Billion Times Sorry

“jangan kebanyakan minta maaf, nanti permintaan maafmu jadi nggak bermakna.”

Dulu temanku pernah bilang begini, dan aku setuju saat itu. Iya, apa gunanya minta maaf kalau diulang lagi? Yang ngasih maaf pasti males lah. Tapi setelah aku mikir-mikir lagi, kayaknya nggak harus males. ¬†Misal seseorang mengulang kesalahan yang sama terus menerus, ya kenapa sih kita nggak mau nerima aja maafnya yang juga berulang kali itu? Bagiku memendam perasaan benci sangat melelahkan. Secara logika pasti bakal mikir “jangan jatuh ke lubang yang sama, jangan bodoh nanti dikelabui dan dianggap lemah.” tapi tunggu, apakah memaafkan merupakan suatu kelemahan? Apakah melepaskan diri sendiri dari perasaan ingin menghujat merupakan kebodohan? Entahlah. Menurutku, yasudah maafkan saja. Kalau diulang lagi, ya maafkan lagi. Gitu aja terus sampai rotasi bumi berhenti. Sebuah contoh lucu dari papaku: kalau seseorang pinjam uang dan nggak mau kembalikan, tetap anggap teman tapi jangan pinjami uang lagi. Saat aku bertanya gimana caranya menolak, papaku menjawab, “ya bilang aja aku nggak mau pinjami kamu uang soalnya dulu uangku nggak kamu kembalikan, hehe.” terus kalau diajak ngopi ya ngopi aja, diajak belajar bareng ya belajar bareng aja, pokoknya jangan mau dipinjami uang. Nah, memaafkan jenis itu yang menurutku keren. Itu tidak bodoh, kan? Tidak membuat kita terlihat lemah, kan? Tapi itu memaafkan. Dan lagi, maaf jenis itu bisa memberi pelajaran bagi yang meminta maaf. Yang jelas, setelah kita tahu betapa memaafkan ini kecut-kecut manis, jangan jadi yang hobi mengulang kesalahan. Ya aku tahu ini omdo banget, tapi seenggaknya menyesalah. Beratus kali pun kita khilaf, menyesalah. Nanti suatu saat hati kita akan punya alarm yang berdering ketika akan melakukan kesalahan yang sama, dan secara otomatis menghentikan kita tepat sebelum melakukan kesalahan tersebut.

Billions sorry to say, Billions sorry to give. Why not? ūüėÄ

#StrivingForTheBest

Different Souls

I was a big fan of music back then in middle school. My musics are those listened by my elder sister; boys like girls, taylor swift, miley cyrus, yeah by those musicians. And then I stopped listening to her style, because I got my own style since — I don’t know since when. I listen to new songs but not that much, and it still happens until this very period of my life. I’m somehow really picky about songs, I listened to new songs only when my friends play them on spotify and I’d be like, “yes okay so what is the meaning of rockaby?” as I listened to it for the first time and they’d freak out how come I not ever listen to that song before.

A friend once told me that I don’t actually listen to musics, I listen to lyrics more. Well I actually am. But, when I was in middle school I watch a movie titled “Music and Lyrics” which had me come to realisation that music and lyrics were a package. I argued him and told him “so why I choose my own kind of musics” but I never told him this: if he likes singing out the melody, I’d rather read the words. So for me, in music, we can choose, to listen to the sound and feel or to understand the words and feel.

I’m not a musician and I have zero knowledge about music lol I was just contemplating that just like music has its soul, every living thing has it too. Each are different. Just like music has its melody and lyrics, we do too have sides we like more and less. But then they make us beautiful, just like melody and lyrics make music music; complete.

Anyway I just found out that my favourite genre (they call it genre don’t they?) is Indie-Folk. I happened to open a website about this genre and found lists of my favourite musicians. How come I don’t know myself these years haha. So, what are your genre, different soul fellas? (:

Suatu malam di bawah purnama

H: sebenernya yang wajib datang itu saat ibadah aja.

S: *ketawa* berarti aku pulang aja ya sekarang kan nggak wajib ūüėÄ

H: iya nggak apa-apa. Kecuali kalau kamu nganggep rapat ini ibadah, berarti wajib.

S: *diem*

Agar setiap matahari muncul kita selalu mengingat, malam itu dibawah purnama temanku mengatakan bahwa ibadah wajib didatangi dan dikerjakan. Lantas, sudahkah kita meniatkan setiap ayunan tangan dan langkah kaki sebagai ibadah?

Menjelang bulan benderang; Ramadhan.

