Fight till the last breath

Aku tahu sebenarnya manusia punya pilihan untuk melakukan atau tidak melakukan, seperti aku yang bisa saja tidak mengomel ketika orang lain lamban atau salah, tapi aku memilih meluapkan segala kesalku. Aku tahu itu membuat hati mereka terluka, tapi aku memilih melakukannya. Aku tahu sebenarnya itupun membuat hatiku terluka, tapi aku tetap memilih melakukannya. Karena terkadang, seberapapun besar keinginan manusia untuk menolak, nafsu mereka lebih besar menekan untuk melakukan. Aku tahu itu nafsu, tapi aku tidak cukup kuat menjadi sosok yang mampu meredamnya. Hari ini, tepat beberapa jam sebelum usiaku berganti, aku sadar bahwa aku belum bisa menjadi sosok yang kuharapkan, apalagi yang orangtuaku harapkan. Aku masih kanak-kanak, sementara nafsuku terlampau dewasa. Aku masih tertatih-tatih mengendalikannya. Aku masih berharap orang-orang di sekelilingku paham dengan watakku, padahal jauh dilubuk hati aku tahu, aku bisa mengubahnya. Aku bisa melakukan segala hal yang kumau jika aku berusaha. Aku bisa untuk diam saat marah, aku bisa mengurangi keluhan, aku bisa berhenti memaki teman-temanku saat sedang kesal. Aku tahu aku bisa, jika dipikir pakai logika, aku mampu. Hanya saja… Aku tidak cukup berusaha untuk itu. Penyesalan pasti ada, tapi aku tidak ingin menyesal, aku ingin mencoba, seumur hidupku sampai ulang tahun terakhirku, untuk meredam sifat-sifat yang kutahu bisa kujinakkan. Aku ingin cukup berusaha. Menurutmu aku bisa kan?

#SembilanMinusDelapan

Advertisements

Owned

“He doesn’t deserve you then.”

Sebuah chat yang masuk pukul 11 malam dari seorang kawan saat sesi curhat colongan membuatku ingin tertawa. Kubalas dengan nada bercanda, “iyalah, yang deserve aku ya bapakku.” kemudian dia menyetujui. Tapi tunggu, sebenarnya siapa yang benar-benar berhak atas diriku?

Usiaku 19 tahun, dan selama menjalani hidup aku masih sering mengeluhkan kulitku yang tidak cerah, hidungku yang tidak mancung, mataku yang tidak simetris, gigiku yang besar-besar, dan masih banyak lagi. Aku tidak pernah berpikir aku terlihat cantik, dan memang kenyataannya seperti itu. Diluar sana, banyak orang merasakan hal serupa. Namun aku cukup beruntung karena tidak pernah dirundung karena hal fisik, yang banyak dialami orang lain dengan fisik mereka. Aku terkadang, atau seringkali, menjadi salah satu orang yang merundung, walau tidak secara langsung. Aku tidak bangga, jelas saja karena itu bukan hal terpuji. Tapi saat ini ketika aku melihat cermin, aku melihat diriku dengan berbeda. Aku tidak cantik, tapi aku punya senyum yang lebar kata mereka, dan menurutku lumayan cerah. Mataku tidak simetris, tapi aku punya bulu mata yang mekar seperti bunga walau tertutup kacamata. Hidungku tidak mancung, tapi ia terlihat harmonis dengan bibir segitigaku. Badanku kurus, tapi aku selalu merasa gendut, bukan karena aku tidak bersyukur, tapi karena dulu memang aku 10kg lebih kurus dari ini. Meskipun aku bilang aku gendut, aku senang, ini yang kumau. Aku melihat cermin dan melihat diriku sendiri seraya berpikir, “ini orang yang harus dilihat orang lain sebagai diriku.” dan ketika aku merasa baik-baik saja melihat diriku sendiri setiap hari, sekarang aku merasa tidak perlu panik kalau orang lain melihatku dan mengomentari sesuatu. Aku sudah melihatnya setiap hari, orang tersebut pasti juga akan terbiasa. Jadi aku oke saja dengan komentarnya. Ini berdampak pada caraku melihat orang lain. Tentu saja aku masih bergumam dalam hati tentang fisiknya, karena manusia diciptakan untuk berprasangka. Tapi aku santai dengan gumamanku, aku tidak perlu bertanya mengapa kulit mereka berjerawat, karena memang itu yang tubuh mereka pilih untuk ditunjukkan. Dan jika dia sanggup melihatnya setiap hari, mengapa aku yang hanya melihatnya beberapa jam harus repot berkomentar? Ketika orang lain memakai baju yang menurutku tidak cocok, mengapa aku harus bertanya padahal mereka biasa saja dengan gaya itu? Aku ingin bilang kepada orang-orang ketika aku nyeletuk ‘wow kamu gendutan!’ berarti aku bahagia untuk mereka. Aku ingin mereka tahu bahwa tidak apa-apa, kamu yang melihat dirimu setiap hari, aku oke dengan itu dan kamu tidak perlu kaget untuk menguruskan diri segera. Pun sama ketika orang lain bilang padaku, ‘kamu kok iteman?’ aku hanya akan menjawab ‘iya habis diklat.’ niat mereka bukan menyuruhku berubah, mereka hanya apresiasi perubahanku. Selama kalimatnya tidak diikuti dengan, ‘harusnya kamu blabla’ berarti santai saja, itu hanyalah ekspresi kaget, bukan berarti menginginkan kita berubah.

