Owned

“He doesn’t deserve you then.”

Sebuah chat yang masuk pukul 11 malam dari seorang kawan saat sesi curhat colongan membuatku ingin tertawa. Kubalas dengan nada bercanda, “iyalah, yang deserve aku ya bapakku.” kemudian dia menyetujui. Tapi tunggu, sebenarnya siapa yang benar-benar berhak atas diriku?

Usiaku 19 tahun, dan selama menjalani hidup aku masih sering mengeluhkan kulitku yang tidak cerah, hidungku yang tidak mancung, mataku yang tidak simetris, gigiku yang besar-besar, dan masih banyak lagi. Aku tidak pernah berpikir aku terlihat cantik, dan memang kenyataannya seperti itu. Diluar sana, banyak orang merasakan hal serupa. Namun aku cukup beruntung karena tidak pernah dirundung karena hal fisik, yang banyak dialami orang lain dengan fisik mereka. Aku terkadang, atau seringkali, menjadi salah satu orang yang merundung, walau tidak secara langsung. Aku tidak bangga, jelas saja karena itu bukan hal terpuji. Tapi saat ini ketika aku melihat cermin, aku melihat diriku dengan berbeda. Aku tidak cantik, tapi aku punya senyum yang lebar kata mereka, dan menurutku lumayan cerah. Mataku tidak simetris, tapi aku punya bulu mata yang mekar seperti bunga walau tertutup kacamata. Hidungku tidak mancung, tapi ia terlihat harmonis dengan bibir segitigaku. Badanku kurus, tapi aku selalu merasa gendut, bukan karena aku tidak bersyukur, tapi karena dulu memang aku 10kg lebih kurus dari ini. Meskipun aku bilang aku gendut, aku senang, ini yang kumau. Aku melihat cermin dan melihat diriku sendiri seraya berpikir, “ini orang yang harus dilihat orang lain sebagai diriku.” dan ketika aku merasa baik-baik saja melihat diriku sendiri setiap hari, sekarang aku merasa tidak perlu panik kalau orang lain melihatku dan mengomentari sesuatu. Aku sudah melihatnya setiap hari, orang tersebut pasti juga akan terbiasa. Jadi aku oke saja dengan komentarnya. Ini berdampak pada caraku melihat orang lain. Tentu saja aku masih bergumam dalam hati tentang fisiknya, karena manusia diciptakan untuk berprasangka. Tapi aku santai dengan gumamanku, aku tidak perlu bertanya mengapa kulit mereka berjerawat, karena memang itu yang tubuh mereka pilih untuk ditunjukkan. Dan jika dia sanggup melihatnya setiap hari, mengapa aku yang hanya melihatnya beberapa jam harus repot berkomentar? Ketika orang lain memakai baju yang menurutku tidak cocok, mengapa aku harus bertanya padahal mereka biasa saja dengan gaya itu? Aku ingin bilang kepada orang-orang ketika aku nyeletuk ‘wow kamu gendutan!’ berarti aku bahagia untuk mereka. Aku ingin mereka tahu bahwa tidak apa-apa, kamu yang melihat dirimu setiap hari, aku oke dengan itu dan kamu tidak perlu kaget untuk menguruskan diri segera. Pun sama ketika orang lain bilang padaku, ‘kamu kok iteman?’ aku hanya akan menjawab ‘iya habis diklat.’ niat mereka bukan menyuruhku berubah, mereka hanya apresiasi perubahanku. Selama kalimatnya tidak diikuti dengan, ‘harusnya kamu blabla’ berarti santai saja, itu hanyalah ekspresi kaget, bukan berarti menginginkan kita berubah.

Pada akhirnya jawaban dari siapa yang berhak atas diriku ialah aku sendiri. I’ve been dealing with myself, I’ve had enough battle with myself, I was the only one in my room when I cried alone, aku yang bersama diriku setiap hari. Aku berharap aku bisa selalu sesayang ini kepada diriku sendiri.

Thankyou for not hurting yourself,

Thankyou for not hurting others,

Thankyou for accepting yourself.

I am owned, by me, and I’m grateful.

