Mungkin

Besok. Mungkin.

Baginya, waktu sudah sangat baik, maju satu per satu tiap detik tidak pernah lompat atau terjerembab. Tapi, orang-oranglah yang membuatnya meragukan lagi kebaikan itu. Baginya, waktu sudah sangat santai dengan berjalan di sampingnya bergandengan. Tapi, orang-oranglah yang membuatnya ingin menyeret waktu yang terasa bergerak lambat.

Lusa. Mungkin.

Sebenarnya ia tak masalah mau sendiri, mau berdua, mau berlima, mau satu desa. Tapi entah bagian mana dari tubuhnya—entah itu matanya, atau hidungnya, atau bibirnya, atau tahi lalat di telapak tangannya—yang berteriak bahwa dia butuh sebuah penggenap. Memangnya aku ini apa, pikirnya. Ia suka sesekali bercermin untuk melihat apakah dirinya seganjil itu, hingga tiap mulut bersikukuh ia perlu segera mencari kepingan hatinya yang bahkan ia sendiri saja tak tahu jika pernah hilang.

Minggu depan. Mungkin.

Kadang ia lelah mendengar pujian-pujian tentang dirinya. Halo, cantik. Katanya ia cantik. Halo, pintar. Katanya ia pintar. Kapan punya pacar? Namun akhirannya tetap sama. Apa tidak bisa ia cantik sendiri, pintar sendiri, untuk dirinya atau tukang sapu di ujung perempatan yang sering ia lewati atau penjual rujak yang mengerti ia suka cabai satu atau burung gereja yang singgah di atap kamarnya padahal bukan gereja. Apa tidak bisa ia cantik dan ia pintar untuk dunia. Apa ia harus cantik dan ia harus pintar untuk pacar.

Suatu hari nanti. Mungkin.

Biasanya ia hanya mengangguk dan tersenyum. Waktu yang baik terus difitnah kalau ia sedang maju meggerus usia. Pujian-pujian untuk dirinya menguap bersama dengan ungkapan ayo cepat, mau tunggu apa. Biasanya ia hanya menjawab satuan waktu yang diurutkan. Besok. Lusa. Minggu depan. Suatu hari nanti. Kemudian ia menambahkan kegetiran, ketidakpastian, yang sebenarnya biasa dalam kehidupan namun mulut mereka mengubahnya menjadi sesuatu yang menakutkan. Mungkin.


with the thought of my fairy, G.

and to women. your birth itself is a triumph.

Advertisements

BUMI

Aku hanya bisa tersenyum sinis melihat mereka—yang menamai diri sebagai pengikut sains—dengan gagahnya berteriak bahwa bumi itu bulat. Bukan, aku bukan penganut flat earth, hanya saja aku juga tidak percaya seutuhnya kalau bumi itu bulat.

“Merah! Kuning! Biru!” teriak laki-laki berusia 19 tahun di depanku yang sedang bermain balok warna; kakakku.

Aku memerhatikannya sembari berpikir. Kalau bumi itu bulat, kenapa masih ada satu kotak melingkupi diriku dengan label normal, dan kotak lain melingkupi kakakku dengan label idiot? Atau jangan-jangan hanya bumiku saja yang bulat, dimana orang-orangnya stabil, dapat berkomunikasi dengan baik, dan dapat melakukan segala hal dengan mandiri. Bumi kakakku mungkin kotak, isinya hanya orang-orang seperti dia yang makan saja harus disuap bahkan di umurnya yang ke-19 ini. Bumi kakakku sering terabaikan, mungkin karena tidak bulat, buminya mudah untuk didorong ke pojok untuk dilupakan, atau kalau masih ada yang berperasaan ya dikasihani. Karena buminya yang kotak ini kakakku sering kali meringkuk di sudut-sudutnya sambil menangis, atau tertawa sendiri tanpa ada yang melawak. Orang-orang biasa saja melihatnya, kan bumi mereka bulat, mereka hanya sesekali ikut tertawa karena ya ampun, lucu sekali orang ini tertawa sendiri, jelas saja kan dia idiot, mungkin itu gumaman mereka. Kalau kakakku mulai meracau dan berteriak karena terganggu lalat yang lewat saat diajak ibu belanja di pasar, orang-orang dari bumiku, bumi bulat, akan menoleh dan mengernyit. Kalau teriakan kakakku makin melengking dan mulai memukul-mukul kepalanya sendiri, orang-orang akan berhenti dengan wajah shock, seakan-akan beberapa detik setelahnya kakakku akan mengeluarkan bom dari balik selimut yang menutupi kakinya diatas kursi roda. Sekarang paham kenapa aku bilang kalau aku tidak percaya bumi itu bulat, kan?

