Monokrom

Selamat!  Anda dinyatakan lulus SBMPTN 2017.

Anda diterima di Program Studi berikut:

PENDIDIKAN DOKTER

UNIVERSITAS JEMBER

Aku segera memeluk Mama dengan erat seraya menciumi pipi kanan dan kirinya berulang kali. Hatiku sesak akan rasa bangga. Akhirnya, aku bisa membuktikan satu pencapaian lagi untuknya. Mama, bocah lanang kesayangan Mama akan segera menjadi dokter!

***

Baju ganti? Cek.

Berkas verifikasi? Cek.

“Mas Iqbal, ayo cepat, nak. Keburu sore. Kalau sampainya terlalu malam, besok susah bangun pagi, lho.” Mama memanggilku dari ruang tamu.

Oke! Tidak ada yang tertinggal. Aku bergegas menggendong ranselku menuju arah suara Mama. Rasanya tidak sabar menunggu esok. Setelah verifikasi nanti, panggilanku sudah bukan calon mahasiswa kedokteran lagi, namun resmi menjadi mahasiswa kedokteran. Ah, besok aku juga akan bertemu teman-teman baru. Aku sudah tidak sabar melihat wajah Rania, anak SMAN 5 Surabaya yang foto profil whatsapp-nya terlewat cantik. Dia secantik itu tidak ya di dunia nyata?

Mama menggelengkan kepala melihat senyum di wajahku yang tak kunjung hilang. Mama ikut tersenyum pula. Senyum itu, senyum yang kulihat saat aku menjuarai lomba siswa berprestasi SD tingkat kabupaten, saat aku menduduki posisi best speaker National Speech Competition di tahun keduaku di SMA. Senyum bangga Mama! Dalam hati aku berjanji akan membuatnya tersenyum seperti itu sepanjang hidupku.

Selamat tinggal, Solo! Tunggu aku 5 tahun lagi dengan gelar dokter, ya!

***

Jam menunjukkan pukul 07.00 WIB, namun antrian untuk verifikasi calon mahasiswa baru sudah mengular. Aku kebagian urutan 150, padahal aku datang pukul 06.05. Sepertinya para calon mahasiswa baru ini sama excited-nya denganku, ya?

Antrian 149, 150, 151 dipersilahkan masuk aula. Masing-masing diarahkan ke kursi verifikasi di 3 barisan yang tersedia. Aku hanya diam saja mendengarkan pertanyaan-pertanyaan petugas kepada Mama dan Papa. Mereka terlihat tenang. Seperti yang mereka katakan, uang tidak menjadi urusan. Selama aku keterima, semahal apapun mereka akan mengusahakan biaya kuliahku. Akhirnya setelah 15 menit berbincang, biaya UKT yang dibebankan padaku sebesar 22 juta tiap semester. Aku menelan ludahku perlahan. Ini… Bukankah terlalu mahal? Tapi Papa tersenyum dan menepuk pundakku. Santai saja, tugasmu cuma belajar, ucapnya padaku tanpa suara.

Setelah penentuan UKT, orangtua dipersilahkan menunggu diluar, dan calon mahasiswa baru masuk ke ruangan lain untuk melakukan tes kesehatan. Aku memang tidak tinggi namun tidak juga terlalu pendek. Tinggiku 173 cm dengan berat badan 56 kg, cukup keren kan untuk pakai jas putih? Kujalani tiap tes satu per satu dan sampailah pada tes yang terakhir.

Tes buta warna.

“Coba Dik dibaca angka yang tertera dengan agak cepat, ya.” ucap dokter yang mengetesku.

Halaman pertama, aku cukup gugup. Aku belum pernah melakukan tes ini sebelumnya. Apakah itu angka 54 atau 74? Ah, mungkin 54.

Dokter itu membalikkan halaman dengan cepat. Halaman kedua, halaman ketiga, dan seterusnya. Keringat dingin mengucur deras melalui pelipisku. Mengapa angkanya hampir mirip? Aku hanya bisa menjawab sekitar 10 dari 15 lembar. Aku menunggu dokter itu untuk mengatakan sesuatu, tapi ia hanya diam saja, menulis-nulis di kertas diagnosisnya.

