I’m taking my day-off(s)

assalamualaikum, prasasti.

semoga seperti namamu, kamu pun selalu ‘awet’ dalam lindungan Allaah SWT.

terimakasih untuk tulisanmu beberapa bulan lalu. terharu, deh (malu-malu). tidak ada daya dan kekuatan selain daripadaNya, begitu pula deskripsimu tentang saya, yang semata-mata hanyalah titipan karakter dari Yang Maha Kuasa.

post ini saya ketik di rumah, di tengah jadwal 4 kepanitiaan besar di depan mata. iya, itu minus kuliah lho. seperti saranmu, saya benar-benar ‘melepaskan diri’ dari kepadatan jadwal rapat dan kegiatan yang semakin hari semakin menghimpit paru-paru mungil dalam dada ini. dan saya bersyukur, segala rasa bersalah karena mengabaikan tugas-tugas di tanah perantauan sedikit hilang digantikan oleh rasa nyaman tiduran di rumah. asique. walaupun kasihan juga sama teman-teman yang kelimpungan disana…tapi ya gimana dong, titah orangtua tetap harus dijalankan, kan. hehe. bukan sepenuhnya kemauan saya juga untuk pulang, tapi yang katanya ridho Allaah adalah ridho orangtua itu benar, saya sudah bilang pa ngga bakal pulang kayanya sampe akhir semester eh tiba-tiba dikasih ‘kejutan’ yang mengharuskan pulang. gitu deh. sedih sedih berhadiah(?).

tapi, kalau boleh jujur, saya ingin kembali kepada saudara-saudara yang menanti untuk berlari, namun kaki masih kram rasanya. prasasti, kenapa tidak curhat kalau sepadat ini?! kenapa?! saya kira yang mereka bilang padat itu hanya sepikan belaka…ternyata…ah sudahlah. saya akan belajar mencintai hal yang saya lakukan, terlebih saya sudah memilih organisasi ini, dan saya percaya, yang saya lakukan hanya secuil dari banyak hal yang dapat organisasi ini berikan pada saya. ya kan, prasasti?

ada banyak hal yang saya lalui setelah malam kita cerita-cerita hingga datang pagi. prasasti, kini saya percaya hidup ini bukan hanya tentang saya dan bunga, saya dan kumbang, saya dan matahari. hidup ini adalah tentang saya yang sedang mencium bunga yang sedang berfotosintesis yang sedang dihinggapi kumbang. semoga kamu paham maksud saya barusan. hidup ini sekompleks itu, prasasti. kegalauan yang sempat kamu dan saya rasakan hanyalah satu untai benang dari hamparan sarang laba-laba bernama kehidupan. wow. semoga kamu masih paham karena saya sendiri mulai bingung apa yang saya ketikkan. saat kamu bertanya, bagaimana caranya?, saya bingung mau menjawab apa. kini saya akan jawab, kita tidak butuh cara, kita hanya perlu untuk bersyukur; kita melewati segala sesuatu yang Ia gariskan untuk kita. betapa menyenangkan, kesedihan kita saja sudah Ia tuliskan, apalagi alasan kita untuk tidak percaya bahwa setelah ini, akan ada banyak tawa yang juga telah Ia takdirkan? prasasti, hentikan kebingunganmu, karena kamu tidak akan bergerak kemana-mana dalam langkah itu. maju saja, coba lihat apa yang akan kamu temukan ketika kamu mulai rela melepaskan.

ketika saya membuka mata dan menemukan di sekeliling saya ada begitu banyak kebaikan, ketulusan, dan kasih sayang yang selama ini tidak terlalu saya perhatikan, saya merasa tenang. saya bahagia, prasasti. untukmu saya harap perasaan serupa.

p.s namamu keren, saya kepikiran menamai anak saya arca atau purbakala.