Pada akhirnya jawaban dari siapa yang berhak atas diriku ialah aku sendiri. I’ve been dealing with myself, I’ve had enough battle with myself, I was the only one in my room when I cried alone, aku yang bersama diriku setiap hari. Aku berharap aku bisa selalu sesayang ini kepada diriku sendiri.

Thankyou for not hurting yourself,

Thankyou for not hurting others,

Thankyou for accepting yourself.

I am owned, by me, and I’m grateful.

P. S tentu saja Allaah lebih berhak lagi, for He is the one Who hold my life between His fingers.

#SembilanMinusLima

Apresiasi

There will come a time when there are no human beings remaining to remember that anyone ever existed or that our species ever did anything. There will be no one left to remember Aristotle or Cleopatra, let alone you. Everything that we did and built and wrote and thought and discovered will be forgotten and all of this will have been for naught. Maybe that time is coming soon and maybe it is millions of years away, but even if we survive the collapse of our sun, we will not survive forever. There was time before organisms experienced consciousness, and there will be time after. And if the inevitability of human oblivion worries you, I encourage you to ignore it. God knows that’s what everyone else does.

Entah pada bab berapa di buku The Fault in Our Stars, seorang Gus bercerita tentang ketakutannya, oblivion; dilupakan.

Aku pun sering bertanya-tanya, kelak saat aku dimakamkan, berapa orang yang akan menangis? Seminggu setelahnya, siapa yang masih merindukan kehadiranku disisinya? Setahun kemudian, siapa yang mengingatku setiap lewat warung makan favoritku, atau mendengarkan musik kesukaanku? Aku, seringkali, merasa takut dengan kondisi bahwa suatu saat nanti orang akan terbiasa dengan keadaan tanpaku.

Tapi sebagaimana jawaban Hazel Grace memukau Gus, jawaban tersebut juga menyadarkanku akan suatu hal. Jika Cleopatra yang kecantikannya fenomenal mungkin akan terlupakan beratus tahun lagi, bagaimana denganku yang, yah, tahu sendiri, kan? Prestasiku juga sebatas berhasil bangun pagi di hari Minggu, bukannya menemukan mobil terbang atau apalah. Bisa saja orang melupakanku tepat tiga bulan setelah aku tidak lagi hidup, kan? Aku jadi sadar, betapa bio twitter Chloe Moretz sekitar tahun 2012 yang saat itu membuatku berpikir, ‘ini artinya apa ya’ ternyata masuk akal. Living life to the fullest. Dalam pengertianku, artinya hiduplah sehidup-hidupnya. Bukan agar tidak bisa terlupakan, tapi untuk mengenang diri sendiri saat masih hidup, to discover ourselves. Untuk hidup dan tidak menyesalinya, menghadapi mati dengan ‘Aku sudah hidup, kini aku akan mati’ dan berpikir bahwa itu hanyalah siklus normal.

