Up

“I’ve always wanted to fly,” I whispered, leaning my head forward to get closer to Sky’s ear.

“Then go on.” Sky didn’t really pay attention and focused on the man singing in front of us instead.

Tonight is the anniversary of our school. The hall wasn’t too crowd, people were really tired of school to the point they’d stop coming if there are no classes; even though it’s the school annual party.

“I never got a chance to fly. I’ve never been on an airplane before. What was it like being up there, Sky? They said it’s beautiful, but I think it’s kinda scary though, to be miles away from safety tools. You don’t have hospital up there, or police station, so if bad things happen then you’re done, you can’t do anything. I wanna fly, but I’m also scared at the thought of it.” I talked in a low toned voice.

“You don’t think when you fly, you just feel. You feel the soothing light of the sun and imagine soft textured clouds touch your fingers while the wind blows below your neck. Beside, why’d you think when you are 30.000 ft above the earth? Leave your bad thoughts down there. you really like to complicate things don’t you?” Sky turned around and faced me, looking uneasy.

The music ended, it was the time for the party to end too.

“Okay, sorry.” I mumbled as I straightened my back, ready to get up. Sky was already standing and left.

“Here, take these. Fly on the way home.” Sky came back, handed me lustrous pink and grey balloons from the photo corner.

I grinned then asked, “Take a picture of me?”

“Sure.”

If I fly, will I ever touch the Sky?

balloons

Advertisements

Celestial

“Look at that full moon. Isn’t it beautiful?” Sky pointed at the moon, we were at the school finishing some group project.

“It is. Do you like the moon?” I asked.

“Among all the celestial bodies? Yes.” Sky answered.

“Why?” I didn’t know Sky liked the moon that much.

“Okay this is cheesy but you were the one who asked. The moon has always been so close. Let’s say stars are bigger and shine on it’s own, but the moon simply rotate around the earth. It rises and sets everyday, although there are days it goes blend with the dark, still, it is what I like about the moon. It’s consistency of being close.” Sky talked while looking above, then giggled after heard my laugh. “Why did you laugh?”

“I never heard that kind of reaction when it comes to astronomical talks.” I couldn’t help but laugh harder. “Tell me, who’s this moon actually?”

Sky didn’t answer. “What’s your favourite, then?”

This time I didn’t answer. I smiled for a straight 10 seconds. I knew I’ve been a stargazer for half of my life. And I knew, I wasn’t the moon, or will ever be.

I was only a mere stardust; remnant of the vanished star.

 

 

Lost in Words

“how do you do that?” Sky asked.

“do what?” I answered while braiding a kid’s hair.

“communicate with them.” Sky mumbled.

“well, you know, Sky, I believe that language were made for human to simplify communication. But these kids, they aren’t human, they are beyond that. They’re angels, and angels don’t need voices nor words to communicate, their eyes radiate what their hearts want to speak.” I smiled, and Sky  smiled back.

Sky was that kind of person who got awkward around new people. Sky knew, that I was also like that, but I could overcome it. What Sky didn’t know was that I lost words more than Sky ever imagined, more than Sky ever lost words while talking to new people.

I lost words everytime Sky stood in front of me.

PicsArt_09-24-01.05.25

📷 Sab/Ekv/Rfq

#HealthCampaignBEMFKUNEJ

#ImagineSky

Birthday Present

Mungkin karena usia yang semakin tua, aku semakin memaknai hidup lebih dalam. Aku baru saja mendapatkan hadiah ulang tahun terbaik, meskipun telat 4 hari. Hadiah terbaik dari orang baik.

