Judul

ini akan sedikit absurd, tidak jelas alurnya, tidak jelas inti ceritanya. hanya ingin bercuap-cuap saja, sepertinya syndrom mau ujian perdana semester 2.

sudah diingatkan kan, ya?

baiklah, saya mulai. bismillaahirrahmaanirrahiim.

12 maret 2016, saya tidak ikut review praktikum karena ada satu kegiatan. tapi sebenarnya saya juga enggan ikut, saya susah belajar bersama. saya tipe orangnya harus sunyi senyap, membaca, corat-coret lalu ngomong sendiri gitu. kalau rame-rame saya bingung dan tidak terarah materinya. seorang teman nyeletuk “apatis”. )): sedih sekali, meskipun saya tahu dia bercanda, saya jadi sadar memang saya ini egosentris. dulu pas smp saat ada tes IQ ESQ ya tes itulah pokoknya, ditulis kalau dalam keadaan tertekan saya menjadi cenderung individualis. gimana ya, susah juga kan merubah metode belajar yang cocok. wkwk lupakan. saya tidak lagi ingin menceritakan review praktikum yang tertunda, saya ingin menceritakan tentang satu kegiatan tersebut. apa coba?

mikroteaching 2 open recruitment universitas jember mengajar. masih oprec, tapi saya sudah ketagihan pengen ngajar lagi. this is so challenging for me. dulu sempat pernah jadi volunteer saat bem ngadakan acara di slb, yang sepanjang ngajar dan main ngempet airmata saking terharunya. sekarang tidak ada keinginan menangis sih, karena alhamdulillaah adik-adiknya normal semua. lokasi MI ini ada di Mayang. bayangkan nyetir dari depan KUJ sampai Mayang (saya baru tahu Mayang juga tadi), jauh banget, terusin dikit sampai rumah deh kayaknya (nggak ini lebay). saya anaknya agak nggak bisa disetirin motor jarak jauh, bawaannya ngantuk terus. ternyata nyetir jauh juga sama): saya nyaris merem tadi waktu nyetir, serius, mobil di belakang sampai ngeklakson “beep beep beep beep beep” berirama gitu, bukan cuma sekali. astaghfirullaah, sengawur apa nyetir saya tadi. nah, waktu udah sampai di MInya, saya cengo. ini sekolahnya): sedih banget, kecil banget tempatnya. bahkan sekat antar kelas itu lorong-lorong kecil, beda lah sama sekolah pada umumnya. ruang gurunya juga cuma satu, lebarnya kurang lebih sama sama kamar kos saya (kayaknya lebaran kos saya), dan itu lesehan, dipenuhin lemari arsip-arsip pula. yaAllaah): setelah pembukaaan, kita langsung menuju kelas tempat ngajarnya. saya ditemani dua orang teman, rezza, satu fakultas dengan saya, dan sayidati, dari FTP. ada juga penguji (ceilah penguji) kak Caesar (kalau tidak salah), dari FT. satu kelas isinya ada 5 siswa, yang satu lagi tidak masuk katanya. dan itu cewek semua((: ohiya, saya masuknya di kelas 5. ada aat, aan, ita, waroh, sama satunya saya lupa huhu maafkan. mereka kooperatif banget, mungkin gara-gara sudah sering ketemu kakak-kakak ujar yang terdahulu ya. saya lupa kalau ini MI, makanya waktu kami minta berdoa mereka langsung baca doa belajar. wah keren. kami menjelaskan tentang kesehatan lingkungan, sayi jadi yang pertama menjelaskan. sayi ini keibuan banget, dia tahu caranya memnciptakan suasana yang bikin adik-adik kepo dan tertarik. sayi menjelaskan tentang kutu air. kemudian ada saya (hehe), menjelaskan tentang cacing tambang. adik-adiknya pada bergidik semua melihat gambar-gambar cacing, gambar kutu air dan kaki yang terkena kutu air. pada media yang saya bawa kan ada gambar cewek lagi lesu terus ada tulisannya anemia, aat menunjuk sambil tanya “itu apa?” wah terharu, ternyata mereka rasa ingin tahunya tinggi juga. terus rezza menjelaskan tentang cara mencuci tangan yang benar. di tengah-tengah materi,aat nyeletuk “kak jangan belajar itu, main saja.” haha, mereka bosen ternyata. yaudah kami bermain permainan cermin. disitu rezza melakukan gerakan, dan adik-adiknya harus mengikuti tanpa salah. alhamdulillaah, mereka ketawa-ketawa. tapi kok saya yang bosen): wkwk. saya minta berhenti mainnya, minta main yang lain (jadi saya ya yang minta main-,-) akhirnya kita main “puk kerupukan”. ternyata lagunya beda sama di Banyuwangi. padahal saya sudah siap-siap nyanyi huh. nggak berapa lama saya bosen lagi (oke ini emang keterlaluan..), saya minta main yang lain lagi. kami main nenek apalah