Pantaskah

andai dapat saya tutup mata ini, agar tidak pernah lagi terlihat cacat orang lain yang membuat hati ingin mencaci. pantaskah, ketika yang menyadarkan dahulu adalah sebuah kelembutan, namun kini ingin sekali menghujani mereka yang belum paham, dengan hujatan? aduh, sombong sekali, lupa bagaimana dahulu posisi itu pernah saya alami. menjadi dungu, pura-pura tidak tahu, menolak kebenaran dengan alasan sudah tidak jaman alias cupu. kebaikanNya melalui perangai mulia saudari-saudari yang sedikit demi sedikit menyadarkan, rahmatNya melalui nasehat-nasehat halus sesama kawan yang tiap hari kian menguatkan. memang kini, sudah sebaik apa saya? nol besar. hmm, betapa sombongnya. sibuk menahan untuk menghakimi padahal diri sendiri jauh lebih membutuhkan muhasabah.

yang tersulit dari meniti jalan menuju kebenaran ialah menjauhi tinggi hati. menganggap diri lebih baik. lucu, lucu sekali. bagaikan anak ayam kehilangan induk. niatnya sudah hilang tak tentu arah. jalannya berputar balik semakin menjauhi tujuan utama. miris, miris sekali. yang diperjuangkan meluruh satu per satu menjadi hal yang tak bermakna lagi.

yang lebih baik darimu, yang jauh lebih taat darimu, yang jauh jauh lebih dicintai olehNya darimu, yang jauh jauh jauh lebih mulia disisiNya darimu, tidak terhitung nilainya. ada banyak. kamu bukan apa-apa. satu ujung kuku pun belum tentu jika kamu dibandingkan dengan mereka. tinggi hatimu, kesombonganmu, hanya membuatmu semakin terhina di mataNya.

tutuplah hati dari prasangka, dari rasa bangga, dari keinginan untuk terlihat oleh manusia, wahai Dzat Yang Maha Kuasa.

 

Advertisements

Little Abas

kemarin, tepatnya malam ke-17 Ramadhan, saya sholat tarawih bersama my sweetie pie unyil nuyin di masjid Al-Hikmah, masjid punya kampus tercinta. dari siang sampai buka kita ngampus, muker bem dan bpm membicarakan proker-proker untuk kepengurusan setahun ke depan. oiya saya belum cerita punya keluarga baru? selain TBM dan Ujar, saya ketambahan 2 mas, 1 saudara dan 1 saudari di KKDKS (keluarga kecil departemen kajian strategis) dan puluhan mas mbak teman lain di bem fk unej 2016/2017. itu saya ngarang aja namanya loh ya hehe. saya sih males banget satu departemen sama indi centil (hadeeh) wkwkwk masa ya saya di bully terus): kan lainnya ikut ngebully): tapi saya strong kok. saya tidak lemah:3 #lumayankandianumpangtenar #pastidiasenang eh lanjut, nah selesai tarawih, saya sama nuyin ke stand buku-buku depan masjid, kayaknya bazaar gitu. lihat-lihatlah kita (walaupun ngerasa cupu nggak ngerti itu buku apa semua hiks). eh tiba-tiba ada sesosok cowok mungil putih lucu menggemaskan di depan saya. ya namanya kelamaan bergaul sama anak centil (peace ndi) saya ikutan kecentilan nyapa adeknya sambil dadah-dadah dan ketawa ketiwi. mengejutkannya, dia tiba-tiba narik tangan saya terus muter-muter sambil tetep megangin tangan saya. uuuuuwww cutest moment I’ve ever had! saya tanya namanya siapa eh dianya malah ngakak mulu huft. baru akhirnya saya tanya lagi terus jawab “namanya abas. kesini sama abi sama ummi sama mbak….” (saya lupa nama mbaknya). trus dia tetep megangin tangan saya sambil jalan kesana kemari keliling stand bazaar “keretaa keretaa” | “mana keretanya?” | ” ini keretanyaa” sambil terus muter-muter. lucuuuuk banget gemes saya uyel-uyel dianya masih terus ngajak muter-muter haha. baru kemudian abinya dateng naik motor trus dia naik ke motor bilang “ayo ikut” haha  hmm tapi abi sama umminya diem aja saya sampai malu jadinya-_- saya dadah-dadah tapi abasnya diem aja ntar saya nggak noleh dia dadah-dadah dan kalau saya noleh dia sok-sokan diem nggak ngerti apa-apa. kelakuan bocah-_- terus saya pulang duluan meninggalkan abas bersama keluarganya (abas udah naik motor tapi umminya masih liat-liat buku, nggak pulang-pulang jadinya saya duluan deh hehe). hmm anak kecil lucu ya, gampang banget akrab, mau sok kenal nggak ada yang protes malah dianggat imut. ya tulisan ini kesannya meaningless saya juga nggak ngerti maknanya apa, tapi kadang, bersikap sepolos anak kecil itu perlu. kebanyakan mikir nanti bahagianya tertunda. duh saya senang banget, semoga ketemu lagi ya abas:3