Hal yang cukup berat untuk menerima suatu hari kita akan mati, walaupun kita tahu kita tidak bisa menolaknya. Aku, di sisa umur belasanku ini, mengerti kalau hidupku belum sehidup-hidupnya. Dan kurasa sampai mendekati mati pun kecil kemungkinan aku akan berpikir telah menjalani hidupku dengan cara terbaik. Aku mungkin kelak bersatu dengan penyesalan-penyesalan akan kesempatan yang tidak kuambil, atau kesempatan yang kuambil namun gagal. Tapi bukan berarti orang lain sepertiku, yang walaupun mampu memaknai living life to the fullest sepenuh hati, aku ragu bisa menjalaninya. Bukan berarti orang lain juga sama. Itulah mengapa aku suka dengan apresiasi. Aku ingin setidaknya ketika orang lain gagal dalam usahanya menjalani hidup sehidup-hidupnya, aku tidak menjadi salah satu penghambat itu. Aku ingin ketika denganku, mereka merasakan satu letupan pikiran ‘iya, aku bisa menjalani hidupku dengan hidup!’. Aku ingin mereka merasa bahwa usahanya tidak sia-sia, dan mereka tahu aku setuju. Aku suka apresiasi, walaupun dalam banyak kesempatan aku masih melupakannya, suatu hari nanti, aku ingin menjadi sosok yang mendorong orang lain agar tidak berkecil hati. Membiarkan mereka lelah tapi bahagia karena mereka tahu aku tahu, aku merasakan kelelahan mereka, dan aku bangga akan hal itu. Aku ingin dengan adanya aku, mereka merasa hidup nyatanya tak seburuk yang mereka duga, dan kata dilupakan tidak terdengar seram, karena di suatu waktu di hidup mereka, aku ada dan hidup masih baik-baik saja. Dan dengan itu, aku tak lagi takut akan dilupakan, karena aku hidup dalam hidup mereka.

#SembilanMinusSatu

Surface

Only when we start to ditch the bad thoughts, we will start to think.

Kenapa entertainment korea selatan bisa menguasai pasar global, hampir menyamai hollywood?

Kenapa korea selatan terkenal akan operasi plastiknya?

Nggak, saat kita benci, kita nggak akan berpikir kesana.

We will think straight when we are neutral.

Dan siapa sangka, karena fangirling aku bisa diskusi dengan temanku anak jurusan HI tentang mata kuliah yang pernah ditempuhnya, bahwa bisnis entertainment di korea selatan benar-benar diatur oleh pemerintah? Bahwa dulu sebelum mereka semaju sekarang, pemerintah pernah berinvestasi dengan orang-orang pemilik bisnis agar semakin maju bisnisnya, dan berimbas pada negaranya yang semakin maju? Well, untuk hal terakhir aku tidak terlalu mengerti sejarahnya. Tapi, aku bisa berpikir kesana karena aku memutuskan netral. Aku juga mencari tau tentang pendidikan kedokteran disana, yang ternyata sangatlah canggih. Dan bahwa di Indonesia hanya memiliki kurang dari 200 dokter spesialis bedah plastik dari sabang sampai merauke, yang aku tidak akan tau kalau aku tidak bertanya-tanya tentang bagaimana skill dokter bedah plastik disana yang terkenal mendekati sempurna, sampai jadi komoditas bisnis.

Pada akhirnya, kebencian hanya akan menutup mata kita dari hal baru, dan selamanya terjebak di permukaan.

Ini bukan tentang fangirling, hanya saja, it taught me much more than I thought. Be it kpop or jpop or even bollywood, be it entertainment world or sports or politics or cultures, hatred toward anything will get us nowhere. Preference is certainty, but not with the hatred. We can always choose to be neutral.

 

Back in the Days when I..

assalamualaikum~ I’m having difficulties to turn my thoughts into words karena terlalu banyak yang ingin ditulis tapi berakhir bagai rebusan air panas –menguap begitu saja. but here I am digging up my courage to start writing again because I recently have no life.

aku mau nulis tentang hal yang sedikit cheesy, boleh nggak ya? hehe. jadi, aku belakangan sering mikir tentang perasaan dan kesetiaan serasa gabut mikirin hal begitu padahal banyak tugas, yaAllah tolong. wow wow wow ada apakah dengan kedua hal tersebut? agak curhat sedikit, aku tipikal orang yang lumayan selow untuk urusan melow. aku memang bertekad untuk menganggap semua hal-hal berkaitan perasaan hanyalah bercanda belaka, tidak serius, karena selama tidak ada realisasi, berarti ya tidak ada hati. realisasi itu maksutnya ya ngerti sendiri lah ya. duh udah kayak cewek berprinsip nggak? hehe. menganggap bercanda itu bukan berarti ikut hahahihi menerima dan membalas sepik. cukup dengan tidak menanggapi dan tetap memegang teguh nilai-nilai pertemanan. karena tuh ya, dikira jaga hati gampang? hah? eh kok emosi. tapi emang nggak gampang, at least menurutku, karena buktinya aku masih kepincut dedek-dedek idol korea):

