The Only One I

I’ve been waiting to take you here. There are so many places I wanna show you so be ready, this is just the start.

Let me spill you a story. I like oranges so much, be it a fruit or colour. And here, I can watch a sun which coloured orange when it’s about to set while drinking orange juice. Oh, don’t forget the sky and the sea look slightly orange because they reflect the sunlight. Beach makes me triple happy. I can breath orange here in every inch of this place. And today, today you make it more wonderful. I got a chance to take you here, after all my secret gazes the entire year. Today you complete my orange-freak feeling, with your orange veil covers your orange-ish cheeks. Today I found my new favourite. It is you. It will be orange and you from now on.

You are smiling, you smile a lot don’t you? I know it’s dark in my pocket, but don’t change your smile. You wouldn’t, would you? I’m glad I found you laying near the locker, after my tiring silent admiration. Now let’s go somewhere new.

PicsArt_08-06-02.38.43

Story: inspired by the song satellite-saltnpaper

Picture: shameless self-portrait

I promise

you will never be erased

when the memories collapse

into nothingness

I save you there,

on the street you casually took me,

on the third chapter of the book

which smelled like you,

on the night wind that blew

your name,

I torn you into pieces

and keep you

everywhere,

you will never be erased.

 

II

He Who’s knowledge covers the sky and the earth and the unseen world

Send us a light to guide from this dark path

This world has gotten mad, 

Too much words which cannot be defined, 

Is it a true or is it a lie? 

Trying to believe or choosing sides

But everything is twisted nothing seems easy to trust

So which one is right, to talk or to keep quite? 

I

tenanglah, bunda

jika kudapati diriku menangis lagi karena rindu

akan kubuka pintu menuju teras tamu

ada selasar bambu disitu

tempatmu menyanyikanku sebuah lagu

bersimpuh diatasnya pasti mengusir sendu

engkau ceria, bunda

dan aku yakin aku pun begitu

tenanglah, bunda

kalau hidup menyapu raut wajahku pias

akan bercermin aku di depan kaca rias

dalam bayanganku mengalir darah wanita berkemauan keras

dengan imaji luas tanpa batas

melihat matamu dalam mataku tentu menumbuhkan senyum seulas

engkau kuat, bunda

semangatmu pasti besertaku selaras

Menetap

Sejauh apa batas pemahamanmu tentang menetap? 

Apakah mengiringi tiap langkah itu menetap? 

Apakah mendengar keluh kesah itu menetap?

Lantas jika tidak dapat kaulihat senyumku, tidak dapat menenangkan letihmu suaraku, tidak dapat kaugenggam hangat tanganku

Apakah aku sudah tidak menetap? 

Ketahuilah, ketika definisimu tentangku adalah semu, ketika dalam bayangmu aku berupa udara bebas yang mustahil ditangkap

Aku menetap

Sebelum pergiku dalam doa yang tak pernah letih kupanjatkan agar selalu memelukmu

Aku menetap

Selepas pergiku sebagai kesatuan suka-duka kenangan yang mengendap dalam hatimu

Insomnia

gelap malam tidak dapat menghantarkannya pada kantuk. lelahnya selalu luruh ketika ia mulai memejamkan mata, ada sebuah nama di pelupuknya. dia lagi, dia lagi, lirihnya. sudah dua minggu ini kampusnya seperti tidak memberi jeda untuk sekedar bersantai minum teh sembari baca buku. kegiatan baksos, kegiatan peringatan dies natalis, dan serentetan kegiatan lain tanpa henti memenuhi agendanya. disanalah ia bertemu seseorang yang kini tiap malam mengganggu tidurnya. tidak ada yang aneh sebelumnya karena mereka hanya kawan biasa. sesekali mereka hanya bertegur sapa melalui senyum tertahan, tanda segan. namun setelah kepanitiaan cukup besar menggabungkan mereka dalam satu divisi, percakapan mulai bertambah, sesekali diselingi tawa karena ia akhirnya tahu sosok berkacamata itu adalah seseorang yang ceria, walaupun penampilannya bisa dibilang terlalu tua untuk usianya. dibalik kacamata itu ada tatapan yang teduh, ia pernah tak sengaja sekali berpapasan dengan iris hitam miliknya. ia menunduk, pikirannya mulai berpikir tentang betapa bodohnya ia tak memilih baju ungu favoritnya untuk dikenakan hari ini, andai saja ia tahu rapat akan diajukan mendadak ia pasti juga sudah menyeterika jilbabnya sampai licin. sedetik kemudian ia menggeleng, mengutuk diri sendiri yang tiba-tiba terlalu peduli penampilan. namun mata itu tidak serta merta menunduk juga, sepertinya ia tahu ada yang salah tingkah sehingga ia mulai menampakkan barisan rapi giginya sembari menggeleng pelan. betapa rapat hari itu membuatnya ingin cepat-cepat pulang dan mengurung diri seharian di kamar.

