kami tidak tahu ini anugerah atau musibah, kami hanya berprasangka baik pada Allaah.

dering hp berbunyi, sebuah pesan whatsapp masuk dan langsung saya baca. beberapa bulan yang lalu memang, tapi saya masih ingat betul ceritanya. tentang kisah seorang ayah dan anak yang memiliki keinginan kuat untuk berjihad di jalan Allaah. mereka tidak pernah bahagia berlebih, atau sedih berlebih, atau berharap berlebih, atau kecewa berlebih. kuncinya satu: khusnudzon pada Allaah.

setiap hal yang terjadi telah ditentukanNya. jangan pernah berhenti berusaha.

 

Advertisements

lagi (lagi-lagi) ngomongin cinta

Ada rahasia terdalam di hati Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, putri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis.
Muhammad ibn ‘Abdullah Sang Terpercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan! Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.
Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal- awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu. ”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ‘Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.
Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ‘Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.
Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; ‘Utsman, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..
Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ‘Ali. Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ‘Abdullah ibn Mas’ud..
Dan siapa budak yang dibebaskan ‘Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ‘Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. “Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ‘Ali. “Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut. ‘Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ‘Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ‘Ali dan Abu Bakar.
Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?
Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?
Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ‘Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?
Dan lebih dari itu, ‘Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, “Aku datang bersama Abu Bakar dan ‘Umar, aku keluar bersama Abu Bakar dan ‘Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan ‘Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.
Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ‘Umar melakukannya. ‘Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ‘Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. “Wahai Quraisy”, katanya. “Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ‘Umar di balik bukit ini!” ‘Umar adalah lelaki pemberani. ‘Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulullah! Tidak. ‘Umar jauh lebih layak. Dan ‘Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti Ia mengambil kesempatan Itulah keberanian Atau mempersilakan Yang ini pengorbanan

Maka ‘Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ‘Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ‘Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulullah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ‘Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
“Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman- teman Ansharnya itu membangunkan lamunan.
“Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. “
“Aku?”, tanyanya tak yakin.
“Ya. Engkau wahai saudaraku!”
“Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
“Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

‘Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. “Engkau pemuda sejati wahai ‘Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, “Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
“Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
“Entahlah..”
“Apa maksudmu?”
“Menurut kalian apakah ‘Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
“Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
“Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ‘Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ‘Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ‘Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ‘Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah). Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”
Iini merupakan sisi ROMANTIS dari hubungan mereka berdua.

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya: “Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” 

(kitab Ar- Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4).

source: mauhands.tumblr.com

hal paling fenomenal, satu kata (yang katanya) berjuta makna: cinta. yang dipertanyakan adalah, siapkah? siapkah untuk mencintai karenaNya, dengan tujuan surgaNya? siapkah membina cinta yang saat ini bikin jungkir balik agar selalu lurus dalam koridorNya? lantas bagaimana bila, yang kita cinta, nyatanya bukan takdir yang Ia tuliskan untuk kita. masih cintakah? masih maukah untuk mencintai? bagaimana nasib takdir kita? haruskah dia berbagi? tidak ada salahnya jatuh cinta, bukannya cinta itu tabu, tapi bagaimana kita mengkondisikan cinta yang tumbuh agar tidak menutupi rongga mata dan telinga atas seruanNya. bagaimana seharusnya kita menjaga diri, berusaha menutup pintu agar cinta yang bukan pada tempatnya itu tidak menghancurkan. dan wanita, bukankah kita ini permata, yang cangkangnya harus selalu tertutup untuk menghindari kepiting-kepiting pantai yang ingin menggoda? dan lelaki, bukankah kalian calon pemimpin kami, bukankah menjaga diri dari segala sesuatu yang belum kalian minta resmi itu merupakan ciri kehormatan? menjaga sikap bukan semata tidak ingin berkawan, menjaga sikap adalah upaya agar interaksi tetap terkendali, hanya yang berbobot yang dibicarakan, hanya kepentingan gawat yang diperbincangkan. bukan untuk bersendau gurau, apalagi berbagi kabar sehari-hari. apa yang lebih baik, yang lebik menjukkan perilaku saling menghormati daripada ini? coba pikirkan lagi, bagaimana nasib takdir kita nanti? tidak ingatkah bagaimana setan dengan mudahnya mengelabui nabi adam dan siti hawa, akankah kita yang hanya manusia lemah biasa tahan akan godaannya? sekali lagi bukan, bukan untuk menyudahi pertemanan, namun untuk mengendalikan apa-apa yang tidak diharapkan. karena berjuta makna dari cinta itu hanya akan berujung satu: ia tidak pasti. kematian bisa saja lebih dulu mengikat.

“ada cinta yang berpangkal karena Allaah, namun berujung pada yang lain. ada cinta yang berpangkal dari yang lain, namun Allaah takdirkan untuk berujung padaNya. maka kami mengharap cinta yang berpangkal karena Allaah menghendaki ia berujung padaNya. awal yang baik, dan berakhir dengan kebaikan pula.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

mulai lakukan dari pengorbanan, maka akan Ia karuniakan keberanian. suatu hari nanti. semoga. insyaAllaah.

 

#lagiserius #takdirtidaktertukar #tidaksepertiputri

Capital G

ada yang berubah dari diri saya, yang kemudian disadari oleh sahabat tercinta, titi muti. akhir-akhir ini, saya sering sekali lupa. bukan lupa yang terus inget setelah beberapa saat, lupa yang bener-bener lupa sampai buka hp lihat banyak notif dan mikir “hah? rapat evaluasi? emang hari ini? emang ada jarkoman?“. ya, lupa jenis itu. dan bukan hanya rapat-rapat tbm yang saya lupa (padahal setiap ada kegiatan di jarkom), saya mulai melupakan hal-hal kecil seperti dimana saya meletakkan barang-barang saya, dan yang paling parah adalah ketika saya bayar uang kos padahal saya sudah bayar awal bulan lalu. ZONK KAN. ibu kos sampai ikut khawatir, beliau menawarkan untuk sms papa setiap saya habis bayar, biar nggak lupa-lupa lagi. titi sampai harus mengingatkan setiap ada apa-apa, mulai dari jadwal ketemu dospem, ngingatkan kuliah, dkk. semua terbengkalai, dari pkm yang akhirnya harus ikhlas diundur sampai waktu yang belum ditentukan (maaf ya ti, zan, ngga), materi kuliah yang menumpuk-numpuk, amanah organisasi yang tersendat (saya sampai mual menghadapi photoshop, semua amanah hubungannya sama dia), belum lagi amanah kepanitiaan angkatan yang belum saya follow up perkembangannya (beruntung punya partner kayak kamu, ndut. beruntung punya OC kayak kalian mas fir, mel, yin, man, hil). puncaknya hari ini. nggak kuliah adalah hal yang belum pernah saya lakukan kecuali waktu sakit bulan lalu, dan hari ini saya nggak kuliah (padahal di rs soebandi, deket banget sama kos) gara-gara tidur. serius bangun-bangun ngerasa bodoh. mku juga nggak ikut pula. asli, galaunya pake capslock. kerinduan terhadap adik-adik bintoro 5 juga harus diredam karena ada review histo (mau nggak ikut tapi karena sebuah alasan saya memilih untuk egois, maaf ya adik-adikku sayang). 19 tahun masih agak lama, tapi rasanya saya sudah mengalami sindrom geriatri. saya ingin sekali berlibur, yang benar-benar berlibur; tanpa ada pikiran tentang sistem kardiovaskular ataupun deadline backdrop. lari dari tanggungjawab adalah hal nomor satu yang paling menggoda saya. saya ingin menghilang tanpa satu orang pun tau. makan sepuasnya, istirahat sepuasnya, baca buku (non kedokteran) sepuasnya.

tapi,

ahli hadist seperti imam bukhari bukanlah orang menye-menye seperti saya, beliau berperawakan kurus karena jarang makan dan jarang pula tidur. beliau bangun tengah malam untuk menulis hadist. mbak farah, murabbi kami, lahir ditengah keluarga yang berada, tapi tetap tidak manja bahkan selalu menekankan “tunjukkan bahwa muslimah itu pintar dan berakhlak. memperbaiki diri menjadi lebih baik itu juga termasuk dakwah.” mawapres, belajar ke jepang, mana mungkin bisa dicapai dengan leha-leha dan nangis waktu pulang malem karena suatu kegiatan. mbak fay, yang tulisannya selalu memotivasi, menjadi ibu dari sebuah organisasi, menjadi petinggi di organisasi yang lain, lolos satu tahap IMO, nggak akan bisa bertahan kalau nggak berjuang keras meskipun harus tidur jam 1 atau 2 pagi. cagar, mutiara, jean, gusfita, samuel, firman herdi, tegar, serta seluruh barisan otak encer di angkatan, bisa nggak tiba-tiba pintar tanpa belajar, tanpa berusaha membagi waktu dan memprioritaskan sesuatu?

lalu,

kalau saya yang sibuk dikit langsung delirium, nggak makan dikit masuk angin, nggak tidur dikit mood berantakan wajah abu-abu, berharap bisa seperti mereka-mereka dengan segala prestasinya, saya mau lewat jalan yang mana?