“MAU HIJAU! HIJAU! AMBILKAN HIJAU!” mata kakakku bergerak cepat ke kanan dan kiri, mencari benda dengan warna hijau yang tidak dapat ditangkap indera penglihatannya.

Aku mengambil balok hijau di belakangnya dan meletakkan balok tersebut di tangannya. Kakakku tertawa, rongga mulutnya memperlihatkan giginya yang besar dan renggang berbaris rapi. Ku usap perlahan puncak kepalanya, tawanya melambat dan kini membentuk lekukan senyum dengan lesung pipi tipis tertanam di pipi kanannya. Di buminya yang kotak ini kakakku pasti merasa sepi. Semua orang di buminya selalu lari ke zona nyamannya sendiri-sendiri, ke sudut-sudut bumi yang jauh dari jangkauan agar tidak lekas merasa terusik. Sementara di bumiku yang bulat, orang-orang sibuk sekali bersosialisasi. Bahkan, karena sangat ingin saling terhubung, mereka menciptakan teknologi dimana orang bisa saling berbicara tanpa perlu bertatap muka. Orang bisa terjun dari curug di Sukabumi, bisa menyelami laut di Lombok, dan menunjukkan pada orang lain tanpa perlu mengajak orang tersebut. Di bumiku yang bulat, kami dituntut agar jangan lengah berkomunikasi, karena kalau lengah berarti harus siap-siap dijauhi. Apa namanya ya… Oh! Kudet. Kurang update. Kalau kita tidak mengikuti dinamisme maka kita akan dijuluki dengan panggilan itu. Sebenarnya, meskipun kami bergerombol di titik tengah bumi kami yang bulat sembari mengobrol, bercanda, dan lain sebagainya, namun di dasar hati kami lebih sepi daripada orang-orang di bumi kakakku yang kotak dan suka menyendiri di sudut-sudutnya. Banyak dari kami yang melakukannya hanya demi harga diri; agar tidak terlihat menyedihkan karena tak punya teman. Banyak juga yang tulus, sih. Tapi makna tulus yang paling kuat kutangkap malah bukan dari bumiku, melainkan dari bumi kakakku. Iya, dari bumi berbentuk kotak itu. Contohnya saat itu aku tidak sengaja menginjak baloknya yang berserakan di lantai dan jatuh tersungkur, membuat kakakku langsung marah dan membanting semua baloknya karena melihatku meringis kesakitan. Esoknya dia tidak mau bermain balok lagi selama seminggu. Aku kesal juga sebenarnya, itu kan salah kakakku yang tidak mau membereskan mainannya. Tapi aku lumayan terharu, kakakku ternyata tidak mau melihatku kesakitan. Pernah juga suatu hari aku terlambat memberikan jeli rasa stroberi kesukaannya karena di tempat lesku hujan deras dan pulangku jadi telat. Ia merangsek ke arahku saat baru membuka pintu dan menunjuk-nunjuk wajahku dengan ekpresi kesal seraya berteriak, “JELI!”. Namun saat kubuka tas dan mengambil jeli miliknya, ekspresi wajahnya berubah 180 derajat menjadi sangat bahagia diiringi tepukan kecil dari tangannya yang besar. Kemudian ia menarik tanganku dan mengajak untuk makan jeli bersama sambil menonton televisi. Kakakku tidak pernah marah lebih dari 5 detik, dan dia tak pernah mengingat kemarahannya apalagi menjadikannya dendam. Selama 16 tahun aku hidup, aku belum pernah merasakan ketulusan seperti itu. Aku berani jamin aku tidak akan pernah merasakannya lagi bahkan sampai aku berusia 70 tahun.

