love and in love

suatu hari aku membaca sebuah artikel online, tentang cinta dan jatuh cinta. love and in love. beberapa orang menyatakan bahwa mereka mencintai pasangan mereka, tapi mereka tidak jatuh cinta. dalam artian, tentu saja mereka tidak ingin kehilangan pasangan masing-masing, hanya saja menjaga pasangan mereka tak terasa bagai letupan rasa senang.

dalam rumus jatuh cinta yang aku pahami, kita akan berusaha membahagiakan orang yang membuat kita jatuh cinta tersebut. setiap ia tersenyum terasa seperti epinefrin dalam tubuh, bikin semangat! sehingga usaha-usaha lain akan dilakukan, demi membuatnya tetap tersenyum, dan membuat kita tetap semangat. tapi, di dalam rumus yang aku pahami tadi berlaku juga masa expired. semakin lama, tanpa usaha apapun bahkan orang yang membuat kita jatuh cinta akan selalu tersenyum, sehingga perlahan usaha kita akan berkurang. kita jadi tahu, alasan ia tersenyum bukanlah usaha kita lagi, tapi kita sendiri. awalnya akan terasa membahagiakan, fakta bahwa kitalah sekarang alasannya tersenyum. namun seiring jalannya waktu, cinta tadi akan terbangun, tidak lagi terjatuh. dan, pada saat semua terasa hambar, kita baru akan menyadari, yang membuat semangat ialah usaha kita untuk membuatnya tersenyum, bukan senyumnya.

bayangkan ketika kita ditakdirkan terlahir dalam Islam, dalam jangka waktu berpuluh tahun tersebut, sudahkah kita jatuh cinta paga agama ini, lagi dan lagi, dan merasa selalu semangat menjalaninya?

jadi, mari jatuh cinta!

Advertisements

antara doa, sebab, dan akibat

pada umumnya, yang menjadi persoalan ialah diminta atau tidak, jika apa yang menjadi permintaan telah ditakdirkan maka itu pasti terjadi. sebaliknya, jika hal itu tidak ditakdirkan untuk terjadi maka diminta atau tidak, hal itu tetap tidak terjadi.

tidak sedikit orang yang mengira hal ini adalah benar hingga mereka tidak mau berdoa dan menyatakan, “doa itu tidak ada gunanya.” mereka termasuk golongan orang-orang dungu dan sesat, sebab sikap dan pandangan mereka yang kontradiktif. pandangan yang demikian akan memunculkan sikap menafikan segala sebab. buktinya,coba dikatakan, “makan atau tidak makan, jika telah ditakdirkan kenyang dan segar, tentu itu akan terjadi, dan andaikan itu tidak ditakdirkan maka tidak akan terjadi.”

secara keseluruhan, Al-Qur’an dari awal hingga akhir menjelaskan hukum hubungan balasan atas kebaikan dan keburukan, dan juga hukum alam serta sebab-sebabnya. bahkan, keterkaitan hukum dunia dengan akhirat dan kebaikan serta kehancuran dijelaskan juga di dalamnya bahwa semua itu berhubungan dengan sebab dan perbuatan.

barang siapa bersungguh-sungguh memahami permasalahan ini dan mau menghayatinya dengan sepenuh hati, ia akan mendapat manfaat yang tiada terkira. ia tidak akan berpasrah pada takdir secara bodoh, lemah, sembrono, dan sia-sia. jika sampai demikian, kepasrahannya menjadi kelemahannya dan kelemahannya menjadi kepasrahannya.

orang yang benar-benar paham ialah yang menolak takdir dengan takdir, mencegah takdir dengan takdir, serta melawan takdir dengan takdir. tanpa itu, manusia tidak mungkin dapat bertahan hidup karena sesungguhnya rasa lapar, haus, dingin, serta berbagai macam ketakutan dan kekhawatiran merupakan bagian dari takdir.

seluruh makhluk berusaha menolak takdir dengan takdir. begitu juga orang yang mendapat taufiq dan petunjuk dari Allaah SWT. mereka menolak takdir siksaan akhirat dengan takdir bertaubat, beriman, dan beramal salilh. inilah hukum yang berlaku di dunia dan begitu juga sebaliknya.

Tuhan Penguasa dunia dan akhirat adalah tunggal. kebijaksanaanNya juga tunggal, tiada kontradiksi ataupun pertentangan antara yang satu dengan yang lain. hal ini sangat penting bagi orang yang mengerti dan memperhatikan takdirnya dengan benar.

 


 

al-jawabul kafi, solusi syar’i dan Qur’ani atas segala masalah hati

oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Class

assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh

mengutip teh jasmine*, “pertanyaan syar’i atau potensi, bukan salah satunya. bagaimana kita melejitkan potensi kita namun tetap syar’i. percayalah, saat pemahaman kita terus meningkat, dengan sendirinya kita akan memaksa diri kita untuk meninggalkan hal-hal yang tidak syar’i.” saya setuju dengan makna dalam tulisan tersebut, dimana level tiap orang itu berbeda-beda. tingkat pemahaman kita berjarak-jarak, dari A sampai Z. namun tidaklah perbedaan pemahaman tersebut harus dijadikan sebagai pemecah belah. anggap saja begini, kita bersekolah dari TK sampai SMA. berarti ada seorang muslim yang pemahamannya masih tingkat 2 SD, ada pula yang sudah mencapai 2 SMA. ketika muslim kelas 2 SD ini berkata sesuatu yang tidak sepaham dengan muslim kelas 2 SMA, wajar kalau muslim kelas 2 SMA bingung. makna yang mereka tangkap berbeda. apa yang harus dilakukan muslim kelas 2 SMA ketika muslim kelas 2 SD bersikeras dengan pemahamannya? sama seperti yang kita lakukan ketika adik kita berceracau. bersabar. muslim kelas 2 SMA harus memahami bahwa muslim kelas 2 SD belum mengerti, dan sebaiknya ia membimbing muslim kelas 2 SD agar tingkat pemahamannya naik. naik ya, bukan setara. susah juga pemahaman kelas 2 SD disetarakan dengan kelas 2 SMA. sehingga muslim kelas 2 SMA bukannya marah-marah dan mencubit muslim kelas 2 SD karena keras kepala, namun dia mengajari dengan hati-hati, mengupayakan agar muslim kelas 2 SD naik jadi kelas 3, 4 dan seterusnya. dan, sama seperti sekolah juga, kita butuh waktu lama untuk memahami materi. tidak menutup kemungkinan kita stuck di satu materi yang menyebabkan tinggal kelas. tapi jangan keburu di drop out, dalam ilmu agama kayaknya nggak ada drop out juga hehe. terus dibimbing supaya arus ilmu yang terhambat bisa mengalir dengan lancar lagi. begitulah, ketika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan pemahaman kita, kita harus memahami dari setiap sudut pandang tingkatan. dan juga nggak boleh sombong ketika tingkatan kita mungkin lebih tinggi. masa iya kelas 2 SMA sombong sama kelas 2SD? kan kita juga mengalami hal itu, masa-masa dimana kita harus struggling naik tingkat dari TK sampai sekarang. berlaku juga ketika tingkatan kita lebih rendah, jangan keburu menuding yang macam-macam, kita masih belum paham mengapa mereka berlaku demikian. jangan pula minder, karena kita harus terpacu untuk selalu naik tingkat dan menjadi lebih paham dari sebelumnya.

*teh jasmine merupakan media dakwah mahasiswi-mahasiswi unpad, bisa difollow di line @tehjasmine.