Of Anything Unbearable

By the time I write this, I’ve been spending quite some times to cry. And it is just the 5th day of Syawal. Shouldn’t I be happy that I’ve finally met the month of winning? Truth is, I was not. I am repeatedly thinking about one question.
Why do some things are unbearable?
Just as much as I try to think that He won’t give us burdens we cannot withstand, I, as human as I ever be, succumbed by things around me. Yes, the burdens aren’t mine, but why do I feel like I am the one who suffer?
I was spending 2 days with my great grandmother, she was brought to my house because my sister was getting engaged, and my grandmother cannot just leave my great grandmother at home alone. I rarely go home, so it is more rare to go to her house, maybe twice in six months? I don’t know, in short, I rarely met my great grandmother (and when I met her I usually just play with my phone). When she was at my home, and I got nothing to do, I tried to approach her. In her 90s I understand if she has lost a lot of her memories and she rarely remember recent things. I learned about geriatric, that’s why I was so chill when she became really annoying. Everyone was so done of her, but I was not. I can understand them because everyone meet her almost everyday while I just meet her in special occasions.
I tried to play with her once, I took my sister’s doll and give it to my great grandmother. Her respond was so hilarious I couldn’t stop myself from laughing. From that moment, I  thought I knew how to handle her chatty character. I kept coming to her and asked her things, although sometimes her answers were weirds, most of the times she answered me well. She asked me to peel off foods, and said thank you afterwards. Oh, she never forget saying thank you, not even once. She never forget to pray before she eats too. When my sister and her fiance was going to took her back to my grandmother’s house, I asked to join. I talked with my grandmother throughout the trip, and my great grandmother surprisingly massage my leg until we reached the destination, she even joined the conversations too and laugh when I made jokes. At her house, my grandmother, my sister, and her fiance talked in guest room while I took my great grandmother to her room. She wanted to pee, and I took her to bathroom when she suddenly peed herself right in front of the bathroom door. I panicked, of course, and called my grandmother. She came right away and wiped the mess. Know why I understand when everyone (my grandmother, my aunts and uncles, my cousins) was so done with my great grandmother? because I know this was what they faced everyday. They live near each other, and I do not blame them for being tired of taking care of my great grandmother, I know how exhausting it is. I took my great grandmother to her room again to change clothes. We then sat on the chairs in front of her room, while she chewed on breads and sipped her tea. She gave me some, but I said no. I asked her things, and she would answered.
At that moment, something hit me. I will go much more annoying than I am now, and people will throw me away much further than they ever done before. People cannot understand her; my great grandmother, neither they will to me. I suddenly felt so lonely in my heart, I saw people laughing in the guest room, and I took a glimpse to my great grandmother, focused on feeding herself, alone in her mind with no one understood her, and left her. She is not at fault, at all, neither are my other family who take care of her. Getting older is normal, so is getting tired. I just.. I cannot imagine what my great grandmother is feeling. How is that feel to have no one understands what you are saying, to have everyone getting mad at your behaviour, to have everyone chooses leaving you alone and have some fun because you definitely far away from the word amusing? How is that feel to go on living, and feel lonely until you meet the death? How could we, human beings, bear that much of torment?
I feel sad for myself, for everyone in this world who one day will be old enough to be left. I keep saying to myself, we were born alone, we will die alone. But to die alone and feel lonely, isn’t that too much?
I hope from now on when we wish for people to have a long live, we know the consequences and take a very serious note of it.

 

Advertisements

Ramadan Day 10-18: Ayam Barbekyu

Assalamualaikum!

Benar-benar aku tuh bilang nulis setiap hari tapi realisasinya seminggu sekali. Arrgghh maafkan aku T^T Okelah nggak apa-apa. Oh iya, sudah pada tahu belum ada insiden penembakan seorang paramedis Palestina oleh tentara Israel? Ya Allaah, sedih aku bacanya. Paramedis tersebut masih berusia 20-an, sama kayak aku, tapi dia sudah seberani itu maju ke garis terdepan menyelamatkan nyawa orang. Aku nggak mau membandingkan diriku sendiri, ofkors kapasitasku dan dia sangat berbeda. Tapi aku mau mengingatkan diriku dan kalian yang kebetulan baca ini, keberanian itu diusahakan, kebaikan itu dipaksakan. Kenapa? Kita nggak terlahir suci tanpa keinginan jahat, kita lahir dengan nafsu, itulah kenapa dalam Islam pun kita kenal yang namanya repent, memohon ampun, karena sebaik-baiknya kita, pasti ada celah buat kejahatan untuk terlaksana. Kita harus memaksa diri, supaya kebaikan kita nggak ditikung nafsu. Huhu.

