If I have a chance to do it again I’ll do

These past few months I always have dreams every sleep, whether it’s night or just a short nap. Unlike usual, I can remember them vividly. I can remember that one night I dreamt about my crush walking with me on sideway, I even remember the details like it was sunset and we passed a traditional market, walking to his cousin’s home (which I don’t know, he’s far from my hometown). The other night I dreamt about studying anatomy, it was cruris region and I mentioned every muscles. But yesterday I dreamt about her. It was such a rare occasion, in her almost 7 years of absent I can only remember 2 times having her in my dream, no matter how much I missed her. In my dream she just casually walked toward me and greet me. I was wondering, “aren’t you not here anymore?” but she just let my question hung in the air and talk to me about other topics. I don’t remember what I was talking about, but I remember that I felt so happy, it was just a conversation and relaxing and my home seemed normal, it was like something we had done thousand of times in the past, but I was happy. I got so upset that I woke up and realised it was just a dream. I was so mad that I couldn’t actually talk to her even though I have so much to talk about. I was so angry that I couldn’t even recall what we were talking about, I tried hard but only her face and her smiles that I can remember. I never knew even after years without her, even after I grow up, even after I told myself that things has its own way to happen, even after I read those psychology and psychiatry textbook, I still have this one hole in my heart and nothing would actually fill it again, not even in a million years, never if it is not her. I miss you and it sill hits me everyday knowing that I could never have a chance to sleep in with you stroking my head softly again.

Advertisements

I was Afraid

dear Ailah,

do you get enough sleep? I do, because lately I’m not feeling pretty well. last week I had a dream about you, it was so vivid I thought it was real. you were looking so pretty and cute, and I was struggling to hold you with my tiny hands. you laughed like a bell, so loud but sweet at the same time–my door bell to heaven. I couldn’t take my eyes off of you, bunny ears.

but after that night, I was afraid. I was afraid that I cannot provide the world you deserve, and you’ll end up smiling less; what a waste of such a beautiful face. I was afraid I couldn’t answer all your questions, and you’ll end up find another way for a comfort–out of my reach. I was afraid I’ll shout a lot, or being silent too often. I was afraid I can’t handle those laughters in my busy days thinking that your laughters could ignite my tantrum anytime. I was afraid I wasn’t that capable to be your role model. was I being too much?

dear Ailah,

it was really really nice to see you. you seemed funny and full of joy. I’m sorry that I’m going to have low self esteem at the time we meet later, because I was afraid. but in the mean time, before we meet, pray for me not to be something I’m afraid to become. You’re closer to the sky, it’s closer for your prayer to reach Him.


drafted since May 2017.

Waktu itu Langitnya mendung, tapi masih biru

DALAM DOAKU
(Sapardi Djoko Damono, 1989)

dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman
tak memejamkan mata, yang meluas bening siap
meerima cahaya pertama, yang melengkung hening, karena
akan menerima suara-suara

ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam
doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau
senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan
muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana

dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang
mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di
ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang
tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga
itu

magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat
pelahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan kecil itu,
menyusup di celah-celah jendela dan pintu, dan menyentuh-
nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bu-
lu mataku

dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang
dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah
batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang
tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai
mendoakan keselamatanmu

KDPRO_2019-04-14-17-16-05_developed


Beberapa hari lalu tanganku kena peniti yang ditancepin di kasur, lukanya panjang sekitar 7 senti. Sakitnya dikit aja, tapi warnanya jadi merah dan bentuknya bagus karena ngikutin alur telapak tangan dari bawah ibu jari sampai dekat nadi. Di hari yang sama aku kepikiran puisi Sapardi yang selalu bikin gelisahku hilang terus diem terus mikir terus senyum-senyum sendiri terus berdoa. Jadi sebenernya luka itu nyebelin, cuma jadi indah karena lama-lama diliat bentuknya lucu juga. Sama kayak gelisah itu nyebelin, cuma jadi indah karena dipikir-pikir ternyata aku masih bisa berdoa. Dalam fotoku jari-jariku ada lima, dalam puisi Sapardi waktu yang disebutkan ada lima. Tenang aja, nanti aku berdoanya juga lima kali, dua setengah buat aku, dua setengahnya bolehlah nanti kubagi. Lima kalinya setiap hari kok, bukan sehari iya sehari enggak. Jangan khawatir, aku nggak akan berhenti. Jadi, semangat ya?

