sebuah akhir

karena kita terus merindu untuk berkumpul tak hanya di dunia, tapi juga di surgaNya.

-halaman satu, sebuah pesan darimu.

tiada yang lebih indah daripada pertemuan antara jiwa-jiwa yang saling mencintai karenaNya. dalam duduk mengingat namaNya, dalam senyum menyebut asmaNya, dalam lemparan pandangan mata tersirat untaian kalamNya. mereka; yang berbagi ilmu tanpa niat menyakiti, yang dalam kebajikan selalu menginspirasi, yang memotivasi untuk selalu memperbaiki diri. mereka; jiwa-jiwa yang ditakdirkanNya untuk lewat dan memberi peringatan, dengan santun mengingatkan, dengan cinta berbagi kehangatan. tiada lagi yang dapat diucap, selain harap agar saling memberi syafaat di akhirat. semoga dalam setiap pertemuan yang telah lalu, malaikat turut hadir dan menyampaikan berkahNya pada kelompok kecil ini. terimakasih, untuk waktu-waktu singkat yang selalu berhasil mencairkan futur. terimakasih, kawan-kawan. terimakasih, ya murabbi. terimakasih, keluarga surgawi.

 

***

pertemuan terakhir, ditemani hujan.

5/27/2016 11.11 p.m

 

a memoir.

2016-05-22 04.42.45 1.jpg

sebuah perjalanan; memaknai kesendirian dengan menyelami pikiran. tubuh ini ingin menyatu bersama kereta. bawa saja, menelusuri tiap kota yang di dalamnya terdapat pelajaran. seperti Yogyakarta yang meneladankan keanggunan, kelemah lembutan, keikhlasan. ada luka disana, tersirat, namun sudut jalannya seakan berbisik tak apa, biarlah duka menghantui sudut pikirmu saja. seperti Yogyakarta yang membimbing untuk menghargai proses berbesar hati. menelurkan perasaan bahwasanya yang berbudi itu memaafkan.

menangkup risalah; sebuah perjalanan. sepanjang juluran rel, satukan tubuh ini dengan kereta. banyak kota belum tergapai, pun ilmu yang belum dirangkai.

dan untukmu, Yogyakarta,

ijinkan sekali lagi, mencintaimu dan kembali.*

Aku melihat air menjadi kotor karena diam tertahan. Jika mengalir, ia kan jernih.

***

5/27/2016 07.55 a.m

ALTMFK

assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

dear Ailah,

you know greeting with salam is so heartwarming because imagining someone to be in His embrace makes you smile. how powerful its meaning is. how can I just realise. and you should know. and shower me with it and shower it to the world. how could I fell in love with it? How can I just understand. greet me everytime you see me and greet every people you want to be with in His paradise.

dear Ailah,

read books. no, read good books. read good books that make you know who you are. you are tinier than the dust over the window. you are nothing. I tell you this, you are nothing so read more good books. and see the difference. feel the urge to change.

dear Ailah,

know that hearts are softer than your blanket. know your tongue is sharper than your father’s knife. know that when your tongue scratch someone’s heart, it’s not them who will be hurt. it is you who will hurt the most. no lie.

dear Ailah,

if it’s so hard for you to understand the point of this writings, note my words that nothing makes sense at 3 a.m. but you can always think about everything, and even when it doesn’t makes sense, listen to your own self talking. it’s the truth.

dear Ailah,

I’ll tell you more about good books, and how it makes me love salam so much I’m starting to falling for it each day, and how it saddens me at the same time and feeling sorry for myself.

later, Ailah. it’s enough for this time.

wassalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

Menatap Bintang

bintang mengingat mimpi orang-orang yang memimpikannya.

rebah diatas tanah, memandang lurus ke atas; tersesat diantara jutaan bintang yang berserakan, satu jatuh melesat dari gelap malam.

seketika semua hinaan itu hilang, risiknya teredam perasaan yang susah diungkapkan.

bahagia, mimpi polos ini akhirnya menjadi nyata.

mimpi untuk menatapnya lekat-lekat, membandingkan ukuran hingga warnanya.

menatap bintang dari ketinggian, seperti jarak bumi dan dirinya hanyalah sebatas kacamata.

menutup mata, membuka mata, mereka masih ada!

kerlipnya seiring dengan debar jantung dan sengal tawa.

luar biasa, mimpi ini benar-benar menjadi nyata.

kalau saja tubuh tidak punya batas waktu, melihatnya hilang satu per satu tidak akan menyisakan sesal apa-apa.

tapi tubuh menyayangi dirinya sendiri,

ketika akhirnya lelap menyapa dan gelap menghapus mereka dengan matahari perlahan,

sesuatu menyadarkan,

ternyata semalaman tidur dibawah buaian bintang.

seulas senyum mengembang,

lama, lebih lebar dari biasanya.

 

***

Maha Suci Allaah, begitu detail lagi indah ciptaanNya.

jatuh cinta lagi, dan berkali-kali.

 

 

 

 

mahasiswa, masih hidup?