Oiya, bicara tentang hal tersebut, ada yang pengen aku tulis sebenernya sejak lama. Aku tuh tipikal orang yang menggebu-nggebu (diawal doang, haha) dan cepet sedih kalau nggak mendapatkan sesuatu, kayak kecewanya lamaaaa banget gitu. Hih, suka kurang ikhlas emang anaknya. Pengen berbuat sesuatu tapi tidak diimbangi rasa mawas diri. Tiap baca tentang kisah orang yang sudah menemukan ini itu, melakukan ini itu, sering terlintas di benakku, “kamu kapan heeey?” nggak apa-apa, motivasi itu. Tapi kalau udah bikin pundung ya jatuhnya jelek juga. Sekarang udah agak mendingan nggak ambisi banget kayak dulu. Ada satu hal yang bikin aku sadar. Kebaikan nggak melulu nemu sesuatu. Mengikuti sesuatu juga kebaikan. Kita harusnya meluangkan fokus juga ke mengikuti sesuatu yang baik yang sudah ditemukan. Misal nih, ada yang bikin gerakan tumpuk di tengah, kan prestasi tuh menggalakkan kampanye seperti itu, ya kita mengikuti kampanye tersebut sudah termasuk kebaikkan kok. Misal ada sociopreneur yang menggagas platform yang memudahkan kita saling tolong menolong, dengan menggunakan platform tersebut kita juga sudah melakukan kebaikan. Jadi nggak usah sedih-sedih amat dengan hidup yang dirasa belum melakukan apapun. Dengan mengikuti kebaikan-kebaikan yang sudah digagas itu kita sebenarnya turut berkontribusi, kok.

Oke gitu dulu deh, yuk bersama-sama mengikuti kebaikan, bukan berarti kita menyerah untuk menjadi penggagas ya, nggak gitu juga, tapi kita paham porsi masing-masing. Bukan berarti tidak punya pencapaian itu benar-benar “tidak punya pencapaian”. Mungkin kita yang kurang menghargai setiap hal yang diri kita lakukan juga. Hehe. Semangat menjelang puasa hari ke-19!

P.S beberapa hari buka puasa menunya ayam mulu, ayam kecap ayam teriyaki ayam barbekyu, membuatku berniat hari ini buka menu anak ayam aja. Telur maksudnya((:

 

 

Ramadan Day 9: Sayur Asem

Assalamualaikum.

Hari ini aku buka puasa pakai sayur asem. Buka puasa nggak harus sama yang manis kalau aku mah, yang penting seger. Tapi ada yang aneh sama sayur asem Jember (yha ketahuan nggak masak sendiri malah beli hehe), masa ya sayur asemnya dikasih wortel. Hah. wortel gitu loh. Menambah panjang daftar makanan Jember yang dimasukin hal aneh (urutan pertama tetep soto yang dicemplungin tomat, wah ini sik benar-benar).

Eh tapi tahu nggak waktu aku komplain ke teman-teman, ternyata emang gitu loh sayur asem disini dan beberapa kota lainnya. Malah ada yang absurd lagi dicemplungin apa aja dah yang penting rasanya asem. Hm. Sebagai manusia legowo yang bisa menelan makanan apapun (kecuali asem banget atau pahit banget atau pedes banget), ya kumakan aja sayur asemnya. Tapi tetep, sayur asem Banyuwangi is the best.

Tahukah kalian, ternyata aku punya koneksi luar biasa sama makanan asal daerahku, sehingga makanan lain itu seperti punya dosa-dosa kecil yang bikin mereka tidak sempurna. “Jelas lah tomat itu haram hukumnya kalau dicemplungin ke dalam soto! Pelecehan terhadap soto itu namanya!” dan lain sebagainya. Bagiku soto sudah ada resep saklek yang tidak boleh diubah lagi, kalau diubah akan melanggar hak-hakku sebagai pemakan soto.

Ya, ini namanya entitlement. Sesuatu yang lagi kufikirkan hari ini karena kasus Bumi Manusia yang akan dijadikan film dan sederet kontroversi penyertanya.

