Ramadan Day 9: Sayur Asem

Assalamualaikum.

Hari ini aku buka puasa pakai sayur asem. Buka puasa nggak harus sama yang manis kalau aku mah, yang penting seger. Tapi ada yang aneh sama sayur asem Jember (yha ketahuan nggak masak sendiri malah beli hehe), masa ya sayur asemnya dikasih wortel. Hah. wortel gitu loh. Menambah panjang daftar makanan Jember yang dimasukin hal aneh (urutan pertama tetep soto yang dicemplungin tomat, wah ini sik benar-benar).

Eh tapi tahu nggak waktu aku komplain ke teman-teman, ternyata emang gitu loh sayur asem disini dan beberapa kota lainnya. Malah ada yang absurd lagi dicemplungin apa aja dah yang penting rasanya asem. Hm. Sebagai manusia legowo yang bisa menelan makanan apapun (kecuali asem banget atau pahit banget atau pedes banget), ya kumakan aja sayur asemnya. Tapi tetep, sayur asem Banyuwangi is the best.

Tahukah kalian, ternyata aku punya koneksi luar biasa sama makanan asal daerahku, sehingga makanan lain itu seperti punya dosa-dosa kecil yang bikin mereka tidak sempurna. “Jelas lah tomat itu haram hukumnya kalau dicemplungin ke dalam soto! Pelecehan terhadap soto itu namanya!” dan lain sebagainya. Bagiku soto sudah ada resep saklek yang tidak boleh diubah lagi, kalau diubah akan melanggar hak-hakku sebagai pemakan soto.

Ya, ini namanya entitlement. Sesuatu yang lagi kufikirkan hari ini karena kasus Bumi Manusia yang akan dijadikan film dan sederet kontroversi penyertanya.

Entitlement kalau hasil browsing di internet artinya the belief that one is inherently deserving of privileges or special treatment. Entitlement ini banyak dimiliki manusia (dan tidak pada tempatnya), termasuk aku terhadap soto. Termasuk pembaca terhadap buku. Termasuk penikmat film terhadap film. Termasuk fangirl terhadap idol. Termasuk kalian terhadap orang yang ditaksir tapi nggak paham kalau lagi ditaksir (hihi). Manusia-manusia ini merasa punya hak atas sesuatu yang mereka sukai hanya karena mereka suka hal tersebut. Padahal, the problem is, lah lau sokap?

Siapalah aku bagi soto dibanding penikmat soto lain?
Siapalah seorang pembaca terhadap buku dibanding pembaca yang lain?
Dst.

Entitlement ini membuat kita merasa spesial. “Woy, Bumi Manusia jangan di filmkan gitu aja dong ini namanya penghinaan terhadap Pram, sutradaranya udah baca bukunya belum sih? pemainnya udah baca bukunya belum sih?” Atau, “Ini nih jeleknya manga yang dijadikan anime! nggak lengkap!” Atau, “Temenku tuh nggak ngajak aku jalan padahal dia ngajak orang lain, kalau ada temen baru aja, temen lama dibuang!”

Come to think of it, we are all special, but not to the point we limit everything so it becomes about ourselves. Jadi begini, film Bumi Manusia tidak akan merusak sedikitpun isi bukunya. Tidak. Bumi Manusia will always be that legendary book. If the film turns out to be shitty, well, it’s the film. It’s never Pram’s writings that is shitty. It will never represent Pram’s writing. Hanya karena manganya membuat kita gelosoran karena bagus banget, bukan berarti animenya nggak harus dibuat karena takut mengecewakan. Peeps, stick with your mangas if you like it that much, no one asks you to watch anything based on it. Teman kita bukan hak milik kita, ya kalau dia mau main sama orang Belanda, orang Irlandia, atau yang lain tanpa ngajak kita, ya udah, ya nggak apa-apa, ya emang kenapa. They are never entitled to us. Befriend them because we like them, not because we think they are our friends so they should be with us no matter what.

Kebiasaan emang kalau udah suka sesuatu ngerasa kita aja yang berhak. “Oh ya? Ngefans BTS? Pasti karbit, aku dong sudah ngefans sebelum pre-debut.” Hm? “Ih suka bola biar apa? biar keren ya? karbit ih! aku dong udah suka sejak dalam kandungan!” Hm?