dari curhatan diatas mungkin bisa ditarik kesimpulan kalau aku sedikit mempertanyakan orang yang suka main-main sama perasaan. tebar bunga disetiap persimpangan jalan, misalnya. yang dicari apa? apalagi kalau ada yang suka berkata-kata manis. baik itu boleh, bermanis-manis ria yang kurang tepat. terlebih misalnya diakhir sampai bilang “lho ya kamu baper” atau “jangan baperlah, gitu doang”. haduh, orang baper itu tandanya sistem limbik otaknya masih jalan, fungsi luhurnya belum menurun, ya jelas dia punya perasaan. nggak bisa nyuruh nggak baper itu. apa ya nyuruh orang nggak merasakan perasaan berarti? tapi bukan berarti aku melegalkan baper, hanya untuk yang terlanjur kena serangan kata-kata manis, lebih baik ‘mengelola perasaan’. terbawa perasaan nggak apa-apa, tapi dipikir lagi, worth the time nggak, bawa untung apa bawa rugi, ada kejelasan atau main-main.

namun aku kembali lagi ke ucapan mbak yang selalu berusaha kuingat dan implementasikan, “nggak usah ngurusin orang”. mungkin orang lain punya alasan untuk bersikap seperti itu, dan bukan berarti aku atau sebagian orang yang menganggap perasaan dan kesetiaan sangat krusial lebih baik. orang bebas untuk mengungkapkan ekspresinya, hanya saja bagiku dan sebagian orang, perasaan nggak semudah itu diutarakan. ada banyak pertimbangan, sampai yakin kalau bisa bertanggungjawab atas perasaan tersebut, setia dan menepati yang telah diutarakan merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban. feelings aren’t toys, they aren’t fun to be played with.

dan yang bisa kulakukan mungkin menciptakan jarak untuk merefleksi, bukan berarti memusuhi, hanya saja sebagaimana aku menghargai orang lain, aku juga ingin menghargai diriku sendiri. kalimat janji semanis kesturi tidak akan berefek, karena aku percaya aku adalah melati, I got my own fragrance 😀


ditulis dengan bahagia dan rendah diri,

cheers!

#Ramadhan5: tali sepatu

“Kak, Arin mau keliling dunia. Arin mau melihat seberapa megah sih dunia ini, sampai orang-orang banyak yang mengagungkannya.”

“Nanti kalau sudah lulus SMA ya silahkan aja, Arin. sekarang bimbel dulu sana yang rajin.”

Ia tertawa manis, mengamit tanganku ke arah pedagang cilok di seberang alun-alun. baru setengah jalan, tali sepatu kanannya lepas –terinjak oleh kaki kirinya sendiri. ia tertawa lagi dan menepuk jidatnya, seakan mengutuk kebiasaan menginjak tali sepatu nya sendiri saat berjalan. kebiasaan yang aneh, dan entah mengapa kebiasaan itu sangat cocok dengan karakternya.

***

“Kak Bayu?”

aku baru hendak meninggalkan kedai buah ini, ketika suara seseorang menghentikan langkahku.

“Eh.. iya. hehe.” aku mengamati wajahnya, berusaha mengingat identitas wanita yang memanggil namaku tersebut.

“ingat saya nggak, Kak? saya Devi, adik kelas Kak Bayu. Dulu saya kelas 12 ipa 3, sekelas sama Arin.” ujarnya.

“Oh, Devi. ingat-ingat lupa sih, hehe. pengusaha buah nih sekarang, Dev?”

“usaha kecil-kecilan aja, Kak. Malas mau ikut-ikutan teman nyari kerja di perusahaan, nanti jarang pulang. Enakan jualan begini kerjanya di rumah. Udah denger kabar dari Arin belum, Kak? Keren ya dia sekarang, sebulan di Mesir, sebulan di Dubai, eh sebulan lagi udah sampai Perancis aja. kalau bulan depan dia ke Mars saya nggak bakal heran kayaknya. hahaha.” Devi menutup mulutnya sembari tertawa.