“Sesungguhnya Allaah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka,” (QS. Ar Raad : 11).

 

untuk saya, untuk kalian yang selalu menganggap diri sendiri “biasa-biasa saja”.

“lagi ngetren ya kerudung panjang-panjang gitu?”

entah kenapa statement seseorang ini membuat saya terhenyak. padahal, dengan begitu tertutuplah satu pintu zina bagi mata para pria. padahal, itu membuat banyak wanita yang jadi ingin taat pada Rabbnya. saya tidak melihat ini sebagai suatu tren, yang dengan mudahnya dinyinyirin “yaelah besok juga balik lagi.” apa yang salah dari memperbaiki diri? heran, ketika kebaikan membumi kita memperolok, namun ketika kemaksiatan merajalela kita malah balik bertanya “kemana moral anak bangsa?” tidakkah kita sadar, yang kita pertanyakan itulah yang sudah kita bunuh benihnya?

ketika kamu ingin berubah, berubahlah. mintalah Ia untuk menjaga niatmu agar selalu tertuju padaNya. karena ketika niat itu sudah terpatri, segoyah apapun, entah berapa kali tren berganti, kerudung panjangmu tidak akan lekang oleh waktu. seseorang berkata kepada saya, “muslimah itu permata, sehingga Islam sangat ketat menjaganya untuk tidak terjamah oleh yang tidak berhak.” berubahlah, berubahlah ketika hatimu mulai merasakan ada yang salah dengan hidupmu selama ini. berubahlah, berubahlah ketika hidayah itu datang. berubahlah, karena tidak ada kata terlambat untuk kembali ke jalanNya. berubahlah, banggalah dengan pakaian takwamu, banggalah dengan aturan yang dibuatNya khusus untuk menjagamu. banggalah karena kamu adalah muslimah. banggalah karena ketika orang lain mencibir kekangan jilbab atasmu, padahal disitulah letak kebebasan yang hakiki. kamu bebas menunjukkan apapun pada mereka, tapi kamu memilih untuk tidak menunjukkan apa-apa. berubahlah, berbanggalah dengan segala kerendahan hatimu dan niat tulusmu untukNya.

hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal. karena itu mereka tidak diganggu. dan Allaah Maha Pengampun lagi Penyayang. (QS Al-Ahzab:59) 

untuk saya, dan kamu yang masih meragu.

Untukmu Masalalu

saat ini pukul 1.20 wib, dan tahu apa?

saya tidak akan kembali pada pukul 11.00 wib.

he he.

baik, akan saya jelaskan.

teruntuk masalalu, sudah menjadi takdir bahwa kamu akan selalu dibelakang, bukan rutinitas yang dengan mudahnya dapat diulang-ulang. sudah menjadi takdir pula bahwa kamu merupakan pelajaran, jadi saya harus pintar memilih dan memilah, apa saja darimu yang dapat saya gunakan di masa depan.

tidak semua darimu membuat luka, karena ada kalanya ketika mengenang, saya bisa saja dibikin tersenyum sendiri. tapi, sebatas itulah yang dapat saya berikan. sebuah senyuman. tanda saya berdamai denganmu, saya menerima kamu sebagai bagian dari waktu yang telah saya lewati.

masalalu, kamu hanyalah bayang-bayang. saya telah menemukan sebuah tempat untukmu. tenang saja, pintunya dapat saya buka kapanpun saya mau, tempat itu bernama kenangan. meskipun waktu tidak pernah berjalan mundur, tapi melangkah di depanmu terasa menguatkan.

karena masalalu adalah batu pijakan, untuk melompat tinggi di masa depan.

(:

***

how to deal with the past: forgive yourself first.

