My Kind of Wonderful Day

Setelah sekian minggu lamanya (ditambah liburan kemarin), akhirnya saya kesana lagi! Ya, sd bintoro 5! Menyenangkan sekali bertemu teman-teman yang menjabat erat tangan seraya berkata, “kemana aja? Lama banget lho gak keliatan” terimakasih sudah sekuat dan sedisiplin itu untuk selalu kembali ke sd binaan, kekaguman saya ke kalian nggak terhitung nilainya. Ingin rasanya minta maaf karena terlalu sering absen, terlalu sering meninggalkan adik-adik kita karena urusan lain (sampai ada yang lupa nama saya, the saddest part).

Hari ini hanya kami berempat dari SP bintoro, tapi tiga teman salah seorang dari kami dengan baik hati mau ikut kesana, sehingga kebutuhan pengajar tetap terpenuhi, hehe. Kelas 1-2 seperti biasa diisi oleh spesialisnya; yang suka nyanyi, pintar nari, jago mencairkan suasana, siapa lagi kalau bukan Farda. Ditemani oleh anggota termungil, Devita, adik-adik kelas 1-2 diajari nama hewan, warna, serta alfabet dalam Bahasa Inggris.

Sebelum pulang dikasih reward dulu, dong. Lucu-lucu ya?

Kelas 3-4 diajari macam-macam mata uang oleh “ibu”nya SP bintoro, Mbak Luluk (sepertinya dibantu Fara dan Iwan, temannya Farda). Tapi nggak ada dokumentasinya karena saya nggak sempat masuk sama sekali huhu. 

Kelas 5-6 bagian saya dan Juju, temannya Farda juga. Kita mengadakan kuis biologi, yang disambut meriah oleh adik-adik (mungkin karena ada hadiahnya ya, haha). Mereka kami bagi jadi dua kelompok, cewek dan cowok. Yang cewek namanya grup suster, yang cowok namanya grup supir ambulance (nggak kepikiran nama lain soalnya). Kuis berjalan sengit dan grup supir ambulance memimpin di awal, ketika tebak-tebakan nama dan fungsi organ dalam tubuh. Gaya khas mereka kalau habis mendapat poin selalu melingkarkan tangan di depan sambil bilang “woosh woosh beep beep! Ambulance lewat” haha gemas. Lalu di sesi berikutnya, supir ambulance masih memimpin saat main puzzle organ dalam tubuh. Solihin, ketua grup, berulangkali membenarkan posisi organ yang salah. Dia memang pintar, fungsi organ dalam semua dia hafal. Dari grup suster ada Dewi kecil yang paling aktif dalam menjawab. Terakhir saya kesana dia belum pakai kerudung, eh tadi pakai, tambah lucu wkwk.

Ginjalnya miring-miring wkwk

Nah di sesi ini grup suster mogok menjawab karena poinnya tertinggal jauh. Saya juga heran cewek dimana-dimana, umur berapa aja hobinya sama ya: ngambek. Setelah dibujuk akhirnya mereka mau melanjutkan kuis. Dan sesi terakhir adalah menuliskan nama organ serta fungsinya di kolom bagan organ tubuh yang sudah dibagikan. Ini poinnya paling banyak, karena cepet-cepetan selesai dan maju presentasi. Akhirnya grup suster memenangkan kuis ini setelah mereka menyelesaikan kolom dalam waktu 10 menit.

Serius itu lambung? Hayoo

Cepat dalam menjawab lambat dalam bergerak, tipikal cowok banget ya *eehh

Grup suster sudah pasti bahagia karena menang dong, mereka memang kompetitif sekali. Menangnya karena konspirasi juga sih poin di game ini saya banyakin karena takut ngambek, hehe. Kata mbak Luluk sebenernya nggak apa-apa kalau kalah, biar mereka belajar kalau life is not a wish granting factory, kata John Green sih gitu. Tapi saya males ngurus anak ngambek hua gimana ya, maaf hehe. Setelah itu pembagian reward, dua-duanya sama-sama dapet hadiah sebenernya tapi tetep aja berantem rebutan huft.

Juju dan ketua grup supir ambulance. Selamat~

Juju dan ketua grup suster, Ike

Kuis selesai mereka langsung bagi-bagi hadiah, kemudian berdoa dan pulang. Hore! Hari ini berjalan asyik sekali, alhamdulillaah, semoga agenda selanjutnya juga selalu diberi kelancaran dan semoga adik-adik bisa menyerap ilmu dengan baik dan memanfaatkannya dengan bijak. Aamiin! 