P. S tentu saja Allaah lebih berhak lagi, for He is the one Who hold my life between His fingers.

#SembilanMinusLima

Advertisements

Apresiasi

There will come a time when there are no human beings remaining to remember that anyone ever existed or that our species ever did anything. There will be no one left to remember Aristotle or Cleopatra, let alone you. Everything that we did and built and wrote and thought and discovered will be forgotten and all of this will have been for naught. Maybe that time is coming soon and maybe it is millions of years away, but even if we survive the collapse of our sun, we will not survive forever. There was time before organisms experienced consciousness, and there will be time after. And if the inevitability of human oblivion worries you, I encourage you to ignore it. God knows that’s what everyone else does.

Entah pada bab berapa di buku The Fault in Our Stars, seorang Gus bercerita tentang ketakutannya, oblivion; dilupakan.

Aku pun sering bertanya-tanya, kelak saat aku dimakamkan, berapa orang yang akan menangis? Seminggu setelahnya, siapa yang masih merindukan kehadiranku disisinya? Setahun kemudian, siapa yang mengingatku setiap lewat warung makan favoritku, atau mendengarkan musik kesukaanku? Aku, seringkali, merasa takut dengan kondisi bahwa suatu saat nanti orang akan terbiasa dengan keadaan tanpaku.

Tapi sebagaimana jawaban Hazel Grace memukau Gus, jawaban tersebut juga menyadarkanku akan suatu hal. Jika Cleopatra yang kecantikannya fenomenal mungkin akan terlupakan beratus tahun lagi, bagaimana denganku yang, yah, tahu sendiri, kan? Prestasiku juga sebatas berhasil bangun pagi di hari Minggu, bukannya menemukan mobil terbang atau apalah. Bisa saja orang melupakanku tepat tiga bulan setelah aku tidak lagi hidup, kan? Aku jadi sadar, betapa bio twitter Chloe Moretz sekitar tahun 2012 yang saat itu membuatku berpikir, ‘ini artinya apa ya’ ternyata masuk akal. Living life to the fullest. Dalam pengertianku, artinya hiduplah sehidup-hidupnya. Bukan agar tidak bisa terlupakan, tapi untuk mengenang diri sendiri saat masih hidup, to discover ourselves. Untuk hidup dan tidak menyesalinya, menghadapi mati dengan ‘Aku sudah hidup, kini aku akan mati’ dan berpikir bahwa itu hanyalah siklus normal.

Hal yang cukup berat untuk menerima suatu hari kita akan mati, walaupun kita tahu kita tidak bisa menolaknya. Aku, di sisa umur belasanku ini, mengerti kalau hidupku belum sehidup-hidupnya. Dan kurasa sampai mendekati mati pun kecil kemungkinan aku akan berpikir telah menjalani hidupku dengan cara terbaik. Aku mungkin kelak bersatu dengan penyesalan-penyesalan akan kesempatan yang tidak kuambil, atau kesempatan yang kuambil namun gagal. Tapi bukan berarti orang lain sepertiku, yang walaupun mampu memaknai living life to the fullest sepenuh hati, aku ragu bisa menjalaninya. Bukan berarti orang lain juga sama. Itulah mengapa aku suka dengan apresiasi. Aku ingin setidaknya ketika orang lain gagal dalam usahanya menjalani hidup sehidup-hidupnya, aku tidak menjadi salah satu penghambat itu. Aku ingin ketika denganku, mereka merasakan satu letupan pikiran ‘iya, aku bisa menjalani hidupku dengan hidup!’. Aku ingin mereka merasa bahwa usahanya tidak sia-sia, dan mereka tahu aku setuju. Aku suka apresiasi, walaupun dalam banyak kesempatan aku masih melupakannya, suatu hari nanti, aku ingin menjadi sosok yang mendorong orang lain agar tidak berkecil hati. Membiarkan mereka lelah tapi bahagia karena mereka tahu aku tahu, aku merasakan kelelahan mereka, dan aku bangga akan hal itu. Aku ingin dengan adanya aku, mereka merasa hidup nyatanya tak seburuk yang mereka duga, dan kata dilupakan tidak terdengar seram, karena di suatu waktu di hidup mereka, aku ada dan hidup masih baik-baik saja. Dan dengan itu, aku tak lagi takut akan dilupakan, karena aku hidup dalam hidup mereka.