***

Aku dan orangtuaku dipanggil oleh seorang petugas. Kami masuk ke ruang tes kesehatan tadi. Namun kali ini, kami diajak ke sebuah bilik yang cukup sempit. Disana sudah menunggu dokter yang melakukan tes kesehatan padaku. dr. Aldi Nugraha, sebuah plakat nama bertengger di atas meja. Ada apa ini? Perasaanku tidak enak.

“Halo, selamat siang. Silahkan duduk, Pak, Bu, Dik Iqbal. Dari Solo ya? Kebetulan saya juga dari Solo, lho. Hehe.” sapa dokter Aldi.

“Iya, dokter. Mohon maaf kalau boleh tahu ini kenapa dipanggil kesini ya, dok? Anak saya kurang sehat?” Mama bertanya dengan tatapan menyelidik. Aku tahu, Mama pasti sedikit cemas.

“Bukan begitu, Bu. Anak Ibu sehat, kok. Sangat sehat secara fisik. Hanya saja…” dokter Aldi diam sejenak. “Hanya saja, secara genetik Dik Iqbal mengalami sedikit perbedaan. Dik Iqbal mengalami apa yang secara medis dikatakan sebagai buta warna parsial, Bu. Yaitu kondisi dimana Dik Iqbal akan mengalami kesulitan melihat perbedaan warna-warna, terutama saat digabungkan.” dokter Aldi memaparkan dengan nada sangat berhati-hati. Saat ia menyebut buta warna parsial, hatiku sudah hancur tidak berwujud.

“Te.. Terus, artinya saya tidak bisa diterima di fakultas kedokteran, dok?” aku merasakan air mataku meleleh perlahan-lahan. Buta warna parsial? Aku? Ini tidak mungkin. Mengapa aku? Mengapa harus mimpi terbesarku yang harus gagal terwujud? Mengapa saat aku sudah berniat setulus mungkin, berjuang sekeras yang kubisa, aku harus kalah dengan keadaan yang disebut kelainan genetik? Apakah aku memang ditakdirkan gagal bahkan saat rantai DNA-ku masih baru terpilin?

Kepalaku tidak bisa menerima kenyataan ini. Di otakku berlari-lari banyak pikiran. Ini salah orangtuaku! Mereka yang memberikanku gen bodoh berisi kelainan! Lalu aku melihat Mama yang ikut terisak mendengar penjelasan dokter Aldi. Senyum itu, senyum yang sempat kupersembahkan saat membuka situs SBMPTN, senyum itu hilang! Kini aku marah pada dokter Aldi, apakah semudah itu menentukan seseorang buta warna? Bagaimana bila aku hanya gugup saat tes tadi? Ia bahkan tidak merekomendasikan pemeriksaan genetika! Tapi ia seorang dokter, pengalamannya pasti berlembar-lembar sertifikat pelatihan. Ah! Aku benci! Aku benci pada diriku sendiri! Aku benci dengan mataku yang cacat, yang mengkhianati segala cita-cita dan usahaku untuk meraihnya. Aku tidak akan bisa menjadi dokter. Aku tidak bisa bukan karena aku bodoh, bukan karena usahaku minimal, aku tidak bisa jadi dokter karena mataku yang cacat! Aku benci diriku sendiri!

Aku berdiri dari kursi yang kududuki, tanpa kata-kata aku keluar dari ruang pemeriksaan. 5 langkah di depan pintu, aku terhenti. Kepalaku semakin pening. Penglihatanku meremang. Hal yang terakhir muncul di kepalaku ialah kata dokter gagal, lalu aku tidak ingat apa-apa lagi.

***

Ombak berkejaran dengan angin di pantai, menggelitik kakiku yang tidak bergeming — menggantung dari atas bongkahan karang besar.

“Mas, kenapa ya langit kok warnanya biru?” Adik perempuanku menepuk pundakku dari belakang.

“Kata siapa langit berwarna biru?”

“Lho, itu, lihat dong ke atas, warnanya biru gitu, kok.” Ia mengernyit.

“Bukan, langitnya abu-abu.”

Kernyitan di dahi adikku semakin rapat, ia hanya menatapku sinis lalu kembali memunguti kerang-kerang kecil di sekitar kakiku.