……aku takkan pernah selesai
mendoakan keselamatanmu 
(dirapal 5000x)

Just like a subway, my life have several stops

This is the first stop in my college life, and here are some people behind it.

_MG_0160DSC_0145DSC_0147DSC_0157

DSC_0148IMG_0078DSC_0150

IMG_0069_MG_0222DSC_0196IMG_9924Diantara mereka yang datang ada orang tuaku, yang selalu mau mendengarkan segala keluh kesah yang tidak bisa kubagikan pada orang lain, yang sangat suportif, yang berkata bahwa aku sangat berharga dan hal tersebut membuatku merasa bahwa menjadi diriku sendiri sudah sangat cukup. diantara mereka yang datang ada sahabat-sahabatku sejak SMP, yang mengenal karakterku sejak usia 13 tahun hingga sekarang, yang mengajarkanku bahwa perteman sejatinya tidak mengikat, perbedaan sifat dan latar belakang tidak seharusnya jadi penghalang. Diantara mereka yang datang ada sahabat-sahabatku yang menjadi tempat bersandar kala butuh bantuan, yang gurauannya selalu menjadi penawar rasa bosan, yang menempuh jarak untuk datang dan menghadirkan senyuman. Diantara mereka yang datang ada teman-teman yang memiliki selera buku dan musik yang sama denganku, yang memiliki pemikiran seirama dan menjadi teman berdiskusi yang nyaman. Diantara mereka yang datang ada teman seperjuangan, kami belajar untuk menempuh mimpi yang sama, berharap bertemu lagi pada perayaan selanjutnya.

Diantara mereka yang tidak ada dalam potret kenangan ada mamaku yang tidak akan pernah datang, tapi aku tahu ia akan senang dan bangga terhadap putrinya yang tumbuh dalam lingkungan menyenangkan, kudoakan semoga ia selalu tenang. diantara mereka yang tidak ada dalam potret kenangan ada kakak dan adikku yang tidak bisa datang, namun jarak sejatinya tidak pernah memperpendek ikatan kami, merekalah yang selalu menguatkan. Diantara mereka yang tidak ada dalam potret kenangan ada sahabat-sahabatku yang sedang berjuang, yang kehadirannya tentu kunantikan tapi tidak sekarang, nanti saat mereka sempat dan selesai dengan urusan masing-masing.  Diantara mereka yang tidak ada dalam potret kenangan ada teman-temanku, yang hadir melalui pesan-pesan yang disisipi doa menyejukkan. Diantara mereka yang tidak ada dalam potret kenangan ada yang tidak kubaca pesannya maupun kutemui orangnya, tapi aku tahu ia (mungkin saja, aku harap begitu) mengirimiku doa seperti saat ulang tahunku sejak bertahun-tahun lalu, sebelum ia berhenti melakukannya.

Diantara mereka semua ada aku, terima kasih sudah mencapai pemberhentian ini, mari menuju pemberhentian-pemberhentian selanjutnya.