“Iya keren banget, Dev. kamu masih sering tukar kabar sama dia? salam ya, Dev. Eh aku pamit dulu ditunggu orang rumah, buahnya mau dibawa buat jenguk tetangga. yuk, Dev.”

Aku berjalan keluar dari kedai buah mungil milik Devi. Topik yang selalu dibicarakan ketika aku tidak sengaja berpapasan dengan adik-adik kelasku: Arin. Dua tahun yang lalu ia mengajakku bertemu tepat di hari buruh tanggal 1 Mei. Mungkin ingin bermain mumpung hari libur kuliah, pikirku. Namun ternyata, alasannya mengajak bertemu sungguh membuatku terhenyak. Tanpa ada masalah apapun ia memutuskan hubungan kami saat itu juga. tanpa basa-basi, tanpa air mata. Arin tidak menghubungiku lagi setelahnya, hingga saat ini. aku marah, jelas saja. Ia pikir 5 tahun kebersamaan kami hanya bercanda? dia bahkan sempat tersenyum ketika berkata, “Aku yakin Kak Bayu akan mengerti suatu saat. Arin ingin keliling dunia, Kak. Nggak tahu apakah Arin bisa ngajak Kakak dalam keadaan seperti ini.” Dan ya, jelas saja ia tidak mengajakku. tepatnya dia tidak mengajak siapapun, dan memulai pengembaraannya sebulan setelah gelar sarjana humaniora diraihnya setahun lalu. Pilihannya menjadi jurnalis sepertinya memang ditujukan untuk menuntaskan misi keliling dunia itu. Sejak ia mulai mengunjungi beberapa negara, aku menangkap hal yang berubah darinya. tulisan di blognya tetap tajam seperti biasa, tapi ada nyawa berbeda disana. aku merasakannya sebagai… akhir perjalanan? Ia bahkan belum mengunjungi semua benua, tapi tulisannya seperti mengisyaratkan bahwa Ia telah menemukan sesuatu. mungkinkah tujuan hidupnya? sesuatu seperti… keyakinan hatinya? Tuhan?

Tas plastik berisi buah di tangan kananku nyaris terlempar jika saja aku tidak segera menyeimbangkan badan, yang refleks membuyarkan lamunanku sepanjang kedai buah hingga parkiran mobil. tali sepatu kananku terlepas –kaki kiriku menginjaknya.

Arin, gadis itu. Ia memang selalu menginjak sendiri tali sepatunya. Tapi entah mengapa, satu hal yang kuyakini, Ia tak akan pernah menjilat sendiri kata-katanya.

mungkin aku akan mengerti seperti katanya.Kapan… aku tidak tahu. Entahlah, suatu saat nanti?


Allaah tidak menghamparkan bumi lengkap dengan detailnya, menegakkan langit ditaburi bintang-bintangnya, menerbitkan matahari dari timur dan menenggelamkan di barat, melainkan supaya kita melihat tanda-tanda kebesaranNya. setelah melihat… lantas apa?

jawabannya: hijrah (:

P.S

lagi keranjingan nyerpen dan muisi. maafkan ke-random-an cerpen/puisi di pos-pos berikutnya yang nggak nyambung dengan inti pesannya, ya! :3

#Ramadhan2: manusia lain

tahun lalu, manusia lain dari Tangerang ini yang rutin mengajak datang ke majelis-majelis di masjid, menunggu waktu berbuka sambil mendengarkan kajian yang menenangkan. ada pula manusia lain dari Jember yang mengajak tarawih bersama di masjid kampus, yang membuatku bertemu adik kecil lucu bernama Abbas. lalu, manusia lain dari Banyuwangi yang mengajak berbuka puasa bersama, mengembalikan ingatan tentang masa-masa SMP dan SMA.

tahun ini, manusia-manusia lain sedang sibuk. beberapa manusia lain bahkan terasa seperti sedang mengetes pertahanan emosi. namun, bukankah Bulan Ramadhan ini bulannya kebaikan? lalu mengapa tidak mendoakan manusia lain yang sedang sibuk agar kesibukannya menjadi berkah, dan memampukan diri untuk memaafkan manusia lain karena toh saat-saat seperti ini lebih indah dilalui dengan rasa saling memiliki.

bulan ini, mari belajar lebih banyak tentang hubungan diri sendiri dan manusia lain dalam hidup.


mohon maaf atas segala khilaf kata maupun tindakan, karena seperti kalian pun, aku juga manusia(: