kematian. aku pernah merasa sangat dekat dengannya.

“tolong! tolong!”

teriakan gadis kecil itu keras sekali, wajahnya pucat karena panik melihat tanganku melambai-lambai. dari sini, suaranya hanya terdengar sayup. mungkin karena kerapatan udara di darat lebih tinggi daripada di air, atau bisa jadi karena otakku terlalu sibuk memerintah agar paru-paruku tetap mengembang dan mengempis. mataku mengerjap, dadaku mulai terasa panas. aku butuh oksigen, tapi semakin aku membuka mulut, semakin banyak air yang melewati kerongkonganku. susah payah aku menendangkan kaki agar wajahku muncul ke permukaan. tapi percuma saja, gerakan tubuhku hanya membuatku semakin lelah, dan tidak adanya asupan oksigen yang cukup membuatku limbung. tapi tunggu, aku tidak mau mati dulu. sisa energi yang ada kubuat untuk mendorong tubuhku lagi ke atas. ayolah! sudah berapa menit aku disini? otakku tidak bisa bertahan lebih dari 3 menit tanpa oksigen tapi ini rasanya sudah satu jam aku menendang, meninju, melakukan segara gerakan untuk bisa bernafas. dan hasilnya sia-sia. rupanya tidak ada lagi energi yang tersisa dari tubuhku. suara gadis kecil itu mulai menghilang. kerjapan mataku melemah, hari mulai malam atau sekitarku saja yang mulai gelap? dalam kepayahan itu aku melihat kilasan balik hidupku 18 tahun ini. whoa, kalau aku tidak salah, ini terjadi di film-film ketika pemerannya akan mati. berarti, aku hanya tinggal menunggu waktu. kuputuskan untuk pasrah dan menikmati momen-momen yang otomatis terputar tersebut di pelupuk mataku. aku melihat ibuku, wajahnya masam karena aku mencoret-coret tembok rumah yang baru di cat, dan di sampingnya ada ayah, ia hanya tertawa, sepertinya kenakalanku terlihat imut di matanya. adegan itu lenyap, berganti dengan aku yang menangis memeluk kaki ibu, menggunakan seragam merah putih yang sedikit kebesaran. itu hari pertamaku masuk sekolah dasar. sekelebat adegan lain muncul, dahiku berkerut-kerut meneliti daun yang kubungkus plastik dengan titik-titik embun pada permukaan dalamnya. ini adalah hari dimana aku mulai menyukai biologi di bangku SMP. adegan lainnya muncul, aku sedang terisak di kamar, membaca sms dari sahabatku yang isinya sangat mengejutkan. teman yang sudah kutaksir sejak kelas 8 berpacaran dengan anak pindahan yang masuk di kelasnya, XI IPA 2. aku tersenyum, adegan terakhir yang kulihat ialah aku, menggunakan jilbab biru gelap dengan terusan senada, sedang menyapa sahabat baruku yang baru turun dari motornya, kemudian kami berjalan bersama-sama memasuki ruang kuliah. betapa banyak perubahan yang terjadi padaku selama ini, dan baru kusadari di detik terakhir hidupku. dari balita nakal menjadi seorang mahasiswi pemalu, dari remaja yang mudah dibuai cinta menjadi dewasa yang bahkan harus berpikir dua puluh dua kali ketika menyangkut hal itu. aku tidak tahu, apakah perubahan-perubahan itu cukup untuk membawaku menghadapNya atau membuatku terlempar ke neraka. aku memejamkan mataku, dalam hati aku mengucap doa. entah, akankah aku membuka mataku lagi, apakah itu akan menjadi doa terakhirku.

kemudian sesuatu menarik tanganku keras ke permukaan.

***

20/7/16; 10 pm; bwi

habis renang setelah satu taun nggak nyemplung kolam sama sekali.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s