Tanggal 13 September kemarin, kelompok ketrampilan klinik dasarku sepakat untuk pergi ke sebuah kedai ayam goreng, karena salah seorang dari kami ingin mentraktir makan siang. Iya, dia sedang berulang tahun hari itu. Sesampainya disana, kami melakukan ritual umum saat ulangtahun: tiup lilin-potong kue-unggah foto ke snapgram. Tidak berapa lama kemudian, ada seorang pengamen berdiri di depan pintu. Kami hanya menoleh sejenak, kemudian sibuk bermain dengan ponsel masing-masing. Tapi, tiba-tiba temanku yang sedang berulang tahun membuka pintu. Kami kira ia hanya akan memberi recehan pada bapak pengamen, ternyata ia mempersilakan masuk bapak tersebut. Kami kaget, suasana hening diikuti sorot mata tak terdefinisi dari kami. Pernah lihat video proyek sosial yang sering muncul di lini masa Line dimana orang-orang kurang mampu finansial diberi makanan mahal dan direkam reaksinya? Apa yang dilakukan temanku ini mengingatkanku pada hal tersebut. Dan ini bukan proyek sosial untuk meningkatkan rasa empati manusia melalui media sosial, ini hanyalah temanku, di hari ulang tahunnya sedang ingin mentraktir teman-temannya dan tak sengaja ada pengamen datang, jadi kenapa tidak diajak sekalian saja. Ini temanku, yang tidak terlihat seperti orang yang suka mengkampanyekan hak asasi manusia atau lain sebagainya di media sosial. Ini hanya temanku yang sedang lapar kemudian melihat seorang pengamen yang juga terlihat lapar lalu kenapa tidak makan bersama saja. Lalu ia mengambil sepotong kue ulang tahun untuknya sendiri, dan menyodorkan sepotong lain untuk bapak pengamen, yang disambut dengan senyum sungkan. Saat kami semua selesai makan, ia membayar di kasir, ia juga meminta beberapa bungkus ayam goreng. Untuk istri sama anak di rumah ya, Pak, ucapnya saat memberikan bungkusan tersebut pada bapak pengamen. Aku tertegun. Ini temanku, yang usianya lebih muda dariku 4 hari, yang kesehariannya merayu gadis-gadis satu angkatan, yang jarang nongkrong di kafe-kafe mahal, yang tidak pernah mencatat materi tutorial tapi hafal dari anatomi sampai patofisiologi, yang tidak pernah berhenti bercanda dan menyapa semua orang. Kemudian aku melihat cermin panjang di dinding kedai, itu aku, yang masih berfikir dua kali untuk memberi; tapi aku belum ke salon, belum beli rok baru, belum beli kemeja baru. Aku yang merasa peduli pada umat manusia tapi hanya sedikit saja kontribusi dalam implementasinya.

Hari itu, aku belajar dari seorang teman tentang kerendahan hati dan tentang rasa empati. Hari itu, andai dia tahu, ialah kado terindahku selama 20 tahun aku hidup. Aku tidak dapat tas, atau sepatu, atau gamis baru, tapi aku dapat pelajaran untuk berhenti berpikir banyak-banyak dan mulai memberi.

 

 

 

Fight till the last breath

Aku tahu sebenarnya manusia punya pilihan untuk melakukan atau tidak melakukan, seperti aku yang bisa saja tidak mengomel ketika orang lain lamban atau salah, tapi aku memilih meluapkan segala kesalku. Aku tahu itu membuat hati mereka terluka, tapi aku memilih melakukannya. Aku tahu sebenarnya itupun membuat hatiku terluka, tapi aku tetap memilih melakukannya. Karena terkadang, seberapapun besar keinginan manusia untuk menolak, nafsu mereka lebih besar menekan untuk melakukan. Aku tahu itu nafsu, tapi aku tidak cukup kuat menjadi sosok yang mampu meredamnya. Hari ini, tepat beberapa jam sebelum usiaku berganti, aku sadar bahwa aku belum bisa menjadi sosok yang kuharapkan, apalagi yang orangtuaku harapkan. Aku masih kanak-kanak, sementara nafsuku terlampau dewasa. Aku masih tertatih-tatih mengendalikannya. Aku masih berharap orang-orang di sekelilingku paham dengan watakku, padahal jauh dilubuk hati aku tahu, aku bisa mengubahnya. Aku bisa melakukan segala hal yang kumau jika aku berusaha. Aku bisa untuk diam saat marah, aku bisa mengurangi keluhan, aku bisa berhenti memaki teman-temanku saat sedang kesal. Aku tahu aku bisa, jika dipikir pakai logika, aku mampu. Hanya saja… Aku tidak cukup berusaha untuk itu. Penyesalan pasti ada, tapi aku tidak ingin menyesal, aku ingin mencoba, seumur hidupku sampai ulang tahun terakhirku, untuk meredam sifat-sifat yang kutahu bisa kujinakkan. Aku ingin cukup berusaha. Menurutmu aku bisa kan?