Wow-man!

assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh

semoga kesejahteraan benar-benar melingkupi kita semua, aamiin. sudah lama pengen nulis tentang iniiiii. nggak lama sih, seminggu lalu gitu. hehe. jadi ya, saya dulu pernah berkeinginan kuat untuk stop bacaan fiksi. stop like, literally stop! waktunya bisa dibuat baca buku pelajaran (haha-in aja ini mah, berkhayal) bisa juga baca buku-buku inspiratif atau buku-buku keagamaan (maklum udah tua tapi ilmu masih dibawah mata kaki). awal-awal berjalan sih, dana buat novel dialihkan ke hal-hal lain. tapi kok…ada yang hilang dari diri ini(?) sebagai pecinta fiksi dari kecil, jujur saya nggak bisa jauh-jauh dari fiksi ternyata hiks sedih nggak tuh. akhirnya…karena lemah, saya baca thousand splendid suns): iya ini fiksi iya saya tau. tapi nilai agamanya ada, secara om khaleed pengarang novel ini keturunan afghanistan. dan beliau juga yang ngarang the kite runner itu lho. ada yang pernah baca?! saya suka bersyukur banget-banget punya orangtua yang all out dalam mendukung anaknya dalam hal literasi. temen-temen juga banyak yang suka baca wah senang sekali. itu novel sedih sekali entahlah jaman sd-smp saya tau apa tentang kesedihan tapi saya nangis baca novel itu. hiks. hiks. baca yaa, dijamin worth it.

oke, back to thousand splendid suns. novel ini mengangkat tema tentang wanita. ada yang pernah mikir, gimana kehidupan seorang wanita di negara perang? Mariam, gadis kecil yang dari lahir nggak diharapkan kehadirannya sama ibunya, harus merasakan kehidupan di Afghanistan selama 3 masa kepemimpinan. iya, Mariam ini adalah seorang haraami, sebutan untuk anak haram disana. ayah mariam adalah seorang yang kaya raya di Herat, sebuah kota yang terkenal akan karya sastranya. ibunya seorang pembantu, yang kemudian tau-tau hamil si Mariam. ya nggak tau-tau juga sih…ya cerita klise gitu lah pokoknya pembantu hamil anak majikan. tapi, ayah Mariam, Jalil, istrinya tiga. wow. dan punya anak haram (apalagi dari pembantu) bakal bikin namanya terjun bebas dimata masyarakat. akhirnya ibunya Mariam dibuatkan tempat sekitar 2km dari rumah Jalil, kolba. Jalil setiap hari kamis selalu mengunjungi Mariam, bercerita tentang hal-hal diluar sana yang nggak pernah dilihat langsung oleh Mariam, mengajak Mariam memancing di sungai kecil dekat kolba. Mariam sayang sama Jalil, karena Jalil nggak pernah manggil dia haraami. sebaliknya, Nana, ibu Mariam, sukanya mengumpat dan ngomong kasar. “when I’m gone, you have nothing, Mariam. yo are nothing.” Nana sayang sama Mariam, dia tau, tapi caranya itu Mariam nggak suka. Nana suka cerita tentang dirinya yang melahirkan Mariam sendirian(!) tanpa bantuan siapa-siapa karena nggak ada yang peduli (applause). tapi Jalil cerita bahwa Mariam lahir di rumah sakit dengan bantuan medis yang mumpuni, walaupun saat itu Jalil lagi nggak disana. ya tau sendirilah, secara akal sehat Mariam lebih percaya siapa. Mariam punya guru ngaji, namanya Mullah Faizullah, guru yang sama yang ngajar ibunya waktu masih kecil dulu. saya paling suka sama Mullah Faizullah ini, tokohnya adem banget dengan segala kalimatnya selalu berlandaskan Koran (saya baru ngeh disana Qur’an nulisnya gini). waktu umur 15 tahun, Mariam minta kado diajak nonton film di bioskop punya ayahnya. tapi, ayahnya nolak secara halus. Mariam kekeuh, akhirnya ayahnya menjanjikan buat nunggu ditempat mereka ngobrol besok siang. sampai waktu yang dijanjikan, ayahnya nggak kunjung datang. kesal, Mariam melintasi 2km buat ke rumah ayahnya. ternyata dia nggak diterima sama satpam disitu, dan sampai nginap semalam diluar pagar. skip skip. Mariam diantar pulang oleh si satpam, dan sampai di kolba………sebuah tubuh yang dikenalnya tergantung di pohon. Mariam inget pesan Nana, Nana nggak bisa hidup tanpa Mariam. dan benar saja, semalam perjalanan itu membawa pergi nyawa Nana selama-lamanya. Mariam sedih, nyesel,kalut segala macem dengan kepergian Nana. segala umpatan Nana tentang Jalil perlahan mulai masuk akal. skip skip. Nana dibawa ke rumah Jalil, dan beberapa hari kemudian dia dinikahkan (iya, usia 15 tahun) dengan rekan Jalil yang usianya sekitar 40-an. dibawalah Mariam ke Kabul, rumahnya Rasheed, suaminya. saya awal-awal kagum dengan Rasheed.

