Surface

Only when we start to ditch the bad thoughts, we will start to think.

Kenapa entertainment korea selatan bisa menguasai pasar global, hampir menyamai hollywood?

Kenapa korea selatan terkenal akan operasi plastiknya?

Nggak, saat kita benci, kita nggak akan berpikir kesana.

We will think straight when we are neutral.

Dan siapa sangka, karena fangirling aku bisa diskusi dengan temanku anak jurusan HI tentang mata kuliah yang pernah ditempuhnya, bahwa bisnis entertainment di korea selatan benar-benar diatur oleh pemerintah? Bahwa dulu sebelum mereka semaju sekarang, pemerintah pernah berinvestasi dengan orang-orang pemilik bisnis agar semakin maju bisnisnya, dan berimbas pada negaranya yang semakin maju? Well, untuk hal terakhir aku tidak terlalu mengerti sejarahnya. Tapi, aku bisa berpikir kesana karena aku memutuskan netral. Aku juga mencari tau tentang pendidikan kedokteran disana, yang ternyata sangatlah canggih. Dan bahwa di Indonesia hanya memiliki kurang dari 200 dokter spesialis bedah plastik dari sabang sampai merauke, yang aku tidak akan tau kalau aku tidak bertanya-tanya tentang bagaimana skill dokter bedah plastik disana yang terkenal mendekati sempurna, sampai jadi komoditas bisnis.

Pada akhirnya, kebencian hanya akan menutup mata kita dari hal baru, dan selamanya terjebak di permukaan.

Ini bukan tentang fangirling, hanya saja, it taught me much more than I thought. Be it kpop or jpop or even bollywood, be it entertainment world or sports or politics or cultures, hatred toward anything will get us nowhere. Preference is certainty, but not with the hatred. We can always choose to be neutral.

 

Back in the Days when I..

assalamualaikum~ I’m having difficulties to turn my thoughts into words karena terlalu banyak yang ingin ditulis tapi berakhir bagai rebusan air panas –menguap begitu saja. but here I am digging up my courage to start writing again because I recently have no life.

aku mau nulis tentang hal yang sedikit cheesy, boleh nggak ya? hehe. jadi, aku belakangan sering mikir tentang perasaan dan kesetiaan serasa gabut mikirin hal begitu padahal banyak tugas, yaAllah tolong. wow wow wow ada apakah dengan kedua hal tersebut? agak curhat sedikit, aku tipikal orang yang lumayan selow untuk urusan melow. aku memang bertekad untuk menganggap semua hal-hal berkaitan perasaan hanyalah bercanda belaka, tidak serius, karena selama tidak ada realisasi, berarti ya tidak ada hati. realisasi itu maksutnya ya ngerti sendiri lah ya. duh udah kayak cewek berprinsip nggak? hehe. menganggap bercanda itu bukan berarti ikut hahahihi menerima dan membalas sepik. cukup dengan tidak menanggapi dan tetap memegang teguh nilai-nilai pertemanan. karena tuh ya, dikira jaga hati gampang? hah? eh kok emosi. tapi emang nggak gampang, at least menurutku, karena buktinya aku masih kepincut dedek-dedek idol korea):

dari curhatan diatas mungkin bisa ditarik kesimpulan kalau aku sedikit mempertanyakan orang yang suka main-main sama perasaan. tebar bunga disetiap persimpangan jalan, misalnya. yang dicari apa? apalagi kalau ada yang suka berkata-kata manis. baik itu boleh, bermanis-manis ria yang kurang tepat. terlebih misalnya diakhir sampai bilang “lho ya kamu baper” atau “jangan baperlah, gitu doang”. haduh, orang baper itu tandanya sistem limbik otaknya masih jalan, fungsi luhurnya belum menurun, ya jelas dia punya perasaan. nggak bisa nyuruh nggak baper itu. apa ya nyuruh orang nggak merasakan perasaan berarti? tapi bukan berarti aku melegalkan baper, hanya untuk yang terlanjur kena serangan kata-kata manis, lebih baik ‘mengelola perasaan’. terbawa perasaan nggak apa-apa, tapi dipikir lagi, worth the time nggak, bawa untung apa bawa rugi, ada kejelasan atau main-main.