“main?” kakakku menarik ujung lengan bajuku, matanya yang bulat dan cokelat susu menatap lurus kearahku.

Aku menggeleng, sambil terus memerhatikannya yang kembali asyik menyusun balok warna. Kata orang-orang dari bumiku yang bulat, kami mirip. Bentuk wajahnya sama dengan wajahku; lonjong dengan batas rahang tegas dan tajam, kalau kata gadis-gadis dikelasku sih bisa untuk mengiris bawang. Warna iris mata kami pun sama-sama cokelat susu, turunan dari nenekku yang masih ada darah Belanda. Yang membuat kami berbeda hanyalah lesung pipi tipis di pipi kanan kakakku yang tidak kumiliki. Lesung pipinya, entah mengapa, menurutku lucu sekali. Itu membuatnya terlihat manis walau sedang berteriak-teriak. Mungkin itu juga tujuan Tuhan memberinya lesung pipi, agar ia tidak terlihat seram saat mengamuk, agar terlihat tetap rapuh walau tangannya siap menjambak siapapun yang lewat. Meskipun kata orang dari bumiku yang bulat ini kami mirip, tetap saja mereka meletakkan kami di struktur kelas sosial yang berbeda. Ya masuk akal sih, karena kakakku bukan dari bumi mereka, melainkan dari bumi lain yang bentuknya kotak. Kata orang-orang itu aku beruntung, terlahir tampan dan cerdas dengan kemampuan sosialisasi yang baik. Sementara kakakku, walaupun sama tampan, tapi dia kurang beruntung, karena harus seumur hidup bergantung pada ibu, ayah, dan aku. Mereka tidak tahu saja kalau kakakku itu sebenarnya lebih beruntung dariku. Dia bisa makan jeli rasa stroberi setiap hari tanpa harus dimarahi! Kalau aku melakukan itu, ibu pasti sudah menceramahiku tentang gula yang terkandung di jeli dapat membuat gigiku keropos. Tapi kata ibu, kami sama-sama beruntung karena punya ibu dan ayah yang menyayangi kami sama rata. Tentang itu aku setuju dengan ibu.

Walaupun bumi kami saat ini berbeda, bumiku berbentuk bulat dan buminya berbentuk kotak, namun dulu bumi kami pernah sama. Bumi kami elastis, bentuknya terserah saja, yang penting kami muat dan dapat bergerak bebas. Bumi itu bernama rahim ibu. Nanti, kalau aku dewasa dan tidak malas, bumi kami pasti akan sama lagi. Kali ini aku tidak mau memilih apakah bumi harus berbentuk bulat atau kotak, aku akan membuat bumi kami berbentuk seperti bunga. Terserah sajalah bunga apa, yang penting bunga. Supaya orang-orang yang hidup di permukaannya tetap indah sikapnya, tidak harus memisahkan orang seperti aku dan orang seperti kakakku dengan dikotomi-dikotomi yang mereka buat sendiri.


with the thought of my friend, N.
and to everyone with their siblings, love them for them despite anything.