I have customers, Mariam, men, who bring their wives to my shop. The women come uncovered, they talk to me directly, look me in the eye without shame. They wear make-ups and skirts that show their knees. sometimes they even put their feet in front of me, the women do, for measurements, and their husbands stand there and watch. they allow it. they think nothing of a stranger touching their wives’ bare feet! they think they are being modern men, intellectuals, on account of their education, I suppose. they don’t see that they’re spoiling their own nang and namoos, their honor and pride.

cara Rasheed menghargai Mariam sebagai istrinya dengan menutup seluruh tubuhnya menggunakan burqa, caranya menghormati Mariam dengan menyuruhnya masuk ke kamar saat teman-temannya datang ke rumah. pride and honor, something we barely see these days. pride and honor, do men still think their wives are? tapi semua berubah ketika Mariam keguguran. sekali. dua kali. tiga kali sampai sembilan kali. takdir nggak mengijinkan Mariam punya keturunan. dan sikap Rasheed, ikut berubah seiring jalannya waktu. saya sudah kagum eh dibikin sebel hmmm. bukannya tambah baik, sikap Rasheed semakin hari semakin nggak menunjukkan rasa penghormatan dan penghargaan lagi. tapi Mariam gimana? sedih? ya jelaslah suaminya jahat): bukan berarti Mariam jadi durhaka teriak-teriak marah-marah, karena ia ingat pesan ibunya, the only thing a woman should be good at, is to endure. nahan perasaan. ya begitulah wanita(“: Mariam nahan tiap hari sampai Laila, anak tetangganya, kehilangan orangtua karena rumahnya kejatuhan bom, dirawat dirumahnya. mau pindahan eh tau-tau rumahnya meledak, nggak ngerti lagi susahnya hidup di negara perang kayak apa): kedua kakaknya juga meninggal, mereka jihad perang lawan soviet yang berusaha menaklukkan afghanistan. ini sebenernya ceritanya puanjang sebelum ini tapi baca sendiri ya:3 hehe. Rasheed berencana nikahin Laila, dan Mariam sedih. dia marah sama Laila dan menuduhnya nyuri suaminya. saya jadi mikir, itu hati nggak punya rumus ya sampai bisa elastis kayak gitu…Laila, masa lalunya suram. dia dan temannya sedari kecil, Tareeq, pernah punya kisah sebelum Tareeq sekeluarga pindah ke Pakistan. dan keputusannya menerima lamaran Rasheed, ialah untuk menutupi hasil dari perbuatannya dulu, dengan Tareeq.