 

#StrivingForTheBest

three musculus

334997f88a10fc5f7f1571f8aca8767b

source: https://www.pinterest.com/pin/361062095108557422/

tahukah kamu?

ternyata kita hanya butuh setidaknya 3 musculus untuk merubah dunia! scientifically approved!

wah, bagaimana bisa ya?

bisa dong!

3 musculus tersebut antara lain: M. zygomaticus major, M. orbicularis oculi, M. levator anguli oris.

ditengah hiruk pikuk polemik yang katanya¬†SARA di negara tercinta ini, aku juga nggak mau kalah ingin menyuarakan pendapat seperti mereka-mereka di line, facebook dan twitter.¬†they call it democracy don’t they?¬†kebebasan berpendapat? nah tetapi sayangnya, aku nggak begitu memahami hukum yang sedang diperdebatkan, pun nggak begitu mengerti seluk beluk agama yang bersangkutan karena aku sadar, aku masih cupu): daripada aku ngomong nggak berdasar, jadi aku nggak mau bahas masalah politiknya, aku mau bahas apa yang kurasa bisa menumpas hampir seluruh masalah di muka bumi, yaitu….senyum.

*kemudian semua negara senyum massal*

sebagai seorang (insyaAllaah) muslim, aku diajarkan bahwa senyum itu penting. senyum setara dengan uang! ketika kita berwajah manis dihadapan saudara muslim lainnya maka kita sudah dianggap bersedekah. dan tahukah apa imbalan dari sedekah? rezeki yang dilipatgandakan! rezeki itu ternyata bukan melulu tentang harta atau tahta apalagi raisa dan isyana, rezeki itu banyaaak banget bentuknya. salah satunya kedamaian. jadi misalnya nih, si A suka tersenyum, maka diberilah kedamaian di rumahnya. yang kemudian si B ikut tersenyum, si C juga tersenyum, sehingga kedamaian itu akhirnya melingkupi satu desa. hanya karena senyum. rezeki yang indah, bukan?

menurut seorang dokter spesialis forensik yang mengajarku saat blok 4 lalu, senyum itu hanya butuh minimal 3 otot, seperti yang sudah aku sebutkan. murah kan ya? ototnya sudah ada dari lahir tanpa harus beli lagi kan ya? tapi senyum itu masih susah bagi kebanyakan orang, termasuk diriku sendiri. padahal senyum dan damai ini lingkaran malaikat; ketika suasana damai kita akan tersenyum, ketika kita tersenyum maka suasana akan jadi damai. wahahaha so easy. lantas apa yang membuat kita malas tersenyum sehingga damai tidak kunjung tercipta?

1.) menomor satukan prasangka. setiap orang itu terlahir baik, maka kita harus berpikir bahwa sejahat-jahat orang sebenarnya dia dulu ialah orang baik, ya meskipun waktu masih bayi hehehe. dengan begitu, keburukannya hanya akan menjadi sebuah sifat tidak terpuji, takkan menyurutkan keinginan kita untuk berbaik hati padanya, saling mengingatkan, dan tentunya the basic thing, tersenyum.

2.) memuja ego. menginginkan sesuatu itu wajar, tapi jangan sampai menghalangi kita untuk bersikap memanusiakan orang lain. hanya karena ingin jadi juara kelas akhirnya sebel sama saingan terberat dan nggak pernah menyapa. boro-boro nyapa, senyum aja males. waduh gawat kalau sudah begini, ego bisa melalaikan kita dari langkah kecil menciptakan perdamaian.

jadi mulai sekarang kalau ada orang cemberut towel aja dagunya sambil bilang “eh senyum dong biar cakep”, tapi jangan ke dosen lagi¬†bad mood¬†di towel juga dagunya ya wkwk. kalau towel dagu terlalu ekstrim, kita bisa tersenyum duluan sambil berdoa dalam hati supaya apapun yang membuatnya cemberut segera dituntaskan oleh Allaah. kalau kitanya yang mulai suntuk dan ada¬†symptoms¬†mau cemberut, segera istigfar dan langsung aja senyum sambil ngomong dalam hati “sebel sama orang lain kayak yang orang tersebut nggak ada baiknya sama sekali dan diri sendiri nggak ada cacatnya aja kamu ih”. kalau kata-kata¬†self-motivation¬†tetap bikin cemberut yaudah nggak apa-apa cemberut aja, tapi sambil senyum(?) atau kalau mau nangis ya nangis aja, tapi sambil senyum juga (?) intinya jangan berhenti tersenyum karena senyum itu mempermudah ikhlas. daaan, kedamaian juga bisa tercipta ketika setiap individu menjalani segala sesuatu dengan ikhlas! kalau gitu mulai sekarang, ayo tersenyum dan jadilah alasan agar orang lain juga tersenyum(:

#StrivingForTheBest

For Giving

default.jpg

Berapa banyak dalam hidupmu sebuah cap “bodoh” terlontar dari bibir sahabat-sahabatmu? Atas sebuah maaf terhadap seseorang yang menyakitimu. Walaupun sakit yang tercipta bukan hanya satu, namun tetap saja bahagia yang dia berikan berlipat kali dari itu, katamu. Dan kamu memaafkannya, membuka hati dengan keyakinan bahwa yang lalu biar saja berlalu. Kamu tersenyum lagi padanya meskipun dulu, bertahun lalu, senyum terakhirmu raib di tangannya. Dan setelah semua sedu sedan dari musim panas hingga semi, kamu memaafkannya. Tanpa syarat. Berapa banyak lagi cap “bodoh” yang kamu ingin terlontar dari bibir sahabat-sahabatmu?

Skenario yang sama, pelaku yang berbeda.

Manusia dan cap bodoh akan kelegaan hatinya untuk memaafkan.

Tuhan dan sifat Maha Penyayangnya justru tak pernah lelah memaafkan.

Manusia tidak akan menerimamu lagi untuk kesalahan fatal yang selalu kamu ulangi. Tapi Ia, dengan ke-Maha-annya, akan selalu menerimamu yang datang lalu lari, datang lagi dan lari lagi. Ia, yang maju sehasta saat kamu baru menjejak, yang berlari saat kamu mulai menghampiri. Ia, tak akan pernah sama dengan manusia yang akan dicap bodoh karena mudah memaafkan. Ia dan segala sifat Pengasih dan Pemaafnya. Ia yang akan menerimamu untuk sejuta baikmu, sejuta salahmu, dan berjuta baik dan salahmu di kemudian hari. Ia yang pintu maafnya selalu terbuka, untukmu yang selalu berusaha kembali.

Manusia dan cap bodohnya

Tuhan dan sifat Maha Pengasihnya

Skenario yang sama, pelaku yang berbeda

Bab memaafkan.

Anniversary

IMG_20170429_044743.jpg

Happy turning into 3 years!

Aku tahu ini remeh, tapi blog ini seperti bukti pergerakan arah pikiranku. Semoga ia selalu maju, bergerak ke arah yang lebih baik, memberi makna yang lebih berarti. Seperti inti sebuah puisi sederhana karya Sapardi Djoko Damono, ketika hidup berhenti semoga serpihan-serpihan tulisan di blog ini tetap ada, menjadi saksi bahwa seorang biasa pernah bercita-cita menulis untuk bermanfaat, meskipun dalam skala kecil. Duh jadi mellow:”

Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri

Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari

Karya: Sapardi Djoko Damono

Tulisan: Sebab, Tujuan dan Citra

1.) Sebab aku menulis

sejak kecil keluargaku dibesarkan dengan buku. Mama sangat semangat untuk menumbuhkan kecintaan membaca pada anak-anaknya, walaupun pada akhirnya adikku tidak terlalu suka membaca sampai saat ini. tidak apa-apa, membaca tidak menjadi tolak ukur kecerdasan seseorang. sama seperti tidak semua orang suka memancing, tidak semua orang suka membaca. separuh hidupku kuhabiskan dengan berpikir bahwa orang suka membaca pasti berpengetahuan luas, yang sekarang dengan lugas kukatakan “tidak juga”. membaca hanyalah membaca. pengetahuan terlalu sempit untuk didefinisikan sebagai ilmu tekstual saja. jadi kuharap stigma tentang orang suka membaca lebih baik dari orang yang tidak suka membaca bisa memudar. daripada gerakan membaca, aku akan lebih setuju dengan gerakan belajar, karena konteks media yang dipakai lebih luas daripada lembar berisi tulisan. walaupun menurutku pribadi buku masih menjadi wahana paling mudah untuk mendapat pengetahuan, tidak menutup kemungkinan ada wahana lain yang lebih disukai orang, karena tiap orang punya cara menyerap pengetahuan yang berbeda-beda. setiap orang berhak menyukai atau tidak menyukai suatu hal -selama itu tidak merugikan-, tanpa adanya justifikasi, kan? kebetulan Mama sangat suka membaca, jadi menurutku wajar jika keluarganya dibentuk untuk suka membaca. dan nyatanya aku memang jadi suka membaca. begitu pula kakakku. dan kami senang dengan orang-orang yang suka membaca, sama seperti orang yang suka memancing ingin bergaul dengan orang lain yang juga suka memancing. aku sering membaca tulisan kakakku di buku bersampul kulit hitam,¬†jenis tulisannya kebanyakan ialah puisi dan prosa, sehingga aku pun mengikuti jejaknya. ternyata aku suka, dan aku mulai menulis puisi tentang teman-temanku di sekolah dasar, bahkan menulis jurnal harian selama sekolah dasar hingga pertengahan sekolah menengah pertama. jadi dari situlah kegemaranku membaca berkembang ke arah menulis.