namun aku kembali lagi ke ucapan mbak yang selalu berusaha kuingat dan implementasikan, “nggak usah ngurusin orang”. mungkin orang lain punya alasan untuk bersikap seperti itu, dan bukan berarti aku atau sebagian orang yang menganggap perasaan dan kesetiaan sangat krusial lebih baik. orang bebas untuk mengungkapkan ekspresinya, hanya saja bagiku dan sebagian orang, perasaan nggak semudah itu diutarakan. ada banyak pertimbangan, sampai yakin kalau bisa bertanggungjawab atas perasaan tersebut, setia dan menepati yang telah diutarakan merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban. feelings aren’t toys, they aren’t fun to be played with.

dan yang bisa kulakukan mungkin menciptakan jarak untuk merefleksi, bukan berarti memusuhi, hanya saja sebagaimana aku menghargai orang lain, aku juga ingin menghargai diriku sendiri. kalimat janji semanis kesturi tidak akan berefek, karena aku percaya aku adalah melati, I got my own fragrance 😀


ditulis dengan bahagia dan rendah diri,

cheers!

#Ramadhan5: tali sepatu

“Kak, Arin mau keliling dunia. Arin mau melihat seberapa megah sih dunia ini, sampai orang-orang banyak yang mengagungkannya.”

“Nanti kalau sudah lulus SMA ya silahkan aja, Arin. sekarang bimbel dulu sana yang rajin.”

Ia tertawa manis, mengamit tanganku ke arah pedagang cilok di seberang alun-alun. baru setengah jalan, tali sepatu kanannya lepas –terinjak oleh kaki kirinya sendiri. ia tertawa lagi dan menepuk jidatnya, seakan mengutuk kebiasaan menginjak tali sepatu nya sendiri saat berjalan. kebiasaan yang aneh, dan entah mengapa kebiasaan itu sangat cocok dengan karakternya.

***

“Kak Bayu?”

aku baru hendak meninggalkan kedai buah ini, ketika suara seseorang menghentikan langkahku.

“Eh.. iya. hehe.” aku mengamati wajahnya, berusaha mengingat identitas wanita yang memanggil namaku tersebut.

“ingat saya nggak, Kak? saya Devi, adik kelas Kak Bayu. Dulu saya kelas 12 ipa 3, sekelas sama Arin.” ujarnya.

“Oh, Devi. ingat-ingat lupa sih, hehe. pengusaha buah nih sekarang, Dev?”

“usaha kecil-kecilan aja, Kak. Malas mau ikut-ikutan teman nyari kerja di perusahaan, nanti jarang pulang. Enakan jualan begini kerjanya di rumah. Udah denger kabar dari Arin belum, Kak? Keren ya dia sekarang, sebulan di Mesir, sebulan di Dubai, eh sebulan lagi udah sampai Perancis aja. kalau bulan depan dia ke Mars saya nggak bakal heran kayaknya. hahaha.” Devi menutup mulutnya sembari tertawa.

“Iya keren banget, Dev. kamu masih sering tukar kabar sama dia? salam ya, Dev. Eh aku pamit dulu ditunggu orang rumah, buahnya mau dibawa buat jenguk tetangga. yuk, Dev.”