segini ajadeh spoilingnya sisanya baca sendiri ya wkwk. di novel ini, saya menangkap suara hati om Khaleed yang mendukung wanita. di afghanistan waktu diduduki Taliban, wanita nggak bisa apa-apa. keluar tanpa mahram, cambuk! kontak mata sama pria, cambuk! kerja, cambuk! pokoknya ngapa-ngapain main cambuk aja. semua harus sesuai dengan syari’at Islam tanpa tendeng aling-aling. padahal, kenyataanya, melihat bagaimana Islam begitu memuliakan wanita, masuk akal nggak tuh? keluar tanpa mahram, kontak mata dan sebagainya, memang sudah diatur tapi dengan selembut-lembutnya, karena Allaah sayang sama wanita. kerja? sepengetahuan saya, Ibunda Aisyah RA ngajar kok, lihat bagaimana beliau banyak sekali menghafalkan sunnah-sunnah Rasul, yang nggak bakal bisa dilakukan kalau gerak dikit dihukum cambuk. kesadaran untuk tunduk patuh syari’at seharusnya berasal dari wanitanya sendiri, dengan menyadari betapa mulia ia dipandang dalam agamanya, betapa surga bahkan terbentang ditelapak kakinya. wow banget nggak? bahkan saya sendiri termasuk yang sering lupa betapa sebenarnya agama ini menjaga saya, eh sayanya aja yang bandel. huuw. dan disitulah tugas laki-laki, baik itu ayah, saudara, maupun suami untuk mengingatkan dan meluruskan ke jalan yang benar. nggak ngapa-ngapain main cambuk juga): bahkan di novel ini ada cerita rumah sakit nggak melayani wanita. dan satu-satunya rumah sakit yang melayani wanita fasilitasnya jauh dari layak. he yoopo nek bojomu pas babaran anake sungsang, rak dipikir): adil bukan berarti sama, saya setuju dengan hal tersebut. wanita, diapa-apakan, ya nggak bisa kalau disamakan sejajar pas sama laki-laki. tapi bukannya Allaah janji, yang melakukan kebaikan akan diberikan ganjaran baik wanita ataupun laki-laki? adil itu sinergis. yaudah sesuai kodratnya, sesuai tugasnya masing-masing aja dijalani, kan saling melengkapi. wanita butuh pendidikan, jelas. anak-anak butuh ibu yang cerdas (bisa ngomong tapi males belajar, halah ki). di negara-negara perang dimana hak-hak hidup wanita seakan-akan dirampas, pendidikan jangan sampai dienyam oleh wanita. kalau menurut saya nih (tsah), ya biar mereka nggak punya apa-apa untuk disampaikan ke anak cucunya. istilahnya, mematikan generasinya dengan kebodohan. wih sangar ya sok-sokan ngomongin perang:3 novel ini fiksi ya, saya nggak ngerti juga kehidupan aslinya gimana di negara-negara perang. bisa aja lebih buruk, naudzubillaah): oiya, let me know what do you think about the difference between Mariam and Laila. menarik, beda karakter, beda pola pikir, gara-gara beda latar belakang keluarganya. ambil positifnya dari novel ini, kalau nggak sesuai dengan ajaran yang ada jadikan sebagai pelajaran aja. seenggaknya dengan membaca novel ini bisa bersyukur tinggal di negara dimana wanita menguasai hampir seluruh lembaga pendidikan, bayangin di kampus saya angkatan 2015 cewek dan cowoknya 3:1, dan nggak dicambuk belajar di negara ini alhamdulillaah. disaat wanita-wanita lain di belahan dunia lain harus berdarah-darah bahkan untuk membaca satu buku, kita disini beli buku sampai lupa kalau punya buku tersebut (waa tobat ki tobat). disana mereka serba ketakutan menutup diri, disini bahkan senyum aja boleh diupload di pelosok manapun di dunia maya. hmmm. semoga wanita-wanita seperti Mariam, seperti Laila, dimanapun mereka berada, bisa mendapatkan hak yang selama ini dirampas oleh kejahatan perang yang mengatasnamakan diri sebagai pencari kedamaian. semoga wanita-wanita bahagia yang dari lahir sampai melahirkan cuma pernah lihat perang di media-media, bisa bersyukur banyak-banyak, memanfaatkan hak-hak yang secara cuma-cuma diberikan Allaah. ini ngomong ke diri sendiri berjuta-juta kali harusnya):

selamat mencari novelnya dan membaca!:3

You vs Environment

assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

hari ke sepuluh ramadhan, targetnya masih berjalan? *ngomong sama kaca* banyak-banyak berdoa semoga bulan suci ini jadi bulan pembuka bagi perubahan di masa yang akan datang. kalau bahasa kerennya sih, jadikan bulan ramadhan sebagai awalan hijrahmu. asik:3