Entitlement kalau hasil browsing di internet artinya the belief that one is inherently deserving of privileges or special treatment. Entitlement ini banyak dimiliki manusia (dan tidak pada tempatnya), termasuk aku terhadap soto. Termasuk pembaca terhadap buku. Termasuk penikmat film terhadap film. Termasuk fangirl terhadap idol. Termasuk kalian terhadap orang yang ditaksir tapi nggak paham kalau lagi ditaksir (hihi). Manusia-manusia ini merasa punya hak atas sesuatu yang mereka sukai hanya karena mereka suka hal tersebut. Padahal, the problem is, lah lau sokap?

Siapalah aku bagi soto dibanding penikmat soto lain?
Siapalah seorang pembaca terhadap buku dibanding pembaca yang lain?
Dst.

Entitlement ini membuat kita merasa spesial. “Woy, Bumi Manusia jangan di filmkan gitu aja dong ini namanya penghinaan terhadap Pram, sutradaranya udah baca bukunya belum sih? pemainnya udah baca bukunya belum sih?” Atau, “Ini nih jeleknya manga yang dijadikan anime! nggak lengkap!” Atau, “Temenku tuh nggak ngajak aku jalan padahal dia ngajak orang lain, kalau ada temen baru aja, temen lama dibuang!”

Come to think of it, we are all special, but not to the point we limit everything so it becomes about ourselves. Jadi begini, film Bumi Manusia tidak akan merusak sedikitpun isi bukunya. Tidak. Bumi Manusia will always be that legendary book. If the film turns out to be shitty, well, it’s the film. It’s never Pram’s writings that is shitty. It will never represent Pram’s writing. Hanya karena manganya membuat kita gelosoran karena bagus banget, bukan berarti animenya nggak harus dibuat karena takut mengecewakan. Peeps, stick with your mangas if you like it that much, no one asks you to watch anything based on it. Teman kita bukan hak milik kita, ya kalau dia mau main sama orang Belanda, orang Irlandia, atau yang lain tanpa ngajak kita, ya udah, ya nggak apa-apa, ya emang kenapa. They are never entitled to us. Befriend them because we like them, not because we think they are our friends so they should be with us no matter what.

Kebiasaan emang kalau udah suka sesuatu ngerasa kita aja yang berhak. “Oh ya? Ngefans BTS? Pasti karbit, aku dong sudah ngefans sebelum pre-debut.” Hm? “Ih suka bola biar apa? biar keren ya? karbit ih! aku dong udah suka sejak dalam kandungan!” Hm?

Our likings shouldn’t limit them only for us. They weren’t specially ours in the first place. Let people have experience things from them too. Let them give different feelings for people too.

Jadi gitu ya. Aku suka soto tanpa tomat, tapi aku nggak berhak menghardik orang-orang yang nyemplungin tomat ke dalam soto hanya karena aku suka soto. Aku tuh bukan siapa-siapa bagi soto (hiks). Begitu halnya kita dengan hal-hal lain yang kita sukai. Let’s put down the entitlement for awhile. What’s special about the things we like, let’s stick to it, let’s not intervene with their “duties” to other people.

Selamat menjalani ibadah puasa hari ke-10 besok! (udah masuk hari ini sih tapi nggak apa-apa plis) (:

P.S judulnya sayur asem tapi yang dibahas soto tandanya besok harus buka puasa pakai soto.

Ramadan Day 2-8: Bubur Mutiara

Assalamualaikum!

Ketahuan banget orangnya suka nggak menepati janji, baru hari pertama bilang posting tiap hari, eh hari kedua sampai kedelapan malah nggak nulis apapun. iya, iya, aku salah):

Sebenernya aku mau bilang sibuk, tapi, duh, sibuknya seorang Deuxy itu apa sih, mikir cari duit enggak, apalagi mikir negara. Cuma waktu sampai kos tiba-tiba udah rebahan di atas kasur terus tidur, jadi nggak bisa nulis. Hehe.

Hari ini aku mau ngomongin tentang janji, deh. that one thing people easily forget. Pernah nggak waktu dapat nilai jelek terus dalam hati ngomong, “besok-besok aku mau belajar lebih giat lagi”? Gimana? Sudah terlaksana? Kalau sudah, alhamdulillaah. Kalau belum, ya samaaa. Itu janji sama diri sendiri, lho. Janji sama orang lain gimana? “Iya aku janji nggak gampang marah lagi”, “iya aku janji bakal dengerin setiap kamu sedih”, “iya aku janji bakal support kamu terus”. Well, what about those things we’ve said that bring people’s hope up? Sudah terlaksana semua?

