Ramadan Day 1: Chicken Pie

Assalamualaikum! Marhaban yaa Ramadan! Selamat datang di bulan suci penuh berkah!

Jadi setelah beberapa bulan nggak posting apapun, Ramadan kali ini aku berniat posting tiap hari sampai lebaran. Kenapa? Ya nggak apa-apa pengen aja hehehehehe.

Hari ini aku niatnya mau nulis tentang suatu hal eh tapi karena sebuah kondisi yang mengharuskan pulang nyaris tengah malam, nggak jadi deh. Post hari pertama Ramadan sebagai pembuka aja.

Terus, kenapa judulnya chicken pie? Karena aku pengen makan chicken pie. Nggak nyambung iya nggak apa-apa. Selamat menjalankan ibadah puasa dan ibadah lainnya! Tetap produktif, ya!  *ngomong sama cermin*

Advertisements

Mungkin

Besok. Mungkin.

Baginya, waktu sudah sangat baik, maju satu per satu tiap detik tidak pernah lompat atau terjerembab. Tapi, orang-oranglah yang membuatnya meragukan lagi kebaikan itu. Baginya, waktu sudah sangat santai dengan berjalan di sampingnya bergandengan. Tapi, orang-oranglah yang membuatnya ingin menyeret waktu yang terasa bergerak lambat.

Lusa. Mungkin.

Sebenarnya ia tak masalah mau sendiri, mau berdua, mau berlima, mau satu desa. Tapi entah bagian mana dari tubuhnya—entah itu matanya, atau hidungnya, atau bibirnya, atau tahi lalat di telapak tangannya—yang berteriak bahwa dia butuh sebuah penggenap. Memangnya aku ini apa, pikirnya. Ia suka sesekali bercermin untuk melihat apakah dirinya seganjil itu, hingga tiap mulut bersikukuh ia perlu segera mencari kepingan hatinya yang bahkan ia sendiri saja tak tahu jika pernah hilang.

Minggu depan. Mungkin.

Kadang ia lelah mendengar pujian-pujian tentang dirinya. Halo, cantik. Katanya ia cantik. Halo, pintar. Katanya ia pintar. Kapan punya pacar? Namun akhirannya tetap sama. Apa tidak bisa ia cantik sendiri, pintar sendiri, untuk dirinya atau tukang sapu di ujung perempatan yang sering ia lewati atau penjual rujak yang mengerti ia suka cabai satu atau burung gereja yang singgah di atap kamarnya padahal bukan gereja. Apa tidak bisa ia cantik dan ia pintar untuk dunia. Apa ia harus cantik dan ia harus pintar untuk pacar.

Suatu hari nanti. Mungkin.

Biasanya ia hanya mengangguk dan tersenyum. Waktu yang baik terus difitnah kalau ia sedang maju meggerus usia. Pujian-pujian untuk dirinya menguap bersama dengan ungkapan ayo cepat, mau tunggu apa. Biasanya ia hanya menjawab satuan waktu yang diurutkan. Besok. Lusa. Minggu depan. Suatu hari nanti. Kemudian ia menambahkan kegetiran, ketidakpastian, yang sebenarnya biasa dalam kehidupan namun mulut mereka mengubahnya menjadi sesuatu yang menakutkan. Mungkin.


with the thought of my fairy, G.

and to women. your birth itself is a triumph.

Grow Like A Sycamore

Assalamualaikum. How are you doing, pumpkin? It’s raining a lot in here every evening. I’m trying to maintain my health so you please be healthy too, do not catch a flu.
You know, Ailah, 2017 almost ends. Another year has passed, but I’m still the same. Same achievements, same skills, same characters. But I do learn a lot, I do observe a lot.
Ailah, you will hear these often when you grow up: Life is hard, Life isn’t always fun, Life is this and life is that. People will tell you how the world works. Just like what I heard in my teenage years, just like what they told me. I agreed for some parts, but I believe in my own opinion for other parts. Ailah, you do not have to be what the world tells you to. If one day you find someone belittle other because they have higher position, you don’t have to follow them. You don’t have to believe that is how the world works. You can create your own little world, where there are only you and your good deeds. You can try to change others, but, pumpkin, if that is harder than you think, you may just do it yourself. You may betray the tyranny. If at some point you become a senior in whatever field you choose, treat your junior like human, like they eat the same rice as you, like they breath the same oxygen as you, like they have people who cherish them as you do. If you are the junior, please treat them as your teacher, please understand them like your mother, please respect them as someone who lives longer. The world needs you, maybe not all of the continents, but maybe the world that belongs to someone you meet at the bus stop, maybe the world of children at the orphanages near your dorm, or maybe, it’s my world, or even your own world. You do not have to follow the rules of the world where everything needs to be classified, where you should be higher to achieve more, where you should be prettier to be recognized, where you should be superior to have anything comes to your shoes. No, pumpkin. Please build your own world. Please follow what is right, not what is usually done. Grow up, darling, like a sycamore tree. Grow higher, but also stronger, and be a shelter. For yourself, for people around you. I hope one day I can meet you and tell you more about what I learnt and observed.
Now have a warm cuddle with the stars. Till we meet again in my dream, pumpkin.

