Cinta Pertama

assalaamualaikum warrahmatullaahi wabarakaatuh, semoga keberkahan selalu melingkupi hidupmu, wahai lelaki paruh baya disana. tahukah engkau, baru-baru saja saya menyadari hingga menangis, ternyata olehmu saya sudah dibuat jatuh cinta, tanpa ada niatan berhenti sedikitpun? saya teringat ketika usia tiga tahun, ‘wayang huruf’mu mengubah kebencian belajar membaca menjadi kecintaan luar biasa terhadap buku. terimakasih untuk itu, terimakasih telah membuat saya mencintai ilmu, seperti doa yang engkau sisipkan untuk menjadi bagian dari diri saya. saya juga masih ingat, betapa sikap saya sangat kekanak-kanakkan bahkan hingga saya remaja, sempat membuatmu resah, dapatkah saya hidup mandiri di tengah lingkungan yang tidak saya kenali kelak. tidak usah khawatir, wejanganmu akan saya pegang sekuat tenaga.

baik-baik sajakah engkau hari ini? jangan lupa untuk istirahat, untuk selalu makan makanan sehat. saya tahu ini adalah hal yang dibenci semua orang, ketika saya mulai nyerocos tentang kesehatan seolah-olah saya sendiri orang paling disiplin dalam menerapkan hidup sehat. percayalah, saya hanya tidak suka melihat orang sakit. saya benci ketika seseorang tergolek lemah dan menjadi berbeda dari dirinya yang biasa. jaga diri sendiri, saya masih harus berjarak agar bisa menjaga engkau nanti.

suaramu masih menjadi hal yang saya nanti setiap pagi. suara yang biasa saja, tapi sanggup memberikan energi ketika rasa lelah menghampiri. suaramu adalah alarm untuk otak ini, agar selalu ingat untuk siapakah saya harus berjuang. untuk engkau, demi menjadi tabunganmu nanti. sungguh tidak ada hal yang lebih saya ingini daripada menjadi bermanfaat bagimu bahkan hingga ketika engkau tidak lagi disini. saya menyesal, saya sungguh ingin marah pada keadaan ketika dengan sangat terpaksa harus mematikan telepon karena saya harus belajar untuk tutorial, atau ada kegiatan diluar. ada kecewa dalam kalimatmu, tapi sorakan semangatmu itu menyadarkan lagi, tidak apa-apa, saya memang harus jauh dari engkau, saya harus memaksa diri terbiasa tanpa engkau, demi engkau, prioritas masa depan saya.

tidakkah engkau rindu masakan yang setiap hari saya masak dahulu? ingatan saya kembali ke masa-masa SMA dimana masak adalah hal paling melelahkan. saya merasa tidak adil. teman-teman saya tidak harus melakukannya, kenapa saya dan adik harus? sekarang saya mengerti, kehilangan orang yang paling engkau sayang lebih melelahkan. pasti hatimu harus menahan perih setiap hari ketika melihat kami memasak, sekarang saya mengerti pasti engkau juga tidak menginginkan kami kehilangan waktu bermain kami. saya mengerti engkau tidak punya pilihan lain, waktumu harus kau gunakan untuk bekerja, menghidupi kami seorang diri bukanlah hal yang mudah. engkau harus mengelola semua sendiri, membagi segala hal dengan teliti agar semua dapat terpenuhi. saya rindu membuatkanmu sayur sop, ingatkah ketika saya lupa memberi bawang sehingga sayur sopnya terasa bagai potongan sayuran ditambah air garam? engkau diam saja. engkau tidak pernah protes, engkau baru mengatakan ‘rasanya sedikit beda’ ketika saya sadar lupa memberi bawang.

suatu pagi saya menelpon sambil terisak karena kebodohan saya sendiri, engkau panik selama kurang lebih sebulan, takut kesehatan mental saya terguncang karena saat itu pula merupakan awal-awal ‘kepindahan’ saya dari kota asal. berlebihan memang kadang, tapi dari situ saya merasakan kasih sayangmu begitu besar. saya tahu engkau marah ketika hati ini terluka, meskipun ini bukan hatimu sendiri. tapi engkau juga tidak bosan-bosan mengatakan bahwa saya hanya cukup menjadi baik, apapun yang terjadi. karena suatu saat semua akan berubah, bisa saja yang buruk menjadi baik, sehingga tidak ada dendam yang harus disimpan. engkau mengajarkan bagaimana saya yang sering terpengaruh emosi ini harus berusaha berpikir jernih dalam segala kondisi.

dan pagi tadi, ketika matahari mulai menyusup melalui celah ventilasi, dering telepon yang saya nanti berbunyi. tidak saya biarkan satu kegiatan pun mengambil kesempatan untuk mendengar ceritamu, untuk membombardir speaker handphonemu dengan celotehan kisah saya sehari-hari.

cinta pertama yang katanya indah itu, memang benar adanya.