Aku berjalan keluar dari kedai buah mungil milik Devi. Topik yang selalu dibicarakan ketika aku tidak sengaja berpapasan dengan adik-adik kelasku: Arin. Dua tahun yang lalu ia mengajakku bertemu tepat di hari buruh tanggal 1 Mei. Mungkin ingin bermain mumpung hari libur kuliah, pikirku. Namun ternyata, alasannya mengajak bertemu sungguh membuatku terhenyak. Tanpa ada masalah apapun ia memutuskan hubungan kami saat itu juga. tanpa basa-basi, tanpa air mata. Arin tidak menghubungiku lagi setelahnya, hingga saat ini. aku marah, jelas saja. Ia pikir 5 tahun kebersamaan kami hanya bercanda? dia bahkan sempat tersenyum ketika berkata, “Aku yakin Kak Bayu akan mengerti suatu saat. Arin ingin keliling dunia, Kak. Nggak tahu apakah Arin bisa ngajak Kakak dalam keadaan seperti ini.” Dan ya, jelas saja ia tidak mengajakku. tepatnya dia tidak mengajak siapapun, dan memulai pengembaraannya sebulan setelah gelar sarjana humaniora diraihnya setahun lalu. Pilihannya menjadi jurnalis sepertinya memang ditujukan untuk menuntaskan misi keliling dunia itu. Sejak ia mulai mengunjungi beberapa negara, aku menangkap hal yang berubah darinya. tulisan di blognya tetap tajam seperti biasa, tapi ada nyawa berbeda disana. aku merasakannya sebagai… akhir perjalanan? Ia bahkan belum mengunjungi semua benua, tapi tulisannya seperti mengisyaratkan bahwa Ia telah menemukan sesuatu. mungkinkah tujuan hidupnya? sesuatu seperti… keyakinan hatinya? Tuhan?

Tas plastik berisi buah di tangan kananku nyaris terlempar jika saja aku tidak segera menyeimbangkan badan, yang refleks membuyarkan lamunanku sepanjang kedai buah hingga parkiran mobil. tali sepatu kananku terlepas –kaki kiriku menginjaknya.

Arin, gadis itu. Ia memang selalu menginjak sendiri tali sepatunya. Tapi entah mengapa, satu hal yang kuyakini, Ia tak akan pernah menjilat sendiri kata-katanya.

mungkin aku akan mengerti seperti katanya.Kapan… aku tidak tahu. Entahlah, suatu saat nanti?


Allaah tidak menghamparkan bumi lengkap dengan detailnya, menegakkan langit ditaburi bintang-bintangnya, menerbitkan matahari dari timur dan menenggelamkan di barat, melainkan supaya kita melihat tanda-tanda kebesaranNya. setelah melihat… lantas apa?

jawabannya: hijrah (:

P.S

lagi keranjingan nyerpen dan muisi. maafkan ke-random-an cerpen/puisi di pos-pos berikutnya yang nggak nyambung dengan inti pesannya, ya! :3

#Ramadhan2: manusia lain

tahun lalu, manusia lain dari Tangerang ini yang rutin mengajak datang ke majelis-majelis di masjid, menunggu waktu berbuka sambil mendengarkan kajian yang menenangkan. ada pula manusia lain dari Jember yang mengajak tarawih bersama di masjid kampus, yang membuatku bertemu adik kecil lucu bernama Abbas. lalu, manusia lain dari Banyuwangi yang mengajak berbuka puasa bersama, mengembalikan ingatan tentang masa-masa SMP dan SMA.

tahun ini, manusia-manusia lain sedang sibuk. beberapa manusia lain bahkan terasa seperti sedang mengetes pertahanan emosi. namun, bukankah Bulan Ramadhan ini bulannya kebaikan? lalu mengapa tidak mendoakan manusia lain yang sedang sibuk agar kesibukannya menjadi berkah, dan memampukan diri untuk memaafkan manusia lain karena toh saat-saat seperti ini lebih indah dilalui dengan rasa saling memiliki.

bulan ini, mari belajar lebih banyak tentang hubungan diri sendiri dan manusia lain dalam hidup.


mohon maaf atas segala khilaf kata maupun tindakan, karena seperti kalian pun, aku juga manusia(:

Billion Times Sorry

“jangan kebanyakan minta maaf, nanti permintaan maafmu jadi nggak bermakna.”