Do We Need to Change?

Assalamualaikum! semoga kita tetap sejahtera dibawah naungan Sang Pencipta, ya. Sudah lama nggak nulis begini karena aku lagi keranjingan bikin cerpen hahaha bahkan ya setiap denger beberapa baris lirik lagu atau lihat suatu kejadian aku langsung mikir “mau nulis ah yang plotnya gini!”. Memang asal nulis sih tapi rasanya seneng banget waktu udah jadi cerpennya, bener-bener peredam stres. Tadi aku habis minum kopi dan nggak bisa tidur padahal ada kuliah jam 5.45 akhirnya otakku yang terlalu sering mikir nggak penting ini memaksa untuk menulis sesuatu, ehem, curhatan yang juga nggak penting wkwk.
Aku cerita ke temanku kalau ada orang yang nggak sependapat dengan caraku berbicara (tentunya nggak ngomong langsung, tapi melalui orang lain). Nggak cuma teman yang sangat dekat, aku juga tanya ke teman yang cukup dekat menurut mereka aku harus gimana menanggapi hal tersebut. Dan tahu apa reaksi mereka?
Dua teman sangat dekat menganggap aku tidak perlu ambil pusing karena pasti ada aja orang yang bakal nggak suka entah apapun yang kita lakukan, satu teman cukup dekat berkata aku bahkan nggak butuh buat diberi comfort karena aku keras kepala, satu teman cukup dekat menasihati sebaiknya aku memikirkan ulang cara berbicara ke orang lain dan bijak ke diri sendiri seperti aku bijak ke orang lain. Ya, disini ada tiga pendapat yang berbeda. Aku condong kemana? Ya tentu saja ke dua teman yang nyuruh santai kan manusia seneng kalau didukung, akupun begitu wkwk. Tapi pendapat dua teman lainnya yang berbeda membuatku berpikir (yang pasti hal nggak penting juga.) Jadi akhir-akhir ini lagi rame berita seorang anak marah-marah ke selingkuhan ayahnya di mal. Reaksi orang beragam banget, yang aku baca kebanyakan mendukung anak ini dan perilakunya dianggap heroik. Aku? menurutku, it’s humiliating. Terus aku melihat sebuah tulisan lewat entah dimana tapi ya namanya anak nggak penting, kuingat-ingat dong wkwk intinya ialah jangan mengomentari sesuatu yang kamu belum pernah merasakannya. Aku ngomong itu humiliating karena aku nggak setuju ada adegan dorong-dorongan dan sumpah serapah di depan umum, sama aja kayak nangkep maling trus digebukin di TKP. Tapi aku bisa ngomong gitu karena keluargaku nggak pernah diterpa badai kayak keluarga anak itu, aku nggak tahu gimana kecewanya dia sampai melakukan itu. Orang yang mendukung anak itu pun nggak tahu gimana rasanya  didorong dan dicemooh di depan publik, meskipun karena salahnya sendiri. Ya intinya kita sampai sebatas itu aja kemampuannya: menduga, lalu berkomentar.
Hubungannya dengan masalahku ialah, aku nggak ngerti rasanya ada di posisi orang lain yang berbicara denganku. Aku terbiasa dengan sikap teman sangat dekatku, mereka ketawa-ketawa aja sama bercandaanku, mereka marah-marah aja kalau aku salah tapi ngomong langsung. Aku menduga, orang lain yang nggak mengerti karakterku juga akan bersikap sama dengan mereka. Aku menduga, orang lain akan sesederhana itu buat ngomong kalau kata-kataku menyakiti mereka, ketimbang hanya memendam dalam hati. Aku menduga, mereka akan tertawa karena candaanku yang cenderung sarkas layaknya teman sangat dekatku akan terpingkal-pingkal karenanya. Pun demikian dengan orang lain ini. Mereka bisa saja menduga berbagai macam interpretasi dari ucapanku dan caraku berbicara, yang sebenarnya bukan menjadi maksudku. Mereka bisa saja menduga mudah untukku mencoba berbicara lemah lembut, padahal aku semasa SMA berlatih untuk berbicara tanpa jeda dan leaking dalam 5 menit, yaitu saat ikut klub debat (bersama Khansa* juga, aku kangen Ca!). Mereka menduga mudah untukku menahan sesuatu dalam hati dan tidak menggebu-gebu dalam bersuara, padahal aku terbiasa menyuarakan pendapat di rumah dengan sangat ekspresif dan keluargaku oke dengan itu. Aku, orang-orang ini, hanya bisa menduga-duga. Dan sebenarnya kami tidak bertanggung jawab atas dugaan satu sama lain. Aku tidak bertanggung jawab atas pikiran mereka, mereka tidak bertanggung jawab atas pikiranku. Ini kucontoh dari role model andalanku; Mbakku. Beliau selalu bilang supaya aku memerdekakan pikiran, jangan mikirin pikiran orang lain. Yang tentu saja tidak bisa kulakukan karena aku kan suka mikir yang nggak penting wkwk. Tapi aku bisa mencari alternatif, yaitu memikirkan ulang sampai aku berhasil berpikir aku tidak perlu mikir. Ya memang ribet, dan benar-benar nggak penting. Dan pada akhirnya, aku sampai pada kesimpulan bahwa aku tidak perlu berubah, tapi aku perlu berbenah. Jangan sampai dugaanku pada orang lain terlalu sering menyakiti hati, tapi jangan sampai pula dugaan mereka mengkerdilkan jati diri.
Sekian hasil pemikiran nggak penting dini hari ini, kalau suatu hari aku berubah pikiran, ingat-ingat bahwa tulisan ini pun hasil menduga-duga makna dibalik sebuah peristiwa(:

P.S
*Khansa adalah temanku satu angkatan yang dulunya merupakan adik kelas SMA (tapi dia ikut program akselerasi sehingga lulus bersama), kami satu klub debat di kelas 2 dan 3 SMA sehingga sering menghabiskan sore dengan berlatih bersama walaupun tidak begitu akrab. Dia sudah tiada, jadi aku berharap jika ada yang meluangkan waktu membaca tulisan ini, mari berdoa untuknya dan keluarganya. Semoga tenang disana ya, Aca.

 

Bisik

Hari ini aku melihatnya tersenyum,” Ia berbisik.
setelah banyak sekali beban berat yang harus dipikirkannya. Aku tidak tahu darimana dia dapat sumber kekuatan, tapi aku senang, dia tidak lagi memasang wajah cemberut yang mengesalkan itu.
Hening.
Dia hebat, kapan ya dia akan sadar? dia selalu merasa rendah diri, salah satu karakter yang aku benci darinya. Tapi sebenarnya aku sedikit takut, kalau dia sadar dan menjadi sedikit congkak. Sepertinya tidak mungkin, tapi namanya juga manusia. Aku berharap dia tidak pernah melupakan tujuan utamanya. Aku ingin dia selalu menjadi orang yang tidak pernah melupakan orang lain, apalagi menjatuhkan.” Ia tersenyum kecil. Rambut di dahinya bergerak-gerak ke kanan; tersapu angin.
Di balkon kamarnya, setiap langit berubah warna dari biru menjadi jingga, Ia akan berbisik. Bukan pada telinga, yang menurutnya hanya akan mengendap di otak sang pendengar. Ia berbisik kepada dunia, agar kawanan burung yang tidak sengaja melintas bisa menyampaikan pada kawanan lain dan daun yang tidak sengaja gugur menyampaikan pada tanah dan cacing. Bisikannya akan terekam dalam molekul hujan yang suatu hari jatuh dengan sangat deras, mengalir bersama air sungai menuju laut, menguap bersama air laut membentuk awan. Bisikannya didengar oleh setiap sel makhluk hidup maupun unsur makhluk tak hidup.
Dalam bisikannya Ia meyisipkan keluh kesah, ungkapan syukur, harapan dan doa. Bisikannya membumi, dan akan selalu sampai kepada orang yang membuatnya sedih, orang yang mengukir senyumnya, orang yang selalu Ia simpan dalam setiap pinta. Bisikannya melangit, dan akan selalu sampai kepada pencipta burung, daun gugur, tanah, cacing, hujan, air sungai, air laut, awan–kepada Yang Maha Mendengar walau bisikannya kadang hanya berupa sengal tawa dan isakan tangis.


untuk yang sedang berjuang,
dari yang selalu berbisik.