***

untuk engkau; alasan mengapa saya tidak akan berhenti berjuang di jalanNya. 

Advertisements

Dalam Dekapan Ukhuwah

sebuah buku karangan Salim A. Fillah. saya belum punya, saya belum baca, hanya melihat satu bagian dalam buku itu yang dibagikan melalui grup whatsapp sebagai renungan pagi hari. mbak jauh saya, saking jauhnya sampai nggak ada hubungan saudara, juga menggebu-gebu menceritakan buku ini yang katanya sebagai “dakwah tapi tidak menghakimi”.

ya, disaat dakwah kadang terasa bagai sebilah pisau yang menusuk, kita perlu sesuatu yang menyadarkan langsung dari hati. yang lunak, seperti guru tk yang dengan lembut mengajari anak didiknya dari memegang pensil hingga menulis.

kesabaran. keikhlasan. lagi-lagi, dua hal itu yang membuat saya terdiam dan bertanya-tanya pada diri sendiri, sudahkah selama ini?

 

 

 

seorang dokter yang masih saja tersenyum walau paginya dihabiskan mahasiswa, dan malamnya dirampas tugas jaga. yang pertanyaan dan nasihatnya membuat tenang dan percaya, kalau Ia menghendaki, maka kesehatan akan kembali ke tangan kita.

jadilah bermanfaat, karena dari situlah datang nikmat.

 

2/11/2016

Unej Medical Center; ketika teguran kecil Yang Maha Kuasa menyapa.

sembunyikan.

tarik nafas panjang, kemudian lakukan.

tidak ada yang perlu tahu, dibalik semua keberhasilan ada ikhtiar panjang dan doa yang tak pernah usai diucapkan.

jangan nampakkan apapun kecuali senyuman.

keluhan, amalan, bukanlah hal yang perlu disebarluaskan.

#reminder

HAI SEMUANYA!

yang lalu biarlah berlalu, mari kita sambut hari baru.

liburan hampir selesai, materi mulai berdatangan, kepanitiaan menunggu dengan santai.

lupakan masalah hati, karena cinta sejati datangnya langsung ke wali. (eak. aduh. apasih.)

ya sudah sudah. memang benar hati itu mudah di bolak-balik, tak mengapa, karena kita selalu bisa strive for something better! betul, tidak? hamasah!

ini link youtube yang kebetulan nemu di tumblr, motivasi untuk tidak membuang-buang waktu. kayak yang yakin aja hidupnya masih lama, seenaknya buang waktu. (ngomong ke diri sendiri 1000x. eh engga, seumur hidup.)

https://www.youtube.com/user/productivemuslim/videos

ntaps!

semangat sejawat muslim muslimahku!

pada akhirnya

saya pun mengerti, benar yang digariskan Ia tidak akan bergeser meski satu senti. dan dari semua yang sudah terjadi, mulai terlihat hal-hal yang dapat saya pelajari.

bahwa di tengah perih hati, ternyata kita masih bisa tersenyum. tidak ada yang lebih melegakan dibandingkan melihat orang lain berbahagia. tidakkah dapat dimengerti? hal ini memang ada, bukan hanya omong kosong kemunafikkan. karena disaat pilu menghampiri, kita tahu, dalam diam pun Ia memahami. Ia tidak beranjak. Ia tetap dekat. Ia tetap memeluk dengan erat. saya hanya perlu merasakan. doa-doa yang deras mengalir walau bibir tetap terkatup, Ia mendengar. Ia selalu mengerti melebihi diri saya sendiri.

kematian orang-orang yang saya cintai, berkali-kali, menuntut saya untuk selalu hanya mengingat kebaikan. dimana ketika mereka telah tiada nanti, saya bisa dengan tulus merelakan. tidak ada yang tertinggal. tidak ada maaf yang belum diberikan. tidak ada luka yang perlu untuk disembuhkan. pun ketika kelak saya sendiri yang mati, tidak ada kenangan buruk yang memberatkan. hanya ketiadaan yang berteman kenangan menyenangkan. dan membuat saya lagi-lagi ingat, tidak ada yang benar-benar saya miliki, termasuk diri saya sendiri.

begitulah yang saya pegang. tidak ada balasan lain dari kebaikan kecuali kebaikan.

Mahasuci Ia, dengan segala kekurangan diri masih mau memberi pengajaran.

dan untuk orang lain yang berdosa karena saya, saya tidak akan lelah meminta agar Ia memaafkan kebodohan saya. saya tidak akan lelah memohon, agar jalan anda tetap lurus mengikuti alurNya.

kepada Ia segala perasaan ini saya kembalikan.