Insomnia

gelap malam tidak dapat menghantarkannya pada kantuk. lelahnya selalu luruh ketika ia mulai memejamkan mata, ada sebuah nama di pelupuknya. dia lagi, dia lagi, lirihnya. sudah dua minggu ini kampusnya seperti tidak memberi jeda untuk sekedar bersantai minum teh sembari baca buku. kegiatan baksos, kegiatan peringatan dies natalis, dan serentetan kegiatan lain tanpa henti memenuhi agendanya. disanalah ia bertemu seseorang yang kini tiap malam mengganggu tidurnya. tidak ada yang aneh sebelumnya karena mereka hanya kawan biasa. sesekali mereka hanya bertegur sapa melalui senyum tertahan, tanda segan. namun setelah kepanitiaan cukup besar menggabungkan mereka dalam satu divisi, percakapan mulai bertambah, sesekali diselingi tawa karena ia akhirnya tahu sosok berkacamata itu adalah seseorang yang ceria, walaupun penampilannya bisa dibilang terlalu tua untuk usianya. dibalik kacamata itu ada tatapan yang teduh, ia pernah tak sengaja sekali berpapasan dengan iris hitam miliknya. ia menunduk, pikirannya mulai berpikir tentang betapa bodohnya ia tak memilih baju ungu favoritnya untuk dikenakan hari ini, andai saja ia tahu rapat akan diajukan mendadak ia pasti juga sudah menyeterika jilbabnya sampai licin. sedetik kemudian ia menggeleng, mengutuk diri sendiri yang tiba-tiba terlalu peduli penampilan. namun mata itu tidak serta merta menunduk juga, sepertinya ia tahu ada yang salah tingkah sehingga ia mulai menampakkan barisan rapi giginya sembari menggeleng pelan. betapa rapat hari itu membuatnya ingin cepat-cepat pulang dan mengurung diri seharian di kamar.

angin malam mulai menyusup melalui celah ventilasi, namun hangatnya selimut tidak juga mengundang kantuk untuk datang. nama itu, bahkan wajahnya kini tergambar jelas dalam pejaman matanya. sosok itu antik. dia bukanlah seseorang dengan IP tinggi atau seseorang yang selalu maju ke depan memberi materi. di kelas ia hanya akan duduk dibelakang, mendengarkan dosen sembari menopang dagu tanda mengantuk. ia adalah sosok berpenampilan kutu buku dalam novel yang selalu dibencinya. berkacamata, berpakaian terlalu rapi hingga terkadang ia berasumsi itu adalah baju ayahnya di masa muda. sosok itu suka membaca, sepertinya, namun tidak seperti ia yang jatuh cinta bahkan nyaris gila tanpa buku-bukunya. tidak pula sosok itu menyukai sesuatu yang disukai remaja pada umumnya. olahraga? apalagi hal yang satu itu. sosok itu unik. ia tak habis pikir mengapa sesosok manusia tanpa kelebihan apa-apa mampu membuatnya bertahan diatas kasur tanpa keinginan untuk tidur.

dua jam berlalu. ini sungguh sangat bukan dirinya, ia sangat menghargai waktu istirahat karena aktivitas organisasi dan jadwal kuliahnya yang tidak manusiawi. tidak tidur karena memikirkan seseorang adalah hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. akhirnya ia bangkit, menuju meja belajar dan mengeluarkan secarik kertas dari laci nomor dua. mungkin menulis akan menuntaskan semuanya, pikirnya. dalam hati ia berjanji, tidak akan ada waktu terbuang karena sosok itu  lagi setelah ia menumpahkan segala perasaannya dalam kata-kata.

untukmu, assalamualaikum.

surat ini akan sampai, entah bagaimana caranya, dan aku tak pernah meragukan Ia sang Maha Segala. jikapun tak berwujud kertas, surat ini akan sampai sebagai pemahaman dalam hatimu. kurasa aku tahu kau tahu ada yang berbeda dari sikapku. jangan pernah anggap itu sesuatu, karena itu benar-benar bukan apa-apa (dan kamu juga bukan siapa-siapa). hal paling realistis yang saat ini aku pikirkan adalah, mungkin saja Ia sedang mengujiku melalui kamu. jadi, aku pun akan berusaha untuk bersikap realistis juga, dengan tidak menganggap hal yang saat ini terjadi sebagai kejadian luar biasa. ini alami, ini manusiawi, dan sebagaimana segala sesuatu di alam ini, ia fana. aku bisa jamin itu. dan aku akan bersikap biasa, karena lama-kelamaan semua juga akan berjalan seperti biasa jika aku tidak melebih-lebihkan, iya kan? teruslah bersikap sewajarmu karena akupun akan melakukan hal yang sama. biasanya aku bertemu karakter dari buku kemudian menjumpainya di dunia nyata. dan kamu sedikit berbeda, aku menemukanmu di dunia nyata. belum, belum ada buku dengan karakter sepertimu. mungkin hal itu yang membuatku sedikit terganggu hingga susah tidur. aku akan berusaha menemukan bukumu, kalau tidak mungkin aku sendiri yang akan menulisnya. haha, bercanda. sudahlah, setelah ini tolong pergi saja, aku sungguh-sungguh butuh istirahat. 

sampai jumpa! wassalamualaikum.

ia melipat lembar kertas itu, melemparnya ke tempat sampah dibalik pintu. esok ketika berangkat kuliah bibi akan membuangnya ke luar, semoga saja esok pikiran tentang sosok itu juga berhenti menghantui. ia merebahkan diri ke kasur dan memejamkan mata, masih ada namanya, sosoknya pun masih terlihat samar, kemudian ia terjatuh menuju alam bawah sadar. nama dan sosok itu hilang. entah sementara atau bertahan cukup lama.

 

Double Exposure

image

“menurutmu aku perlu menanyakan kabarnya atau tidak?”
“untuk apa?”
“ya, kamu tahu, menjaga tali silaturahmi.”
Aku menelengkan kepala sejenak, berpikir. “menurutku selama tidak terdengar dua kabar darinya, semua berjalan baik-baik saja.”
“apa saja?”
“kabar duka, seperti sakit atau meninggal, dan kabar bahagia, misal ketika dia menikah.”
Ia tertawa hingga terlihat barisan rapi giginya. “ada-ada saja. Tapi benar juga sih.”
Aku hanya mengedikkan bahu sembari tersenyum.
Sulit baginya untuk begitu saja bersikap biasa, bersikap seperti laut pasang ketika bulan berjarak dekat dengan bumi. Padahal sebelumnya, bulan mati pun dapat menggulung ombak tinggi dalam hatinya. Ia hanya belum bisa untuk menganggap tak pernah ada apa-apa.
Dan aku tahu itu. Hanya saja aku berharap ia mengerti, tak perlu berlari dari masa lalu, atau berharap kembali ke masa itu. Tak usah. Masa lalu yang bersinggungan dengan masa kini akan membentuk retakan rapuh yang indah: sekeping memori.
                                  ***

Gambar: double exposure di kereta (sok-sokan ceritanya, wkwk) (masih kamera hp belum upgrade) (tapi hasilnya hampir mirip) (alhamdulillaah) (semoga segera)
Cerita: inspirasi di ruang tamu saat seorang teman pamit menuntut ilmu jauh (semoga segera juga)

kematian. aku pernah merasa sangat dekat dengannya.

“tolong! tolong!”