#SembilanMinusDelapan

Owned

“He doesn’t deserve you then.”

Sebuah chat yang masuk pukul 11 malam dari seorang kawan saat sesi curhat colongan membuatku ingin tertawa. Kubalas dengan nada bercanda, “iyalah, yang deserve aku ya bapakku.” kemudian dia menyetujui. Tapi tunggu, sebenarnya siapa yang benar-benar berhak atas diriku?

Usiaku 19 tahun, dan selama menjalani hidup aku masih sering mengeluhkan kulitku yang tidak cerah, hidungku yang tidak mancung, mataku yang tidak simetris, gigiku yang besar-besar, dan masih banyak lagi. Aku tidak pernah berpikir aku terlihat cantik, dan memang kenyataannya seperti itu. Diluar sana, banyak orang merasakan hal serupa. Namun aku cukup beruntung karena tidak pernah dirundung karena hal fisik, yang banyak dialami orang lain dengan fisik mereka. Aku terkadang, atau seringkali, menjadi salah satu orang yang merundung, walau tidak secara langsung. Aku tidak bangga, jelas saja karena itu bukan hal terpuji. Tapi saat ini ketika aku melihat cermin, aku melihat diriku dengan berbeda. Aku tidak cantik, tapi aku punya senyum yang lebar kata mereka, dan menurutku lumayan cerah. Mataku tidak simetris, tapi aku punya bulu mata yang mekar seperti bunga walau tertutup kacamata. Hidungku tidak mancung, tapi ia terlihat harmonis dengan bibir segitigaku. Badanku kurus, tapi aku selalu merasa gendut, bukan karena aku tidak bersyukur, tapi karena dulu memang aku 10kg lebih kurus dari ini. Meskipun aku bilang aku gendut, aku senang, ini yang kumau. Aku melihat cermin dan melihat diriku sendiri seraya berpikir, “ini orang yang harus dilihat orang lain sebagai diriku.” dan ketika aku merasa baik-baik saja melihat diriku sendiri setiap hari, sekarang aku merasa tidak perlu panik kalau orang lain melihatku dan mengomentari sesuatu. Aku sudah melihatnya setiap hari, orang tersebut pasti juga akan terbiasa. Jadi aku oke saja dengan komentarnya. Ini berdampak pada caraku melihat orang lain. Tentu saja aku masih bergumam dalam hati tentang fisiknya, karena manusia diciptakan untuk berprasangka. Tapi aku santai dengan gumamanku, aku tidak perlu bertanya mengapa kulit mereka berjerawat, karena memang itu yang tubuh mereka pilih untuk ditunjukkan. Dan jika dia sanggup melihatnya setiap hari, mengapa aku yang hanya melihatnya beberapa jam harus repot berkomentar? Ketika orang lain memakai baju yang menurutku tidak cocok, mengapa aku harus bertanya padahal mereka biasa saja dengan gaya itu? Aku ingin bilang kepada orang-orang ketika aku nyeletuk ‘wow kamu gendutan!’ berarti aku bahagia untuk mereka. Aku ingin mereka tahu bahwa tidak apa-apa, kamu yang melihat dirimu setiap hari, aku oke dengan itu dan kamu tidak perlu kaget untuk menguruskan diri segera. Pun sama ketika orang lain bilang padaku, ‘kamu kok iteman?’ aku hanya akan menjawab ‘iya habis diklat.’ niat mereka bukan menyuruhku berubah, mereka hanya apresiasi perubahanku. Selama kalimatnya tidak diikuti dengan, ‘harusnya kamu blabla’ berarti santai saja, itu hanyalah ekspresi kaget, bukan berarti menginginkan kita berubah.

Pada akhirnya jawaban dari siapa yang berhak atas diriku ialah aku sendiri. I’ve been dealing with myself, I’ve had enough battle with myself, I was the only one in my room when I cried alone, aku yang bersama diriku setiap hari. Aku berharap aku bisa selalu sesayang ini kepada diriku sendiri.

Thankyou for not hurting yourself,

Thankyou for not hurting others,

Thankyou for accepting yourself.

I am owned, by me, and I’m grateful.