21st of March

Aku tidak setuju kalau mereka bilang cantik itu relatif, karena gadis mungil yang sedang mengemut ibu jarinya di depanku ini benar-benar cantik absolut. kuelus pipi mulusnya perlahan, tidurnya pulas beralaskan lengan kiriku. Hari pertama aku melihatnya, aku tidak bisa menghilangkan pikiran-pikiran burukku akan masa depannya. Bisakah dia bertahan hidup di dunia yang kejam? Bisakah orang melihat dirinya sebagai manusia utuh, tanpa belas kasihan namun dengan toleransi? Gadisku yang cantik, tidak mungkin aku membiarkan orang mengatakannya tidak cantik. Hatinya baik, meskipun setiap hari aku harus menghabiskan sepertiga waktuku untuk membujuknya makan. Kalau tak suka, sendoknya akan ia lempar. Tapi kalau suka, ia akan tertawa sampai mata sipitnya tinggal segaris. Cantik sekali. Pantai-pantai yang telah aku kunjungi semasa muda tidak ada apa-apanya dibandingkan kecantikannya. Kadang kalau aku sibuk dengan tumpukan cucian dan membiarkannya bermain sendiri, ia akan berteriak kencang dan meraung-raung sambil menangis. “Ma…ma…!” usianya 5 tahun dan ia hanya bisa mengucapkan dua kata, Mama dan Papa. Tapi aku akan menghentikan semua kegiatan kala mulut kecilnya memanggilku. Indah sekali suaranya walau terkaburkan tangisan, tapi benar-benar aku menyukainya lebih dari suara merdu para penyanyi yang menang  penghargaan Grammy. Gadisku yang cantik, jahat sekali kalau ada yang menganggapnya tidak cantik. Ia sangat cantik, dan kalau setiap kecantikan dianggap relatif, aku tidak akan segan-segan memberi orang itu 1001 ceramah tentang kenapa ia harus menganggap gadisku cantik. Gadisku tidak pernah meminta terlahir dengan dua kata seumur hidupnya, dengan ketakutannya akan lingkungan sosial yang berlebihan, dengan kesulitannya melakukan hal-hal kecil setiap hari. Tapi terlepas dari itu semua, ia sangat cantik, apalagi saat ia menumpuk pakaian sesuai warna. Ia sangat suka warna, semua benda yang ia punya selalu dikelompokkan sesuai warna. Ia tidak bisa menyebutkan satu per satu nama warnanya tapi hatinya tahu mana kuning, mana hijau, mana merah. Gadisku yang cantik, kalau ada yang bilang ia tidak cantik akan kutunjukkan pada orang itu video saat gadisku kuajak ke kebun raya dan berteriak gembira melihat gerombolan bunga berbeda warna. Gadisku lebih cantik dari bunga. Setiap hari saat ia tertidur, pikiran-pikiran burukku akan masa depannya selalu kembali. Tetapi dengkur halusnya yang berirama menenangkan hatiku, gadis cantik ini tidak rugi sepeserpun walau dunia tidak mengindahkan kehadirannya. Gadisku tetap cantik; absolut dan paripurna.


21st of March, World Down Syndrome Day.

Jangan jadi dunia yang tidak mengindahkan kehadiran mereka ya. If we have the chance to make a difference and a better world for them to live in, take it! Participate, the simplest act matters.

Update in Life: Entering New Phase

Tanggal 17 Januari lalu aku sidang skripsi. Takut? Enggak. In fact, aku udah ngerasa cemas sejak awal semester 7, yaitu sekitar bulan September 2018. Jadi waktu menjelang sidang skripsi aku nggak takut, I’m so used to crying out of nowhere–I’m so used with my anxiety. Senang? Enggak. Aku sama sekali kehilangan rasa bersemangat untuk selebrasi. The anxiety is still there, lingering in the deepest part of my brain. Sebenarnya apa yang bikin cemas? Banyak. Semakin kesini, satu-satunya impianku cuma lulus kuliah. Aku sangat berharap lulus 3,5 tahun (yang beruntungnya dipermudah dengan campur tanganNya) hanya agar aku tidak perlu lama-lama berkubang dalam perasaan bersalah. Bahkan bangun tidur aja aku capek, pengen tidur lagi. Tapi aku harus melawan, untungnya rasionalitasku masih jalan. Lulus jadi sarjana bukan akhir segalanya, justru ini adalah tahap awal yang sebenarnya. Sebentar lagi aku harus memasuki masa koas, tantangan yang lebih besar daripada preklinik (yang bahkan udah cukup membuat terpuruk). Setiap hari selalu ada satu doa buat diriku sendiri, semoga aku kuat, itu saja. Tapi aku ingin menambah doa, semoga aku kembali menemukan tujuan utama yang mulai kabur ditengah perjalanan. Belakangan aku juga mulai melatih diri untuk menulis pencapaian-pencapaian yang kudapat setiap hari supaya lebih bersyukur. It works sometimes, ternyata aku nggak worthless amat, haha. So here is to a new journey, welcoming koas life, wish me luck and happy. Doakan aku segera jadi dokter yang profesional, ya.

IMG-20190117-WA0029

p.s kalau kalian pernah merasakan mood swing/sedih, kehilangan semangat, mudah lelah lebih dari 2 Minggu, segera periksa ke dokter. It’s okay, it’s biological and it’s non of your fault.