Kid from A to Z

30 years from now, the kids from this generation will become the leader. iya, anak-anak SMP SMA yang sekarang lagi ngeluh-ngeluh kurikulum 13 bakal ada yang jadi pejabat pemda, kepala puskesmas, anggota DPR, presiden, dan posisi-posisi berpengaruh lain. well, aku pun suka mengeluh. suka. banget. hehe. bahkan tulisan ini merupakan keluhan terselubung. satu hal yang membuatku mikir keras sebelum tidur semalam ialah, kalau aku nggak bisa menjadi contoh yang baik bagi adik didikku, kalau aku nggak bisa membimbing adik didikku, bukankah Indonesia akan kehilangan satu orang berbakat 30 tahun kedepan nanti? pertanyaan sebenarnya ialah, kalau pendidiknya kayak aku, yang mageran, yang gampang banget capek, yang dikit-dikit emosinya naik turun, emang bisa adik didiknya jadi yang etos kerjanya tinggi, yang emosinya stabil, yang solutif dan kreatif? aku malu sendiri sebenernya, karena pepatah Jawa bilang guru digugu lan ditiru. guru diperhatikan dan ditiru. apa yang bisa ditiru dari aku? waktu semalam adik didikku tantrum, dia marah nggak mau ngerjakan soal dan coret-coret bukunya, kemudian aku balik ngambek dan langsung beres-beres tas mau pulang, should I feel bad about myself? karena ya, aku benar-benar merasa buruk sesampainya di rumah. bukankah anak kecil itu emosinya masih proses pembentukan? bukankah ada ribuan cara untuk bisa menaklukkan hati seorang anak dan membuatnya tertarik akan hal yang dibencinya, selain memarahi? bukankah harusnya aku yang membuatnya luluh dan mau belajar, bukannya berharap dia yang dari awal bersemangat belajar? aku kan nggak bisa memaksa semua anak dari kecil langsung terbentuk mental pejuang? kalau gitu, berarti aku yang harus merubah biar mereka punya mental pejuang? tapi, tunggu, apa aku sendiri sudah punya mental seorang pejuang?

 

an online tantrum, dari seorang 20 tahun terhadap masalah sepele di hidupnya.

 

Advertisements

Happier

for instance, if you come at four in the afternoon, I’ll begin to be happy by three. the closer it gets to four, I’ll be excited and worried; I’ll discover what it costs to be happy!

pada suatu pagi di hari libur, aku menghabiskan waktuku menonton drama spesial milik salah satu stasiun TV Korea Selatan yang berjudul You Are Closer Than I Think. dalam drama tersebut, pemeran utamanya merupakan seorang pemilik toko buku sekaligus penyiar radio yang selalu membacakan surat masuk dari pendengar, salah satunya Fennec Fox. pendengar yang satu ini selalu rutin mengirim surat, sampai akhirnya mereka bercakap-cakap dalam jalur pribadi dan memutuskan untuk bertemu. pemeran utama sedang menjaga toko bukunya ketika gadis cantik masuk dan menanyakan buku karya penulis Jerman kesukaannya, yang tentu saja membuatnya berpikir bahwa gadis ini ialah Fennec Fox, orang yang diajaknya mengobrol tentang karya penulis Jerman tersebut. saat ditanya, gadis itu hanya menjawab sebuah kutipan dari buku The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupéry; kalau kau datang pukul empat sore, aku akan merasa bahagia sejak pukul tiga.

barangkali penggalan kalimat itulah yang membuatku tersenyum kecil saat harus menunggu adik-adikku di sebuah resto sore ini. kalau mereka datang pukul tiga–seperti janji kami–aku akan bahagia sejak pukul dua. namun mereka tidak datang pukul tiga, tidak pula kunjung datang pada pukul empat. apakah aku masih bahagia?

but if you come at just any time, I shall never know at what hour my heart is to be ready to greet you.

nyatanya, aku bahagia ketika mereka datang pukul lima kurang lima belas. aku tahu tepatnya kapan aku siap menyambut; detik pertama aku melihat mereka tersenyum dari arah pintu masuk.

setelah sebuah percakapan panjang, aku bertanya kepada mereka, “ada yang suka baca novel?” yang dijawab dengan gelengan pelan kompak.

“kalau kau datang pukul empat,” ucapku menirukan satu kalimat dalam buku The Little Prince, “aku akan bahagia sejak pukul tiga,”

mereka terdiam; bingung, kemudian aku menyelesaikan kalimatku, “maknanya, jadikan pertemuan ini hal yang kalian senangi. kalau kita janjian pukul tiga, maka berbahagialah sejak pukul dua. ini termasuk ukhuwah islamiyah, bergembira untuk berkumpul melingkar.”

mereka mengangguk kecil, sementara di dalam otakku menggemakan rentetan nasihat yang baru saja kuucapkan, memenuhi sudut-sudut pikiranku agar tidak pernah terlupa; aku mengatakannya, aku harus pula melakukannya.

menunggu tidak melelahkan bila diakhiri dengan manisnya pertemuan. menunggu itu membahagiakan, bila yang ditunggu merupakan wujud cinta–dalam kamusku, berarti mereka.