Me in Their Shoes

Dulu aku bertanya-tanya tentang orang yang membaca komik lalu cinta mati sama tokoh komik tersebut. Kan, tokoh-tokoh itu hanya fiktif? Lalu aku akan menamai mereka dengan sebutan ‘alay’. Aku nggak mencari tahu arti alay ini apa sih, tapi berdasarkan informasi teman-teman saat itu, alay merupakan versi lanjutan dari lebay. Intinya berlebihan yang nggak banget gitu, deh.

Aku terus tumbuh dengan kata-kata alay yang kulontarkan kepada orang lain yang menurutku memiliki kecenderungan terhadap sesuatu yang tidak sejalan dengan seleraku. Kadang aku menyampaikan pada teman-temanku, karena kita satu pemikiran kok bisa orang-orang itu menyukai hal yang mereka sukai. Sejak SMP, aku anaknya terkena virus kebarat-baratan. Jadi patokanku adalah hollywood. Selain itu, semua alay. Hehe.

Sampai pada awal semester 5 kemarin, aku mendapat tugas presentasi jurnal dari dosenku. Jurnal yang kupresentasikan ialah tentang perubahan algoritma diagnosis penyakit demam rheuma. Karena aku belum pernah dapat tugas ini, jadi aku takut kalau tidak bisa menjawab saat diberi pertanyaan. Akhirnya aku mempelajari algoritma ini sampai malam. Saat itu mungkin aku sedang lelah, karena aku sedang tiduran ketika suatu pikiran menamparku. Sebutan dengan makna negatif yang seringkali kulontarkan pada orang lain sedikit mirip sama diagnosis dokter. Seorang dokter, setelah anamnesis, akan menyebutkan diagnosisnya. Namun, diagnosis mereka sangat jelas, karena ada algoritmanya. Sementara aku, hanya berdasarkan perbandingan selera sendiri saja sudah berani mendiagnosis seseorang ‘alay’. Tanpa algoritma apapun. Padahal mereka juga nggak memberikan dampak negatif apapun pada hidupku. Dan beberapa minggu ini, aku menonton reality show Korsel dan senang sekali dengan para peserta-pesertanya, sampai di poin dimana aku fangirling di twitter. Jujur saja, aku sedikit takut dikatakan alay, sehingga aku bersikap sedikit considerate untuk tidak men-tweet berlebihan. Aku seperti berada di posisi orang-orang yang ku ‘diagnosis’ alay tersebut. Menjadi berbeda dari selera lingkunganku. Ini jadi pelajaran buatku, agar tidak serta merta men ‘diagnosis’ seseorang dengan sebutan-sebutan tidak mengenakkan. Seorang temanku pernah bercerita, seorang temannya punya teman, yang sangat mengidolakan Pak SBY sampai membentuk fanbase dan dia jadi ketuanya. Aku yang dulu mungkin akan bereaksi, ‘hah ngapain sih? Alay banget’ tapi aku sekarang hanya tertawa sambil menggeleng tidak percaya, ‘seleranya beda banget sama aku ya!’

Setiap orang punya hobi dan kesukaan masing-masing. Levelnya juga beragam, ada yang suka saja ada yang suka sekali. Selama itu tidak bertentangan dengan norma agama, sosial dan hukum, kenapa kita harus melabeli mereka sesuatu? Kenapa kita harus menjadi orang yang kesal saat orang lain bahagia akan hobi anehnya yang, tentu saja, tidak sedikitpun merubah sesuatu di hidup kita? (:

P.S

Ini mungkin terdengar seperti pembelaan karena aku fangirling? Haha, mungkin saja. Tapi, bener deh, dengan ‘karma’ ini aku jadi serius ingin belajar menghargai orang-orang dengan hobi dan kesukaan mereka, meskipun itu sangat amat berbeda dengan seleraku. Tentu saja, sebagai pihak yang menyukai sesuatu, kita juga harus bertindak bijaksana akan hobi tersebut, jangan sampai hobi yang membuat kita senang malah menyengsarakan orang lain. Seperti pelajaran yang kudapat dari fangirling ini, aku juga belajar bahwa apresiasi terhadap orang ganteng dan cantik itu tidak apa-apa, serius. Tapi jangan membandingkan dengan orang lain. Jangan kemudian menjatuhkan orang lain karena fisik, atau apapun lainnya. Pujilah, senangilah apapun yang disukai, tapi tidak usah mengejek yang tidak disukai. Satu lagi, jangan lupa bahwa kita hidup di dunia nyata, bukan dunia para oppa. Haha! Jangan lupa tugas sebagai manusia juga!

 

Regards,

An almost 20 years old woman who just knew what fangirling is, and will be considerate while doing it.

Advertisements

2 thoughts on “Me in Their Shoes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s