Listen

 

Curhat buat Sahabat – Dewi Lestari

Sahabatku, usai tawa ini
Izinkan aku bercerita:

Telah jauh, ku mendaki
Sesak udara di atas puncak khayalan
Jangan sampai kau di sana

Telah jauh, ku terjatuh
Pedihnya luka di dasar jurang kecewa
Dan kini sampailah, aku di sini…

Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring… sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik : “Pandang aku, kau tak sendiri,
oh dewiku…”
Dan demi Tuhan, hanya itulah yang
Itu saja kuinginkan

Sahabatku, bukan maksud hati membebani,
Tetapi…

Telah lama, kumenanti
Satu malam sunyi untuk kuakhiri
Dan usai tangis ini, aku kan berjanji…

Untuk diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring… sakit
Menentang malam, tanpa bimbang lagi
Demi satu dewi yang lelah bermimpi
Dan berbisik : “Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku…”

Wahai Tuhan, jangan bilang lagi itu terlalu tinggi

Siapa sih yang tidak mau ada seseorang untuk mengambilkan minum saat sakit? Yang tersenyum menguatkan saat beban pikiran tidak keruan? Atau, yang dengan sigap menarik rentengan tas berat saat turun dari kereta? Eh yang terakhir kok curhat wahaha. Ya, siapa yang tidak mau ada seseorang yang memahami tanpa perlu ungkapan kata-kata? Yang kesederhanaannya melengkapi?

Hmmm. Mendengar ternyata tidak melulu harus yang frekuensinya sama dengan suara kita. Ada suara-suara yang saking halusnya hanya bisa merambat melalui sorot mata, atau gerak-gerik tubuh. Suara-suara yang terpental jatuh ketika mencapai kerongkongan. Suara-suara yang teredam rasa takut. Bukannya ingin diam, sungguh, keinginan untuk berbicara sudah memenuhi puncak ubun-ubun. Saat itulah telinga harus terbuka lebih lebar dari biasanya. Untuk menangkap suara-suara berfrekuensi rendah tadi. Tidak semua diam adalah drama queen, atau manja, atau kode-kodean. Terkadang memang ada diam yang dalam, dan untuk menyelamatkannya membutuhkan telinga yang siap mendengar dan mulut yang berkata, “kamu nggak apa-apa?”. Semudah itu untuk mencegahnya tenggelam.

Jadilah telinga dan mulut disaat bersamaan. Atau kalau lelah, kita bisa gantian peran jadi telinga atau mulutnya^^

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s