Ternyata nggak mudah ya menepati semua janji. Ternyata emang melakukan nggak semudah mengatakan. Tapi, apa itu berarti kita nggak boleh berjanji?

Oh, ya tentu boleh. Tapi janjinya diganti sama “berusaha”. Karena toh, nyatanya manusia nggak sekuat itu mengingat semua janjinya, apalagi menepati. Karena nyatanya, kadang kita juga mencari alasan supaya nggak usah memenuhi janji tersebut. Sometimes we forget, sometimes we just want to forget. Apakah sebuah kondisi merubah janji? No. Lain halnya kalau kita mengucapkan “berusaha”. “iya aku akan berusaha nggak gampang marah lagi”, “iya aku akan berusaha dengerin setiap kamu sedih”, “iya aku akan berusaha support kamu terus.” There will be times when a condition stops you from trying, but at least you tried. Tapi kita sudah berusaha. Tapi orang lain sudah tahu kita berusaha. Nggak ada harapan terlalu muluk bagi mereka, bahkan ketika kita nggak melakukan pun mereka akan tahu, “Oh, usahanya hanya segitu.” There will be scars, of course, but no wasted hopes.

Jadi, selamat berusaha(:

P.S Bubur mutiara enak banget loh apalagi dibikinin (apalagi nggak usah cuci mangkuk habis makan)

Ramadan Day 1: Chicken Pie

Assalamualaikum! Marhaban yaa Ramadan! Selamat datang di bulan suci penuh berkah!

Jadi setelah beberapa bulan nggak posting apapun, Ramadan kali ini aku berniat posting tiap hari sampai lebaran. Kenapa? Ya nggak apa-apa pengen aja hehehehehe.

Hari ini aku niatnya mau nulis tentang suatu hal eh tapi karena sebuah kondisi yang mengharuskan pulang nyaris tengah malam, nggak jadi deh. Post hari pertama Ramadan sebagai pembuka aja.

Terus, kenapa judulnya chicken pie? Karena aku pengen makan chicken pie. Nggak nyambung iya nggak apa-apa. Selamat menjalankan ibadah puasa dan ibadah lainnya! Tetap produktif, ya!  *ngomong sama cermin*

Anak Ayam

Kalau ditanya apakah aku suka hewan, jawabannya sudah pasti ya. Sejak kecil aku sudah memelihara beberapa jenis hewan. Yang pertama dulu tupai yang entah dari mana bisa ayah temukan dan bawa pulang. Yang kedua, kelinci. Sangat lucu, bulunya putih seperti salju dan matanya merah. Yang ketiga, hamster. Kubeli saat pergi ke pasar malam. Namun akhir dari kisahku dan hewan selalu sama; kami berpisah. Tupai dan hamsterku mati, sementara kelinciku kabur saat aku dan adikku sedang bermain. Sejak saat itu, mama tidak pernah mengijinkan aku untuk piara hewan lagi. Mungkin baginya, aku masih belum bertanggung jawab. Mamaku tidak pernah menganggap hewan hanya sekadar hewan. Mama selalu memandang mereka sebagai makhluk hidup yang butuh dirawat.

Saat SMA, aku tidak sengaja hampir menginjak anak ayam di halaman rumah nenekku. Yang pertama kupikirkan setelah kejadian itu bukannya penyesalan, namun malah kekaguman karena ya ampun, ayam kecil ternyata sangat lucu! Ketika aku meminta izin untuk memelihara anak ayam tersebut, mamaku mengiyakan dengan mudah. Aku sangat senang, mungkin menurut mama aku sudah dapat dipercaya mengingat umurku yang sudah menginjak 15 tahun. Setiap hari aku memberinya makan sambil membelai sayap kuningnya yang kecil. Anak ayam itu benar-benar hanya seukuran setengah telapak tanganku dan sangat menggemaskan. Namun ternyata nasib anak ayamku sama seperti hewan lain yang pernah kupelihara, ia mati setelah dua minggu kubawa ke rumah.