P. S tentu saja Allaah lebih berhak lagi, for He is the one Who hold my life between His fingers.

#SembilanMinusLima

Apresiasi

There will come a time when there are no human beings remaining to remember that anyone ever existed or that our species ever did anything. There will be no one left to remember Aristotle or Cleopatra, let alone you. Everything that we did and built and wrote and thought and discovered will be forgotten and all of this will have been for naught. Maybe that time is coming soon and maybe it is millions of years away, but even if we survive the collapse of our sun, we will not survive forever. There was time before organisms experienced consciousness, and there will be time after. And if the inevitability of human oblivion worries you, I encourage you to ignore it. God knows that’s what everyone else does.

Entah pada bab berapa di buku The Fault in Our Stars, seorang Gus bercerita tentang ketakutannya, oblivion; dilupakan.

Aku pun sering bertanya-tanya, kelak saat aku dimakamkan, berapa orang yang akan menangis? Seminggu setelahnya, siapa yang masih merindukan kehadiranku disisinya? Setahun kemudian, siapa yang mengingatku setiap lewat warung makan favoritku, atau mendengarkan musik kesukaanku? Aku, seringkali, merasa takut dengan kondisi bahwa suatu saat nanti orang akan terbiasa dengan keadaan tanpaku.

Tapi sebagaimana jawaban Hazel Grace memukau Gus, jawaban tersebut juga menyadarkanku akan suatu hal. Jika Cleopatra yang kecantikannya fenomenal mungkin akan terlupakan beratus tahun lagi, bagaimana denganku yang, yah, tahu sendiri, kan? Prestasiku juga sebatas berhasil bangun pagi di hari Minggu, bukannya menemukan mobil terbang atau apalah. Bisa saja orang melupakanku tepat tiga bulan setelah aku tidak lagi hidup, kan? Aku jadi sadar, betapa bio twitter Chloe Moretz sekitar tahun 2012 yang saat itu membuatku berpikir, ‘ini artinya apa ya’ ternyata masuk akal. Living life to the fullest. Dalam pengertianku, artinya hiduplah sehidup-hidupnya. Bukan agar tidak bisa terlupakan, tapi untuk mengenang diri sendiri saat masih hidup, to discover ourselves. Untuk hidup dan tidak menyesalinya, menghadapi mati dengan ‘Aku sudah hidup, kini aku akan mati’ dan berpikir bahwa itu hanyalah siklus normal.

Hal yang cukup berat untuk menerima suatu hari kita akan mati, walaupun kita tahu kita tidak bisa menolaknya. Aku, di sisa umur belasanku ini, mengerti kalau hidupku belum sehidup-hidupnya. Dan kurasa sampai mendekati mati pun kecil kemungkinan aku akan berpikir telah menjalani hidupku dengan cara terbaik. Aku mungkin kelak bersatu dengan penyesalan-penyesalan akan kesempatan yang tidak kuambil, atau kesempatan yang kuambil namun gagal. Tapi bukan berarti orang lain sepertiku, yang walaupun mampu memaknai living life to the fullest sepenuh hati, aku ragu bisa menjalaninya. Bukan berarti orang lain juga sama. Itulah mengapa aku suka dengan apresiasi. Aku ingin setidaknya ketika orang lain gagal dalam usahanya menjalani hidup sehidup-hidupnya, aku tidak menjadi salah satu penghambat itu. Aku ingin ketika denganku, mereka merasakan satu letupan pikiran ‘iya, aku bisa menjalani hidupku dengan hidup!’. Aku ingin mereka merasa bahwa usahanya tidak sia-sia, dan mereka tahu aku setuju. Aku suka apresiasi, walaupun dalam banyak kesempatan aku masih melupakannya, suatu hari nanti, aku ingin menjadi sosok yang mendorong orang lain agar tidak berkecil hati. Membiarkan mereka lelah tapi bahagia karena mereka tahu aku tahu, aku merasakan kelelahan mereka, dan aku bangga akan hal itu. Aku ingin dengan adanya aku, mereka merasa hidup nyatanya tak seburuk yang mereka duga, dan kata dilupakan tidak terdengar seram, karena di suatu waktu di hidup mereka, aku ada dan hidup masih baik-baik saja. Dan dengan itu, aku tak lagi takut akan dilupakan, karena aku hidup dalam hidup mereka.

#SembilanMinusSatu