Advertisements

“diciptakan doa, agar aku boleh mencintaimu dari kejauhan. karena mendekat, belum tentu membaikkan iman.”

entah kenapa quote dari sahabat saya ini meresap banget sampai ke bagian sel yang terdalam. mungkinkah quote ini terbuat dari steroid? mungkinkah ia hidrofobik? ah, bisa jadi. sepertinya ini hal normal untuk dirasakan, apalagi pada usia cimik-cimik macam saya ini. rasanya obrolan dengan teman sebaya kalau bukan tentang pelajaran, ya tentang cinta-cintaan. jarang sekali ngobrolin MEA atau kenapa bawang kok harganya tidak pernah konsisten. bisa jadi ini fasenya, entahlah. tapi saya besyukur, masih ada teman yang dengan konyolnya mengira praktikum soalnya pilihan ganda padahal jelas-jelas disitu disuruh menambahkan jawaban, masih ada teman yang ngisruh tidur berenam di kosan sampai pakai matras dan sleeping bag, masih ada kakak saya yang bijak seperti biasa, masih ada adik saya yang cuek, masih ada papa saya yang video call waktu lagi kerja kelompok dan kirim selfie dengan tulisan “semangat belajarnya anakku” (saya juga bingung korelasi selfie dan kata-katanya, tapi benar, beliaulah semangat saya), dan masih ada ibu saya yang kikuk dengan suara tawanya yang khas. jika saya disuruh menghitung berapa kebahagiaan yang Ia berikan melalui mereka, saya hanya akan garuk-garuk kepala karena sudah hampir lupa caranya hitung-hitungan…..nggak juga. terlalu banyak, dibanding dengan kesedihan yang saya keluhkan dan kelelahan yang saya rasakan. sejatinya kebahagiaan dari mereka juga lebih dari cukup, dibandingkan dengan perasaan deg-degan ketemu orang yang diidam-idamkan. it’s  terrible to remember how fool I was back at that time(‘: so now, stay away, because when we surround ourselves with good people, we’ll be happy anyway(: (dan tidak menyalahi aturanNya, of course.)

 

 

Selfie

who am I trying to impress?

***

saya lebih memilih dikenal oleh penduduk langit meskipun tidak ada penduduk bumi yang mengenalku. -display picture yang mengetuk hati.

Judul

ini akan sedikit absurd, tidak jelas alurnya, tidak jelas inti ceritanya. hanya ingin bercuap-cuap saja, sepertinya syndrom mau ujian perdana semester 2.

sudah diingatkan kan, ya?

baiklah, saya mulai. bismillaahirrahmaanirrahiim.

12 maret 2016, saya tidak ikut review praktikum karena ada satu kegiatan. tapi sebenarnya saya juga enggan ikut, saya susah belajar bersama. saya tipe orangnya harus sunyi senyap, membaca, corat-coret lalu ngomong sendiri gitu. kalau rame-rame saya bingung dan tidak terarah materinya. seorang teman nyeletuk “apatis”. )): sedih sekali, meskipun saya tahu dia bercanda, saya jadi sadar memang saya ini egosentris. dulu pas smp saat ada tes IQ ESQ ya tes itulah pokoknya, ditulis kalau dalam keadaan tertekan saya menjadi cenderung individualis. gimana ya, susah juga kan merubah metode belajar yang cocok. wkwk lupakan. saya tidak lagi ingin menceritakan review praktikum yang tertunda, saya ingin menceritakan tentang satu kegiatan tersebut. apa coba?