Hingga saat ini aku tidak pernah berencana memelihara hewan lagi. Meskipun aku sering berkeinginan membawa pulang kucing-kucing jalanan yang berkeliaran, aku tidak pernah benar-benar melakukannya. Aku memaafkan diriku sendiri saat tupai dan hamsterku mati, pun saat kelinciku kabur. Namun, aku sulit memaafkan diriku sendiri saat anak ayamku hanya bertahan dua minggu. Aku, diumurku yang sudah remaja, ternyata belum bisa memikul tanggung jawab kehidupan makhluk lain.

Suatu hari di kampus aku bertemu teman yang pendiam. Ia sangat mirip diriku yang dahulu, berpikiran A sampai Z namun tidak pernah mengungkapkan. Alasannya sederhana, karena aku dahulu—dan dia sekarang—merasa itu tidak perlu. Selain mirip diriku, aku merasa temanku ini mirip anak ayamku yang sudah mati. Bukan karena suaranya yang kecil dan mencicit—suaranya normal bahkan cenderung berat. Namun karena aku melihat ia sangat rapuh, persis anak ayamku yang ukurannya kurang dari sekepal genggaman jari.

“Bagaimana memulai sebuah pertemanan?” pertanyaannya padaku melalui media percakapan di internet.

Aku tidak segera membalasnya, melainkan hanya tertegun memandang layar ponselku. Kemudian aku bergumam, separuh berbisik kepada diriku sendiri. Memangnya bagaimana?

“Aku nggak tahu,” balasku singkat.

Ada beberapa pertanyaan di dunia ini yang lebih mudah ketimbang soal ujian tengah semester mata kuliah lingustik, tapi mungkin saking mudahnya, kita tidak pernah benar-benar memikirkan jawabannya.

“Kenapa kamu mau berteman sama aku?” ia bertanya lagi.

Apa pentingnya? Aku mengernyitkan alis sebelah kanan tanda heran. Anak ini kenapa sih pertanyaannya aneh-aneh?

“Memangnya kenapa?” aku membalas dengan sedikit harapan ia akan menyudahi pertanyaan anehnya.

“Aku mau tahu. Jawab dong.”

Oke, sepertinya harapanku sia-sia. Jadi kubalas saja pesannya, “Aku juga nggak tahu. Tiba-tiba aja kita berteman. Aku juga lupa awalnya. Hm.. gara-gara tugas kelompok leksiko bukan? Kayaknya iya deh. Memang kenapa, sih?”

“Hehe, kan aku udah bilang kalau mau tahu. Menurutmu kenapa karena tugas itu kita jadi berteman? Kan bisa saja habis presentasi kita nggak ngobrol lagi. Makanya aku mikir, bagaimana memulai sebuah pertemanan, karena kayaknya kita nggak mulai apa-apa tapi tiba-tiba berteman.”

Aku tertawa membaca balasannya. Temanku satu ini memang persis anak ayamku. Selain rapuh, kadang ia bisa tiba-tiba berisik sendiri, terlepas dari sikapnya sehari-hari yang dingin.

“Kamu kayak anak ayamku. Berisik.” Balasku.

“Lucu, dong. Siapa namanya?”

“Nyam-nyam, tapi udah mati.”

“JAHAT BANGET!”

Lagi-lagi aku terkekeh pelan. Sejujurnya aku jadi memikirkan pertanyaannya tadi. Mungkin aku tidak tahu bagaimana memulai sebuah pertemanan, tapi bukan berarti aku tidak pernah melakukan. Pasti aku melakukan, karena suatu hal tidak akan berjalan tanpa awalan. Tapi bisa saja awalan itu tidak terasa terlalu penting karena ternyata jauh lebih menyenangkan setelah dijalani. Bisa saja, kan?

“Buat beberapa hal, nggak penting kita tahu gimana mulainya, yang penting kita senang waktu menjalani.” Kutekan tombol kirim di layar ponselku.

Temanku itu seperti punya kolam di kepalanya, isinya pikirannya sendiri. Kadang aku sampai berusaha agar tidak tertidur karena ceritanya bisa memakan waktu 15 menit untuk satu kisah saja. Dengan mulutku ini, aku pasti hanya melakukannya dalam 2 menit. Kolam di kepalanya ini bagaikan ada sumbatan sehingga pikiran yang keluar melalui mulutnya hanya sedikit-sedikit.

Kadang ia merasa orang lain keren, bisa berbicara cepat, runtut dan mudah dipahami. Sementara ia merasa kemampuannya berkomunikasi tidak sehebat itu. Ia juga merasa kebanyakan orang yang suka berbicara juga suka mengeluh, dan itu merupakan salah satu hal yang tidak ia suka. Makanya ia selalu memilih diam, hanya berbicara yang perlu.