Bagi mereka, langit hari ini memang biru. Tapi bagiku, langit tidak akan pernah ganti dari abu-abu.


Terinspirasi oleh kisah seorang calon mahasiswa baru yang diperiksa oleh dokter pengajarku.

Semangat selalu, Dik. Siapapun kamu. Mimpimu nggak seharusnya berhenti hanya karena satu kelainan genetik. Kalau langitmu sekarang abu-abu, coba lihat cermin dan resapi kalimat yang-entah-diciptakan-oleh-siapa ini:

I think of you in colours that don’t exist.

Bisa jadi itu pikiran orang lain terhadapmu.

Siapa tahu, di duniamu yang hitam putih, kamulah pelangi yang kamu sendiri tidak sadari.

 

 

 

Back in the Days when I..

assalamualaikum~ I’m having difficulties to turn my thoughts into words karena terlalu banyak yang ingin ditulis tapi berakhir bagai rebusan air panas –menguap begitu saja. but here I am digging up my courage to start writing again because I recently have no life.

aku mau nulis tentang hal yang sedikit cheesy, boleh nggak ya? hehe. jadi, aku belakangan sering mikir tentang perasaan dan kesetiaan serasa gabut mikirin hal begitu padahal banyak tugas, yaAllah tolong. wow wow wow ada apakah dengan kedua hal tersebut? agak curhat sedikit, aku tipikal orang yang lumayan selow untuk urusan melow. aku memang bertekad untuk menganggap semua hal-hal berkaitan perasaan hanyalah bercanda belaka, tidak serius, karena selama tidak ada realisasi, berarti ya tidak ada hati. realisasi itu maksutnya ya ngerti sendiri lah ya. duh udah kayak cewek berprinsip nggak? hehe. menganggap bercanda itu bukan berarti ikut hahahihi menerima dan membalas sepik. cukup dengan tidak menanggapi dan tetap memegang teguh nilai-nilai pertemanan. karena tuh ya, dikira jaga hati gampang? hah? eh kok emosi. tapi emang nggak gampang, at least menurutku, karena buktinya aku masih kepincut dedek-dedek idol korea):

dari curhatan diatas mungkin bisa ditarik kesimpulan kalau aku sedikit mempertanyakan orang yang suka main-main sama perasaan. tebar bunga disetiap persimpangan jalan, misalnya. yang dicari apa? apalagi kalau ada yang suka berkata-kata manis. baik itu boleh, bermanis-manis ria yang kurang tepat. terlebih misalnya diakhir sampai bilang “lho ya kamu baper” atau “jangan baperlah, gitu doang”. haduh, orang baper itu tandanya sistem limbik otaknya masih jalan, fungsi luhurnya belum menurun, ya jelas dia punya perasaan. nggak bisa nyuruh nggak baper itu. apa ya nyuruh orang nggak merasakan perasaan berarti? tapi bukan berarti aku melegalkan baper, hanya untuk yang terlanjur kena serangan kata-kata manis, lebih baik ‘mengelola perasaan’. terbawa perasaan nggak apa-apa, tapi dipikir lagi, worth the time nggak, bawa untung apa bawa rugi, ada kejelasan atau main-main.

namun aku kembali lagi ke ucapan mbak yang selalu berusaha kuingat dan implementasikan, “nggak usah ngurusin orang”. mungkin orang lain punya alasan untuk bersikap seperti itu, dan bukan berarti aku atau sebagian orang yang menganggap perasaan dan kesetiaan sangat krusial lebih baik. orang bebas untuk mengungkapkan ekspresinya, hanya saja bagiku dan sebagian orang, perasaan nggak semudah itu diutarakan. ada banyak pertimbangan, sampai yakin kalau bisa bertanggungjawab atas perasaan tersebut, setia dan menepati yang telah diutarakan merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban. feelings aren’t toys, they aren’t fun to be played with.

dan yang bisa kulakukan mungkin menciptakan jarak untuk merefleksi, bukan berarti memusuhi, hanya saja sebagaimana aku menghargai orang lain, aku juga ingin menghargai diriku sendiri. kalimat janji semanis kesturi tidak akan berefek, karena aku percaya aku adalah melati, I got my own fragrance 😀


ditulis dengan bahagia dan rendah diri,

cheers!

suatu hari nanti, Langit

kamu tinggi sekali, hari ini

persis seperti dirimu dilain-lain waktu

kagumku terlepas

bagai balon terbang yang talinya terkelupas

maaf, untuk itu

kamu mungkin tidak sudi

mengapa tanah melirik-lirik sayu?

hanya saja aku malu

sekedar berbisik, “kamu hebat”

saja aku ragu

tapi kamu tinggi hari ini

sama seperti kamu dilain waktu

dan suatu hari nanti, Langit

mungkin aku berani

tersenyum dari bawah sini dan berkata,

“kamu hebat”

kamu selalu

 

#Ramadhan27: menjadi diri sendiri

aku punya beberapa kesukaan, salah satunya bercerita. entah itu menulis, entah itu berbicara. bukan, aku bukan ekstrovert, aku hanya senang mengeluarkan isi pikiranku. namun, terkadang aku berpikir. apakah orang lain pernah terganggu dengan aku yang berisik? apakah orang akan mencerca cuitanku di media sosial? apakah orang ingin menutup telinga ketika aku membuka mulut untuk bertutur kata?

kakakku berkata, pikiran orang lain bukan tanggung jawab kita. tapi aku masih tetap memikirkan ribuan bagaimana jika. aku seringkali menjauh dari diriku sendiri. aku ingin menjadi lemah lembut, padahal aku tahu, aku mudah sekali tertawa. aku ingin menahan pikiranku, padahal aku tahu, otak dan mulutku terintegrasi sempurna. aku ingin menjadi orang lain, agar orang lain menyukaiku.

tapi mulai kini, aku ingin menghargai diriku sendiri.

aku ingin tetap tertawa dan bercerita, tanpa mengkhawatirkan apa yang mereka pikirkan tentangku.

selama bahagiaku tidak tegak diatas luka, berarti aku masih boleh bahagia, kan?

aku ingin menjadi diriku sendiri.


p.s Ramadhan hampir pergi. semoga dapat berjumpa lagi tahun depan! maafkan rinduku yang semu, yang terucap tapi tidak bertindak.

#Ramadhan25: isu

“A new baby is like the beginning of all things – wonder, hope, a dream of possibilities” (Eda J. LeShan) Sudah lamaaa sekali saya mau nulis ini, mungkin draftnya udah ada di kepala sejak dua tahun yang lalu, namun baru bisa terealisasi saat ini. Saya masih ingat betul bulan Januari tahun 2013 lalu, saat putihnya […]

via Mitos Seputar Bayi Baru Lahir: Catatan Melahirkan di Inggris — Dewi Nur Aisyah

Penting untuk tidak menelan mentah-mentah informasi yang beredar. Ditimbang lagi baik buruknya, apakah yang selama ini kita yakini memang benar ataukah ego kita semata? (:

#RAMADHAN15: keping

Mau nangis sesenggukan, mau ngurung diri di kamar seminggu, nyatanya

Kuliah jurusan kedokteran, jurusan arsitektur, jurusan ekonomi syariah tetap sama beratnya

Hidup jadi manusia, jadi kambing, jadi sapi tetap sama susahnya

Maka itu, aku mengerucutkan pola pikirku jadi satu: manut saja sama Allah, yang penting bahagia.


Karena kalau kata quotes di tumblr itu, happiness is a state of mind 😀

#Ramadhan5: tali sepatu

“Kak, Arin mau keliling dunia. Arin mau melihat seberapa megah sih dunia ini, sampai orang-orang banyak yang mengagungkannya.”

“Nanti kalau sudah lulus SMA ya silahkan aja, Arin. sekarang bimbel dulu sana yang rajin.”

Ia tertawa manis, mengamit tanganku ke arah pedagang cilok di seberang alun-alun. baru setengah jalan, tali sepatu kanannya lepas –terinjak oleh kaki kirinya sendiri. ia tertawa lagi dan menepuk jidatnya, seakan mengutuk kebiasaan menginjak tali sepatu nya sendiri saat berjalan. kebiasaan yang aneh, dan entah mengapa kebiasaan itu sangat cocok dengan karakternya.

***

“Kak Bayu?”

aku baru hendak meninggalkan kedai buah ini, ketika suara seseorang menghentikan langkahku.

“Eh.. iya. hehe.” aku mengamati wajahnya, berusaha mengingat identitas wanita yang memanggil namaku tersebut.

“ingat saya nggak, Kak? saya Devi, adik kelas Kak Bayu. Dulu saya kelas 12 ipa 3, sekelas sama Arin.” ujarnya.

“Oh, Devi. ingat-ingat lupa sih, hehe. pengusaha buah nih sekarang, Dev?”

“usaha kecil-kecilan aja, Kak. Malas mau ikut-ikutan teman nyari kerja di perusahaan, nanti jarang pulang. Enakan jualan begini kerjanya di rumah. Udah denger kabar dari Arin belum, Kak? Keren ya dia sekarang, sebulan di Mesir, sebulan di Dubai, eh sebulan lagi udah sampai Perancis aja. kalau bulan depan dia ke Mars saya nggak bakal heran kayaknya. hahaha.” Devi menutup mulutnya sembari tertawa.

“Iya keren banget, Dev. kamu masih sering tukar kabar sama dia? salam ya, Dev. Eh aku pamit dulu ditunggu orang rumah, buahnya mau dibawa buat jenguk tetangga. yuk, Dev.”

Aku berjalan keluar dari kedai buah mungil milik Devi. Topik yang selalu dibicarakan ketika aku tidak sengaja berpapasan dengan adik-adik kelasku: Arin. Dua tahun yang lalu ia mengajakku bertemu tepat di hari buruh tanggal 1 Mei. Mungkin ingin bermain mumpung hari libur kuliah, pikirku. Namun ternyata, alasannya mengajak bertemu sungguh membuatku terhenyak. Tanpa ada masalah apapun ia memutuskan hubungan kami saat itu juga. tanpa basa-basi, tanpa air mata. Arin tidak menghubungiku lagi setelahnya, hingga saat ini. aku marah, jelas saja. Ia pikir 5 tahun kebersamaan kami hanya bercanda? dia bahkan sempat tersenyum ketika berkata, “Aku yakin Kak Bayu akan mengerti suatu saat. Arin ingin keliling dunia, Kak. Nggak tahu apakah Arin bisa ngajak Kakak dalam keadaan seperti ini.” Dan ya, jelas saja ia tidak mengajakku. tepatnya dia tidak mengajak siapapun, dan memulai pengembaraannya sebulan setelah gelar sarjana humaniora diraihnya setahun lalu. Pilihannya menjadi jurnalis sepertinya memang ditujukan untuk menuntaskan misi keliling dunia itu. Sejak ia mulai mengunjungi beberapa negara, aku menangkap hal yang berubah darinya. tulisan di blognya tetap tajam seperti biasa, tapi ada nyawa berbeda disana. aku merasakannya sebagai… akhir perjalanan? Ia bahkan belum mengunjungi semua benua, tapi tulisannya seperti mengisyaratkan bahwa Ia telah menemukan sesuatu. mungkinkah tujuan hidupnya? sesuatu seperti… keyakinan hatinya? Tuhan?

Tas plastik berisi buah di tangan kananku nyaris terlempar jika saja aku tidak segera menyeimbangkan badan, yang refleks membuyarkan lamunanku sepanjang kedai buah hingga parkiran mobil. tali sepatu kananku terlepas –kaki kiriku menginjaknya.

Arin, gadis itu. Ia memang selalu menginjak sendiri tali sepatunya. Tapi entah mengapa, satu hal yang kuyakini, Ia tak akan pernah menjilat sendiri kata-katanya.

mungkin aku akan mengerti seperti katanya.Kapan… aku tidak tahu. Entahlah, suatu saat nanti?


Allaah tidak menghamparkan bumi lengkap dengan detailnya, menegakkan langit ditaburi bintang-bintangnya, menerbitkan matahari dari timur dan menenggelamkan di barat, melainkan supaya kita melihat tanda-tanda kebesaranNya. setelah melihat… lantas apa?

jawabannya: hijrah (:

P.S

lagi keranjingan nyerpen dan muisi. maafkan ke-random-an cerpen/puisi di pos-pos berikutnya yang nggak nyambung dengan inti pesannya, ya! :3