Bonfire

“it’s not the fire that burns,  it’s the roots you spread over.”

Pernah membuat api unggun? Tahu tidak bahwa kita hanya butuh api kecil dan lilin 3 cm (kalau perlu)? Yang membuatnya menyala ialah kayu. Kayu yang disusun dari diameter kecil hingga besar, semakin banyak dan semakin tinggi, maka semakin besar pula nyala api unggun. Tahu tidak bahwa berita tentang rasisme yang tersebar ini bukan karena satu hembusan kalimat tidak enak, tapi karena egoisme individu yang dengan mudah menyebarkan kesana kemari?

Ya, masalahnya bukan di api kecil, masalahnya adalah kayu yang terlalu banyak ditumpuk. Ternyata, api kecil yang terkena kayu berdiameter kecil hanya akan menyala sesaat, setelah itu ia mati. Kenapa isu rasisme ini beredar luas dan tidak kunjung redam? Karena tiap individu membawa gelondong kayu besar, bersungut-sungut meletakkannya di sekitar api, tapi kemudian bertanya-tanya kenapa suasananya sungguh panas? Dalam kepercayaan pribadi saya, persaudaraan itu terikat bukan hanya dengan darah, tapi dengan akidah. Dan saya sedih, sedih sekali ketika melihat banyak saudara yang dengan bangga memperolok saudaranya sendiri di facebook, di instagram, di line dan pelosok dunia maya manapun. Ekstremis, kuno, radikal, berapa banyak lagi sebutannya? Saya pun tidak membenarkan sikap mereka yang diperolok jika itu memang bertentangan dengan keyakinan, mencetus rumor, menimbulkan kerusuhan. Hanya saja, mereka api kecil, khilaf mereka tidak akan membakar apapun jika tidak ada yang dengan frontalnya membagikan kesalahan mereka dan memberi caption nyinyir. Dan kayu-kayu ini adalah saudara si api. Betapa miris, betapa memilukan. Mengapa tidak menjadi pasir saja dan hentikan api? Manusia benar-benar berada dalam kesesatan kecuali mereka yang saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, ini yang saya percaya, bukan yang saling menebar benci apalagi menghinakan saudara sendiri. Mengutuk api karena mencemarkan nama kepercayaan yang merupakan rahmat ini, padahal kayu-kayu tersebut ialah tim sukses yang menyebarkan. Sungguh mulia hati mereka yang bening, berbisik menyampaikan kebaikan, menjadi embun yang menetes dari daun, bukan malah menjadi kayu dan membuat suasana semakin panas.

Yang sudah lelah dengan pertengkaran antar saudara,

Saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s