mahasiswa, masih hidup?

 

lihatlah jiwa-jiwa muda mereka. bukankah mereka kayu? kokoh, mudah sekali terbakar ketika mendengar jeitan ketidakadilan.

masih segar dalam ingatan, tentang penolakan World Tobacco Day oleh ISMKI dan ISMKMI yang berujung pada tanda tanya besar untuk aparat penegak keadilan. anarkisme. kedua belah pihak saling menuding, mana diantara mereka yang memulai duluan. namun kebenaran sejatinya ialah fatamorgana, lagipula siapa yang tahu, darimana titik sebuah lingkaran harus dimulai? aksi-aksi tidak berhenti sampai disitu, mahasiswa tidak punya lelah dalam kamusnya, surat penolakan, dan surat-surat lainnya mulai dikeluarkan, tanda masih ada aksi selanjutnya untuk menyatakan perlawanan. penguasa mungkin punya telinga, hanya saja mereka juga punya headset untuk membekap suara yang ada. terlalu bising, mungkin pikirnya.

baru saja meriah ajakan turun ke jalan, mahasiswa dari timur hingga barat pulau Jawa, memborbardir media mengobarkan slogan kebanggaan “hidup mahasiswa!”. 2 Mei, hari sakral bagi mereka. namun yang masih mengganjal, adakah pada hari itu semua sudah berjalan sebagaimana mestinya? otak mereka berputar, mempertanyakan kejanggalan-kejanggalan yang masih bertebaran. penguasa mungkin punya mulut, namun yang keluar tidak dapat dibedakan jenisnya; racunkah, madukah?

brawijaya menggugat, gajah mada bersumpah palapa, diponegoro menghunuskan pedangnya. debar jantung mereka berirama satu; mahasiswa, apakah kenyataan yang ada tidak membuat hati kalian terluka? tidakkah terbersit keinginan untuk maju, menyorakkan angan-angan yang tersekat dikerongkongan?

wahai kalian yang rindu kemenangan, wahai kalian yang turun ke jalan, demi mempersembahkan jiwa dan raga, untuk negeri tercinta.

totalitas perjuangan.

panggilan itu, suara pejuang cita-cita diluar sana, memberi impuls reseptor saraf saya untuk membuka mata. tapi saya siapa? adakah suara saya akan berarti, ketika saya mencoba untuk berteriak? adakah ide saya membuat perubahan, ketika saya mencoba mengusulkan satu atau dua pikiran? mahasiswa, maafkan, saya adalah pemegang KTM namun bernyali ciut. saya bungkam, ketika kalian maju memperjuangkan hak. mahasiswa, maafkan, saya merasa kewajiban saya belum sepenuhnya saya lakukan. saya malu, untuk meminta semuanya terpenuhi ketika bagian yang harus dikerjakan saja masih bikin kelabakan. kalian yang kepanasan, otot kalian yang kram, tapi ketika berhasil meluluhkan tingginya hati penguasa, saya juga akan mendapat percikan angin segar. mahasiswa, maafkan, saya hanya dapat bersembunyi bukannya menghadapi.

10 tahun lagi. ingin saya bertanya, mahasiswa, masih hidupkah dalam diri kalian, semangat yang saat ini membara? masih hidupkah keinginan untuk terus memperjuangkan keadilan? masih hidupkah harapan untuk terus bersatu memperbaiki peradaban? mahasiswa, saya yang hanya dapat diam dan sedikit kontribusi ini hanya berpesan, terus hidupkan. walaupun nanti kalian akan menikah, sibuk mengurus keluarga, mengumpulkan uang demi kelangsungan hidup, mengejar karir, ingatlah kalian pernah berada dalam fase ini. fase dimana isi otak kalian hanyalah pertanyaan “kapan kebobrokan ini musnah?”. majulah dan jadikan kenyataan. bangunlah peradaban. jangan pura-pura lupa lalu berbalik arah, menyatakan ini semua hanya kebodohan masa muda, kenaifan para remaja, atau mimpi yang ketinggian. nanti ketika saya bertanya, mahasiswa, masih hidupkah jiwa-jiwa kalian? saya hanya berpesan, terus hidupkan. jangan berhenti ditengah jalan, jangan biarkan suara-suara kalian saat ini hanya menjadi gema yang akan digerus perjalanan jaman.

sementara dalam diam, bungkam, dan ciutnya nyali ini ijinkan saya mencari cara lain untuk mendukung kalian. ijinkan saya berdoa, semoga perjuangan kalian tidak pernah jadi sia-sia. ijinkan saya mengumpulkan kerikil sementara kalian mengangkat betonnya.

***

“berkontribusilah dengan menyusuri jalan, mencari mereka yang kesakitan, lalu sembuhkan.” -papa.

yang masih saya pegang, dan akan terus saya pegang. tidak banyak, tidak akan menggulingkan sebuah kekuasaan atau merombak sistem perundang-undangan, bahkan mungkin hal paling basis dan hal paling kecil yang harus dilakukan. namun untuk teman-teman disana yang alergi panas atau debu, yang turun ke jalan dapat memperparah asmanya, atau menganggap turun ke jalan hanya buang-buang tenaga, selalu ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk ikut andil dalam sebuah perubahan. sekecil apapun itu. turun ke jalan ataupun tidak, hanya kesungguhan yang membuktikan mana yang berhasil nantinya.

lekas bangkit, pendidikan Indonesia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s