sungguh aku percaya

diriku ini luar biasa

aku membaca

dari tatapan orang

bisikan tetangga

atau tulisan rahasia mereka

ternyata

aku hanyalah manusia

yang sedikit berlebih

kadar percaya dirinya


kesimpulan: yang manis belum tentu madu, yang kamu pikir kamu bisa jadi keliru. ups, malu.

Advertisements

Sending Back

image

I wrote to You a lot. Right after I woke up, right before I headed back to bed. I wrote to You everytime I felt happy, because I just wanted You to know. I wrote to You in tears, I needed You to feel the sadness that flooded with fear.
I wrote to You even though You were close.
I wrote to You because,
I fell in love with your love letters.

                                   ***
In health and sick,
Yours forever.

Double Exposure

image

“menurutmu aku perlu menanyakan kabarnya atau tidak?”
“untuk apa?”
“ya, kamu tahu, menjaga tali silaturahmi.”
Aku menelengkan kepala sejenak, berpikir. “menurutku selama tidak terdengar dua kabar darinya, semua berjalan baik-baik saja.”
“apa saja?”
“kabar duka, seperti sakit atau meninggal, dan kabar bahagia, misal ketika dia menikah.”
Ia tertawa hingga terlihat barisan rapi giginya. “ada-ada saja. Tapi benar juga sih.”
Aku hanya mengedikkan bahu sembari tersenyum.
Sulit baginya untuk begitu saja bersikap biasa, bersikap seperti laut pasang ketika bulan berjarak dekat dengan bumi. Padahal sebelumnya, bulan mati pun dapat menggulung ombak tinggi dalam hatinya. Ia hanya belum bisa untuk menganggap tak pernah ada apa-apa.
Dan aku tahu itu. Hanya saja aku berharap ia mengerti, tak perlu berlari dari masa lalu, atau berharap kembali ke masa itu. Tak usah. Masa lalu yang bersinggungan dengan masa kini akan membentuk retakan rapuh yang indah: sekeping memori.
                                  ***

Gambar: double exposure di kereta (sok-sokan ceritanya, wkwk) (masih kamera hp belum upgrade) (tapi hasilnya hampir mirip) (alhamdulillaah) (semoga segera)
Cerita: inspirasi di ruang tamu saat seorang teman pamit menuntut ilmu jauh (semoga segera juga)

Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar

assalamualaikum warahmatullaahi wa barakatuh.

I am never a fan of biography. number of biography book I’ve read: 0. if Thomas Alva Edison serial book from Dancow is considered as biography, then I’ve read 1. is sirah shahabiyah a biography too? if yes, then I’ve read several I guess. but turns out biography is not always boring, this book is a prove! maybe because it contains a lot of ups and downs .(what I was thinking in it then? a plot twist?-_-)

 

May 1998, Indonesia was in a big chaos. Tionghoa ethnic was being attacked. their shops and houses are robbed. everything was a mess. but Merry Riana’s father had a plan, this madness should not stop her eldest daughter from getting education. but how? the only possible way was sending her abroad. he knew there weren’t much money, it’s even hard to bought daily groceries, but there must be a way, he and his wive thought. luckily, Nanyang Technological University in Singapore let the pupils borrow the money and pay back when they got job (this should be made as a program in Indonesia I guess). so 18 years old Merry Riana went. after getting the money, she calculated her needs such as books, education fees, boarding house etc and there were only 40 dollars left. it meant she had to live with 40 dollars a month, 10 dollars each week. she was too afraid to call home and ask for more money, as she knew back in Indonesia her parents might be suffering too.

living with such low salary made her hungry almost all the time. but she got tactics: instant noodle for breakfast, two loafs of bread without jam for lunch, and joining organisation with free foods for dinner. for almost 2 terms she did that. one day she met a boy in her holy book group. he was just like her, lacking of money. everything was not the same, they met regularly to discuss, mostly about their vision, and business. in the second year, Merry Riana tried to find a job. here all the journey started. she firstly began as a brochure disseminator,  and then a florist, then a waitress. but when she joined a company as an university employee, she understood what she wanted. she did not want to become an employee. she wanted to start everything by herself. she told Alva, the boy he met in the group, and he totally captivated by her braveness. they started to do deep research about business in books, they even attended a seminar by Anthony Robbins (who is he actually-,-), their favourite motivator. all she dreamt about was how to pay back her education fee from NTU and be financially independent by the age under 30.

so here is the difference between me -or most of us- and merry riana: spirit.