#SembilanMinusSatu

Surface

Only when we start to ditch the bad thoughts, we will start to think.

Kenapa entertainment korea selatan bisa menguasai pasar global, hampir menyamai hollywood?

Kenapa korea selatan terkenal akan operasi plastiknya?

Nggak, saat kita benci, kita nggak akan berpikir kesana.

We will think straight when we are neutral.

Dan siapa sangka, karena fangirling aku bisa diskusi dengan temanku anak jurusan HI tentang mata kuliah yang pernah ditempuhnya, bahwa bisnis entertainment di korea selatan benar-benar diatur oleh pemerintah? Bahwa dulu sebelum mereka semaju sekarang, pemerintah pernah berinvestasi dengan orang-orang pemilik bisnis agar semakin maju bisnisnya, dan berimbas pada negaranya yang semakin maju? Well, untuk hal terakhir aku tidak terlalu mengerti sejarahnya. Tapi, aku bisa berpikir kesana karena aku memutuskan netral. Aku juga mencari tau tentang pendidikan kedokteran disana, yang ternyata sangatlah canggih. Dan bahwa di Indonesia hanya memiliki kurang dari 200 dokter spesialis bedah plastik dari sabang sampai merauke, yang aku tidak akan tau kalau aku tidak bertanya-tanya tentang bagaimana skill dokter bedah plastik disana yang terkenal mendekati sempurna, sampai jadi komoditas bisnis.

Pada akhirnya, kebencian hanya akan menutup mata kita dari hal baru, dan selamanya terjebak di permukaan.

Ini bukan tentang fangirling, hanya saja, it taught me much more than I thought. Be it kpop or jpop or even bollywood, be it entertainment world or sports or politics or cultures, hatred toward anything will get us nowhere. Preference is certainty, but not with the hatred. We can always choose to be neutral.

 

The Only One I

I’ve been waiting to take you here. There are so many places I wanna show you so be ready, this is just the start.

Let me spill you a story. I like oranges so much, be it a fruit or colour. And here, I can watch a sun which coloured orange when it’s about to set while drinking orange juice. Oh, don’t forget the sky and the sea look slightly orange because they reflect the sunlight. Beach makes me triple happy. I can breath orange here in every inch of this place. And today, today you make it more wonderful. I got a chance to take you here, after all my secret gazes the entire year. Today you complete my orange-freak feeling, with your orange veil covers your orange-ish cheeks. Today I found my new favourite. It is you. It will be orange and you from now on.

You are smiling, you smile a lot don’t you? I know it’s dark in my pocket, but don’t change your smile. You wouldn’t, would you? I’m glad I found you laying near the locker, after my tiring silent admiration. Now let’s go somewhere new.

PicsArt_08-06-02.38.43

Story: inspired by the song satellite-saltnpaper

Picture: shameless self-portrait

Me in Their Shoes

Dulu aku bertanya-tanya tentang orang yang membaca komik lalu cinta mati sama tokoh komik tersebut. Kan, tokoh-tokoh itu hanya fiktif? Lalu aku akan menamai mereka dengan sebutan ‘alay’. Aku nggak mencari tahu arti alay ini apa sih, tapi berdasarkan informasi teman-teman saat itu, alay merupakan versi lanjutan dari lebay. Intinya berlebihan yang nggak banget gitu, deh.

Aku terus tumbuh dengan kata-kata alay yang kulontarkan kepada orang lain yang menurutku memiliki kecenderungan terhadap sesuatu yang tidak sejalan dengan seleraku. Kadang aku menyampaikan pada teman-temanku, karena kita satu pemikiran kok bisa orang-orang itu menyukai hal yang mereka sukai. Sejak SMP, aku anaknya terkena virus kebarat-baratan. Jadi patokanku adalah hollywood. Selain itu, semua alay. Hehe.