Pesanku tidak dibalas. Mungkin ia sudah tidur, atau mungkin ia sedang berpikir. Aku tidak masalah berteman dengan orang berisik maupun orang yang irit bicara. Setidaknya karena berteman dengannya, aku sekarang sedikit bisa memaafkan diriku sendiri perkara tanggung jawab yang selama ini kupikir belum kumiliki. Ya, memang belum sih. Tapi setidaknya aku berani mencoba mengasuh ‘anak ayam’ lainnya. Meskipun aku tidak harus memberi makan dan membersihkan kandang, tapi aku tahu aku harus merawat mereka. Entah itu dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tidak penting, mendengarkan cerita-cerita sedih, membantu memilihkan kalimat yang tepat saat diajak jalan oleh kakak kelas, apapun itu selama membuat mereka bahagia, aku akan berusaha melakukan. kebahagiaan, satu-satunya hal yang bisa kurawat dan membuktikan aku bisa bertanggung jawab dengan makhluk lain.

Seandainya temanku yang persis anak ayamku yang sudah mati ini tahu bahwa ia tidak perlu ceria seperti orang lain kalau memang itu tidak membuatnya nyaman. Seandainya ia tahu jika sifat kalemnya yang bikin mengantuk itu bisa membuatku sadar dan percaya diri bahwa aku bisa bertanggung jawab lagi. Tapi aku tidak akan memberi tahu, sih. Kalau suatu saat ia memutuskan untuk membersihkan kolam di kepalanya sehingga sumbatannya hilang, aku tetap akan senang untuknya, kok.

Mungkin setelah kuliah multikultural besok aku akan membawa pulang anak-anak kucing di depan gerbang fakultas. Sepertinya kini aku siap!


with the thought of a friend, M.

and those who think it’s weird to keep silent. No it’s not, as long as you want to.

Mungkin

Besok. Mungkin.

Baginya, waktu sudah sangat baik, maju satu per satu tiap detik tidak pernah lompat atau terjerembab. Tapi, orang-oranglah yang membuatnya meragukan lagi kebaikan itu. Baginya, waktu sudah sangat santai dengan berjalan di sampingnya bergandengan. Tapi, orang-oranglah yang membuatnya ingin menyeret waktu yang terasa bergerak lambat.

Lusa. Mungkin.

Sebenarnya ia tak masalah mau sendiri, mau berdua, mau berlima, mau satu desa. Tapi entah bagian mana dari tubuhnya—entah itu matanya, atau hidungnya, atau bibirnya, atau tahi lalat di telapak tangannya—yang berteriak bahwa dia butuh sebuah penggenap. Memangnya aku ini apa, pikirnya. Ia suka sesekali bercermin untuk melihat apakah dirinya seganjil itu, hingga tiap mulut bersikukuh ia perlu segera mencari kepingan hatinya yang bahkan ia sendiri saja tak tahu jika pernah hilang.

Minggu depan. Mungkin.

Kadang ia lelah mendengar pujian-pujian tentang dirinya. Halo, cantik. Katanya ia cantik. Halo, pintar. Katanya ia pintar. Kapan punya pacar? Namun akhirannya tetap sama. Apa tidak bisa ia cantik sendiri, pintar sendiri, untuk dirinya atau tukang sapu di ujung perempatan yang sering ia lewati atau penjual rujak yang mengerti ia suka cabai satu atau burung gereja yang singgah di atap kamarnya padahal bukan gereja. Apa tidak bisa ia cantik dan ia pintar untuk dunia. Apa ia harus cantik dan ia harus pintar untuk pacar.

Suatu hari nanti. Mungkin.

Biasanya ia hanya mengangguk dan tersenyum. Waktu yang baik terus difitnah kalau ia sedang maju meggerus usia. Pujian-pujian untuk dirinya menguap bersama dengan ungkapan ayo cepat, mau tunggu apa. Biasanya ia hanya menjawab satuan waktu yang diurutkan. Besok. Lusa. Minggu depan. Suatu hari nanti. Kemudian ia menambahkan kegetiran, ketidakpastian, yang sebenarnya biasa dalam kehidupan namun mulut mereka mengubahnya menjadi sesuatu yang menakutkan. Mungkin.


with the thought of my fairy, G.

and to women. your birth itself is a triumph.