to talk about success (here I talk about worldly life) is not always about money but not to mention money is a symbol of established life. sureee my definition of success has nothing to do with money. but what this book has taught me, whilst you are making money, you will get things beyond that. love, trust, loyalty. Merry Riana always believes that the money she is getting must be used in a good way, and she has to include God in every effort. every hardship is a lesson, therefore she feel less miserable. I have a strong will but I don’t have such strong spirit to make it true, but Merry Riana did. she disciplined herself to reach goal, she wouldn’t loosen it, not a bit, or she would fall more distant from her goal, that’s how she got all she wanted. she is powerful and inspiring, she believed in herself when no one was, she knew God will help. reading this book makes me want to do something useful but….well. hehe. why, me? why? -_- this book is recommended for those who think it is impossible to dream big and reach it, and those who won’t hold on their dream because they seem to fail.

endure a little, do a different method, I know you will get it in the end.

 

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu

*oleh Humamuddin, hafidz 30juz kebanggaan FK UNS*

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu…

Jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya.
Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar. Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih. Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain.

Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Al Qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu. Dan namanya akrab di telinga kita hingga kini, dialah Zaid bin Tsabit.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu…

Jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah. Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab. Ia tidak lain adalah Imam Ahmad.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu…

Jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya, seperti Ummu Habibah. Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya. Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya:

“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam..! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu, oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, aamiin..!”.

Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya: Imam Syafi’i.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu…

Jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita, seperti ibunya Abdurrahman. Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu.

“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”, katanya memotivasi sang anak.

“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam masjidil haram…”, sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan.

Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam Masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani. Dan murattalnya kita sering dengar dan diputar di Indonesia, dialah Syaikh Abdurrahman As-Sudais.

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu…

Jadilah orang yang pertama kali yakin dan menanamkan keyakinan akan kesuksesan, seperti ibunya zewail kecil yang menulis “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anaknya.
Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri, diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor Muslim terkemuka di dunia, penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999.

Mereka… Orang-orang hebat itu, tidak dididik kecuali oleh Ibu yang luar biasa. Baarokallahu Fiikum.

source: haqarin.tumblr.com


rindu rindu rindu.

Kamu Kenapa?

Kala itu, setelah kesunyian yang ia dapatkan berbuah hidayah berupa wahyu, Sang Nabi pulang ke rumah sembari menggigil. “selimuti aku, Khadijah.” begitulah kiranya permintaan pada istrinya. Khadijah yang taat segera menutupi tubuh suaminya dengan selimut. tapi, adakah pertanyaan “apa yang terjadi?”, “apa yang membuatmu seperti ini?” terlontar dari lisan mulianya? tidak.

kisah ini saya baca di buku dalam dekapan ukhuwah, kalau tidak salah, atau di blog milik ust. Salim A. Fillah. “kamu kenapa?” adalah hal normal yang pertama diucapkan ketika seseorang terlihat berbeda dari biasanya. banyak sekali orang yang merasa diperhatikan dengan ungkapan tersebut. tidak sedikit pula yang merasa terganggu. tentu saja, “kamu kenapa?” harus diungkapkan tepat waktu. siapa yang tahu kapan waktunya? manusia dikenal hebat karena kemampuannya mengolah perasaan, sehingga yang tahu kapan ungkapan ini tepat diucapkan ialah ia yang sudah cukup pandai dalam mengolah perasaannya sendiri dan orang lain. “kamu kenapa?” boleh keluar di detik itu juga saat kita sadar ada yang tak beres. “kamu kenapa?” boleh juga keluar setelah degup jantungnya mereda, pikirannya kembali jernih. kesimpulannya, sebelum “kamu kenapa?” terlontar, baik juga untuk mengolah perasaan diri, orang lain, dan lingkungan sekitar.


ya gitu deh.

Sebelum

indahnya senja datang sebelum malam menjelang

maaf, jika kebaikan yang kau tanam menguap bersama satu kesalahan

ku ingat lagi

bunga mekar sebelum mahkotanya lunglai melayu

maaf, jika sakit hatiku mengabaikan keindahan tutur dan budimu yang lalu

harus kuakui, aku lama untuk mengerti

sebelum abu, engkaulah batang kayu

sebelum api, engkaulah hangat mentari

kini aku akan belajar

sebelum burukmu, kuingat kebajikanmu

agar aku tidak terlambat

sebelum maaf,

datang seusai sesal


(Orang-orang yang bertakwa adalah) mereka yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya serta (mudah) memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS Ali-Imran 3:134)