itu namanya. sama sih kayak lulu singa buta, nanti ditutup matanya terus nebak ini siapa itu siapa gitu. seru deh melihat adik-adiknya kegirangan. nah tapi, waroh ini saya perhatikan agak berbeda. dia itu saya banget waktu kecil (ya sampai sekarang juga), makanya saya lihatin terus. mukanya males-malesan, kadang ngedumel bahasa madura yang saya tidak tahu artinya, tapi ngerti pasti lagi ngomongin kami. kayaknya dia tipe anak yang nggak mudah kedatangan orang baru, dia tipe judgmental gitu, jadi orang barunya dianalisis sampai khatam baru dia bisa memutuskan mau dengan orang baru ini atau tidak. kok tahu? ya soalnya saya juga gitu orangnya. ironi. makanya setiap kegiatan apapun saya bilang “ayo dong waroh maju praktekin cuci tangan yang benar”, “waroh bisik-bisik apa itu? ini kak kayaknya waroh tahu jawabannya deh” wajahnya langsung “apasih”. yap. that’s so me. a bad character I want to change. being judgmental is a big no, even in Islam we are told to be khuznudzon<3 saya tidak mau waroh besar dan tetap seperti itu, karena semakin besar, kebiasaan itu akan semakin susah dihilangkan. Almarhumah Mama tercinta pernah menganalogikannya dengan bunga dan rumput. orang yang judgmental itu kalau dikasih lihat sebuah pot, dia akan melihat rumput gulma alih-alih bunga cantik yang sedang bermekaran. sedikit cerita, saya juga kalau ada orang baru, misal di dalam kelas ada mbak-mbak bimbel lagi promosi, saya akan bentuk benteng pertahanan. saya koreksi setiap kata, setiap gesture, kadang saya batin doang kadang kasak kusuk ke temen sebangku “eh anu ya mbaknya itu blabla.”. saya akan melabeli hampir setiap orang baru yang ngomong didepan sebagai either uninteresting or boring. jahat ya): I see that in Waroh. jangan tumbuh besar kayak gitu ya, dik(“: nah, bosen main-main kita duduk-duduk melingkar gitu. sayi, selalu saja sebagai pembuka topik pembicaraan (i love this kind of person), tiba-tiba tanya tentang cita-cita. rata-rata dari mereka pengen jadi guru. ada yang matematika, ipa, ips, bahasa indonesia. entah itu cita-cita beneran atau ikut-ikutan, but I’m happy that they want to be someone useful. aat agak berbeda. dia pengen jadi ustadzah. saya kagum dong dengan jawabannya. saya tanya ‘disini ada yang hapal al-Quran?’ tapi mereka semua menggeleng. ‘kalau surat An-Nas?’ terus Ita baca surat An-Nas yang dengan garangnya distop sama Aat, ‘bukan itu! An-Nas itu yang qul huwallaahu ahad.’ sontak kita semua ketawa. ya, dia mungkin masih bingung bedakan surat-surat pendek sekarang, tapi nanti, who knows? Rezza bilang, setiap ada yang ngungkapkan cita-cita semua harus bilang aamiin. and we did, dari hati terdalam saya sungguh mengaamiinkan. adik-adik ini rata-rata selepas SD mau mondok katanya, tidak mau SMP. saya tidak tahu di pondok itu ada pelajaran umum atau tidak, tapi sepertinya ada, semoga agama dan ilmu dunia mereka sama-sama kuat dengan melanjutkan di pondok itu. ‘nanti sepuluh tahun lagi kakak kesini semua sudah harus mencapai cita-cita masing-masing ya.’ langsung ada yang nyerocos bahasa madura, saya cuma bengong, ‘artinya apa?’ terus ditranslate, ‘sepuluh tahun lagi anak-anak sudah nggak ada di sd ini kak.’. yha. ok. saya maunya kayak motivator-motivator kondang gitu yang sok-sokan menggalakkan ‘catch your dreams in ten years’ tapi jawaban mereka nngg…. emang nggak salah sih-_- terus mereka minta cerita-cerita hantu, kami menolak karena sebenarnya saya agak penakut itu bukan cerita yang baik menurut saya. menurut sayi itu juga doktrin, kan lebih baik diganti cerita yang sarat pesan moral. mereka cerita tentang Kak Amir dari Sulawesi, mereka suka sekali dengan Kak Amir yang mengajar saat mereka kelas dua. Kak Amir ingin jadi artis, katanya. Kak Amir lucu, rambutnya keriting tapi sekarang sudah botak, katanya. Kak Amir bla bla Kak Amir bla bla. saya tidak tahu siapa ini Kak Amir, apa beliau sobat ujar apa dari komunitas lain, tapi saya salut dengan beliau. kesan yang beliau tinggalkan untuk adik-adik sangat mendalam. ya, beberapa orang memang sangat berkesan, dan yang mereka lakukan hanya satu: menjadi diri sendiri.

