bisa dong!

3 musculus tersebut antara lain: M. zygomaticus major, M. orbicularis oculi, M. levator anguli oris.

ditengah hiruk pikuk polemik yang katanya SARA di negara tercinta ini, aku juga nggak mau kalah ingin menyuarakan pendapat seperti mereka-mereka di line, facebook dan twitter. they call it democracy don’t they? kebebasan berpendapat? nah tetapi sayangnya, aku nggak begitu memahami hukum yang sedang diperdebatkan, pun nggak begitu mengerti seluk beluk agama yang bersangkutan karena aku sadar, aku masih cupu): daripada aku ngomong nggak berdasar, jadi aku nggak mau bahas masalah politiknya, aku mau bahas apa yang kurasa bisa menumpas hampir seluruh masalah di muka bumi, yaitu….senyum.

*kemudian semua negara senyum massal*

sebagai seorang (insyaAllaah) muslim, aku diajarkan bahwa senyum itu penting. senyum setara dengan uang! ketika kita berwajah manis dihadapan saudara muslim lainnya maka kita sudah dianggap bersedekah. dan tahukah apa imbalan dari sedekah? rezeki yang dilipatgandakan! rezeki itu ternyata bukan melulu tentang harta atau tahta apalagi raisa dan isyana, rezeki itu banyaaak banget bentuknya. salah satunya kedamaian. jadi misalnya nih, si A suka tersenyum, maka diberilah kedamaian di rumahnya. yang kemudian si B ikut tersenyum, si C juga tersenyum, sehingga kedamaian itu akhirnya melingkupi satu desa. hanya karena senyum. rezeki yang indah, bukan?

menurut seorang dokter spesialis forensik yang mengajarku saat blok 4 lalu, senyum itu hanya butuh minimal 3 otot, seperti yang sudah aku sebutkan. murah kan ya? ototnya sudah ada dari lahir tanpa harus beli lagi kan ya? tapi senyum itu masih susah bagi kebanyakan orang, termasuk diriku sendiri. padahal senyum dan damai ini lingkaran malaikat; ketika suasana damai kita akan tersenyum, ketika kita tersenyum maka suasana akan jadi damai. wahahaha so easy. lantas apa yang membuat kita malas tersenyum sehingga damai tidak kunjung tercipta?

1.) menomor satukan prasangka. setiap orang itu terlahir baik, maka kita harus berpikir bahwa sejahat-jahat orang sebenarnya dia dulu ialah orang baik, ya meskipun waktu masih bayi hehehe. dengan begitu, keburukannya hanya akan menjadi sebuah sifat tidak terpuji, takkan menyurutkan keinginan kita untuk berbaik hati padanya, saling mengingatkan, dan tentunya the basic thing, tersenyum.

2.) memuja ego. menginginkan sesuatu itu wajar, tapi jangan sampai menghalangi kita untuk bersikap memanusiakan orang lain. hanya karena ingin jadi juara kelas akhirnya sebel sama saingan terberat dan nggak pernah menyapa. boro-boro nyapa, senyum aja males. waduh gawat kalau sudah begini, ego bisa melalaikan kita dari langkah kecil menciptakan perdamaian.

jadi mulai sekarang kalau ada orang cemberut towel aja dagunya sambil bilang “eh senyum dong biar cakep”, tapi jangan ke dosen lagi bad mood di towel juga dagunya ya wkwk. kalau towel dagu terlalu ekstrim, kita bisa tersenyum duluan sambil berdoa dalam hati supaya apapun yang membuatnya cemberut segera dituntaskan oleh Allaah. kalau kitanya yang mulai suntuk dan ada symptoms mau cemberut, segera istigfar dan langsung aja senyum sambil ngomong dalam hati “sebel sama orang lain kayak yang orang tersebut nggak ada baiknya sama sekali dan diri sendiri nggak ada cacatnya aja kamu ih”. kalau kata-kata self-motivation tetap bikin cemberut yaudah nggak apa-apa cemberut aja, tapi sambil senyum(?) atau kalau mau nangis ya nangis aja, tapi sambil senyum juga (?) intinya jangan berhenti tersenyum karena senyum itu mempermudah ikhlas. daaan, kedamaian juga bisa tercipta ketika setiap individu menjalani segala sesuatu dengan ikhlas! kalau gitu mulai sekarang, ayo tersenyum dan jadilah alasan agar orang lain juga tersenyum(:

#StrivingForTheBest

love and in love

suatu hari aku membaca sebuah artikel online, tentang cinta dan jatuh cinta. love and in love. beberapa orang menyatakan bahwa mereka mencintai pasangan mereka, tapi mereka tidak jatuh cinta. dalam artian, tentu saja mereka tidak ingin kehilangan pasangan masing-masing, hanya saja menjaga pasangan mereka tak terasa bagai letupan rasa senang.

dalam rumus jatuh cinta yang aku pahami, kita akan berusaha membahagiakan orang yang membuat kita jatuh cinta tersebut. setiap ia tersenyum terasa seperti epinefrin dalam tubuh, bikin semangat! sehingga usaha-usaha lain akan dilakukan, demi membuatnya tetap tersenyum, dan membuat kita tetap semangat. tapi, di dalam rumus yang aku pahami tadi berlaku juga masa expired. semakin lama, tanpa usaha apapun bahkan orang yang membuat kita jatuh cinta akan selalu tersenyum, sehingga perlahan usaha kita akan berkurang. kita jadi tahu, alasan ia tersenyum bukanlah usaha kita lagi, tapi kita sendiri. awalnya akan terasa membahagiakan, fakta bahwa kitalah sekarang alasannya tersenyum. namun seiring jalannya waktu, cinta tadi akan terbangun, tidak lagi terjatuh. dan, pada saat semua terasa hambar, kita baru akan menyadari, yang membuat semangat ialah usaha kita untuk membuatnya tersenyum, bukan senyumnya.

bayangkan ketika kita ditakdirkan terlahir dalam Islam, dalam jangka waktu berpuluh tahun tersebut, sudahkah kita jatuh cinta paga agama ini, lagi dan lagi, dan merasa selalu semangat menjalaninya?

jadi, mari jatuh cinta!

Pintu hati

Allaah membuka pintu hati orang-orang yang dikehendaki.

Allaah juga menutup pintu hati orang-orang yang dikehendaki.

Yang kutakutkan ialah, aku selalu mengira selama ini hatiku telah dibuka, padahal, perlahan-lahan Allaah sedang menjauhkanku dari-Nya.

):

Say “He is the One”

Bunga butuh tanah yang gembur, zat hara yang melimpah, dan curah hujan cukup agar bisa mekar sempurna. Maka begitu pula cinta manusia, ia butuh hati yang kuat, mental yang siap, dan perasaan yang stabil agar dapat tumbuh merekah.

Namun mencintaiMu bagai menyemai bibit bunga di lahan baru, jika kering Kau tambahkan hujan, jika subur Kau mudahkan penyerapan. Kau menjadi pendorong, penguat dan pelengkap bagi cinta kami agar selalu bersemi.

Sebelum

indahnya senja datang sebelum malam menjelang

maaf, jika kebaikan yang kau tanam menguap bersama satu kesalahan

ku ingat lagi

bunga mekar sebelum mahkotanya lunglai melayu

maaf, jika sakit hatiku mengabaikan keindahan tutur dan budimu yang lalu

harus kuakui, aku lama untuk mengerti

sebelum abu, engkaulah batang kayu

sebelum api, engkaulah hangat mentari

kini aku akan belajar

sebelum burukmu, kuingat kebajikanmu

agar aku tidak terlambat

sebelum maaf,

datang seusai sesal


(Orang-orang yang bertakwa adalah) mereka yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya serta (mudah) memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS Ali-Imran 3:134)

antara doa, sebab, dan akibat

pada umumnya, yang menjadi persoalan ialah diminta atau tidak, jika apa yang menjadi permintaan telah ditakdirkan maka itu pasti terjadi. sebaliknya, jika hal itu tidak ditakdirkan untuk terjadi maka diminta atau tidak, hal itu tetap tidak terjadi.

tidak sedikit orang yang mengira hal ini adalah benar hingga mereka tidak mau berdoa dan menyatakan, “doa itu tidak ada gunanya.” mereka termasuk golongan orang-orang dungu dan sesat, sebab sikap dan pandangan mereka yang kontradiktif. pandangan yang demikian akan memunculkan sikap menafikan segala sebab. buktinya,coba dikatakan, “makan atau tidak makan, jika telah ditakdirkan kenyang dan segar, tentu itu akan terjadi, dan andaikan itu tidak ditakdirkan maka tidak akan terjadi.”

secara keseluruhan, Al-Qur’an dari awal hingga akhir menjelaskan hukum hubungan balasan atas kebaikan dan keburukan, dan juga hukum alam serta sebab-sebabnya. bahkan, keterkaitan hukum dunia dengan akhirat dan kebaikan serta kehancuran dijelaskan juga di dalamnya bahwa semua itu berhubungan dengan sebab dan perbuatan.

barang siapa bersungguh-sungguh memahami permasalahan ini dan mau menghayatinya dengan sepenuh hati, ia akan mendapat manfaat yang tiada terkira. ia tidak akan berpasrah pada takdir secara bodoh, lemah, sembrono, dan sia-sia. jika sampai demikian, kepasrahannya menjadi kelemahannya dan kelemahannya menjadi kepasrahannya.

orang yang benar-benar paham ialah yang menolak takdir dengan takdir, mencegah takdir dengan takdir, serta melawan takdir dengan takdir. tanpa itu, manusia tidak mungkin dapat bertahan hidup karena sesungguhnya rasa lapar, haus, dingin, serta berbagai macam ketakutan dan kekhawatiran merupakan bagian dari takdir.

seluruh makhluk berusaha menolak takdir dengan takdir. begitu juga orang yang mendapat taufiq dan petunjuk dari Allaah SWT. mereka menolak takdir siksaan akhirat dengan takdir bertaubat, beriman, dan beramal salilh. inilah hukum yang berlaku di dunia dan begitu juga sebaliknya.

Tuhan Penguasa dunia dan akhirat adalah tunggal. kebijaksanaanNya juga tunggal, tiada kontradiksi ataupun pertentangan antara yang satu dengan yang lain. hal ini sangat penting bagi orang yang mengerti dan memperhatikan takdirnya dengan benar.

 


 

al-jawabul kafi, solusi syar’i dan Qur’ani atas segala masalah hati

oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Class

assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh

mengutip teh jasmine*, “pertanyaan syar’i atau potensi, bukan salah satunya. bagaimana kita melejitkan potensi kita namun tetap syar’i. percayalah, saat pemahaman kita terus meningkat, dengan sendirinya kita akan memaksa diri kita untuk meninggalkan hal-hal yang tidak syar’i.” saya setuju dengan makna dalam tulisan tersebut, dimana level tiap orang itu berbeda-beda. tingkat pemahaman kita berjarak-jarak, dari A sampai Z. namun tidaklah perbedaan pemahaman tersebut harus dijadikan sebagai pemecah belah. anggap saja begini, kita bersekolah dari TK sampai SMA. berarti ada seorang muslim yang pemahamannya masih tingkat 2 SD, ada pula yang sudah mencapai 2 SMA. ketika muslim kelas 2 SD ini berkata sesuatu yang tidak sepaham dengan muslim kelas 2 SMA, wajar kalau muslim kelas 2 SMA bingung. makna yang mereka tangkap berbeda. apa yang harus dilakukan muslim kelas 2 SMA ketika muslim kelas 2 SD bersikeras dengan pemahamannya? sama seperti yang kita lakukan ketika adik kita berceracau. bersabar. muslim kelas 2 SMA harus memahami bahwa muslim kelas 2 SD belum mengerti, dan sebaiknya ia membimbing muslim kelas 2 SD agar tingkat pemahamannya naik. naik ya, bukan setara. susah juga pemahaman kelas 2 SD disetarakan dengan kelas 2 SMA. sehingga muslim kelas 2 SMA bukannya marah-marah dan mencubit muslim kelas 2 SD karena keras kepala, namun dia mengajari dengan hati-hati, mengupayakan agar muslim kelas 2 SD naik jadi kelas 3, 4 dan seterusnya. dan, sama seperti sekolah juga, kita butuh waktu lama untuk memahami materi. tidak menutup kemungkinan kita stuck di satu materi yang menyebabkan tinggal kelas. tapi jangan keburu di drop out, dalam ilmu agama kayaknya nggak ada drop out juga hehe. terus dibimbing supaya arus ilmu yang terhambat bisa mengalir dengan lancar lagi. begitulah, ketika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan pemahaman kita, kita harus memahami dari setiap sudut pandang tingkatan. dan juga nggak boleh sombong ketika tingkatan kita mungkin lebih tinggi. masa iya kelas 2 SMA sombong sama kelas 2SD? kan kita juga mengalami hal itu, masa-masa dimana kita harus struggling naik tingkat dari TK sampai sekarang. berlaku juga ketika tingkatan kita lebih rendah, jangan keburu menuding yang macam-macam, kita masih belum paham mengapa mereka berlaku demikian. jangan pula minder, karena kita harus terpacu untuk selalu naik tingkat dan menjadi lebih paham dari sebelumnya.

*teh jasmine merupakan media dakwah mahasiswi-mahasiswi unpad, bisa difollow di line @tehjasmine.