Our likings shouldn’t limit them only for us. They weren’t specially ours in the first place. Let people have experience things from them too. Let them give different feelings for people too.

Jadi gitu ya. Aku suka soto tanpa tomat, tapi aku nggak berhak menghardik orang-orang yang nyemplungin tomat ke dalam soto hanya karena aku suka soto. Aku tuh bukan siapa-siapa bagi soto (hiks). Begitu halnya kita dengan hal-hal lain yang kita sukai. Let’s put down the entitlement for awhile. What’s special about the things we like, let’s stick to it, let’s not intervene with their “duties” to other people.

Selamat menjalani ibadah puasa hari ke-10 besok! (udah masuk hari ini sih tapi nggak apa-apa plis) (:

P.S judulnya sayur asem tapi yang dibahas soto tandanya besok harus buka puasa pakai soto.

Advertisements

Ramadan Day 2-8: Bubur Mutiara

Assalamualaikum!

Ketahuan banget orangnya suka nggak menepati janji, baru hari pertama bilang posting tiap hari, eh hari kedua sampai kedelapan malah nggak nulis apapun. iya, iya, aku salah):

Sebenernya aku mau bilang sibuk, tapi, duh, sibuknya seorang Deuxy itu apa sih, mikir cari duit enggak, apalagi mikir negara. Cuma waktu sampai kos tiba-tiba udah rebahan di atas kasur terus tidur, jadi nggak bisa nulis. Hehe.

Hari ini aku mau ngomongin tentang janji, deh. that one thing people easily forget. Pernah nggak waktu dapat nilai jelek terus dalam hati ngomong, “besok-besok aku mau belajar lebih giat lagi”? Gimana? Sudah terlaksana? Kalau sudah, alhamdulillaah. Kalau belum, ya samaaa. Itu janji sama diri sendiri, lho. Janji sama orang lain gimana? “Iya aku janji nggak gampang marah lagi”, “iya aku janji bakal dengerin setiap kamu sedih”, “iya aku janji bakal support kamu terus”. Well, what about those things we’ve said that bring people’s hope up? Sudah terlaksana semua?

Ternyata nggak mudah ya menepati semua janji. Ternyata emang melakukan nggak semudah mengatakan. Tapi, apa itu berarti kita nggak boleh berjanji?

Oh, ya tentu boleh. Tapi janjinya diganti sama “berusaha”. Karena toh, nyatanya manusia nggak sekuat itu mengingat semua janjinya, apalagi menepati. Karena nyatanya, kadang kita juga mencari alasan supaya nggak usah memenuhi janji tersebut. Sometimes we forget, sometimes we just want to forget. Apakah sebuah kondisi merubah janji? No. Lain halnya kalau kita mengucapkan “berusaha”. “iya aku akan berusaha nggak gampang marah lagi”, “iya aku akan berusaha dengerin setiap kamu sedih”, “iya aku akan berusaha support kamu terus.” There will be times when a condition stops you from trying, but at least you tried. Tapi kita sudah berusaha. Tapi orang lain sudah tahu kita berusaha. Nggak ada harapan terlalu muluk bagi mereka, bahkan ketika kita nggak melakukan pun mereka akan tahu, “Oh, usahanya hanya segitu.” There will be scars, of course, but no wasted hopes.

Jadi, selamat berusaha(:

P.S Bubur mutiara enak banget loh apalagi dibikinin (apalagi nggak usah cuci mangkuk habis makan)

Ramadan Day 1: Chicken Pie

Assalamualaikum! Marhaban yaa Ramadan! Selamat datang di bulan suci penuh berkah!

Jadi setelah beberapa bulan nggak posting apapun, Ramadan kali ini aku berniat posting tiap hari sampai lebaran. Kenapa? Ya nggak apa-apa pengen aja hehehehehe.

Hari ini aku niatnya mau nulis tentang suatu hal eh tapi karena sebuah kondisi yang mengharuskan pulang nyaris tengah malam, nggak jadi deh. Post hari pertama Ramadan sebagai pembuka aja.

Terus, kenapa judulnya chicken pie? Karena aku pengen makan chicken pie. Nggak nyambung iya nggak apa-apa. Selamat menjalankan ibadah puasa dan ibadah lainnya! Tetap produktif, ya!  *ngomong sama cermin*