waktu yang diberikan memang hanya 30 menit, tapi kami ngobrol-ngobrol dengan adik-adik sampai lama (Kak Caesar sampai keluar duluan gara-gara kita dibilangin waktu habis tapi masih main-main). ‘Kak besok kesini lagi dong.’ ‘kakak senin ujian dik’ ‘kan ujiannya senin, kesininya besok.’ rasanya saya selalu kalah sama adik-adik ini-_- ‘kak minggu depan kesini lagi ya.’ ‘kalau kakak kesini lagi harus hapal Indonesia Raya.’ ‘panjang kak’. adik-adik ini belum hapal Indonesia Raya coba): mereka juga tidak ada upacara bendera setiap senin. negeri tercinta, generasi seperti apa yang engkau harapkan? saya bertanya. tapi untukmu, kami akan berusaha. ‘dik kamu tinggal dimana?’ ‘disana kak, kalau aan agak kesana, waroh kesanaan lagi, ita paling jauh.’ (lagi-lagi gagal puitis) ‘oke. di negara apa kalian tinggal?’ ‘indonesia kak.’ ‘nah, itu berarti kalian harus hapal Indonesia Raya.’ ‘kan sudah tinggal di Indonesia berarti nggak usah nggak apa-apa.’ ‘…..’ lalu Sayi menengahi ‘kita hapal Indonesia Raya supaya kalau Belanda kesini kita bisa melawan. masa nanti Belanda kesini trus tanya bisa nyanyi Indonesia Raya apa enggak, jawabnya enggak?’ ‘kan kesininya sudah dulu kak.’ haha! kita tidak akan berhasil lawan mereka yi…tapi kami tidak menyerah. kami mau mereka hapal pokoknya. titik. cynic diluar sana mungkin berkata, untuk apa hapal tapi tidak berkontribusi apa-apa. tapi saya berkata, gimana bisa cinta, ketika nyanyi lagu kebangsaannya saja tidak bisa? adik-adikku ini, harus cinta negaranya. dan untuk menumbuhkan kecintaan itu, mereka harus minimal hapal lagu Indonesia Raya. ‘kesini lagi ya kak.’ ‘kalau kakak kesini mau belajar apa?’ ‘bahasa indo!’ ‘ya berarti nyanyi Indonesia Raya.’ ‘eh bahasa Inggris aja deh’ ‘iya bahasa Inggris aja kak’ ‘heem bahasa Inggris kak. nyanyi lagu Inggris’ -_- ‘yaudah bahasa Inggris. tapi tetep belajar Indonesia Raya.’ ‘kesini ya kak? janji kak?’ maaf dik, kakak hanya manggut-manggut tapi tidak bisa menjanjikan, jangan anggap kami php dik, kami pengen kembali tapi apalah kami ini, cuma calon-calon sobat pengajar:” kalau kalian mau kami kesitu lagi, bilangin dong kakak-kakak panitia oprecnya:3 #cc:kakakpanitiatercinta #kamidisuruhkembalilhokak #fyiajakak #ehehe #terselubung #semogakakakpanitianyabaca

karena waktunya sudah habis (sebenarnya darituadi sih, ya formalitas aja), kami pamit sama adik-adik kami tercinta. sebelum itu kami mengajak mereka berdoa. saya kira mereka akan membaca doa penutup majelis, ternyata membaca doa kebahagiaan dunia dan akhirat. uh:” mengajar ini menyadarkan saya bahwa, saya bisa kok jadi orang yang peduli, saya bisa memulai untuk menghilangkan males gerak, males ngomong, bingung ngomong di depan umum. se garing-garingnya saya ngomong, mereka tetap jawab. walaupun seringkali mereka ngerasani pakai bahasa madura terus kalau ditanya cuma cengengesan ‘hehe ga ada apa-apa’, mereka tetap jawab. salah seorang calon sobat ujar bilang, ‘saya harus membuat diri saya nampak tegas agar mereka mau menghargai saya, dan dengan begitu mereka tidak akan ramai sendiri.’ that’s true. but what I like the most is, saya ingin membaur dengan mereka, saya akan menghargai mereka sehingga mereka menghargai saya. karena semua yang bermula dari hati itu yang akan bertahan lama. uuu. hahaha. sukses calon sobat pengajar, diterima atau tidak, kewajiban kita tetap sama; mendidik dan menyebarluaskan ilmu kita.

jadilah bermanfaat!(:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s