Wow-man!

assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh

semoga kesejahteraan benar-benar melingkupi kita semua, aamiin. sudah lama pengen nulis tentang iniiiii. nggak lama sih, seminggu lalu gitu. hehe. jadi ya, saya dulu pernah berkeinginan kuat untuk stop bacaan fiksi. stop like, literally stop! waktunya bisa dibuat baca buku pelajaran (haha-in aja ini mah, berkhayal) bisa juga baca buku-buku inspiratif atau buku-buku keagamaan (maklum udah tua tapi ilmu masih dibawah mata kaki). awal-awal berjalan sih, dana buat novel dialihkan ke hal-hal lain. tapi kok…ada yang hilang dari diri ini(?) sebagai pecinta fiksi dari kecil, jujur saya nggak bisa jauh-jauh dari fiksi ternyata hiks sedih nggak tuh. akhirnya…karena lemah, saya baca thousand splendid suns): iya ini fiksi iya saya tau. tapi nilai agamanya ada, secara om khaleed pengarang novel ini keturunan afghanistan. dan beliau juga yang ngarang the kite runner itu lho. ada yang pernah baca?! saya suka bersyukur banget-banget punya orangtua yang all out dalam mendukung anaknya dalam hal literasi. temen-temen juga banyak yang suka baca wah senang sekali. itu novel sedih sekali entahlah jaman sd-smp saya tau apa tentang kesedihan tapi saya nangis baca novel itu. hiks. hiks. baca yaa, dijamin worth it.

oke, back to thousand splendid suns. novel ini mengangkat tema tentang wanita. ada yang pernah mikir, gimana kehidupan seorang wanita di negara perang? Mariam, gadis kecil yang dari lahir nggak diharapkan kehadirannya sama ibunya, harus merasakan kehidupan di Afghanistan selama 3 masa kepemimpinan. iya, Mariam ini adalah seorang haraami, sebutan untuk anak haram disana. ayah mariam adalah seorang yang kaya raya di Herat, sebuah kota yang terkenal akan karya sastranya. ibunya seorang pembantu, yang kemudian tau-tau hamil si Mariam. ya nggak tau-tau juga sih…ya cerita klise gitu lah pokoknya pembantu hamil anak majikan. tapi, ayah Mariam, Jalil, istrinya tiga. wow. dan punya anak haram (apalagi dari pembantu) bakal bikin namanya terjun bebas dimata masyarakat. akhirnya ibunya Mariam dibuatkan tempat sekitar 2km dari rumah Jalil, kolba. Jalil setiap hari kamis selalu mengunjungi Mariam, bercerita tentang hal-hal diluar sana yang nggak pernah dilihat langsung oleh Mariam, mengajak Mariam memancing di sungai kecil dekat kolba. Mariam sayang sama Jalil, karena Jalil nggak pernah manggil dia haraami. sebaliknya, Nana, ibu Mariam, sukanya mengumpat dan ngomong kasar. “when I’m gone, you have nothing, Mariam. yo are nothing.” Nana sayang sama Mariam, dia tau, tapi caranya itu Mariam nggak suka. Nana suka cerita tentang dirinya yang melahirkan Mariam sendirian(!) tanpa bantuan siapa-siapa karena nggak ada yang peduli (applause). tapi Jalil cerita bahwa Mariam lahir di rumah sakit dengan bantuan medis yang mumpuni, walaupun saat itu Jalil lagi nggak disana. ya tau sendirilah, secara akal sehat Mariam lebih percaya siapa. Mariam punya guru ngaji, namanya Mullah Faizullah, guru yang sama yang ngajar ibunya waktu masih kecil dulu. saya paling suka sama Mullah Faizullah ini, tokohnya adem banget dengan segala kalimatnya selalu berlandaskan Koran (saya baru ngeh disana Qur’an nulisnya gini). waktu umur 15 tahun, Mariam minta kado diajak nonton film di bioskop punya ayahnya. tapi, ayahnya nolak secara halus. Mariam kekeuh, akhirnya ayahnya menjanjikan buat nunggu ditempat mereka ngobrol besok siang. sampai waktu yang dijanjikan, ayahnya nggak kunjung datang. kesal, Mariam melintasi 2km buat ke rumah ayahnya. ternyata dia nggak diterima sama satpam disitu, dan sampai nginap semalam diluar pagar. skip skip. Mariam diantar pulang oleh si satpam, dan sampai di kolba………sebuah tubuh yang dikenalnya tergantung di pohon. Mariam inget pesan Nana, Nana nggak bisa hidup tanpa Mariam. dan benar saja, semalam perjalanan itu membawa pergi nyawa Nana selama-lamanya. Mariam sedih, nyesel,kalut segala macem dengan kepergian Nana. segala umpatan Nana tentang Jalil perlahan mulai masuk akal. skip skip. Nana dibawa ke rumah Jalil, dan beberapa hari kemudian dia dinikahkan (iya, usia 15 tahun) dengan rekan Jalil yang usianya sekitar 40-an. dibawalah Mariam ke Kabul, rumahnya Rasheed, suaminya. saya awal-awal kagum dengan Rasheed.