Downpour

KUDAKPRO_2017-12-06-16-04-03_developed

-4 degrees. Seoul today, and it is the lowest temperature in this month. December 2023, exactly two years since my first arrival here. I remember it was also winter, my first time ever seeing snowflakes fell upon my hands, my shoes, my jacket; my first time ever inhaling oxygen in my dream city. It was cold, but not as cold as I thought. I could feel my teeth clicking but something made me keep smiling. My heart, and bunch of unexplainable exciting feelings inside.
The last bus will come in about 20 minutes. I sit on the long bench–with a longing heart. I was happy two years ago. I wrote my dreams on a A3-sized paper to be plastered on my wall once I get to the new dorm. It was nice to have dreams, just thinking of pursuing them made my blood flew faster from head to toe. At least that was what I felt in my few first months; happiness. Until that first problem came. I took my master degree in Seoul fully-funded by my country. And we–scholarship awardee–had been told before to not hoping too much. It was around July when I checked my bank account and found out that nothing had been sent, not even a sen. Good timing that it was Summer, I had my break time for a month so I went for a part time job. Everything seemed fine, I could handle my life and nothing serious happened.
I clench my fists to keep myself warm. I forgot to bring my gloves even though I know today is going to be real freezing. I think about home. And my mother. And my Father. And my Brother. I have this feeling lingers inside my chest for a long time but this time, 10 p.m at this quiet bus stop, it grows bigger and it feels more torturing. I miss them. And my little cat–which isn’t actually my cat but he sleeps mostly in my house anyway. My second problem came when it was around September last year. Still no money from the government, and I’ve spent more than half of my saving for a living. Autumn to winter, what a worst timing to suffer from hunger. It was cold and I need more fats, but all I could eat was beans, and ramen, and sometimes twice-heated curry. But it was still okay, I’d bear with any hardship as long as I don’t have problem with my study.
Winter wind becomes colder at night. Five more minutes and the bus will come. But since I came to Seoul time has been absurdly going faster and slower, matching it pace with my mood swings. Sometimes when I’m happy I wouldn’t know if the sun just set, because I felt like only laughed for about two minutes. But lately, time is running slower than ever. It began three months ago, when one of my professor told me to change my thesis title. Title. I already gave up my blood and tears for making it come true; I’m already half of my way and he suddenly told me to drastically change it. From the tittle to the conclusion. Title to conclusion. I told my mother I’ll come home soon. I told her to wait a little more. I told her that I’m only one step away from my master degree. I gave her hopes, but now I’m going backwards.
The snowflakes are falling down faster; it’s raining. I felt the chill spreading to my bones. I used to love winter and its cool breeze, but now not so much. Winter reminds me of dreams I once built, but I haven’t reach. Winter reminds me of how lonely I am, in a city I once dream to live in. Winter and its snowflakes and its freezing wind. I never felt so distant from my self, from my home. I never felt so lonely and missing my mother this much. I suddenly want to hug her, snuggle my giant feet into her tiny lap. It must be nice, to feel her warm breath blowing my neck. Please, just one time, I whispered. But nothing happens. I’m still here, at this quiet bus stop with cold bench and slippery pavement. I let the snowflakes touch my hands, my shoes, my jacket. It is cold but something is colder. My heart, and the unexpected wound that suddenly opens.

Some day, the cold rain will become warm tears
And fall down
It’s alright
It’s just a passing downpour


with the thought of my bestfriend, I.

read while listening to this song:

I.O.I – Downpour

 