mikroteaching 2 open recruitment universitas jember mengajar. masih oprec, tapi saya sudah ketagihan pengen ngajar lagi. this is so challenging for me. dulu sempat pernah jadi volunteer saat bem ngadakan acara di slb, yang sepanjang ngajar dan main ngempet airmata saking terharunya. sekarang tidak ada keinginan menangis sih, karena alhamdulillaah adik-adiknya normal semua. lokasi MI ini ada di Mayang. bayangkan nyetir dari depan KUJ sampai Mayang (saya baru tahu Mayang juga tadi), jauh banget, terusin dikit sampai rumah deh kayaknya (nggak ini lebay). saya anaknya agak nggak bisa disetirin motor jarak jauh, bawaannya ngantuk terus. ternyata nyetir jauh juga sama): saya nyaris merem tadi waktu nyetir, serius, mobil di belakang sampai ngeklakson “beep beep beep beep beep” berirama gitu, bukan cuma sekali. astaghfirullaah, sengawur apa nyetir saya tadi. nah, waktu udah sampai di MInya, saya cengo. ini sekolahnya): sedih banget, kecil banget tempatnya. bahkan sekat antar kelas itu lorong-lorong kecil, beda lah sama sekolah pada umumnya. ruang gurunya juga cuma satu, lebarnya kurang lebih sama sama kamar kos saya (kayaknya lebaran kos saya), dan itu lesehan, dipenuhin lemari arsip-arsip pula. yaAllaah): setelah pembukaaan, kita langsung menuju kelas tempat ngajarnya. saya ditemani dua orang teman, rezza, satu fakultas dengan saya, dan sayidati, dari FTP. ada juga penguji (ceilah penguji) kak Caesar (kalau tidak salah), dari FT. satu kelas isinya ada 5 siswa, yang satu lagi tidak masuk katanya. dan itu cewek semua((: ohiya, saya masuknya di kelas 5. ada aat, aan, ita, waroh, sama satunya saya lupa huhu maafkan. mereka kooperatif banget, mungkin gara-gara sudah sering ketemu kakak-kakak ujar yang terdahulu ya. saya lupa kalau ini MI, makanya waktu kami minta berdoa mereka langsung baca doa belajar. wah keren. kami menjelaskan tentang kesehatan lingkungan, sayi jadi yang pertama menjelaskan. sayi ini keibuan banget, dia tahu caranya memnciptakan suasana yang bikin adik-adik kepo dan tertarik. sayi menjelaskan tentang kutu air. kemudian ada saya (hehe), menjelaskan tentang cacing tambang. adik-adiknya pada bergidik semua melihat gambar-gambar cacing, gambar kutu air dan kaki yang terkena kutu air. pada media yang saya bawa kan ada gambar cewek lagi lesu terus ada tulisannya anemia, aat menunjuk sambil tanya “itu apa?” wah terharu, ternyata mereka rasa ingin tahunya tinggi juga. terus rezza menjelaskan tentang cara mencuci tangan yang benar. di tengah-tengah materi,aat nyeletuk “kak jangan belajar itu, main saja.” haha, mereka bosen ternyata. yaudah kami bermain permainan cermin. disitu rezza melakukan gerakan, dan adik-adiknya harus mengikuti tanpa salah. alhamdulillaah, mereka ketawa-ketawa. tapi kok saya yang bosen): wkwk. saya minta berhenti mainnya, minta main yang lain (jadi saya ya yang minta main-,-) akhirnya kita main “puk kerupukan”. ternyata lagunya beda sama di Banyuwangi. padahal saya sudah siap-siap nyanyi huh. nggak berapa lama saya bosen lagi (oke ini emang keterlaluan..), saya minta main yang lain lagi. kami main nenek apalah itu namanya. sama sih kayak lulu singa buta, nanti ditutup matanya terus nebak ini siapa itu siapa gitu. seru deh melihat adik-adiknya kegirangan. nah tapi, waroh ini saya perhatikan agak berbeda. dia itu saya banget waktu kecil (ya sampai sekarang juga), makanya saya lihatin terus. mukanya males-malesan, kadang ngedumel bahasa madura yang saya tidak tahu artinya, tapi ngerti pasti lagi ngomongin kami. kayaknya dia tipe anak yang nggak mudah kedatangan orang baru, dia tipe judgmental gitu, jadi orang barunya dianalisis sampai khatam baru dia bisa memutuskan mau dengan orang baru ini atau tidak. kok tahu? ya soalnya saya juga gitu orangnya. ironi. makanya setiap kegiatan apapun saya bilang “ayo dong waroh maju praktekin cuci tangan yang benar”, “waroh bisik-bisik apa itu? ini kak kayaknya waroh tahu jawabannya deh” wajahnya langsung “apasih”. yap. that’s so me. a bad character I want to change. being judgmental is a big no, even in Islam we are told to be khuznudzon<3 saya tidak mau waroh besar dan tetap seperti itu, karena semakin besar, kebiasaan itu akan semakin susah dihilangkan. Almarhumah Mama tercinta pernah menganalogikannya dengan bunga dan rumput. orang yang judgmental itu kalau dikasih lihat sebuah pot, dia akan melihat rumput gulma alih-alih bunga cantik yang sedang bermekaran. sedikit cerita, saya juga kalau ada orang baru, misal di dalam kelas ada mbak-mbak bimbel lagi promosi, saya akan bentuk benteng pertahanan. saya koreksi setiap kata, setiap gesture, kadang saya batin doang kadang kasak kusuk ke temen sebangku “eh anu ya mbaknya itu blabla.”. saya akan melabeli hampir setiap orang baru yang ngomong didepan sebagai either uninteresting or boring. jahat ya): I see that in Waroh. jangan tumbuh besar kayak gitu ya, dik(“: nah, bosen main-main kita duduk-duduk melingkar gitu. sayi, selalu saja sebagai pembuka topik pembicaraan (i love this kind of person), tiba-tiba tanya tentang cita-cita. rata-rata dari mereka pengen jadi guru. ada yang matematika, ipa, ips, bahasa indonesia. entah itu cita-cita beneran atau ikut-ikutan, but I’m happy that they want to be someone useful. aat agak berbeda. dia pengen jadi ustadzah. saya kagum dong dengan jawabannya. saya tanya ‘disini ada yang hapal al-Quran?’ tapi mereka semua menggeleng. ‘kalau surat An-Nas?’ terus Ita baca surat An-Nas yang dengan garangnya distop sama Aat, ‘bukan itu! An-Nas itu yang qul huwallaahu ahad.’ sontak kita semua ketawa. ya, dia mungkin masih bingung bedakan surat-surat pendek sekarang, tapi nanti, who knows? Rezza bilang, setiap ada yang ngungkapkan cita-cita semua harus bilang aamiin. and we did, dari hati terdalam saya sungguh mengaamiinkan. adik-adik ini rata-rata selepas SD mau mondok katanya, tidak mau SMP. saya tidak tahu di pondok itu ada pelajaran umum atau tidak, tapi sepertinya ada, semoga agama dan ilmu dunia mereka sama-sama kuat dengan melanjutkan di pondok itu. ‘nanti sepuluh tahun lagi kakak kesini semua sudah harus mencapai cita-cita masing-masing ya.’ langsung ada yang nyerocos bahasa madura, saya cuma bengong, ‘artinya apa?’ terus ditranslate, ‘sepuluh tahun lagi anak-anak sudah nggak ada di sd ini kak.’. yha. ok. saya maunya kayak motivator-motivator kondang gitu yang sok-sokan menggalakkan ‘catch your dreams in ten years’ tapi jawaban mereka nngg…. emang nggak salah sih-_- terus mereka minta cerita-cerita hantu, kami menolak karena sebenarnya saya agak penakut itu bukan cerita yang baik menurut saya. menurut sayi itu juga doktrin, kan lebih baik diganti cerita yang sarat pesan moral. mereka cerita tentang Kak Amir dari Sulawesi, mereka suka sekali dengan Kak Amir yang mengajar saat mereka kelas dua. Kak Amir ingin jadi artis, katanya. Kak Amir lucu, rambutnya keriting tapi sekarang sudah botak, katanya. Kak Amir bla bla Kak Amir bla bla. saya tidak tahu siapa ini Kak Amir, apa beliau sobat ujar apa dari komunitas lain, tapi saya salut dengan beliau. kesan yang beliau tinggalkan untuk adik-adik sangat mendalam. ya, beberapa orang memang sangat berkesan, dan yang mereka lakukan hanya satu: menjadi diri sendiri.