I have customers, Mariam, men, who bring their wives to my shop. The women come uncovered, they talk to me directly, look me in the eye without shame. They wear make-ups and skirts that show their knees. sometimes they even put their feet in front of me, the women do, for measurements, and their husbands stand there and watch. they allow it. they think nothing of a stranger touching their wives’ bare feet! they think they are being modern men, intellectuals, on account of their education, I suppose. they don’t see that they’re spoiling their own nang and namoos, their honor and pride.

cara Rasheed menghargai Mariam sebagai istrinya dengan menutup seluruh tubuhnya menggunakan burqa, caranya menghormati Mariam dengan menyuruhnya masuk ke kamar saat teman-temannya datang ke rumah. pride and honor, something we barely see these days. pride and honor, do men still think their wives are? tapi semua berubah ketika Mariam keguguran. sekali. dua kali. tiga kali sampai sembilan kali. takdir nggak mengijinkan Mariam punya keturunan. dan sikap Rasheed, ikut berubah seiring jalannya waktu. saya sudah kagum eh dibikin sebel hmmm. bukannya tambah baik, sikap Rasheed semakin hari semakin nggak menunjukkan rasa penghormatan dan penghargaan lagi. tapi Mariam gimana? sedih? ya jelaslah suaminya jahat): bukan berarti Mariam jadi durhaka teriak-teriak marah-marah, karena ia ingat pesan ibunya, the only thing a woman should be good at, is to endure. nahan perasaan. ya begitulah wanita(“: Mariam nahan tiap hari sampai Laila, anak tetangganya, kehilangan orangtua karena rumahnya kejatuhan bom, dirawat dirumahnya. mau pindahan eh tau-tau rumahnya meledak, nggak ngerti lagi susahnya hidup di negara perang kayak apa): kedua kakaknya juga meninggal, mereka jihad perang lawan soviet yang berusaha menaklukkan afghanistan. ini sebenernya ceritanya puanjang sebelum ini tapi baca sendiri ya:3 hehe. Rasheed berencana nikahin Laila, dan Mariam sedih. dia marah sama Laila dan menuduhnya nyuri suaminya. saya jadi mikir, itu hati nggak punya rumus ya sampai bisa elastis kayak gitu…Laila, masa lalunya suram. dia dan temannya sedari kecil, Tareeq, pernah punya kisah sebelum Tareeq sekeluarga pindah ke Pakistan. dan keputusannya menerima lamaran Rasheed, ialah untuk menutupi hasil dari perbuatannya dulu, dengan Tareeq.