Sampai pada awal semester 5 kemarin, aku mendapat tugas presentasi jurnal dari dosenku. Jurnal yang kupresentasikan ialah tentang perubahan algoritma diagnosis penyakit demam rheuma. Karena aku belum pernah dapat tugas ini, jadi aku takut kalau tidak bisa menjawab saat diberi pertanyaan. Akhirnya aku mempelajari algoritma ini sampai malam. Saat itu mungkin aku sedang lelah, karena aku sedang tiduran ketika suatu pikiran menamparku. Sebutan dengan makna negatif yang seringkali kulontarkan pada orang lain sedikit mirip sama diagnosis dokter. Seorang dokter, setelah anamnesis, akan menyebutkan diagnosisnya. Namun, diagnosis mereka sangat jelas, karena ada algoritmanya. Sementara aku, hanya berdasarkan perbandingan selera sendiri saja sudah berani mendiagnosis seseorang ‘alay’. Tanpa algoritma apapun. Padahal mereka juga nggak memberikan dampak negatif apapun pada hidupku. Dan beberapa minggu ini, aku menonton reality show Korsel dan senang sekali dengan para peserta-pesertanya, sampai di poin dimana aku fangirling di twitter. Jujur saja, aku sedikit takut dikatakan alay, sehingga aku bersikap sedikit considerate untuk tidak men-tweet berlebihan. Aku seperti berada di posisi orang-orang yang ku ‘diagnosis’ alay tersebut. Menjadi berbeda dari selera lingkunganku. Ini jadi pelajaran buatku, agar tidak serta merta men ‘diagnosis’ seseorang dengan sebutan-sebutan tidak mengenakkan. Seorang temanku pernah bercerita, seorang temannya punya teman, yang sangat mengidolakan Pak SBY sampai membentuk fanbase dan dia jadi ketuanya. Aku yang dulu mungkin akan bereaksi, ‘hah ngapain sih? Alay banget’ tapi aku sekarang hanya tertawa sambil menggeleng tidak percaya, ‘seleranya beda banget sama aku ya!’

Setiap orang punya hobi dan kesukaan masing-masing. Levelnya juga beragam, ada yang suka saja ada yang suka sekali. Selama itu tidak bertentangan dengan norma agama, sosial dan hukum, kenapa kita harus melabeli mereka sesuatu? Kenapa kita harus menjadi orang yang kesal saat orang lain bahagia akan hobi anehnya yang, tentu saja, tidak sedikitpun merubah sesuatu di hidup kita? (:

P.S

Ini mungkin terdengar seperti pembelaan karena aku fangirling? Haha, mungkin saja. Tapi, bener deh, dengan ‘karma’ ini aku jadi serius ingin belajar menghargai orang-orang dengan hobi dan kesukaan mereka, meskipun itu sangat amat berbeda dengan seleraku. Tentu saja, sebagai pihak yang menyukai sesuatu, kita juga harus bertindak bijaksana akan hobi tersebut, jangan sampai hobi yang membuat kita senang malah menyengsarakan orang lain. Seperti pelajaran yang kudapat dari fangirling ini, aku juga belajar bahwa apresiasi terhadap orang ganteng dan cantik itu tidak apa-apa, serius. Tapi jangan membandingkan dengan orang lain. Jangan kemudian menjatuhkan orang lain karena fisik, atau apapun lainnya. Pujilah, senangilah apapun yang disukai, tapi tidak usah mengejek yang tidak disukai. Satu lagi, jangan lupa bahwa kita hidup di dunia nyata, bukan dunia para oppa. Haha! Jangan lupa tugas sebagai manusia juga!

 

Regards,

An almost 20 years old woman who just knew what fangirling is, and will be considerate while doing it.

Monokrom

Selamat!  Anda dinyatakan lulus SBMPTN 2017.

Anda diterima di Program Studi berikut:

PENDIDIKAN DOKTER

UNIVERSITAS JEMBER

Aku segera memeluk Mama dengan erat seraya menciumi pipi kanan dan kirinya berulang kali. Hatiku sesak akan rasa bangga. Akhirnya, aku bisa membuktikan satu pencapaian lagi untuknya. Mama, bocah lanang kesayangan Mama akan segera menjadi dokter!