 

 

If Your…is A…

assalamualaikum.

it’s been a long time, by a long time I mean a very very long time, I don’t write like this. writing in my mother language has caught me in admiration, oh how I love Bahasa Indonesia. but then again, I love learning other language too (nope it’s just English, haha as if I would learn anything beside it). I never read any English literature anymore -I read journals sometimes, which is pretty confusing for a low middle like me hiks-, I almost NEVER spoke in English too. so today I’m starting over again, forgive my mistakes and I hope there is a grammar police who will correct my errors, hehe.

hm, talking about companions, what kind of person you want to be with? who’s dreaming about having a doctor as their partner? let me tell you a thing as a student who -sometimes, need a very big motivation- to learn medicine.

when you befriended a doctor, you’ll be with someone whose job is to cure patients and educate them.

ta da dum. what’s so special about it? nothing. ehe, what do you expect? it’s just the same thing as you befriended a teacher, or a lawyer, or an engineer or any possible job in this world. no no, I’m not gonna write about how a doctor would spend his/her life learning about diseases, how they would spend their time for their patients so you should be patient if they don’t have time for you, or how they want nothing in return for their kindness, or how glorious it would be to be a doctor so you should respect them to death. I’m contrary to this kind of “if your…is a…”. because no profession is a standard for personalities.

as a med student, I’m highly aware that our society still think being a doctor is an achievement. we could see the ‘whoa’ mimic they make when we say “I’m med student.”. sometimes I feel over confident too, I admit, but I always try to remind myself I am more than my soon-to-be, insyaAllaah, profession. that nothing special about being a doctor, and I hope no doctors feel special because they are doctors, even more, no one is feeling above anyone. look at those teachers who keep teaching even when nobody pays them, or those engineers who build road and other public facilities, or those businessman who pay a thousand employees. when it comes to sincerity, everything we do should be based on it, no matter what will we become. sincere doctor will cure patients with heart, sincere lawyer will maintain law, and so on. no profession is the best, He decides what is best, and we just follow the path, don’t we? as I said 2 years ago on my old tumblr, “we do not decide, but we choose the choices.” I was wrong, we do not decide nor choose, we are guided. and it’s better.

I’m glad I’m learning what I like,  I respect His choice to put me here, and I will keep the pride of my study field. I hope everyone is doing the same, and let’s not compare anything. do not choose friends, or partners by their profession. when the judgement day comes, no white coat or safety helmet will be worn.

pilihlah mereka-mereka karena agamanya.

 

Hakikat Jauh Dekat

peringatan untuk diri sendiri, dan siapapun yang membaca, lagi-lagi, sebegitu sayangnya Allaah pada kita hingga tiap aktivitas yang Ia ijinkan untuk kita lakukan memberi makna. seperti hari ini, saat iseng-iseng buka tumblr ada sekelebat tulisan tentang jarak. sejauh apa sih Allaah dengan kita? kenapa setiap mau melakukan perintahNya rasanya berat sekali, belum memulai sudah capek sendiri lihat jadwal seakan tidak pernah ada jeda? Allaah yang beri hidup, tapi giliran melakukan perintahNya malah di waktu senggang. padahal Allaah dekat, kita saja yang terlena dengan dunia sehingga lari menjauhi. sedih, ya? benar-benar ditampar rasanya. untuk apa rapat kalau sholatnya telat? untuk apa kuliah tiap hari kalau ngajinya cuma sesekali? cc para aktivis mahasiswa yang katanya kura-kura keren, sekeren apa ibadah kita? malu sekali ketika idealisme masa muda menjadi salah arah, ketika niat yang utama, tujuan satu-satunya malah terkaburkan nafsu ini itu. sedih. sedih. yaAllaah. padahal mati tidak menunggu tua, tidak menunggu sakit. apalagi ketika lingkungan terkadang kurang kondusif dan mendukung. bukannya menguatkan iman malah mendahulukan sungkan. Allaah dekat, ya? kenapa peduli apa kata manusia? berjilbab panjang dibilang anak pondokan saja sakit hati? tenang, Allaah tidak melihat rupa. menjaga diri dibilang sok cuek sok ketus saja kelabakan? lha yang penting Allaah senang kenapa takut?

sebenarnya di hati saya, di hati kalian semua, siapa sih yang ingin didekati? yang ingin ditemui dalam sebaik-baik kondisi? reminder, a very gentle reminder, urgensi rasa memiliki dan dimiliki hanya dengan Allaah SWT, bukan dengan dunia dan segala makhluk di dalamnya.