segini ajadeh spoilingnya sisanya baca sendiri ya wkwk. di novel ini, saya menangkap suara hati om Khaleed yang mendukung wanita. di afghanistan waktu diduduki Taliban, wanita nggak bisa apa-apa. keluar tanpa mahram, cambuk! kontak mata sama pria, cambuk! kerja, cambuk! pokoknya ngapa-ngapain main cambuk aja. semua harus sesuai dengan syari’at Islam tanpa tendeng aling-aling. padahal, kenyataanya, melihat bagaimana Islam begitu memuliakan wanita, masuk akal nggak tuh? keluar tanpa mahram, kontak mata dan sebagainya, memang sudah diatur tapi dengan selembut-lembutnya, karena Allaah sayang sama wanita. kerja? sepengetahuan saya, Ibunda Aisyah RA ngajar kok, lihat bagaimana beliau banyak sekali menghafalkan sunnah-sunnah Rasul, yang nggak bakal bisa dilakukan kalau gerak dikit dihukum cambuk. kesadaran untuk tunduk patuh syari’at seharusnya berasal dari wanitanya sendiri, dengan menyadari betapa mulia ia dipandang dalam agamanya, betapa surga bahkan terbentang ditelapak kakinya. wow banget nggak? bahkan saya sendiri termasuk yang sering lupa betapa sebenarnya agama ini menjaga saya, eh sayanya aja yang bandel. huuw. dan disitulah tugas laki-laki, baik itu ayah, saudara, maupun suami untuk mengingatkan dan meluruskan ke jalan yang benar. nggak ngapa-ngapain main cambuk juga): bahkan di novel ini ada cerita rumah sakit nggak melayani wanita. dan satu-satunya rumah sakit yang melayani wanita fasilitasnya jauh dari layak. he yoopo nek bojomu pas babaran anake sungsang, rak dipikir): adil bukan berarti sama, saya setuju dengan hal tersebut. wanita, diapa-apakan, ya nggak bisa kalau disamakan sejajar pas sama laki-laki. tapi bukannya Allaah janji, yang melakukan kebaikan akan diberikan ganjaran baik wanita ataupun laki-laki? adil itu sinergis. yaudah sesuai kodratnya, sesuai tugasnya masing-masing aja dijalani, kan saling melengkapi. wanita butuh pendidikan, jelas. anak-anak butuh ibu yang cerdas (bisa ngomong tapi males belajar, halah ki). di negara-negara perang dimana hak-hak hidup wanita seakan-akan dirampas, pendidikan jangan sampai dienyam oleh wanita. kalau menurut saya nih (tsah), ya biar mereka nggak punya apa-apa untuk disampaikan ke anak cucunya. istilahnya, mematikan generasinya dengan kebodohan. wih sangar ya sok-sokan ngomongin perang:3 novel ini fiksi ya, saya nggak ngerti juga kehidupan aslinya gimana di negara-negara perang. bisa aja lebih buruk, naudzubillaah): oiya, let me know what do you think about the difference between Mariam and Laila. menarik, beda karakter, beda pola pikir, gara-gara beda latar belakang keluarganya. ambil positifnya dari novel ini, kalau nggak sesuai dengan ajaran yang ada jadikan sebagai pelajaran aja. seenggaknya dengan membaca novel ini bisa bersyukur tinggal di negara dimana wanita menguasai hampir seluruh lembaga pendidikan, bayangin di kampus saya angkatan 2015 cewek dan cowoknya 3:1, dan nggak dicambuk belajar di negara ini alhamdulillaah. disaat wanita-wanita lain di belahan dunia lain harus berdarah-darah bahkan untuk membaca satu buku, kita disini beli buku sampai lupa kalau punya buku tersebut (waa tobat ki tobat). disana mereka serba ketakutan menutup diri, disini bahkan senyum aja boleh diupload di pelosok manapun di dunia maya. hmmm. semoga wanita-wanita seperti Mariam, seperti Laila, dimanapun mereka berada, bisa mendapatkan hak yang selama ini dirampas oleh kejahatan perang yang mengatasnamakan diri sebagai pencari kedamaian. semoga wanita-wanita bahagia yang dari lahir sampai melahirkan cuma pernah lihat perang di media-media, bisa bersyukur banyak-banyak, memanfaatkan hak-hak yang secara cuma-cuma diberikan Allaah. ini ngomong ke diri sendiri berjuta-juta kali harusnya):

selamat mencari novelnya dan membaca!:3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s