yang ramadhan di tanah rantau, apalagi yang pertama kali ramadhan jauh dari rumah, gimana rasanya? saya sih alhamdulillaah kangennya masih bisa ditolerir (yha sapa juga yang tanya). kobisa kobisa? ini dikarenakan….lingkungan. dulu saya acap kali mengeluhkan kurangnya kemampuan diri ini untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. biasa lah bocah ingusan dikit-dikit ngeluh nggak punya temen dikit-dikit bilang kesepian dikit-dikit pengen pulang. eh yang terakhir itu dalam semua kondisi kayaknya tetep ngerasain deh._. tapi semakin kesini saya merasa semakin berbezee (read: berbeda), karena lingkungan tempat saya berada ternyata membuat saya nyaman. atau, pikiran saya yang mulai positif sehingga semua terlihat lebih baik? nah, salah satu anugerah yang patut disyukuri ialah dikelilingi komponen-komponen dunia yang menjadi alarm ketika lengah. contohnya, teman-teman yang selalu mengingatkan untuk beribadah, teman-teman yang mengajak mendengarkan hal-hal baik, teman-teman yang berusaha mengurangi kebiasaan nongkrong-eh-ga-kerasa-jadi-gosip. teman-teman seperti ini yang membuat kita terpacu untuk menyaingi. dosa? nggak dong. kan bersaing dalam kebaikan. wow si A sholat dhuha rutin banget, akhirnya berusaha merutinkan juga, plus rokaatnya ditambah. si B suka banget dah bagi-bagi rejeki, akhirnya mulai menabung untuk sedekah daripada hura-hura. akhirnya, selevel deh sama mereka. temen dapet, hati jadi adem. itu sekedar pemisalan aja, gimana lingkungan sebenarnya ikut berperan aktif dalam perubahan pribadi seseorang. air hujan yang netes di comberan baunya bakal ngikut anyir, sementara air hujan yang mengalir ke kolam presiden bakal jernih karena ikut dibersihkan tiap hari. begitu pula kita, lingkungan tempat kita beraktivitas sehari-hari akan mempengaruhi pola pikir dan cara pandang hidup. karena, dalam hati kecil selalu ada saja rasa egois, rasa yang membenarkan apapun yang kita lakukan, meskipun sebenarnya tau juga kalau itu salah. gapapa dong kayak gini toh mereka juga ngelakuin hal yang sama kan. nah ini termasuk salah satu kerugian dari lingkungan yang tidak kondusif. tapi tapi, jangan keburu judging dan ngecap sebuah lingkungan buruk maka semua isinya juga buruk tanpa terkecuali. disitulah prinsip pribadi dipertaruhkan. air hujan yang mengandung suatu zat pemurni ajaib nggak bakal ikut anyir waktu masuk comberan. sebaliknya, air comberan lah yang lama-kelamaan menjadi bening dan wangi. abaikan aja analogi nggak jelas barusan, tapi intinya ketika kita kokoh dengan prinsip-prinsip hidup yang baik, maka lingkungan tidak kondusif pun tidak akan jadi masalah, justru kitalah yang sebenarnya punya power untuk merubah lingkungan tersebut menjadi lebih bermanfaat. malah lebih keren toh bisa ngerubah segala? makanya, buat yang lingkungannya saat ini sudah membuat nyaman kayak saya, patut bersyukur, alhamdulillaah dimudahkan untuk beradaptasi dengan yang insyaAllaah baik. buat yang lingkungannya saat ini beraaat banget, nyari celah kebaikan rasanya kayak nyari jarum dalam tumpukkan jerami, siap-siap kuatkan hati dan pasang benteng terkokoh, lalu bersyukur lebiiiih banyak lagi, karena berarti…selamat! kalian sudah mengemban tugas yang teramat sangat mulia, yaitu menjadi lentera dalam gelapnya malam:3 alhamdulillaah alhamdulillaah alhamdulillaah:3 kalau nggak ada yang ngingetin beribadah, it means kalianlah yang harus getol jongkrokin temen-temen yang lagi males. kalau lagi pada gosipin orang sampe berbusa-busa, kalianlah yang harus nyediakan kue coklat supaya mereka jadi ngunyah dan nggak fokus gosip. singkatnya, kalianlah pioneer kebaikan yang harus mengajak mereka-mereka yang lagi merem untuk membuka mata dan menuju jalan kebenaran. selamat meniru yang baik ataupun mencontohkan yang baik, ya!(:

 

Teddy says Hello!