waktu yang diberikan memang hanya 30 menit, tapi kami ngobrol-ngobrol dengan adik-adik sampai lama (Kak Caesar sampai keluar duluan gara-gara kita dibilangin waktu habis tapi masih main-main). ‘Kak besok kesini lagi dong.’ ‘kakak senin ujian dik’ ‘kan ujiannya senin, kesininya besok.’ rasanya saya selalu kalah sama adik-adik ini-_- ‘kak minggu depan kesini lagi ya.’ ‘kalau kakak kesini lagi harus hapal Indonesia Raya.’ ‘panjang kak’. adik-adik ini belum hapal Indonesia Raya coba): mereka juga tidak ada upacara bendera setiap senin. negeri tercinta, generasi seperti apa yang engkau harapkan? saya bertanya. tapi untukmu, kami akan berusaha. ‘dik kamu tinggal dimana?’ ‘disana kak, kalau aan agak kesana, waroh kesanaan lagi, ita paling jauh.’ (lagi-lagi gagal puitis) ‘oke. di negara apa kalian tinggal?’ ‘indonesia kak.’ ‘nah, itu berarti kalian harus hapal Indonesia Raya.’ ‘kan sudah tinggal di Indonesia berarti nggak usah nggak apa-apa.’ ‘…..’ lalu Sayi menengahi ‘kita hapal Indonesia Raya supaya kalau Belanda kesini kita bisa melawan. masa nanti Belanda kesini trus tanya bisa nyanyi Indonesia Raya apa enggak, jawabnya enggak?’ ‘kan kesininya sudah dulu kak.’ haha! kita tidak akan berhasil lawan mereka yi…tapi kami tidak menyerah. kami mau mereka hapal pokoknya. titik. cynic diluar sana mungkin berkata, untuk apa hapal tapi tidak berkontribusi apa-apa. tapi saya berkata, gimana bisa cinta, ketika nyanyi lagu kebangsaannya saja tidak bisa? adik-adikku ini, harus cinta negaranya. dan untuk menumbuhkan kecintaan itu, mereka harus minimal hapal lagu Indonesia Raya. ‘kesini lagi ya kak.’ ‘kalau kakak kesini mau belajar apa?’ ‘bahasa indo!’ ‘ya berarti nyanyi Indonesia Raya.’ ‘eh bahasa Inggris aja deh’ ‘iya bahasa Inggris aja kak’ ‘heem bahasa Inggris kak. nyanyi lagu Inggris’ -_- ‘yaudah bahasa Inggris. tapi tetep belajar Indonesia Raya.’ ‘kesini ya kak? janji kak?’ maaf dik, kakak hanya manggut-manggut tapi tidak bisa menjanjikan, jangan anggap kami php dik, kami pengen kembali tapi apalah kami ini, cuma calon-calon sobat pengajar:” kalau kalian mau kami kesitu lagi, bilangin dong kakak-kakak panitia oprecnya:3 #cc:kakakpanitiatercinta #kamidisuruhkembalilhokak #fyiajakak #ehehe #terselubung #semogakakakpanitianyabaca