Grow Like A Sycamore

Assalamualaikum. How are you doing, pumpkin? It’s raining a lot in here every evening. I’m trying to maintain my health so you please be healthy too, do not catch a flu.
You know, Ailah, 2017 almost ends. Another year has passed, but I’m still the same. Same achievements, same skills, same characters. But I do learn a lot, I do observe a lot.
Ailah, you will hear these often when you grow up: Life is hard, Life isn’t always fun, Life is this and life is that. People will tell you how the world works. Just like what I heard in my teenage years, just like what they told me. I agreed for some parts, but I believe in my own opinion for other parts. Ailah, you do not have to be what the world tells you to. If one day you find someone belittle other because they have higher position, you don’t have to follow them. You don’t have to believe that is how the world works. You can create your own little world, where there are only you and your good deeds. You can try to change others, but, pumpkin, if that is harder than you think, you may just do it yourself. You may betray the tyranny. If at some point you become a senior in whatever field you choose, treat your junior like human, like they eat the same rice as you, like they breath the same oxygen as you, like they have people who cherish them as you do. If you are the junior, please treat them as your teacher, please understand them like your mother, please respect them as someone who lives longer. The world needs you, maybe not all of the continents, but maybe the world that belongs to someone you meet at the bus stop, maybe the world of children at the orphanages near your dorm, or maybe, it’s my world, or even your own world. You do not have to follow the rules of the world where everything needs to be classified, where you should be higher to achieve more, where you should be prettier to be recognized, where you should be superior to have anything comes to your shoes. No, pumpkin. Please build your own world. Please follow what is right, not what is usually done. Grow up, darling, like a sycamore tree. Grow higher, but also stronger, and be a shelter. For yourself, for people around you. I hope one day I can meet you and tell you more about what I learnt and observed.
Now have a warm cuddle with the stars. Till we meet again in my dream, pumpkin.

Terbagi

“Tapi, Bu, seberapa jauh aku harus menomor duakan kebahagiaanku?” satu dua bulir air mata ikut terjatuh saat Ia menutup matanya di pangkuan Ibu.
“Apakah dengan menomor duakan kebahagiaanmu, mereka bahagia?” Ibu mengusap puncak kepalanya.
Ia mengangguk perlahan. “Mungkin bukan bahagia yang membuat dunia terasa warna-warni, tapi bahagia karena mereka tidak harus berjalan sendiri. Tidak harus memikul semua beban sendiri, ada kawan untuk berbagi beban. Bahagia jenis itu.”
“Lalu kamu, tidakkah kamu bahagia turut membantu memikul beban? tidakkah kamu senang berjalan beriringan? tidakkah kamu bahagia, jika mereka bahagia?”
Ia terdiam. Bukan itu maksudnya, Ibu tidak mengerti. Ia bahagia, tentu saja. Ia sangat senang membantu orang lain, semenjak kecil bahkan itu sudah menjadi tujuan hidupnya. Ia bahagia turut serta meringankan beban orang lain, ada rasa puas disana. Tapi bukan ini yang ia ingin sampaikan. Ibu tidak mengerti.
Ibu mengusap puncak kepalanya sekali lagi. “Sayang, ikuti kata hatimu. Ibu tidak tahu bahagia apa yang kamu kejar, Ibu tidak akan tahu rasanya karena hanya kamu yang paham. Bahagiamu, bahagia mereka, korelasi antara keduanya, Ibu tidak akan mengerti. Maafkan Ibu, Ibu hanya bisa menyuruhmu mengikuti kata hati.”
Bagaimana caranya ia mengikuti kata hati, kalau hatinya sendiri saja terbagi? Mana yang harus ia pilih, kalau hatinya sendiri saja menyuarakan dua hal dengan sama lantang?
Bahagiaku? Bahagia mereka? Menyakiti diri sendiri? Menyakiti orang lain?
Bulir air matanya semakin deras berjatuhan.

Do We Need to Change?