 

lihatlah jiwa-jiwa muda mereka. bukankah mereka kayu? kokoh, mudah sekali terbakar ketika mendengar jeitan ketidakadilan.

masih segar dalam ingatan, tentang penolakan World Tobacco Day oleh ISMKI dan ISMKMI yang berujung pada tanda tanya besar untuk aparat penegak keadilan. anarkisme. kedua belah pihak saling menuding, mana diantara mereka yang memulai duluan. namun kebenaran sejatinya ialah fatamorgana, lagipula siapa yang tahu, darimana titik sebuah lingkaran harus dimulai? aksi-aksi tidak berhenti sampai disitu, mahasiswa tidak punya lelah dalam kamusnya, surat penolakan, dan surat-surat lainnya mulai dikeluarkan, tanda masih ada aksi selanjutnya untuk menyatakan perlawanan. penguasa mungkin punya telinga, hanya saja mereka juga punya headset untuk membekap suara yang ada. terlalu bising, mungkin pikirnya.

baru saja meriah ajakan turun ke jalan, mahasiswa dari timur hingga barat pulau Jawa, memborbardir media mengobarkan slogan kebanggaan “hidup mahasiswa!”. 2 Mei, hari sakral bagi mereka. namun yang masih mengganjal, adakah pada hari itu semua sudah berjalan sebagaimana mestinya? otak mereka berputar, mempertanyakan kejanggalan-kejanggalan yang masih bertebaran. penguasa mungkin punya mulut, namun yang keluar tidak dapat dibedakan jenisnya; racunkah, madukah?

brawijaya menggugat, gajah mada bersumpah palapa, diponegoro menghunuskan pedangnya. debar jantung mereka berirama satu; mahasiswa, apakah kenyataan yang ada tidak membuat hati kalian terluka? tidakkah terbersit keinginan untuk maju, menyorakkan angan-angan yang tersekat dikerongkongan?

wahai kalian yang rindu kemenangan, wahai kalian yang turun ke jalan, demi mempersembahkan jiwa dan raga, untuk negeri tercinta.

totalitas perjuangan.

panggilan itu, suara pejuang cita-cita diluar sana, memberi impuls reseptor saraf saya untuk membuka mata. tapi saya siapa? adakah suara saya akan berarti, ketika saya mencoba untuk berteriak? adakah ide saya membuat perubahan, ketika saya mencoba mengusulkan satu atau dua pikiran? mahasiswa, maafkan, saya adalah pemegang KTM namun bernyali ciut. saya bungkam, ketika kalian maju memperjuangkan hak. mahasiswa, maafkan, saya merasa kewajiban saya belum sepenuhnya saya lakukan. saya malu, untuk meminta semuanya terpenuhi ketika bagian yang harus dikerjakan saja masih bikin kelabakan. kalian yang kepanasan, otot kalian yang kram, tapi ketika berhasil meluluhkan tingginya hati penguasa, saya juga akan mendapat percikan angin segar. mahasiswa, maafkan, saya hanya dapat bersembunyi bukannya menghadapi.

10 tahun lagi. ingin saya bertanya, mahasiswa, masih hidupkah dalam diri kalian, semangat yang saat ini membara? masih hidupkah keinginan untuk terus memperjuangkan keadilan? masih hidupkah harapan untuk terus bersatu memperbaiki peradaban? mahasiswa, saya yang hanya dapat diam dan sedikit kontribusi ini hanya berpesan, terus hidupkan. walaupun nanti kalian akan menikah, sibuk mengurus keluarga, mengumpulkan uang demi kelangsungan hidup, mengejar karir, ingatlah kalian pernah berada dalam fase ini. fase dimana isi otak kalian hanyalah pertanyaan “kapan kebobrokan ini musnah?”. majulah dan jadikan kenyataan. bangunlah peradaban. jangan pura-pura lupa lalu berbalik arah, menyatakan ini semua hanya kebodohan masa muda, kenaifan para remaja, atau mimpi yang ketinggian. nanti ketika saya bertanya, mahasiswa, masih hidupkah jiwa-jiwa kalian? saya hanya berpesan, terus hidupkan. jangan berhenti ditengah jalan, jangan biarkan suara-suara kalian saat ini hanya menjadi gema yang akan digerus perjalanan jaman.

sementara dalam diam, bungkam, dan ciutnya nyali ini ijinkan saya mencari cara lain untuk mendukung kalian. ijinkan saya berdoa, semoga perjuangan kalian tidak pernah jadi sia-sia. ijinkan saya mengumpulkan kerikil sementara kalian mengangkat betonnya.

***

“berkontribusilah dengan menyusuri jalan, mencari mereka yang kesakitan, lalu sembuhkan.” -papa.

yang masih saya pegang, dan akan terus saya pegang. tidak banyak, tidak akan menggulingkan sebuah kekuasaan atau merombak sistem perundang-undangan, bahkan mungkin hal paling basis dan hal paling kecil yang harus dilakukan. namun untuk teman-teman disana yang alergi panas atau debu, yang turun ke jalan dapat memperparah asmanya, atau menganggap turun ke jalan hanya buang-buang tenaga, selalu ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk ikut andil dalam sebuah perubahan. sekecil apapun itu. turun ke jalan ataupun tidak, hanya kesungguhan yang membuktikan mana yang berhasil nantinya.

lekas bangkit, pendidikan Indonesia!