karena waktunya sudah habis (sebenarnya darituadi sih, ya formalitas aja), kami pamit sama adik-adik kami tercinta. sebelum itu kami mengajak mereka berdoa. saya kira mereka akan membaca doa penutup majelis, ternyata membaca doa kebahagiaan dunia dan akhirat. uh:” mengajar ini menyadarkan saya bahwa, saya bisa kok jadi orang yang peduli, saya bisa memulai untuk menghilangkan males gerak, males ngomong, bingung ngomong di depan umum. se garing-garingnya saya ngomong, mereka tetap jawab. walaupun seringkali mereka ngerasani pakai bahasa madura terus kalau ditanya cuma cengengesan ‘hehe ga ada apa-apa’, mereka tetap jawab. salah seorang calon sobat ujar bilang, ‘saya harus membuat diri saya nampak tegas agar mereka mau menghargai saya, dan dengan begitu mereka tidak akan ramai sendiri.’ that’s true. but what I like the most is, saya ingin membaur dengan mereka, saya akan menghargai mereka sehingga mereka menghargai saya. karena semua yang bermula dari hati itu yang akan bertahan lama. uuu. hahaha. sukses calon sobat pengajar, diterima atau tidak, kewajiban kita tetap sama; mendidik dan menyebarluaskan ilmu kita.

jadilah bermanfaat!(:

renungan (tengah) malam

hal-hal yang terjadi hari ini beserta makna di dalamnya:

  1. ngomel-ngomel (dari kemarin, maaf untuk kelompok farmakologi), ghibah, menyakiti hati orang lain, mangkir dari tugas. hati manusia harus siap menangkis segala jenis penyakit yang siap merusak akhlak. keikhlasan, kesabaran, kelemahlembutan dan ketenangan adalah yang utama. terimakasih untuk tulisan menyejukkan dari dokter pintar lagi sholihah, semoga Allaah mengganti manfaat yang engkau bagikan dengan kebahagiaan di dunia maupun akhirat.
  2. open recruitment sobat pengajar ukm pusat unej mengajar. karena mendidik adalah tugas mereka yang terdidik.
  3. seseorang bertanya tentang ciri-ciri penyakit tetanus. yang diketahui hanya tetanus adalah penyakit infeksi, menyerang sistem saraf pusat di bagian motorik. sudah itu saja. menyadarkan bahwasanya ternyata di semester kedua ini, seseorang telah menaruh kepercayaan, menaruh harapan di pundak calon-calon dokter bangsa untuk kesejahteraan di bidang kesehatan. amanah yang harus diperjuangkan bahkan dari semester awal. rasa malas rasanya seperti bom atom yang siap menghancurkan tidak hanya diri sendiri tetapi juga masyarakat yang nantinya membutuhkan. semoga Allaah hindarkan dari rasa malas dan ilmu yang tidak bermanfaat serta doa yang tidak dikabulkan.
  4. pesan whatsapp berbunyi “kalau lagi malas atau lelah futur capek, cepat2 lari ke Allaah, banyak2 istighfar, berdoa agar Allaah memudahkan langkah kita agar selalu berada di jalanNya. semangat, Allaahummarhamna bil quran.“. urusan dunia membuat lalai dari urusan akhirat, adalah sebuah kesia-siaan yang sangat nyata. ketika dirasa kaki terlalu tenggelam dalam gemerlap fana, tepuk lagi dada untuk mempertanyakan iman. Allaah beserta orang-orang yang mengingatNya.

hanya sekelumit kisah yang semoga mencerahkan bagi pembaca maupun penulis. perbaiki lagi niat, pacu semangat, jangan menyerah dan berhenti berdoa maupun berusaha.

(:

Generasi Rabbani dan Qurani

Minggu yang menyenangkan! seperti siraman air ledeng ditengah teriknya padang pasir, imedfest hadir perdana mengusung tema yang saya jadikan judul untuk post kali ini. iya, saya bukan pengurus imsac, saya dulu berpikir lama sekali untuk memutuskan ikut atau tidak. maklum, dua ukm besar yang terkenal sibuk sudah menarik hati saya, dan saya harus memilih. tapi ternyata, keputusan untuk tidak mendaftar rupanya tidak buruk-buruk juga. meskipun tidak aktif di kepengurusan, saya tetap bisa ikut medis club, sejenis kelompok mentoring yang di handle oleh kakak-kakak imsac, meskipun jarang banget kumpul karena kesibukan masing-masing huhu. ada juga kajian kemuslimahan, ini saya belum pernah sekalipun datang padahal dibuka untuk umum, ada saja yang bikin tidak bisa datang. sedih rasanya. minggu berikutnya harus berupaya datang! dan di acara imedfest ini, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan, apalagi temanya bagus dan cocok banget buat generasi saat ini.

pembicara pertama, dr. Dyah Sania, berulang kali membuat saya menitikkan air mata (secara diam-diam tentunya) karena saya merasa tersentuh sekali dengan kalimat-kalimat beliau. bayangkan, pembukaannya saja beliau menyampaikan sedikit cerita tentang 10 sahabat Rasulullaah yang dijamin masuk surga. siapa yang nggak mupeng coba. tapi keburu sadar, manusia akhir jaman kok ngarepnya kebangetan. beliau menjelaskan tentang betapa krusialnya membentuk karakter sejak dini, karena sepuluh hingga lima belas tahun lagi, generasi saat ini yang akan memimpin peradaban. kalimat paling nyes yang beliau katakan yakni “jangan jadi penikmat dakwah, jadilah agen dakwah.” pasti pernah kepikiran, ilmu kita sedikit, takutnya dibilang sok alim, kita sendiri masih jauh banget dari baik. tapi yang namanya kebaikan itu sama kayak virus, dia harus disebar dan bereplikasi di dalam tubuh sel inangnya baru bereaksi. ya kalau di diemin nggak berefek apa-apa. saya sendiri sering nyinyir “apaan sih kayak yang sudah paling bener aja.” astaghfirullaah. mengutip kata-kata mbak cop, ini namanya kegoblogan. seburuk apapun sikap seseorang, jika dia mengatakan kebenaran, tidak akan mengubah fakta bahwa yang dikatakannya adalah benar. mau dia nggak mengamalkan, kalau yang disampaikannya benar ya sudah benar, ilmu untuk kita, mikirin banget hidup orang lain. huhu. dr. Dyah Sania juga bilang kalau muslimah harus bisa APAPUN. kenapa? karena setiap muslimah adalah calon ibu, sekolah pertama bagi buah hati mereka, yang nantinya akan menjadi generasi penerusnya. jangan dikira jadi ibu rumah tangga itu mudah, sama sekali tidak. masak ada ilmunya, bersih-bersih rumah ada ilmunya, mengelola keuangan keluarga ada ilmunya, mengurus anak dan suami ada ilmunya. kalau muslimahnya lempeng ya mana bisa beres semuanya. benar-benar note to myself nih, last-minute-person banget tipenya. laki-laki pun begitu, jangan maunya saja istri cantik lagi sholehah, dirinya sendiri harus mampu atau minimal memiliki kemauan untuk menuntun keluarganya ke surga. sinergisme yang manis. sepanjang tema yang nyerempet-nyerempet ke arah beginian cuma bisa ngomong dalam hati “masih jauh banget ya ilmu saya huhu.” eh nyadar-nyadar ternyata umurnya juga masih muda belia kok. ea. wkwk. sampai di topik orangtua, saya bener-bener merasa ditampar ketika dr. Dyah Sania bilang “ingat ya, yang mengalir itu doa anak sholeh/sholehah, bukan doa anak saja.” jleb. speechless. kontribusi saya untuk orangtua berarti selama ini masih nol besar. dr. Dyah Sania juga menyuruh generasi muda untuk bangga dengan Islam, karena ketika kita mulai malu, disitulah musuh-musuh Islam akan menyerang dengan lihai. naudzubillaah. selama ini kemaksiatan merajalela karena mayoritas orang baik hanya diam. atau kalau nggak ya komentar-komentar negatif tapi tidak solutif. jadi berpikir, berarti harus ubah mindset, action does speak louder. komentar saya mungkin terdengar idealis, tapi tanpa tindakan, saya tidak akan mengubah apa-apa. “benar saja tidak cukup, harus jalan lebih keras dan lebih cepat.” siap, dokter! insyaaAllaah(:

pembicara kedua, Mas Hamas Syahid, bintang film yang juga kakak dari Mbak Hana, salah satu anggota yang membimbing saya di magang BEM Departemen Kastrat wkwk (waktu magang mbak masnya ngomongin dimana Mas Hamas bermalam di Jember coba-_-). awal-awal sih banyak promosi filmnya, tapi kemudian jadi seru ketika Mas Hamas memberi kiat-kiat menghapal Al-Qur’an dan menjaganya. jadi malu sendiri 18tahun hidup yang dihapal cuma surat-surat pendek saja huhu. Mas Hamas cerita kalau beliau selalu menjaga diri agar tidak bersentuhan dengan lawan jenis, karena beliau mengakui godaan terberat memang wanita. harus ekstra hati-hati nih buat para wanita, gampang banget bikin laki-laki jatuh hati, eh getahnya ikutan dapat dosa. sebenarnya hapalan itu akan terasa lebih mudah ketika kita niat Lillaahi ta’alaa dan jauh dari maksiat, maka dari itu disuruh perbanyak sholat malam dan memohon agar Allaah mengampuni dosa-dosa, someone said to me. teori oh teori, betapa mudahnya engkau diucapkan namun betapa lalainya diri ini dalam menerapkan. fiuh. tidak banyak yang saya catat dari sesi kedua ini, tapi intinya saya menangkap satu hal super penting, saran dari Mas Hamas, jadilah generasi pecinta Al-Quran yang kemana-mana membaca Al-Quran; mendengarkannya, menghapalkannya. semoga kami semua diberi niat kuat dan hati yang istiqamah dalam membaca, memaknai, menghapal dan mengamalkan Al-Quran ya, Mas(:

talkshownya sudah selesai, tapi acaranya belum selesai. acara apa? foto-foto. haha. ramai dan mengular, sampai rela berdesak-desakkan demi foto bareng Mas Hamas. saya cuma mojok sambil beli minuman, sesuai kata mas Hamas juga, jangan bersentuhan kalau bisa menimbulkan desiran. kalau foto bareng saja berpotensi berdesir-desir berarti mending minum es coklat aja ya, Mas-_- wkwk. karena katanya dari mata diteruskan ke bagian wernicke di os parietal turun ke hati, tandanya harus ekstra menjaga diri. sepakat?

ya, overall saya sangat mengapresiasi acara imedfest ini, bermanfaat sekali, semoga tahun-tahun berikutnya semakin mantab materi yang disuguhkan dan bisa membawa perubahan bagi kita-kita generasi muda ke jalan yang dicintai Allaah. aamiin!

 

menangislah ketika pundakmu terlalu lelah. jangan ragu, biarkan saja airmatamu mengalir beranak sungai. menangislah meski bebanmu tidak akan berkurang, tapi cukup untuk menghibur hatimu yang malang.

***

hari ini seseorang bertambah usia, dan ditengah usahanya yang panjang dan doa yang tak henti-hentinya dipanjatkan, ia menangis. saya tidak pernah melihat kaum yang disebut tulang punggung karena kekuatannya, menangis. setulus ini. bahkan dari sorot matanya kami tahu, ada lelah yang ia bawa dipelupuknya. ada energi yang nyaris habis tak tersisa, mungkin yang membuatnya tetap bertahan hanyalah rasa rindu rumah yang tertahan. keinginan untuk kembali dengan membawa serta harapan, cita-cita yang harus menjadi nyata; sebuah kewajiban.

setiap raga bertambah tua, setiap usia menuju senja, lantas mengapa bertanya ketika beban hidup mengular tangga? kalau hidup begitu-begitu saja, apa esensinya?

kalimat-kalimat naif yang memuakkan, banyak manusia-manusia sok tegar diluar sana yang berpegang pada kalimat ini. iya, manusia sok tegar yang percaya bahwa hidup memang semestinya begini. manusia sok tegar yang percaya tidak ada hal yang tercapai tanpa ikhtiar, tanpa doa-doa yang menguntai indah menuju arsy.

ia hanya berusaha menjadi manusia sok tegar. airmatanya nanti yang kelak bersaksi tentang betapa melelahkannya berjuang sendiri, jauh dari orang-orang yang dikasihi. kami mengerti, karena kami pun sama, kami juga merasa. hanya saja mungkin sebagian dari kami malu untuk menitikkan airmata, hanya bisa menyimpan dan membiarkan penat menyusup melalui kapiler-kapiler vena, siapa tahu dapat di hancurkan entah oleh bagian tubuh yang mana.

lelahnya, lelah mereka, lelah saya; lelah kami. saya tidak ingin kami saling bersandar, karena itu hanya memperparah. saya ingin ditengah keadaan tubuh yang hampir roboh, kami saling menautkan doa. saya ingin Ia yang menguatkan. karena ditanganNya, segala kekuatan yang kami butuhkan akan datang.

bersabarlah, waktu kita disini tidak akan lama. perjuangan kita tidak akan percuma. fokuskan saja agar lelah kita menjadi ladang pahala.

 

 

untuk kelompok tutorial H; teman segalanya.

dan untukmu, siapapun kamu, yang tengah mengupayakan sesuatu.