Wiser Way

Menjadi pemimpin, bukan tentang menyandang gelar ini itu, melainkan tentang amanah yang diemban dan harus diselesaikan.

Keren pasti, menjadi sekretaris organisasi, menjadi kepala biro atau divisi. Sibuknya sudah pasti. Rapatnya jangan ditanya, persis seperti jadwal makan; tiga kali sehari. Tapi seorang lelaki paruh baya, dengan nada datar menyejukkan, sekali lagi menyentuh hati dengan kalimat yang tidak mungkin dilupakan.

Menjadi pemimpin, bukan tentang tunjuk sana tunjuk sini. Melainkan menuntun dan membimbing dengan pasti.

Begitu kiranya pesan yang Ia tekankan. Saat euforia peralihan kekuasaan melingkupi hati, ada pemberat yang membuatnya jangan sampai terbang terlalu tinggi. Lelaki tua paruh baya ini mengingatkan, rentetan tugas bersembunyi dibalik megahnya sebuah titel.

Karena untuk apa jadi ketua, kalau dari wajah anggotanya masih tersirat rasa kecewa?

Bukan untuk terlihat gagah, tapi menjadi penengah saat jalan buntu menghadang. Menjadikan bekerja terasa mewah dibawah kepemimpinannya. Agar kata-katanya dinanti, arahannya disegani.

Lelaki paruh baya, seorang guru, seorang pembina, membuka mata bahwa pemimpin bukan sekedar menduduki tingkatan teratas. Melainkan melebur ke bawah, ke samping, ke depan dan belakang. Memenuhi ruang organisasi. Menggerakkan dari segala sisi.

Jember, 30 November 2016.

dr. Aries saat serah terima jabatan kepengurusan tbm vertex tahun 2016/2017.

Listen

 

Curhat buat Sahabat – Dewi Lestari

Sahabatku, usai tawa ini
Izinkan aku bercerita:

Telah jauh, ku mendaki
Sesak udara di atas puncak khayalan
Jangan sampai kau di sana

Telah jauh, ku terjatuh
Pedihnya luka di dasar jurang kecewa
Dan kini sampailah, aku di sini…

Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring… sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik : “Pandang aku, kau tak sendiri,
oh dewiku…”
Dan demi Tuhan, hanya itulah yang
Itu saja kuinginkan

Sahabatku, bukan maksud hati membebani,
Tetapi…

Telah lama, kumenanti
Satu malam sunyi untuk kuakhiri
Dan usai tangis ini, aku kan berjanji…

Untuk diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring… sakit
Menentang malam, tanpa bimbang lagi
Demi satu dewi yang lelah bermimpi
Dan berbisik : “Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku…”

Wahai Tuhan, jangan bilang lagi itu terlalu tinggi

Siapa sih yang tidak mau ada seseorang untuk mengambilkan minum saat sakit? Yang tersenyum menguatkan saat beban pikiran tidak keruan? Atau, yang dengan sigap menarik rentengan tas berat saat turun dari kereta? Eh yang terakhir kok curhat wahaha. Ya, siapa yang tidak mau ada seseorang yang memahami tanpa perlu ungkapan kata-kata? Yang kesederhanaannya melengkapi?

Hmmm. Mendengar ternyata tidak melulu harus yang frekuensinya sama dengan suara kita. Ada suara-suara yang saking halusnya hanya bisa merambat melalui sorot mata, atau gerak-gerik tubuh. Suara-suara yang terpental jatuh ketika mencapai kerongkongan. Suara-suara yang teredam rasa takut. Bukannya ingin diam, sungguh, keinginan untuk berbicara sudah memenuhi puncak ubun-ubun. Saat itulah telinga harus terbuka lebih lebar dari biasanya. Untuk menangkap suara-suara berfrekuensi rendah tadi. Tidak semua diam adalah drama queen, atau manja, atau kode-kodean. Terkadang memang ada diam yang dalam, dan untuk menyelamatkannya membutuhkan telinga yang siap mendengar dan mulut yang berkata, “kamu nggak apa-apa?”. Semudah itu untuk mencegahnya tenggelam.

