Kamu Kenapa?

Kala itu, setelah kesunyian yang ia dapatkan berbuah hidayah berupa wahyu, Sang Nabi pulang ke rumah sembari menggigil. “selimuti aku, Khadijah.” begitulah kiranya permintaan pada istrinya. Khadijah yang taat segera menutupi tubuh suaminya dengan selimut. tapi, adakah pertanyaan “apa yang terjadi?”, “apa yang membuatmu seperti ini?” terlontar dari lisan mulianya? tidak.

kisah ini saya baca di buku dalam dekapan ukhuwah, kalau tidak salah, atau di blog milik ust. Salim A. Fillah. “kamu kenapa?” adalah hal normal yang pertama diucapkan ketika seseorang terlihat berbeda dari biasanya. banyak sekali orang yang merasa diperhatikan dengan ungkapan tersebut. tidak sedikit pula yang merasa terganggu. tentu saja, “kamu kenapa?” harus diungkapkan tepat waktu. siapa yang tahu kapan waktunya? manusia dikenal hebat karena kemampuannya mengolah perasaan, sehingga yang tahu kapan ungkapan ini tepat diucapkan ialah ia yang sudah cukup pandai dalam mengolah perasaannya sendiri dan orang lain. “kamu kenapa?” boleh keluar di detik itu juga saat kita sadar ada yang tak beres. “kamu kenapa?” boleh juga keluar setelah degup jantungnya mereda, pikirannya kembali jernih. kesimpulannya, sebelum “kamu kenapa?” terlontar, baik juga untuk mengolah perasaan diri, orang lain, dan lingkungan sekitar.


ya gitu deh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s