Assalamualaikum! semoga kita tetap sejahtera dibawah naungan Sang Pencipta, ya. Sudah lama nggak nulis begini karena aku lagi keranjingan bikin cerpen hahaha bahkan ya setiap denger beberapa baris lirik lagu atau lihat suatu kejadian aku langsung mikir “mau nulis ah yang plotnya gini!”. Memang asal nulis sih tapi rasanya seneng banget waktu udah jadi cerpennya, bener-bener peredam stres. Tadi aku habis minum kopi dan nggak bisa tidur padahal ada kuliah jam 5.45 akhirnya otakku yang terlalu sering mikir nggak penting ini memaksa untuk menulis sesuatu, ehem, curhatan yang juga nggak penting wkwk.
Aku cerita ke temanku kalau ada orang yang nggak sependapat dengan caraku berbicara (tentunya nggak ngomong langsung, tapi melalui orang lain). Nggak cuma teman yang sangat dekat, aku juga tanya ke teman yang cukup dekat menurut mereka aku harus gimana menanggapi hal tersebut. Dan tahu apa reaksi mereka?
Dua teman sangat dekat menganggap aku tidak perlu ambil pusing karena pasti ada aja orang yang bakal nggak suka entah apapun yang kita lakukan, satu teman cukup dekat berkata aku bahkan nggak butuh buat diberi comfort karena aku keras kepala, satu teman cukup dekat menasihati sebaiknya aku memikirkan ulang cara berbicara ke orang lain dan bijak ke diri sendiri seperti aku bijak ke orang lain. Ya, disini ada tiga pendapat yang berbeda. Aku condong kemana? Ya tentu saja ke dua teman yang nyuruh santai kan manusia seneng kalau didukung, akupun begitu wkwk. Tapi pendapat dua teman lainnya yang berbeda membuatku berpikir (yang pasti hal nggak penting juga.) Jadi akhir-akhir ini lagi rame berita seorang anak marah-marah ke selingkuhan ayahnya di mal. Reaksi orang beragam banget, yang aku baca kebanyakan mendukung anak ini dan perilakunya dianggap heroik. Aku? menurutku, it’s humiliating. Terus aku melihat sebuah tulisan lewat entah dimana tapi ya namanya anak nggak penting, kuingat-ingat dong wkwk intinya ialah jangan mengomentari sesuatu yang kamu belum pernah merasakannya. Aku ngomong itu humiliating karena aku nggak setuju ada adegan dorong-dorongan dan sumpah serapah di depan umum, sama aja kayak nangkep maling trus digebukin di TKP. Tapi aku bisa ngomong gitu karena keluargaku nggak pernah diterpa badai kayak keluarga anak itu, aku nggak tahu gimana kecewanya dia sampai melakukan itu. Orang yang mendukung anak itu pun nggak tahu gimana rasanya  didorong dan dicemooh di depan publik, meskipun karena salahnya sendiri. Ya intinya kita sampai sebatas itu aja kemampuannya: menduga, lalu berkomentar.
Hubungannya dengan masalahku ialah, aku nggak ngerti rasanya ada di posisi orang lain yang berbicara denganku. Aku terbiasa dengan sikap teman sangat dekatku, mereka ketawa-ketawa aja sama bercandaanku, mereka marah-marah aja kalau aku salah tapi ngomong langsung. Aku menduga, orang lain yang nggak mengerti karakterku juga akan bersikap sama dengan mereka. Aku menduga, orang lain akan sesederhana itu buat ngomong kalau kata-kataku menyakiti mereka, ketimbang hanya memendam dalam hati. Aku menduga, mereka akan tertawa karena candaanku yang cenderung sarkas layaknya teman sangat dekatku akan terpingkal-pingkal karenanya. Pun demikian dengan orang lain ini. Mereka bisa saja menduga berbagai macam interpretasi dari ucapanku dan caraku berbicara, yang sebenarnya bukan menjadi maksudku. Mereka bisa saja menduga mudah untukku mencoba berbicara lemah lembut, padahal aku semasa SMA berlatih untuk berbicara tanpa jeda dan leaking dalam 5 menit, yaitu saat ikut klub debat (bersama Khansa* juga, aku kangen Ca!). Mereka menduga mudah untukku menahan sesuatu dalam hati dan tidak menggebu-gebu dalam bersuara, padahal aku terbiasa menyuarakan pendapat di rumah dengan sangat ekspresif dan keluargaku oke dengan itu. Aku, orang-orang ini, hanya bisa menduga-duga. Dan sebenarnya kami tidak bertanggung jawab atas dugaan satu sama lain. Aku tidak bertanggung jawab atas pikiran mereka, mereka tidak bertanggung jawab atas pikiranku. Ini kucontoh dari role model andalanku; Mbakku. Beliau selalu bilang supaya aku memerdekakan pikiran, jangan mikirin pikiran orang lain. Yang tentu saja tidak bisa kulakukan karena aku kan suka mikir yang nggak penting wkwk. Tapi aku bisa mencari alternatif, yaitu memikirkan ulang sampai aku berhasil berpikir aku tidak perlu mikir. Ya memang ribet, dan benar-benar nggak penting. Dan pada akhirnya, aku sampai pada kesimpulan bahwa aku tidak perlu berubah, tapi aku perlu berbenah. Jangan sampai dugaanku pada orang lain terlalu sering menyakiti hati, tapi jangan sampai pula dugaan mereka mengkerdilkan jati diri.
Sekian hasil pemikiran nggak penting dini hari ini, kalau suatu hari aku berubah pikiran, ingat-ingat bahwa tulisan ini pun hasil menduga-duga makna dibalik sebuah peristiwa(:

