I’m taking my day-off(s)

assalamualaikum, prasasti.

semoga seperti namamu, kamu pun selalu ‘awet’ dalam lindungan Allaah SWT.

terimakasih untuk tulisanmu beberapa bulan lalu. terharu, deh (malu-malu). tidak ada daya dan kekuatan selain daripadaNya, begitu pula deskripsimu tentang saya, yang semata-mata hanyalah titipan karakter dari Yang Maha Kuasa.

post ini saya ketik di rumah, di tengah jadwal 4 kepanitiaan besar di depan mata. iya, itu minus kuliah lho. seperti saranmu, saya benar-benar ‘melepaskan diri’ dari kepadatan jadwal rapat dan kegiatan yang semakin hari semakin menghimpit paru-paru mungil dalam dada ini. dan saya bersyukur, segala rasa bersalah karena mengabaikan tugas-tugas di tanah perantauan sedikit hilang digantikan oleh rasa nyaman tiduran di rumah. asique. walaupun kasihan juga sama teman-teman yang kelimpungan disana…tapi ya gimana dong, titah orangtua tetap harus dijalankan, kan. hehe. bukan sepenuhnya kemauan saya juga untuk pulang, tapi yang katanya ridho Allaah adalah ridho orangtua itu benar, saya sudah bilang pa ngga bakal pulang kayanya sampe akhir semester eh tiba-tiba dikasih ‘kejutan’ yang mengharuskan pulang. gitu deh. sedih sedih berhadiah(?).

tapi, kalau boleh jujur, saya ingin kembali kepada saudara-saudara yang menanti untuk berlari, namun kaki masih kram rasanya. prasasti, kenapa tidak curhat kalau sepadat ini?! kenapa?! saya kira yang mereka bilang padat itu hanya sepikan belaka…ternyata…ah sudahlah. saya akan belajar mencintai hal yang saya lakukan, terlebih saya sudah memilih organisasi ini, dan saya percaya, yang saya lakukan hanya secuil dari banyak hal yang dapat organisasi ini berikan pada saya. ya kan, prasasti?

ada banyak hal yang saya lalui setelah malam kita cerita-cerita hingga datang pagi. prasasti, kini saya percaya hidup ini bukan hanya tentang saya dan bunga, saya dan kumbang, saya dan matahari. hidup ini adalah tentang saya yang sedang mencium bunga yang sedang berfotosintesis yang sedang dihinggapi kumbang. semoga kamu paham maksud saya barusan. hidup ini sekompleks itu, prasasti. kegalauan yang sempat kamu dan saya rasakan hanyalah satu untai benang dari hamparan sarang laba-laba bernama kehidupan. wow. semoga kamu masih paham karena saya sendiri mulai bingung apa yang saya ketikkan. saat kamu bertanya, bagaimana caranya?, saya bingung mau menjawab apa. kini saya akan jawab, kita tidak butuh cara, kita hanya perlu untuk bersyukur; kita melewati segala sesuatu yang Ia gariskan untuk kita. betapa menyenangkan, kesedihan kita saja sudah Ia tuliskan, apalagi alasan kita untuk tidak percaya bahwa setelah ini, akan ada banyak tawa yang juga telah Ia takdirkan? prasasti, hentikan kebingunganmu, karena kamu tidak akan bergerak kemana-mana dalam langkah itu. maju saja, coba lihat apa yang akan kamu temukan ketika kamu mulai rela melepaskan.

ketika saya membuka mata dan menemukan di sekeliling saya ada begitu banyak kebaikan, ketulusan, dan kasih sayang yang selama ini tidak terlalu saya perhatikan, saya merasa tenang. saya bahagia, prasasti. untukmu saya harap perasaan serupa.

p.s namamu keren, saya kepikiran menamai anak saya arca atau purbakala.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s