Jadilah telinga dan mulut disaat bersamaan. Atau kalau lelah, kita bisa gantian peran jadi telinga atau mulutnya^^

 

 

Bloom!

Assalamualaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh, may His grace embraces you and me and every tiny aspects in this tiny world. Aamiin!

Jadi, kurang lebih dua hari tiga malam saya mengalami guncangan di perut dari gaster sampe usus besar yang mana sangat sangat mengerikan karena di Jember lagi wabah hepatitis A. So do not forget each time you pass ibu jualan sayur pray for her a good life ahead supaya beliau juga menyiapkan makanan yang kita beli dengan baik pula, dan mengurangi wabah penyakit di kota Jember tercinta. I’m good fyi, the test was negative, Alhamdulillaah. Eh tapi personal hygine and sanitation juga harus diperhatikan, ayo mulai galakkan bawa minuman sendiri dari kos, kalau bisa bawa sendok garpu juga (ini serius, dan nggak mahal kok bisa beli di toko “hasil dari bahagia” bentuk wadahnya kotak kecil ada hello kitty-nya), cuci tangan jangan sampai lupa (meskipun malesss, hehe). Kalau terlanjur sakit, jangan sedih karena sakit menggugurkan dosa. Cheer up, sick buddies!(:

Kemarin di kampus ada kajian tentang “bagaimana jika hari ini hari terakhirmu?” wow pas banget lagi sakit baca posternya kan bikin istigfar 1000x, alhasil naiklah saya untuk ikut mendengarkan. Jadi, yang dibahas adalah kalimat Rasul intinya “jika ini hari terakhir dan kamu punya benih kurma, tanamlah benih-benih itu” intinya kita harus melakukan kebaikan walaupun tidak ada waktu lagi bagi kita untuk menuainya. Tetap lakukanlah, karena yang menuai adalah orang lain, dan salah satu pahala yang dapat mengalir meskipun sudah meninggal adalah amal jariyyah, jadi kebaikan itu insyaAllaah akan terus mendatangkan pahala kalau terus bermanfaat bagi orang lain, meskipun di dunia kita tidak mendapatkannya. Aaiihh bagus ya maknanya(: yang saya dapat dari kajian kemarin juga yaitu kita harus beramal terus, walau sedikit tapi tidak terputus, karena itu sangat Allaah cintai. Apabila terputus karena dosa, mulai lakukan amal kecil-kecil lagi, karena sesungguhnya amalan itu bersaudara begitu pula dosa, satu amalan akan memanggil amalan lain dan satu dosa juga akan memanggil dosa lain. Jadi ngerti kan harus condong ke melakukan yang mana? Kalau terlanjur berdosa, segera bertaubat dengan cara menyesali perbuatan dosa tersebut, kemudian berniat untuk tidak melakukannya lagi like ever. Say nope nope nope! Ya meskipun semudah itu mengucapkan implementasinya susah sebenernya, tapi ingat lagi, jika ini hari terakhirmu, would you rather die in a good or bad way? Think!

Kemudian malam harinya dengan kondisi lumayan mendingan, mbak kos nyeletuk ngajakin nonton fantastic beast yang saya iyakan dalam satu kedipan mata. Hehehehe. Berangkatlah kita nonton fantastic beast. Ini kesan saya setelah nonton filmnya and this contains spoiler: watch it and be ready to miss harry potter. Yhaa, the movie was not special i think, but because it’s the same wizarding world as harry’s that newt is living in, it became attractive! I live in harry potter fantasies since i read the fifth book, my sister’s, which was around my..um.. Forth or fifth grade. Inget banget saya bukunya setebel 1200-an terus lusuh begitu haha ya sekarang saya nggak se fanatic itu sih kan yang berlebihan nggak baik. Ea(: tapi mendengar alohomora lagi, melihat mereka disapparate lagi, brought back memories sekali huhu. Filmnya cenderung membosankan menurut saya karena yaaa keren sih hewan-hewannya, iya kreatif, but the story just, ya standar lah ya begitu aja. btw saya belum baca bukunya sih yang fantastic beast, dulu di bobo ada buku-buku sampingan salah satunya fantastic beast itu sama dongeng-dongeng beedle, tapi isinya gimana yha? Hehe. Itu emang grindelwald nyamar begitu apa gimana sih? Tengsin dooong penjahat kelas kakap rebutan tongkat elder masa main nyamar-nyamar ah kan cupu): terus lagi yang no-mag diajak masuk ke koper dan si newt menjelaskan satu-satu hewannya, saya nggak dapet poinnya apa hehe the creatures are amazing tapi ngapain jugaaa sih jelasin ke si no-mag, kayak dia bakal ngerti aja. Buat yang kangen harry potter, saya sarankan rewatch dan re-read serialnya ajaaa. Tapi fantastic beast is not a waste of money kok, rated 3 star! P.s carilah jadwal bioskop yang sesuai apalagi kalau kalian habis kuliah dari jam 6 pagi dan gampang ngantuk, jangan nonton malem deh. Selamat menonton!