P.S
*Khansa adalah temanku satu angkatan yang dulunya merupakan adik kelas SMA (tapi dia ikut program akselerasi sehingga lulus bersama), kami satu klub debat di kelas 2 dan 3 SMA sehingga sering menghabiskan sore dengan berlatih bersama walaupun tidak begitu akrab. Dia sudah tiada, jadi aku berharap jika ada yang meluangkan waktu membaca tulisan ini, mari berdoa untuknya dan keluarganya. Semoga tenang disana ya, Aca.

 

Bisik

Hari ini aku melihatnya tersenyum,” Ia berbisik.
setelah banyak sekali beban berat yang harus dipikirkannya. Aku tidak tahu darimana dia dapat sumber kekuatan, tapi aku senang, dia tidak lagi memasang wajah cemberut yang mengesalkan itu.
Hening.
Dia hebat, kapan ya dia akan sadar? dia selalu merasa rendah diri, salah satu karakter yang aku benci darinya. Tapi sebenarnya aku sedikit takut, kalau dia sadar dan menjadi sedikit congkak. Sepertinya tidak mungkin, tapi namanya juga manusia. Aku berharap dia tidak pernah melupakan tujuan utamanya. Aku ingin dia selalu menjadi orang yang tidak pernah melupakan orang lain, apalagi menjatuhkan.” Ia tersenyum kecil. Rambut di dahinya bergerak-gerak ke kanan; tersapu angin.
Di balkon kamarnya, setiap langit berubah warna dari biru menjadi jingga, Ia akan berbisik. Bukan pada telinga, yang menurutnya hanya akan mengendap di otak sang pendengar. Ia berbisik kepada dunia, agar kawanan burung yang tidak sengaja melintas bisa menyampaikan pada kawanan lain dan daun yang tidak sengaja gugur menyampaikan pada tanah dan cacing. Bisikannya akan terekam dalam molekul hujan yang suatu hari jatuh dengan sangat deras, mengalir bersama air sungai menuju laut, menguap bersama air laut membentuk awan. Bisikannya didengar oleh setiap sel makhluk hidup maupun unsur makhluk tak hidup.
Dalam bisikannya Ia meyisipkan keluh kesah, ungkapan syukur, harapan dan doa. Bisikannya membumi, dan akan selalu sampai kepada orang yang membuatnya sedih, orang yang mengukir senyumnya, orang yang selalu Ia simpan dalam setiap pinta. Bisikannya melangit, dan akan selalu sampai kepada pencipta burung, daun gugur, tanah, cacing, hujan, air sungai, air laut, awan–kepada Yang Maha Mendengar walau bisikannya kadang hanya berupa sengal tawa dan isakan tangis.


untuk yang sedang berjuang,
dari yang selalu berbisik.