***

Baju ganti? Cek.

Berkas verifikasi? Cek.

“Mas Iqbal, ayo cepat, nak. Keburu sore. Kalau sampainya terlalu malam, besok susah bangun pagi, lho.” Mama memanggilku dari ruang tamu.

Oke! Tidak ada yang tertinggal. Aku bergegas menggendong ranselku menuju arah suara Mama. Rasanya tidak sabar menunggu esok. Setelah verifikasi nanti, panggilanku sudah bukan calon mahasiswa kedokteran lagi, namun resmi menjadi mahasiswa kedokteran. Ah, besok aku juga akan bertemu teman-teman baru. Aku sudah tidak sabar melihat wajah Rania, anak SMAN 5 Surabaya yang foto profil whatsapp-nya terlewat cantik. Dia secantik itu tidak ya di dunia nyata?

Mama menggelengkan kepala melihat senyum di wajahku yang tak kunjung hilang. Mama ikut tersenyum pula. Senyum itu, senyum yang kulihat saat aku menjuarai lomba siswa berprestasi SD tingkat kabupaten, saat aku menduduki posisi best speaker National Speech Competition di tahun keduaku di SMA. Senyum bangga Mama! Dalam hati aku berjanji akan membuatnya tersenyum seperti itu sepanjang hidupku.

Selamat tinggal, Solo! Tunggu aku 5 tahun lagi dengan gelar dokter, ya!

***

Jam menunjukkan pukul 07.00 WIB, namun antrian untuk verifikasi calon mahasiswa baru sudah mengular. Aku kebagian urutan 150, padahal aku datang pukul 06.05. Sepertinya para calon mahasiswa baru ini sama excited-nya denganku, ya?

Antrian 149, 150, 151 dipersilahkan masuk aula. Masing-masing diarahkan ke kursi verifikasi di 3 barisan yang tersedia. Aku hanya diam saja mendengarkan pertanyaan-pertanyaan petugas kepada Mama dan Papa. Mereka terlihat tenang. Seperti yang mereka katakan, uang tidak menjadi urusan. Selama aku keterima, semahal apapun mereka akan mengusahakan biaya kuliahku. Akhirnya setelah 15 menit berbincang, biaya UKT yang dibebankan padaku sebesar 22 juta tiap semester. Aku menelan ludahku perlahan. Ini… Bukankah terlalu mahal? Tapi Papa tersenyum dan menepuk pundakku. Santai saja, tugasmu cuma belajar, ucapnya padaku tanpa suara.

Setelah penentuan UKT, orangtua dipersilahkan menunggu diluar, dan calon mahasiswa baru masuk ke ruangan lain untuk melakukan tes kesehatan. Aku memang tidak tinggi namun tidak juga terlalu pendek. Tinggiku 173 cm dengan berat badan 56 kg, cukup keren kan untuk pakai jas putih? Kujalani tiap tes satu per satu dan sampailah pada tes yang terakhir.

Tes buta warna.

“Coba Dik dibaca angka yang tertera dengan agak cepat, ya.” ucap dokter yang mengetesku.

Halaman pertama, aku cukup gugup. Aku belum pernah melakukan tes ini sebelumnya. Apakah itu angka 54 atau 74? Ah, mungkin 54.

Dokter itu membalikkan halaman dengan cepat. Halaman kedua, halaman ketiga, dan seterusnya. Keringat dingin mengucur deras melalui pelipisku. Mengapa angkanya hampir mirip? Aku hanya bisa menjawab sekitar 10 dari 15 lembar. Aku menunggu dokter itu untuk mengatakan sesuatu, tapi ia hanya diam saja, menulis-nulis di kertas diagnosisnya.

***

Aku dan orangtuaku dipanggil oleh seorang petugas. Kami masuk ke ruang tes kesehatan tadi. Namun kali ini, kami diajak ke sebuah bilik yang cukup sempit. Disana sudah menunggu dokter yang melakukan tes kesehatan padaku. dr. Aldi Nugraha, sebuah plakat nama bertengger di atas meja. Ada apa ini? Perasaanku tidak enak.