Kalau sudah begini, terasa rindunya bukan main. Pengen banget diusap-usap keningnya meskipun nggak demam. Pengen banget dikompres perutnya pakai air anget setiap kali ngeluh sakit. Pengen banget disuapin, ditanyain mau makan apa, dan dengan sigap bakal nyiapkan semua kemauan-kemauanku. Pengen banget denger telpon minta ijin nggak bisa berangkat kerja karena sebegitu khawatirnya. Atau kalaupun ada kerjaan nggak bisa ditinggal, bakal telpon tiap sejam sekali nanyain keadaan. Pengen banget dikelonin tiap tidur. Pengen banget dijanjiin bakal dibelikan kebab kalau sembuh (ini nakal banget, haha).

Nggak tau lagi apa yang lebih bikin miris, penyakitnya atau rindunya. Ah, sudah November lagi, Ma. 4 tahun, ya? Mbak Eki sudah besar, 19 tahun. Sudah nggak pernah picky lagi urusan makan, malah agak rakus sekarang. Tapi masih males-malesan disuruh mandi nih, hehe. Geregetan nggak pingin tebasin pake handuk lagi? Ternyata kuat itu bukan berarti melupakan ya, Ma. Capek juga kudu senyum-senyum tiap pingin nangis, sok-sok tegar gitu hehe mikirnya airmata tidak akan berefek apa-apa, makanya doain aja. Apeu ternyata aku juga manusia haha. Juga nggak dosa kok rindu ya kan, Rasul juga pernah rindu sama bunda Khadijah. These 4 years changed me so much. Suka bersyukur sendiri ternyata dalam kehilangan pun, Mbak Eki menemukan hal berharga. Mbak Eki pengen banget mengenang setiap orang yang ada di hidup dan bikin mereka bahagia, yaaa walaupun juga masih sering nyakitin sih. Nggak mau aja gitu menyesal keburu ditinggal pergi tapi masih ada yang ganjel. Huhu. Mbak Eki jadi menemukan makna berharap sebenarnya, nggak bisa berharap sama manusia ternyata, manusia bakal pergi ujung-ujungnya. Walaupun baru akhir-akhir ini juga, Mbak Eki sadar hal apa yang mau dijadikan kado buat Mama sama Papa. Habis ditinggal dulu Mbak Eki sempet oleng wahaha, tapi begitulah, Allaah baiknya super duper, merasa selalu dipanggil kembali setiap habis melenceng. Ya meskipun nanti Mama nggak bisa lihat Mbak Eki lulus, lihat Mbak Eki dilamar, lihat Mbak Eki nikah, lihat Mbak Eki disumpah, tapi Mama selalu ada di momen-momen paling berharga di hidup Mbak Eki. Eeee semoga aja umurnya bisa mencapai itu semua tapi. Ada banyak anak diluar sana yang kurang beruntung dan nggak pernah merasakan kasih sayang ibunya, tapi Mbak Eki beruntung masih sempat merasakan. Dan ternyata, kasih sayang Mama dulu itu menenangkan, sekarang mendewasakan. Terimakasiihh<3

Milestone

Siapa yang tidak tersentuh hatinya mendengar kisah Umar ibn Al Khattab, orang yang menentang Rasulullaah habis-habisan, kemudian mendapat hidayah dan malah menjadi khalifah. Kisah beliau ra yang selalu menyemangatiku untuk bangkit dari masa lalu, bahwasanya Allaah Maha Penyayang, Allaah Maha Pengampun, beliau ra yang berkeinginan membunuh Rasul malah akhirnya dijanjikan masuk surga. Betapa indah nikmat hidayahNya, betapa beruntung orang-orang yang mendapatkan.