Dulu temanku pernah bilang begini, dan aku setuju saat itu. Iya, apa gunanya minta maaf kalau diulang lagi? Yang ngasih maaf pasti males lah. Tapi setelah aku mikir-mikir lagi, kayaknya nggak harus males.  Misal seseorang mengulang kesalahan yang sama terus menerus, ya kenapa sih kita nggak mau nerima aja maafnya yang juga berulang kali itu? Bagiku memendam perasaan benci sangat melelahkan. Secara logika pasti bakal mikir “jangan jatuh ke lubang yang sama, jangan bodoh nanti dikelabui dan dianggap lemah.” tapi tunggu, apakah memaafkan merupakan suatu kelemahan? Apakah melepaskan diri sendiri dari perasaan ingin menghujat merupakan kebodohan? Entahlah. Menurutku, yasudah maafkan saja. Kalau diulang lagi, ya maafkan lagi. Gitu aja terus sampai rotasi bumi berhenti. Sebuah contoh lucu dari papaku: kalau seseorang pinjam uang dan nggak mau kembalikan, tetap anggap teman tapi jangan pinjami uang lagi. Saat aku bertanya gimana caranya menolak, papaku menjawab, “ya bilang aja aku nggak mau pinjami kamu uang soalnya dulu uangku nggak kamu kembalikan, hehe.” terus kalau diajak ngopi ya ngopi aja, diajak belajar bareng ya belajar bareng aja, pokoknya jangan mau dipinjami uang. Nah, memaafkan jenis itu yang menurutku keren. Itu tidak bodoh, kan? Tidak membuat kita terlihat lemah, kan? Tapi itu memaafkan. Dan lagi, maaf jenis itu bisa memberi pelajaran bagi yang meminta maaf. Yang jelas, setelah kita tahu betapa memaafkan ini kecut-kecut manis, jangan jadi yang hobi mengulang kesalahan. Ya aku tahu ini omdo banget, tapi seenggaknya menyesalah. Beratus kali pun kita khilaf, menyesalah. Nanti suatu saat hati kita akan punya alarm yang berdering ketika akan melakukan kesalahan yang sama, dan secara otomatis menghentikan kita tepat sebelum melakukan kesalahan tersebut.

Billions sorry to say, Billions sorry to give. Why not? 😀

#StrivingForTheBest

Different Souls

I was a big fan of music back then in middle school. My musics are those listened by my elder sister; boys like girls, taylor swift, miley cyrus, yeah by those musicians. And then I stopped listening to her style, because I got my own style since — I don’t know since when. I listen to new songs but not that much, and it still happens until this very period of my life. I’m somehow really picky about songs, I listened to new songs only when my friends play them on spotify and I’d be like, “yes okay so what is the meaning of rockaby?” as I listened to it for the first time and they’d freak out how come I not ever listen to that song before.

A friend once told me that I don’t actually listen to musics, I listen to lyrics more. Well I actually am. But, when I was in middle school I watch a movie titled “Music and Lyrics” which had me come to realisation that music and lyrics were a package. I argued him and told him “so why I choose my own kind of musics” but I never told him this: if he likes singing out the melody, I’d rather read the words. So for me, in music, we can choose, to listen to the sound and feel or to understand the words and feel.

I’m not a musician and I have zero knowledge about music lol I was just contemplating that just like music has its soul, every living thing has it too. Each are different. Just like music has its melody and lyrics, we do too have sides we like more and less. But then they make us beautiful, just like melody and lyrics make music music; complete.

Anyway I just found out that my favourite genre (they call it genre don’t they?) is Indie-Folk. I happened to open a website about this genre and found lists of my favourite musicians. How come I don’t know myself these years haha. So, what are your genre, different soul fellas? (:

Improvisasi

Yang menyedihkan ialah ketika sedih kita cenderung panik, dan akhirnya improvisasi itu mulai muncul. Improvisasi dalam keyakinan. Tujuannya sih mencari kebahagiaan. Tapi kita sering sekali juga lupa, bahagia sebenarnya buah dari taat pada keyakinan. Improvisasi dalam keyakinan; jalan menepis sedih yang menjerumuskan lebih jauh dalam kesedihan. Karena, ya, setan itu lebih sabar dari kita kadang-kadang. Mereka mampu menunggu, lama tak apa, sampai kita lengah dan kemudian merongrong dari dalam dengan hati-hati, pelan namun pasti.

Ibarat kata teman yang mengutip guru SMA, “kalau ‘alim ulama imannya naik turun, kalau orang macam kita ini hilang timbul.”

Tidak apa, toh Allaah tidak kemana-mana. Selalu ada waktu untuk kembali, meminta maaf, dan mengakui kita lemah karena sedih, dan kita sedih karena terlalu banyak berbuat dosa.