angin malam mulai menyusup melalui celah ventilasi, namun hangatnya selimut tidak juga mengundang kantuk untuk datang. nama itu, bahkan wajahnya kini tergambar jelas dalam pejaman matanya. sosok itu antik. dia bukanlah seseorang dengan IP tinggi atau seseorang yang selalu maju ke depan memberi materi. di kelas ia hanya akan duduk dibelakang, mendengarkan dosen sembari menopang dagu tanda mengantuk. ia adalah sosok berpenampilan kutu buku dalam novel yang selalu dibencinya. berkacamata, berpakaian terlalu rapi hingga terkadang ia berasumsi itu adalah baju ayahnya di masa muda. sosok itu suka membaca, sepertinya, namun tidak seperti ia yang jatuh cinta bahkan nyaris gila tanpa buku-bukunya. tidak pula sosok itu menyukai sesuatu yang disukai remaja pada umumnya. olahraga? apalagi hal yang satu itu. sosok itu unik. ia tak habis pikir mengapa sesosok manusia tanpa kelebihan apa-apa mampu membuatnya bertahan diatas kasur tanpa keinginan untuk tidur.

dua jam berlalu. ini sungguh sangat bukan dirinya, ia sangat menghargai waktu istirahat karena aktivitas organisasi dan jadwal kuliahnya yang tidak manusiawi. tidak tidur karena memikirkan seseorang adalah hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. akhirnya ia bangkit, menuju meja belajar dan mengeluarkan secarik kertas dari laci nomor dua. mungkin menulis akan menuntaskan semuanya, pikirnya. dalam hati ia berjanji, tidak akan ada waktu terbuang karena sosok itu  lagi setelah ia menumpahkan segala perasaannya dalam kata-kata.

untukmu, assalamualaikum.

surat ini akan sampai, entah bagaimana caranya, dan aku tak pernah meragukan Ia sang Maha Segala. jikapun tak berwujud kertas, surat ini akan sampai sebagai pemahaman dalam hatimu. kurasa aku tahu kau tahu ada yang berbeda dari sikapku. jangan pernah anggap itu sesuatu, karena itu benar-benar bukan apa-apa (dan kamu juga bukan siapa-siapa). hal paling realistis yang saat ini aku pikirkan adalah, mungkin saja Ia sedang mengujiku melalui kamu. jadi, aku pun akan berusaha untuk bersikap realistis juga, dengan tidak menganggap hal yang saat ini terjadi sebagai kejadian luar biasa. ini alami, ini manusiawi, dan sebagaimana segala sesuatu di alam ini, ia fana. aku bisa jamin itu. dan aku akan bersikap biasa, karena lama-kelamaan semua juga akan berjalan seperti biasa jika aku tidak melebih-lebihkan, iya kan? teruslah bersikap sewajarmu karena akupun akan melakukan hal yang sama. biasanya aku bertemu karakter dari buku kemudian menjumpainya di dunia nyata. dan kamu sedikit berbeda, aku menemukanmu di dunia nyata. belum, belum ada buku dengan karakter sepertimu. mungkin hal itu yang membuatku sedikit terganggu hingga susah tidur. aku akan berusaha menemukan bukumu, kalau tidak mungkin aku sendiri yang akan menulisnya. haha, bercanda. sudahlah, setelah ini tolong pergi saja, aku sungguh-sungguh butuh istirahat. 

sampai jumpa! wassalamualaikum.

ia melipat lembar kertas itu, melemparnya ke tempat sampah dibalik pintu. esok ketika berangkat kuliah bibi akan membuangnya ke luar, semoga saja esok pikiran tentang sosok itu juga berhenti menghantui. ia merebahkan diri ke kasur dan memejamkan mata, masih ada namanya, sosoknya pun masih terlihat samar, kemudian ia terjatuh menuju alam bawah sadar. nama dan sosok itu hilang. entah sementara atau bertahan cukup lama.