Dalam Dekapan Ukhuwah

“coba baca Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim, itu buku yang membuka mata saya lebar-lebar.” kira-kira beginilah yang dikatakan Mbak dokter cantik kepada kelompok kecil kami. Buku tersebut karangan ustadz Salim A. Fillah, dan, percaya atau tidak, tulisan beliau jugalah yang perlahan menetesi hati yang keras ini dengan embun.
Seperti pagi biasanya, salah satu grup WA selalu memberikan siraman rohani. Lumayan, pagi-pagi ada reminder. Tapi pagi itu, tulisan yang saya baca beda dari tulisan biasanya. Ckck, puitise, apike tata bahasane, pikir saya. Tulisan itu membahas tentang muslim adalah cermin bagi saudaranya, ketika ia melihat cacat pada diri saudaranya, hal yang paling pertama yang harus ia periksa ialah dirinya sendiri. Hm iyo pisan yo, saya terus bergumam membaca tulisan ini sampai habis. Kemudian di akhir terdapat nama penulis dan judul buku, yang membuat saya berbinar-binar. Buku yang diceritakan mbak ayas! Wah! Bener bagus! Saya bertekad harus membacanya. Satu cerita saja mampu membuat saya mbatin, apalagi satu buku. Dan, beberapa bulan kemudian, mbak ayas bersedia meminjamkan buku itu. Seneng maksimal.
Ada satu yang menggelitik dalam buku itu yang saya ingat sampai sekarang. Hadis Rasulullaah yang “sampaikan kebenaran walaupun pahit.” sering sekali jadi tameng untuk menyakiti hati orang lain. Ya, bilangnya nggak apa-apa kalau yang dibilangi sakit hati, kan yang disampaikan kebenaran, harus tetap disampaikan meskipun bikin gelo. Tapi ustadz Salim A. Fillah melalui tulisan beliau merubah persepsi saya. Jangan jadi palu terhadap manusia lain. Mukul-mukul. Makna sesungguhnya dari hadis tersebut ialah, walaupun kebenaran yang kita sampaikan berbuah pengabaian, kita harus tetap teguh terhadapnya. Seperti Nabi Muhammad yang terus berusaha menyebarkan agama Allaah walau dianggap gila. Walaupun kebenaran yang kita sampaikan menghadiahkan penyiksaan, kita tidak boleh lelah menyampaikannya. Kita harus tetap menyampaikan meskipun kebenaran itu terasa pahit bagi kita. Saya catat lekat-lekat dalam ingatan, pahitnya kebenaran itu bukan dirasa orang lain, tapi bagi kita, bagi yang mau menyebarkan. Berarti, selama ini keangkuhanlah yang membuat kita berlindung dibalik hadis tersebut, mengatasnamakan diri sebagai penebar kebenaran, tapi sibuk mengiris hati saudara dengan lisan maupun perbuatannya. Hati yang luka, padahal, terasa bagai disiram air garam saat menyerap kebenaran. Perih, euy. Ujung-ujungnya? Pak pok, sama aja, ora eneng manfaate olehe nyebar kebenaran mau.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s