teriakan gadis kecil itu keras sekali, wajahnya pucat karena panik melihat tanganku melambai-lambai. dari sini, suaranya hanya terdengar sayup. mungkin karena kerapatan udara di darat lebih tinggi daripada di air, atau bisa jadi karena otakku terlalu sibuk memerintah agar paru-paruku tetap mengembang dan mengempis. mataku mengerjap, dadaku mulai terasa panas. aku butuh oksigen, tapi semakin aku membuka mulut, semakin banyak air yang melewati kerongkonganku. susah payah aku menendangkan kaki agar wajahku muncul ke permukaan. tapi percuma saja, gerakan tubuhku hanya membuatku semakin lelah, dan tidak adanya asupan oksigen yang cukup membuatku limbung. tapi tunggu, aku tidak mau mati dulu. sisa energi yang ada kubuat untuk mendorong tubuhku lagi ke atas. ayolah! sudah berapa menit aku disini? otakku tidak bisa bertahan lebih dari 3 menit tanpa oksigen tapi ini rasanya sudah satu jam aku menendang, meninju, melakukan segara gerakan untuk bisa bernafas. dan hasilnya sia-sia. rupanya tidak ada lagi energi yang tersisa dari tubuhku. suara gadis kecil itu mulai menghilang. kerjapan mataku melemah, hari mulai malam atau sekitarku saja yang mulai gelap? dalam kepayahan itu aku melihat kilasan balik hidupku 18 tahun ini. whoa, kalau aku tidak salah, ini terjadi di film-film ketika pemerannya akan mati. berarti, aku hanya tinggal menunggu waktu. kuputuskan untuk pasrah dan menikmati momen-momen yang otomatis terputar tersebut di pelupuk mataku. aku melihat ibuku, wajahnya masam karena aku mencoret-coret tembok rumah yang baru di cat, dan di sampingnya ada ayah, ia hanya tertawa, sepertinya kenakalanku terlihat imut di matanya. adegan itu lenyap, berganti dengan aku yang menangis memeluk kaki ibu, menggunakan seragam merah putih yang sedikit kebesaran. itu hari pertamaku masuk sekolah dasar. sekelebat adegan lain muncul, dahiku berkerut-kerut meneliti daun yang kubungkus plastik dengan titik-titik embun pada permukaan dalamnya. ini adalah hari dimana aku mulai menyukai biologi di bangku SMP. adegan lainnya muncul, aku sedang terisak di kamar, membaca sms dari sahabatku yang isinya sangat mengejutkan. teman yang sudah kutaksir sejak kelas 8 berpacaran dengan anak pindahan yang masuk di kelasnya, XI IPA 2. aku tersenyum, adegan terakhir yang kulihat ialah aku, menggunakan jilbab biru gelap dengan terusan senada, sedang menyapa sahabat baruku yang baru turun dari motornya, kemudian kami berjalan bersama-sama memasuki ruang kuliah. betapa banyak perubahan yang terjadi padaku selama ini, dan baru kusadari di detik terakhir hidupku. dari balita nakal menjadi seorang mahasiswi pemalu, dari remaja yang mudah dibuai cinta menjadi dewasa yang bahkan harus berpikir dua puluh dua kali ketika menyangkut hal itu. aku tidak tahu, apakah perubahan-perubahan itu cukup untuk membawaku menghadapNya atau membuatku terlempar ke neraka. aku memejamkan mataku, dalam hati aku mengucap doa. entah, akankah aku membuka mataku lagi, apakah itu akan menjadi doa terakhirku.

kemudian sesuatu menarik tanganku keras ke permukaan.

***

20/7/16; 10 pm; bwi

habis renang setelah satu taun nggak nyemplung kolam sama sekali.

 

 

 

some people

she said she knew my style. knew, but cannot describe. she just knew it when she saw a  pair of shoes or a bag or a dress through the mall’s window. “ah sure, it’s you.” she said  as soon as I showed her my new giraffe-and-girl-cartoon-with-blue-sky-as-background designed wallet.

she knew my kind of books and songs and movies. she’d talk to me in the most possible exciting way. “you gotta like this new masterpiece!” and she was right, I liked them.

he knew the poems and authors I liked. he understood my gloomy writings and my 3 a.m delusional thoughts and my criticism towards injustice. “hahaha” mostly he debated, or he just laughed at my immature gestures and babbles.

he knew my love for some sports. he’d share the schedules on dry and wet. “lets see who’s winning” the season ended with a smile on my face; I supported anything correlated with my birthdate, they won a lot.

some people know me

and care

some people doesn’t

know

nor care

or even both.


12.44; bwi

refreshing brain. fingers too, well.