Sebelum pulang beli es degan dulu, panas~

Advertisements

II

He Who’s knowledge covers the sky and the earth and the unseen world

Send us a light to guide from this dark path

This world has gotten mad, 

Too much words which cannot be defined, 

Is it a true or is it a lie? 

Trying to believe or choosing sides

But everything is twisted nothing seems easy to trust

So which one is right, to talk or to keep quite? 

Code Blue

Hari ini berjalan seperti biasa. Tutorial seperti biasa, kuliah di rumah sakit (batal) seperti biasa. Saya tidak langsung pulang, malah berbincang dengan partner menghitung uang favorit. Di dalam ruangan ada pula beberapa teman lain yang belum pulang. Tiba-tiba ditengah percakapan, sebuah suara seperti pengumuman berkumandang. Kami diam, berusaha mencerna. Raut wajah kami seketika berubah ketika mengetahui apa arti pengumuman itu.

“CODE BLUE CODE BLUE DI RUANG SERUNI”

percakapan dihentikan mendadak. Kami bertukar tatapan bertanya-tanya. Ini adalah pengalaman pertama mendengar secara langsung hal yang hanya pernah kami dengar di drama korea tentang kedokteran.kaget bercampur ingin tahu apa yang terjadi pada pasien di ruang seruni memenuhi ruang pikiran kami. Ada apa? Cardiac arrest kah? Pengumuman diulang beberapa kali, setiap kata seperti palu godam yang mengenai hati. Kelak ketika coass, ketika internship, saat kami yang harus ikut berlari ketika mendengar pengumuman seperti itu, dapatkah kami berpikir jernih? Dapatkah kami membantu? Saya bergidik ngeri. Quote penyemangat yang sering saya dengar “you do not study to pass the exam, you study because you will be the one between your patient and the grave” terngiang di telinga. Rasa sesal akan kemalasan membaca timbul dalam hati. Ini yang akan saya hadapi nanti. Ini bukan wacana, saya mendengarnya sendiri. Code blue. Keadaan gawat darurat. Keadaan yang akan menjadi kawan sehari-hari, film horor nyata yang harus saya tonton berulang kali. Tiba-tiba tumpukan buku di kamar kos terasa memanggil-manggil. Nyinyiran “cewek kedokteran menye-menye” yang biasanya membuat panas hati mendadak tidak ada apa-apanya. Ada visi yang tercipta, ada misi yang harus tuntas. Sebuah kalimat pemungkas dari guru spesialis paru kami terasa menyesakkan, tapi inilah konsekuensi dari keputusan yang telah kami buat, kenyataan yang mau tidak mau harus kami hadapi.

Suara kecil beliau terdengar lucu tapi menusuk ketika berkata, “siapa yang suruh kamu jadi dokter?

Jangan marah, jangan marah, jangan marah, bagimu surga. 

Coba ini yang ngomong bukan Rasul, mungkin…… 

Coba jaminannya bukan surga, mungkin…… 

Coba Allaah nggak sayang orang sabar, mungkin……

Coba lawan bicaranya bukan manusia yang tempat salah dan khilaf, mungkin…… 

Hamasah, Lillaah(“””””””:

I

tenanglah, bunda

jika kudapati diriku menangis lagi karena rindu

akan kubuka pintu menuju teras tamu

ada selasar bambu disitu

tempatmu menyanyikanku sebuah lagu

bersimpuh diatasnya pasti mengusir sendu

engkau ceria, bunda

dan aku yakin aku pun begitu

tenanglah, bunda

kalau hidup menyapu raut wajahku pias

akan bercermin aku di depan kaca rias

dalam bayanganku mengalir darah wanita berkemauan keras

dengan imaji luas tanpa batas

melihat matamu dalam mataku tentu menumbuhkan senyum seulas

engkau kuat, bunda

semangatmu pasti besertaku selaras

Menetap

Sejauh apa batas pemahamanmu tentang menetap? 

Apakah mengiringi tiap langkah itu menetap? 

Apakah mendengar keluh kesah itu menetap?

Lantas jika tidak dapat kaulihat senyumku, tidak dapat menenangkan letihmu suaraku, tidak dapat kaugenggam hangat tanganku

Apakah aku sudah tidak menetap? 

Ketahuilah, ketika definisimu tentangku adalah semu, ketika dalam bayangmu aku berupa udara bebas yang mustahil ditangkap

Aku menetap

Sebelum pergiku dalam doa yang tak pernah letih kupanjatkan agar selalu memelukmu

Aku menetap

Selepas pergiku sebagai kesatuan suka-duka kenangan yang mengendap dalam hatimu