“Halo, selamat siang. Silahkan duduk, Pak, Bu, Dik Iqbal. Dari Solo ya? Kebetulan saya juga dari Solo, lho. Hehe.” sapa dokter Aldi.

“Iya, dokter. Mohon maaf kalau boleh tahu ini kenapa dipanggil kesini ya, dok? Anak saya kurang sehat?” Mama bertanya dengan tatapan menyelidik. Aku tahu, Mama pasti sedikit cemas.

“Bukan begitu, Bu. Anak Ibu sehat, kok. Sangat sehat secara fisik. Hanya saja…” dokter Aldi diam sejenak. “Hanya saja, secara genetik Dik Iqbal mengalami sedikit perbedaan. Dik Iqbal mengalami apa yang secara medis dikatakan sebagai buta warna parsial, Bu. Yaitu kondisi dimana Dik Iqbal akan mengalami kesulitan melihat perbedaan warna-warna, terutama saat digabungkan.” dokter Aldi memaparkan dengan nada sangat berhati-hati. Saat ia menyebut buta warna parsial, hatiku sudah hancur tidak berwujud.

“Te.. Terus, artinya saya tidak bisa diterima di fakultas kedokteran, dok?” aku merasakan air mataku meleleh perlahan-lahan. Buta warna parsial? Aku? Ini tidak mungkin. Mengapa aku? Mengapa harus mimpi terbesarku yang harus gagal terwujud? Mengapa saat aku sudah berniat setulus mungkin, berjuang sekeras yang kubisa, aku harus kalah dengan keadaan yang disebut kelainan genetik? Apakah aku memang ditakdirkan gagal bahkan saat rantai DNA-ku masih baru terpilin?

Kepalaku tidak bisa menerima kenyataan ini. Di otakku berlari-lari banyak pikiran. Ini salah orangtuaku! Mereka yang memberikanku gen bodoh berisi kelainan! Lalu aku melihat Mama yang ikut terisak mendengar penjelasan dokter Aldi. Senyum itu, senyum yang sempat kupersembahkan saat membuka situs SBMPTN, senyum itu hilang! Kini aku marah pada dokter Aldi, apakah semudah itu menentukan seseorang buta warna? Bagaimana bila aku hanya gugup saat tes tadi? Ia bahkan tidak merekomendasikan pemeriksaan genetika! Tapi ia seorang dokter, pengalamannya pasti berlembar-lembar sertifikat pelatihan. Ah! Aku benci! Aku benci pada diriku sendiri! Aku benci dengan mataku yang cacat, yang mengkhianati segala cita-cita dan usahaku untuk meraihnya. Aku tidak akan bisa menjadi dokter. Aku tidak bisa bukan karena aku bodoh, bukan karena usahaku minimal, aku tidak bisa jadi dokter karena mataku yang cacat! Aku benci diriku sendiri!

Aku berdiri dari kursi yang kududuki, tanpa kata-kata aku keluar dari ruang pemeriksaan. 5 langkah di depan pintu, aku terhenti. Kepalaku semakin pening. Penglihatanku meremang. Hal yang terakhir muncul di kepalaku ialah kata dokter gagal, lalu aku tidak ingat apa-apa lagi.

***

Ombak berkejaran dengan angin di pantai, menggelitik kakiku yang tidak bergeming — menggantung dari atas bongkahan karang besar.

“Mas, kenapa ya langit kok warnanya biru?” Adik perempuanku menepuk pundakku dari belakang.

“Kata siapa langit berwarna biru?”

“Lho, itu, lihat dong ke atas, warnanya biru gitu, kok.” Ia mengernyit.

“Bukan, langitnya abu-abu.”

Kernyitan di dahi adikku semakin rapat, ia hanya menatapku sinis lalu kembali memunguti kerang-kerang kecil di sekitar kakiku.

Bagi mereka, langit hari ini memang biru. Tapi bagiku, langit tidak akan pernah ganti dari abu-abu.