Kid from A to Z

30 years from now, the kids from this generation will become the leader. iya, anak-anak SMP SMA yang sekarang lagi ngeluh-ngeluh kurikulum 13 bakal ada yang jadi pejabat pemda, kepala puskesmas, anggota DPR, presiden, dan posisi-posisi berpengaruh lain. well, aku pun suka mengeluh. suka. banget. hehe. bahkan tulisan ini merupakan keluhan terselubung. satu hal yang membuatku mikir keras sebelum tidur semalam ialah, kalau aku nggak bisa menjadi contoh yang baik bagi adik didikku, kalau aku nggak bisa membimbing adik didikku, bukankah Indonesia akan kehilangan satu orang berbakat 30 tahun kedepan nanti? pertanyaan sebenarnya ialah, kalau pendidiknya kayak aku, yang mageran, yang gampang banget capek, yang dikit-dikit emosinya naik turun, emang bisa adik didiknya jadi yang etos kerjanya tinggi, yang emosinya stabil, yang solutif dan kreatif? aku malu sendiri sebenernya, karena pepatah Jawa bilang guru digugu lan ditiru. guru diperhatikan dan ditiru. apa yang bisa ditiru dari aku? waktu semalam adik didikku tantrum, dia marah nggak mau ngerjakan soal dan coret-coret bukunya, kemudian aku balik ngambek dan langsung beres-beres tas mau pulang, should I feel bad about myself? karena ya, aku benar-benar merasa buruk sesampainya di rumah. bukankah anak kecil itu emosinya masih proses pembentukan? bukankah ada ribuan cara untuk bisa menaklukkan hati seorang anak dan membuatnya tertarik akan hal yang dibencinya, selain memarahi? bukankah harusnya aku yang membuatnya luluh dan mau belajar, bukannya berharap dia yang dari awal bersemangat belajar? aku kan nggak bisa memaksa semua anak dari kecil langsung terbentuk mental pejuang? kalau gitu, berarti aku yang harus merubah biar mereka punya mental pejuang? tapi, tunggu, apa aku sendiri sudah punya mental seorang pejuang?

 

an online tantrum, dari seorang 20 tahun terhadap masalah sepele di hidupnya.

 

Happier

for instance, if you come at four in the afternoon, I’ll begin to be happy by three. the closer it gets to four, I’ll be excited and worried; I’ll discover what it costs to be happy!

pada suatu pagi di hari libur, aku menghabiskan waktuku menonton drama spesial milik salah satu stasiun TV Korea Selatan yang berjudul You Are Closer Than I Think. dalam drama tersebut, pemeran utamanya merupakan seorang pemilik toko buku sekaligus penyiar radio yang selalu membacakan surat masuk dari pendengar, salah satunya Fennec Fox. pendengar yang satu ini selalu rutin mengirim surat, sampai akhirnya mereka bercakap-cakap dalam jalur pribadi dan memutuskan untuk bertemu. pemeran utama sedang menjaga toko bukunya ketika gadis cantik masuk dan menanyakan buku karya penulis Jerman kesukaannya, yang tentu saja membuatnya berpikir bahwa gadis ini ialah Fennec Fox, orang yang diajaknya mengobrol tentang karya penulis Jerman tersebut. saat ditanya, gadis itu hanya menjawab sebuah kutipan dari buku The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupéry; kalau kau datang pukul empat sore, aku akan merasa bahagia sejak pukul tiga.

barangkali penggalan kalimat itulah yang membuatku tersenyum kecil saat harus menunggu adik-adikku di sebuah resto sore ini. kalau mereka datang pukul tiga–seperti janji kami–aku akan bahagia sejak pukul dua. namun mereka tidak datang pukul tiga, tidak pula kunjung datang pada pukul empat. apakah aku masih bahagia?

but if you come at just any time, I shall never know at what hour my heart is to be ready to greet you.

nyatanya, aku bahagia ketika mereka datang pukul lima kurang lima belas. aku tahu tepatnya kapan aku siap menyambut; detik pertama aku melihat mereka tersenyum dari arah pintu masuk.

setelah sebuah percakapan panjang, aku bertanya kepada mereka, “ada yang suka baca novel?” yang dijawab dengan gelengan pelan kompak.

“kalau kau datang pukul empat,” ucapku menirukan satu kalimat dalam buku The Little Prince, “aku akan bahagia sejak pukul tiga,”

mereka terdiam; bingung, kemudian aku menyelesaikan kalimatku, “maknanya, jadikan pertemuan ini hal yang kalian senangi. kalau kita janjian pukul tiga, maka berbahagialah sejak pukul dua. ini termasuk ukhuwah islamiyah, bergembira untuk berkumpul melingkar.”

mereka mengangguk kecil, sementara di dalam otakku menggemakan rentetan nasihat yang baru saja kuucapkan, memenuhi sudut-sudut pikiranku agar tidak pernah terlupa; aku mengatakannya, aku harus pula melakukannya.

menunggu tidak melelahkan bila diakhiri dengan manisnya pertemuan. menunggu itu membahagiakan, bila yang ditunggu merupakan wujud cinta–dalam kamusku, berarti mereka.