2016-05-31 06.31.38 1.jpg

assalamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

yang ngerti saya pasti ngerti juga kalau boneka ini bukan punya saya. hehe. ya bisa dibilang, saya bukan penggemar boneka. dulu banget waktu masih kecil saya pernah lihat FTV horor di TPI yang biasanya siang-siang itu loh, dan ceritanya si boneka bisa jalan-jalan bahkan main ayunan. mengerikan. alhasil setelah itu setiap mau tidur saya tendang boneka-boneka di kasur (yang nggak seberapa jumlahnya) sampai jatuh biar dia nggak hidup waktu saya merem. konyol sih..tapi ternyata sampai besar dan tahu bahwa boneka nggak akan pernah hidup pun, I’m still not a big fan of dolls. saya selalu nyeletuk ketika bercanda, “jangan ngado boneka, ngado makanan aja biar kenyang.” karena dulu saya mikirnya, ya lucu sih, tapi buat apa gitu. saya kalau beli sesuatu yang bisa dipakai aja, atau minimal bisa dibaca, atau bisa dimakan deh. yang ada manfaatnya pokoknya dan nggak cuma jadi pajangan (songong yah-,-) daaan beberapa hari (menegangkan) kemarin menyadarkan saya bahwa jangan pernah menganggap remeh segala sesuatu, menilainya tidak berguna atau tidak bermanfaat. karena kelak bisa jadi hal tersebut adalah hal yang paling kita butuhkan.

ceritanya saya habis ujian OSCE tadi siang. buat yang pengen masuk kedokteran, atau dedek-dedek yang baru aja masuk dan pengen tahu ih kuliahnya kayak apa sih, nih saya kasih sedikit info, OSCE (cari sendiri kepanjangannya yah) adalah ujian dimana kita diberi waktu singkat (tadi 6 menit) untuk memperagakan skill atau kemampuan kita di bidang ilmu yang saat ini sedang dipelajari. berhubung semester 2 materi skills lab nya adalah pemeriksaan fisik dan bantuan hidup dasar, ujian OSCEnya ya melakukan pemeriksaan head-to-toe pada bayi baru lahir, anak-anak, dewasa. juga memberikan bantuan saat ada yang tidak sadarkan diri, dan ada lagi pemeriksaan usap tenggorok sama yang paling bikin saya ngempet nangis waktu ujian tadi, pemeriksaan fisik urin. menurut saya kesiapan mental adalah hal yang super duper dibutuhkan waktu ujian OSCE. agar tidak bernasib sama dengan stase pemeriksaan fisik urin saya tadi *berkaca-kaca*. lah apa hubungannya dengan teddy bear diatas? gini, ujian OSCE itu sebelas duabelas main drama. selain berlatih dengan teman, kita butuh partner lain untuk belajar di kamar kos. jeng jeng, bonekalah partner terbaik! boneka tidak bergender, tidak punya rasa sakit, sehingga kalau palpasi perutnya terlalu keras saya nggak bakal merasa bersalah banget. eits tapi tetep harus berlatih sebaik mungkin agar nanti nggak membahayakan probandus. untuk sekedar info probandus adalah pasien pura-pura saat ujian. probandus bisa dibilang juga guru kita, yang pasrah aja diapa-apain sama maba-maba kurang pengalaman gini, nggak protes ketika kita salah (dan pasti menyakitkan), yang juga kadang ngode-ngode kalau ada tahap yang terlewati. makasih probandus(“: karena butuh boneka dan di kamar kos saya suci dari boneka (kamar rumah juga heu), saya kelimpungan dong mau pakai apa. mau pakai guling, kan nggak ada anggota tubuhnya. disitulah saya menyadari, hal yang saya pertanyakan fungsinya, hal yang saya dulu selalu bilang “nggak bermanfaat”, ternyata adalah yang saya sangat butuhkan dan cari-cari. omongan saya dulu berputar 180 derajat. akhirnya harus pinjem. untung adek sepupu punya, dan ukurannya pas jadi bayi sama anak-anak waaa alhamdulillaah((: jadi kesimpulannya, anggaplah semua hal bermakna, meskipun kita belum bisa melihat apa manfaatnya; apapun atau siapapun. hayati benar-benar setiap ucapan, karena namanya hati gampang banget terbolak-balik kan, biar nggak malu sama diri sendiri maupun orang lain kalau ternyata suatu hari kita merasa berkebalikan dengan yang dulu pernah diucapkan (berat, yang ini berat banget-bangetan).