2.) Sebab aku mengunggahnya ke dunia maya

sejak sekolah menengah pertama aku menulis di blog, dan sudah lebih dari tiga kali aku berganti domain. alasannya sederhana, karena pada akhirnya aku selalu benci tulisanku. sering aku mendengar -dan menulis ulang-, bahwa menulis bukan untuk menyenangkan orang lain, tapi mengekspresikan diri. tidak salah memang. tapi sebagai manusia normal, aku cukup malu saat membaca tulisanku sendiri berulang kali dan sadar bahwa tulisanku tidak cukup bagus untuk dibaca orang lain. dan, apalagi tujuan kita mengunggah sesuatu ke dunia maya kalau tidak untuk dilihat orang lain? wajar saja, itu sifat dasar manusia untuk bersosialisasi. jadi, aku mengunggah tulisanku karena aku ingin ada orang yang membaca. itu sudah jelas. kalau tidak kan aku bisa saja menulis di jurnal harianku tanpa ada seorang pun tahu. semakin hari aku juga semakin berpikir, kalau sudah dibaca orang, lantas apa? sebenarnya tidak ada tujuan khusus. hanya saja aku sering mendapat pencerahan setelah membaca, dan siapa tahu tulisan yang kuunggah dapat memberikan hal serupa bagi orang lain yang membaca. kalau tidak ya tidak apa-apa. kadang aku hanya ingin menulis saja, terserah respon orang lain bagaimana. ini cukup miris untuk dikatakan, tapi begitulah dunia kita sekarang. berbagi kebahagiaan, berbagi manfaat, itu memang bagian dari niatan kita. tapi dilihat orang lain rasanya menyenangkan, bukan? dalam keyakinan yang kuanut, keinginan dilihat orang lain wajib dihindari. karena memang benar, hal tersebut adiktif, dan membuat kita kehilangan esensi hidup untuk siapa. aku tidak tahu kelak tulisanku akan kutulis dengan niat utuh memberi manfaat atau sekedar curhat dan dibaca orang lain. tapi begitulah niat, kadang aku yakin dengan niatku, kadang juga tidak. aku sendiri saja tidak tahu, apalagi yang membaca. jadi kuharap bagi yang membaca fokus mencari pelajaran atau hiburan saja, tidak usahlah cari niatku bagaimana. sementara aku akan fokus menstabilkan niatku di setiap tulisan.

3.) Apakah aku cerminan tulisanku?

kalau ada yang bertanya begini, jawabannya adalah ya. tulisanku beraneka ragam; kadang aku menulis dengan gaya semi formal seperti ini, kadang aku menulis resensi dengan santai, kadang aku berpuisi atau berprosa, tapi fokus utamaku -yang kuusahakan disetiap tulisanku-, yaitu memperkenalkan sudut pandangku dan mengenalkan keyakinanku. konten dari tulisanku tidak melulu sudah kulakukan, kadang masih berbentuk pemikiran atau kadang masih kuusahakan. jadi kalau aku menulis tentang membaca, bukan berarti aku profesional dalam hal tersebut. bisa jadi aku sedang berusaha giat membaca, atau sedang ada uneg-uneg tentang membaca. jadi, tulisanku hanya pencitraan? bisa iya bisa tidak. setiap orang membangun citranya masing-masing, disadari atau tanpa disadari. citraku di depan orangtuaku, di depan temanku, di depan guruku, sepertinya akan berbeda-beda. dan kurasa setiap orang begitu. mungkin karakter mereka tetap, hanya saja pengelolaan sikap mereka akan berbeda di depan orang yang berbeda, menurutku 70% seperti itu.

3 hal diatas ialah perkenalanku setelah setahun setengah mendiami blog ini. jadi, assalamualaikum, halo, aku Deuxy. maknanya dua, dari bahasa Perancis “deux”. selamat membaca dan memetik hasilnya, dan seperti judul blog ini, keep asking why and find out the answer!

Update: ternyata sudah 3 tahun blog ini eksis. tapi tujuan blog ini baru terbentuk 1,5 tahun yang lalu, sebelumnya hanyalah tulisan galau masa SMA, hehe.