Apa Salahnya Jadi Kaya? 

Esi mengetuk-ngetuk meja belajar dengan telunjuknya yang mungil. Didepannya terbuka buku matematika dasar, tapi pikirannya melanglang jauh melampaui dimensi waktu. 

Siang tadi saat pelajaran Bahasa Indonesia, Bu Ninit membahas tentang cita-cita. Teman-teman Esi riuh membicarakan keinginan masing-masing kelak ketika dewasa.  Rico sang ketua kelas ingin jadi pilot.  Rika, anak seorang pedagang di pasar, ingin membuka swalayan suatu hari nanti. Esi juga sudah punya cita-cita sejak TK,  tapi Ia diam saja dan tak seribut teman-teman lainnya. 

“Esi, cita-citamu apa, nak? ” tanya Bu Ninit. 

“Esi ingin jadi dokter, bu. ” jawab Esi disambut tepuk tangan teman sekelasnya. 

“wah bagus, bagus sekali Esi. Kamu ingin jadi dokter apa?” Bu Ninit tak dapat menyembunyikan wajah bangga ketika mendengar cita-cita Esi. 

“Esi ingin jadi dokter yang kaya, bu. ”

Bu Ninit terkejut,  teman-teman Esi mulai merendahkan suara jadi bisikan. 

“Esi, jadi dokter itu harus ikhlas, jangan suka porotin pasien.” celetuk Ari, anak laki-laki terpintar di kelas. 

“Iya Esi, kamu kok jadi dokter biar kaya.  Pasienmu nanti kasihan nggak bisa bayar, akhirnya jadi takut berobat. ” sahut Welly. 

“Sudah-sudah. Esi, memang benar yang dikatakan temanmu. Jadi dokter harus ikhlas, jangan berharap imbalan yang lebih dari pasien. Karena pasienmu sedang tertimpa musibah yaitu penyakit,  jadi sudah seharusnya kamu membantu dengan hati yang lapang. Tapi bukan hanya dokter,  sebenarnya semua pekerjaan harus dilakukan dengan ikhlas. Mengerti, anak-anak?” Bu Ninit mengakhiri perdebatan dengan bijaksana. 

Esi ingin menjawab tuduhan teman-temannya, tapi Esi tidak tahu harus bilang apa. Akhirnya Ia hanya diam menunduk, mendengarkan hingga pelajaran selesai. 

Pintu terbuka perlahan, Ibu masuk kamar membawa setangkup roti bakar keju dan segelas susu stroberi favorit Esi. Melihat gadisnya sedang melamun, Ibu mengelus puncak kepalanya perlahan sambil berbisik, “Esi sedang memikirkan apa, anak manis? ”

Esi tersadar dari lamunannya dan menjawab, “Hm, tidak ada kok,  Bu.  Esi hanya sedang menimbang-nimbang sesuatu.”

“Apa itu, sayang? ”

“Esi punya keinginan untuk jadi kaya,  tapi sepertinya teman-teman dan bu guru menganggap kaya itu sumbernya dari ketidakikhlasan kita bekerja. Apalagi nanti sebagai dokter,  katanya Esi harus melayani tanpa pamrih.”

“Esi kenapa ingin jadi kaya?”

“Ayah selalu bilang supaya Esi menyisihkan uang saku untuk diberikan kepada Dik Sasa, Dik Gilang, dan adik-adik lainnya di panti seberang jalan.  Masalahnya bu, uang Esi tidak sebanyak itu untuk dibelikan kue atau buku dan dibagikan kepada adik-adik satu panti. Kalau Esi kaya kan, Esi bisa beli banyak hal dan berikan pada adik-adik disana dengan sepuasnya. Coba lihat Pak Margono, Bu. Setiap minggu selalu memberi sarapan gratis di panti. Itu karena Pak Margono kaya, Bu!”

Ibu tersenyum, memahami niat tulus Esi. “Esi, dengan Esi jadi dokter, Esi juga memberi banyak hal ke pasien, bahkan juga keluarga pasien. Esi memberikan kebahagiaan karena turut membantu pasien sembuh kembali, sehingga keluarganya senang bisa berkumpul bersama lagi. Tapi Ibu setuju dengan keinginan Esi jadi kaya, Esi harus berjuang jadi kaya. Hanya saja, caranya bukan dengan menarik harga jasa yang tinggi ke pasien, tapi dengan cara lain yang sama halal dan baiknya dengan jadi dokter, misalnya nih, Esi buka toko buku, atau buka toko alat kesehatan, atau Esi menjadi penulis buku kedokteran. Menjadi dokter dan kaya itu sama pentingnya, Esi. Tapi fokus utamanya tetap satu,  keinginan Esi menolong sesama. Jadi dokter yang kaya bisa saja mempermudah Esi menolong sesama.”

“Hm, benar juga, Bu. Mulai sekarang Esi akan berusaha menjadi keduanya,  belajar menjadi dokter dan belajar menjadi orang kaya!” senyum mengembang di wajah mungil Esi, pipinya memenuhi hampir sepertiga wajahnya. 

Mulai sekarang Esi menetapkan dua visi hidupnya, dengan misi-misi baru yang disarankan oleh Ibu. Eh, tiga visi. Visi yang pertama dan utama ialah membuat Ibu dan Ayah bahagia telah dikaruniai Esi sebagai puteri mereka. Visi yang kedua dan ketiga,  Esi ingin jadi dokter berhati ikhlas dan orang kaya yang dermawan. Esi tertawa lepas,  dipeluknya Ibu dengan erat dan berdoa dalam hati agar keinginannya dikabulkan. Dalam hati pula, Ibu mengamini setiap pinta Esi dan semua mimpi-mimpinya.