Siapa yang tidak terenyuh mendengar kisah Mus’ab ibn Umair, kokohnya iman membuatnya rela meninggalkan harta dan trah agung keluarga. Bahkan beliau ra sampai hati meninggalkan ibunda yang sangat dicintainya namun tidak ridha akan pilihannya memeluk agama yang haq; islam. Kisahnya memotivasiku untuk tidak berkecil hati walau harus berjuang sendiri. Betapa merasuk rasa cinta padaNya, melebihi rasa cinta pada apapun di dunia.

Manusia-manusia yang disayang Allaah, barangkali hidupnya hanya tentang mencari berkah dan ridhoNya. Tiada peduli masa lalu, tiada peduli kata dunia, selama jalan yang ditempuh ialah jalan menujuNya, pantang mundur sebelum tercapai. Barangkali hidupnya hanya tentang ikhtiar, ikhlas dan tawakal. Usaha keras yang dilepas bersama gelembung harapan; cukup kulakukan untukNya, cukup bagiku balasan dariNya.

Jember, 16 November 2016.

(Tulisan yang terhenti karena gempa. Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.)

 

That Day the Sky Looked So Grey

Dulu sekali waktu kecil, aku sering bermain di tanah lapang setiap sore, atau di pantai setiap minggu pagi. Langit dulu terlihat luas, sangat menakutkan bagi bocah ingusan sepertiku. Entah apa yang ada di otakku, tapi setiap kali aku terlentang menghadap langit, hatiku selalu berdebar-debar. Aku selalu merasa akan ada sesuatu yang menarikku ke langit dengan keras dan cepat menuju bentangan biru tanpa batas. Dan percayalah, perasaan itu cukup membuat tercekat tenggorokan karena aku membayangkan jika aku ditarik ke atas sana, akan sampai dimana aku nantinya?

Sekian belas tahun berlalu, rasa takut itu berkurang seiring dengan kedewasaanku yang bertambah. Mana mungkin aku tiba-tiba tertarik ke atas sana, memangnya ada tali sepanjang itu? Apa yang akan menarikku? Ada-ada saja. Dan tadi pagi, tiba-tiba perasaan itu datang lagi. “korbannya silahkan tiduran.” kata salah seorang anggota SAR dalam simulasi water rescue. Aku tidur di atas rescue boat, dan teman-teman mulai memasang colar breast serta tali-tali ke badanku. Mataku membuka ke atas, dan langit terlihat benar-benar luas. Kali ini ia abu-abu, bukan biru. Ketakutan masa kecil yang kembali membuatku berpikir, kalau aku benar-benar “ditarik” keatas sana dengan keadaan saat ini, sampaikah aku di hadapanNya? sudikah Ia menemuiku?

Aku menutup mata. Langit luas tampak abu-abu hari ini.

Ah, tiba-tiba hatiku juga.

In the World Where Existence Doesn’t Matter

he did all the prayers, but he never felt like those all were enough. the more he did the more he groaned for lacking of praying. he got the prettiest wife, with the most beautiful behaviour, yet he was afraid to show her to the world, not even on a picture, like she was a pearl under the deepest sea; his most precious jewel. he worked his hardest to get money, but he chopped it for the neighbor behind, for the widows and the orphans around the corner. he had electronics, he watched tv like almost every human being did, he surfed internet too. but the news never shook him right nor left, he stood still on what he was always taught; never say a word of what you don’t have the knowledge about.

in the world where existence doesn’t matter, he exists.

***