#Ramadhan27: menjadi diri sendiri

aku punya beberapa kesukaan, salah satunya bercerita. entah itu menulis, entah itu berbicara. bukan, aku bukan ekstrovert, aku hanya senang mengeluarkan isi pikiranku. namun, terkadang aku berpikir. apakah orang lain pernah terganggu dengan aku yang berisik? apakah orang akan mencerca cuitanku di media sosial? apakah orang ingin menutup telinga ketika aku membuka mulut untuk bertutur kata?

kakakku berkata, pikiran orang lain bukan tanggung jawab kita. tapi aku masih tetap memikirkan ribuan bagaimana jika. aku seringkali menjauh dari diriku sendiri. aku ingin menjadi lemah lembut, padahal aku tahu, aku mudah sekali tertawa. aku ingin menahan pikiranku, padahal aku tahu, otak dan mulutku terintegrasi sempurna. aku ingin menjadi orang lain, agar orang lain menyukaiku.

tapi mulai kini, aku ingin menghargai diriku sendiri.

aku ingin tetap tertawa dan bercerita, tanpa mengkhawatirkan apa yang mereka pikirkan tentangku.

selama bahagiaku tidak tegak diatas luka, berarti aku masih boleh bahagia, kan?

aku ingin menjadi diriku sendiri.


p.s Ramadhan hampir pergi. semoga dapat berjumpa lagi tahun depan! maafkan rinduku yang semu, yang terucap tapi tidak bertindak.

#Ramadhan25: isu

“A new baby is like the beginning of all things – wonder, hope, a dream of possibilities” (Eda J. LeShan) Sudah lamaaa sekali saya mau nulis ini, mungkin draftnya udah ada di kepala sejak dua tahun yang lalu, namun baru bisa terealisasi saat ini. Saya masih ingat betul bulan Januari tahun 2013 lalu, saat putihnya […]

via Mitos Seputar Bayi Baru Lahir: Catatan Melahirkan di Inggris — Dewi Nur Aisyah

Penting untuk tidak menelan mentah-mentah informasi yang beredar. Ditimbang lagi baik buruknya, apakah yang selama ini kita yakini memang benar ataukah ego kita semata? (:

#RAMADHAN15: keping

Mau nangis sesenggukan, mau ngurung diri di kamar seminggu, nyatanya

Kuliah jurusan kedokteran, jurusan arsitektur, jurusan ekonomi syariah tetap sama beratnya

Hidup jadi manusia, jadi kambing, jadi sapi tetap sama susahnya

Maka itu, aku mengerucutkan pola pikirku jadi satu: manut saja sama Allah, yang penting bahagia.


Karena kalau kata quotes di tumblr itu, happiness is a state of mind 😀

#Ramadhan1: Islam itu….

mentoring terakhir minggu lalu sebelum Ramadhan, mbak mentor kami mengangkat tema yang menurut beliau sederhana tapi wajib dihayati, yaitu kesempurnaan Islam. menurut beliau, Islam itu kompleks, mengatur sejak bangun tidur hingga tidur lagi. bercermin, memakai sandal, bersin, menguap, dan hal-hal yang seringkali kita anggap sepele sudah diatur dengan detail.

“aku pernah baca hal yang menarik. selama ini penegakan syariat Islam dianggap membahayakan, memecah belah negara, mencederai Pancasila. padahal sesungguhnya dalam syariat Islam itu, 98% mengatur tentang pribadi; akhlak dan lain-lain. dan hanya 2% yang mengatur tentang hukum; politik dan lain-lain.”

begitu kira-kira beliau menyampaikan pada kami. bahwa ternyata pula, dalam butir-butir Pancasila itu sudah terkandung syariat-syariat Islam. nah menurutku, mungkinkah selama ini perjuangan menegakkan Islam selalu dianggap radikalis, karena hanya 2% saja yang sampai? sementara 98% nya entah kemana, tidak ikut ter”kampanye”kan dengan viral?

“betapa banyak negara mayoritas non muslim yang lebih Islam daripada negara mayoritas muslim. pernah dengar Jepang dengan kedisiplinannya? Nah, Islam melarang kita menyia-nyiakan waktu lho. tapi di Indonesia yang notabene negara mayoritas muslim bagaimana tingkat kedisiplinannya dibandingkan Jepang? contoh-contoh seperti itu perlu kita ketahui.”

dari uraian beliau aku merenungi satu hal. kita ini mengaku muslim, yang berserah diri padaNya, tapi sudahkan kita berislam dengan mematuhi syariat?

“dan pada akhirnya ketika syariat Islam ditegakkan, ketika Islam dijalani dengan kaffah, ketika individu-individu bergerak ke arah yang lebih baik maka semua aspek akan menuju ke arah yang lebih baik pula.”

itulah mengapa aku yakin sekali dakwah itu perwujudan hati yang bersih, yang akan tercermin dari tingkah laku sehari-hari. semakin bersih hati kita, semakin mudah kita berperilaku baik, dan orang-orang akan semakin memahami betapa Islam sesungguhnya tegas tapi lembut, mengajak berlari tapi tak lupa menyediakan tempat istirahat. sesungguhnya Islam itu manis tapi tidak membosankan, masam tapi menyegarkan, dan pahit jika ditinggalkan.

mbak mentor kami melanjutkan dengan cerita, dulu pernah ketika beliau masih SMA beliau berteman dengan beberapa kawan non muslim. aku lupa agama apa saja, yang kuingat adalah salah seorang teman beliau yang kristen. teman kristen tersebut pergi ke gereja setiap hari, bukan hanya sabtu minggu seperti kita para muslim umumnya tahu. ketika ditanya kenapa ia pergi setiap hari, jawabannya ialah, “kalian ke masjid setiap hari, sholat setiap hari. aku juga mau dong ke tempat ibadahku setiap hari dan berdoa setiap hari juga.” kami, adik-adik mentor labil ini cuma bisa termenung kagum.

“ketika kamu berbuat baik, orang sekitarmu akan berkeinginan berbuat baik juga.”


Selamat menjalani ibadah puasa dan ibadah-ibadah lain yang pastinya dilipatgandakan ganjarannya di bulan Ramadhan penuh berkah ini! (:

Suatu malam di bawah purnama

H: sebenernya yang wajib datang itu saat ibadah aja.

S: *ketawa* berarti aku pulang aja ya sekarang kan nggak wajib 😀

H: iya nggak apa-apa. Kecuali kalau kamu nganggep rapat ini ibadah, berarti wajib.

S: *diem*

Agar setiap matahari muncul kita selalu mengingat, malam itu dibawah purnama temanku mengatakan bahwa ibadah wajib didatangi dan dikerjakan. Lantas, sudahkah kita meniatkan setiap ayunan tangan dan langkah kaki sebagai ibadah?

Menjelang bulan benderang; Ramadhan.

 

#StrivingForTheBest

For Giving

default.jpg

Berapa banyak dalam hidupmu sebuah cap “bodoh” terlontar dari bibir sahabat-sahabatmu? Atas sebuah maaf terhadap seseorang yang menyakitimu. Walaupun sakit yang tercipta bukan hanya satu, namun tetap saja bahagia yang dia berikan berlipat kali dari itu, katamu. Dan kamu memaafkannya, membuka hati dengan keyakinan bahwa yang lalu biar saja berlalu. Kamu tersenyum lagi padanya meskipun dulu, bertahun lalu, senyum terakhirmu raib di tangannya. Dan setelah semua sedu sedan dari musim panas hingga semi, kamu memaafkannya. Tanpa syarat. Berapa banyak lagi cap “bodoh” yang kamu ingin terlontar dari bibir sahabat-sahabatmu?

Skenario yang sama, pelaku yang berbeda.

Manusia dan cap bodoh akan kelegaan hatinya untuk memaafkan.

Tuhan dan sifat Maha Penyayangnya justru tak pernah lelah memaafkan.

Manusia tidak akan menerimamu lagi untuk kesalahan fatal yang selalu kamu ulangi. Tapi Ia, dengan ke-Maha-annya, akan selalu menerimamu yang datang lalu lari, datang lagi dan lari lagi. Ia, yang maju sehasta saat kamu baru menjejak, yang berlari saat kamu mulai menghampiri. Ia, tak akan pernah sama dengan manusia yang akan dicap bodoh karena mudah memaafkan. Ia dan segala sifat Pengasih dan Pemaafnya. Ia yang akan menerimamu untuk sejuta baikmu, sejuta salahmu, dan berjuta baik dan salahmu di kemudian hari. Ia yang pintu maafnya selalu terbuka, untukmu yang selalu berusaha kembali.

Manusia dan cap bodohnya

Tuhan dan sifat Maha Pengasihnya

Skenario yang sama, pelaku yang berbeda

Bab memaafkan.

Anniversary

IMG_20170429_044743.jpg

Happy turning into 3 years!

Aku tahu ini remeh, tapi blog ini seperti bukti pergerakan arah pikiranku. Semoga ia selalu maju, bergerak ke arah yang lebih baik, memberi makna yang lebih berarti. Seperti inti sebuah puisi sederhana karya Sapardi Djoko Damono, ketika hidup berhenti semoga serpihan-serpihan tulisan di blog ini tetap ada, menjadi saksi bahwa seorang biasa pernah bercita-cita menulis untuk bermanfaat, meskipun dalam skala kecil. Duh jadi mellow:”

Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri

Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari

Karya: Sapardi Djoko Damono