Terinspirasi oleh kisah seorang calon mahasiswa baru yang diperiksa oleh dokter pengajarku.

Semangat selalu, Dik. Siapapun kamu. Mimpimu nggak seharusnya berhenti hanya karena satu kelainan genetik. Kalau langitmu sekarang abu-abu, coba lihat cermin dan resapi kalimat yang-entah-diciptakan-oleh-siapa ini:

I think of you in colours that don’t exist.

Bisa jadi itu pikiran orang lain terhadapmu.

Siapa tahu, di duniamu yang hitam putih, kamulah pelangi yang kamu sendiri tidak sadari.

 

 

 

Back in the Days when I..

assalamualaikum~ I’m having difficulties to turn my thoughts into words karena terlalu banyak yang ingin ditulis tapi berakhir bagai rebusan air panas –menguap begitu saja. but here I am digging up my courage to start writing again because I recently have no life.

aku mau nulis tentang hal yang sedikit cheesy, boleh nggak ya? hehe. jadi, aku belakangan sering mikir tentang perasaan dan kesetiaan serasa gabut mikirin hal begitu padahal banyak tugas, yaAllah tolong. wow wow wow ada apakah dengan kedua hal tersebut? agak curhat sedikit, aku tipikal orang yang lumayan selow untuk urusan melow. aku memang bertekad untuk menganggap semua hal-hal berkaitan perasaan hanyalah bercanda belaka, tidak serius, karena selama tidak ada realisasi, berarti ya tidak ada hati. realisasi itu maksutnya ya ngerti sendiri lah ya. duh udah kayak cewek berprinsip nggak? hehe. menganggap bercanda itu bukan berarti ikut hahahihi menerima dan membalas sepik. cukup dengan tidak menanggapi dan tetap memegang teguh nilai-nilai pertemanan. karena tuh ya, dikira jaga hati gampang? hah? eh kok emosi. tapi emang nggak gampang, at least menurutku, karena buktinya aku masih kepincut dedek-dedek idol korea):

dari curhatan diatas mungkin bisa ditarik kesimpulan kalau aku sedikit mempertanyakan orang yang suka main-main sama perasaan. tebar bunga disetiap persimpangan jalan, misalnya. yang dicari apa? apalagi kalau ada yang suka berkata-kata manis. baik itu boleh, bermanis-manis ria yang kurang tepat. terlebih misalnya diakhir sampai bilang “lho ya kamu baper” atau “jangan baperlah, gitu doang”. haduh, orang baper itu tandanya sistem limbik otaknya masih jalan, fungsi luhurnya belum menurun, ya jelas dia punya perasaan. nggak bisa nyuruh nggak baper itu. apa ya nyuruh orang nggak merasakan perasaan berarti? tapi bukan berarti aku melegalkan baper, hanya untuk yang terlanjur kena serangan kata-kata manis, lebih baik ‘mengelola perasaan’. terbawa perasaan nggak apa-apa, tapi dipikir lagi, worth the time nggak, bawa untung apa bawa rugi, ada kejelasan atau main-main.

namun aku kembali lagi ke ucapan mbak yang selalu berusaha kuingat dan implementasikan, “nggak usah ngurusin orang”. mungkin orang lain punya alasan untuk bersikap seperti itu, dan bukan berarti aku atau sebagian orang yang menganggap perasaan dan kesetiaan sangat krusial lebih baik. orang bebas untuk mengungkapkan ekspresinya, hanya saja bagiku dan sebagian orang, perasaan nggak semudah itu diutarakan. ada banyak pertimbangan, sampai yakin kalau bisa bertanggungjawab atas perasaan tersebut, setia dan menepati yang telah diutarakan merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban. feelings aren’t toys, they aren’t fun to be played with.

dan yang bisa kulakukan mungkin menciptakan jarak untuk merefleksi, bukan berarti memusuhi, hanya saja sebagaimana aku menghargai orang lain, aku juga ingin menghargai diriku sendiri. kalimat janji semanis kesturi tidak akan berefek, karena aku percaya aku adalah melati, I got my own fragrance 😀


ditulis dengan bahagia dan rendah diri,

cheers!