21st of March

Aku tidak setuju kalau mereka bilang cantik itu relatif, karena gadis mungil yang sedang mengemut ibu jarinya di depanku ini benar-benar cantik absolut. kuelus pipi mulusnya perlahan, tidurnya pulas beralaskan lengan kiriku. Hari pertama aku melihatnya, aku tidak bisa menghilangkan pikiran-pikiran burukku akan masa depannya. Bisakah dia bertahan hidup di dunia yang kejam? Bisakah orang melihat dirinya sebagai manusia utuh, tanpa belas kasihan namun dengan toleransi? Gadisku yang cantik, tidak mungkin aku membiarkan orang mengatakannya tidak cantik. Hatinya baik, meskipun setiap hari aku harus menghabiskan sepertiga waktuku untuk membujuknya makan. Kalau tak suka, sendoknya akan ia lempar. Tapi kalau suka, ia akan tertawa sampai mata sipitnya tinggal segaris. Cantik sekali. Pantai-pantai yang telah aku kunjungi semasa muda tidak ada apa-apanya dibandingkan kecantikannya. Kadang kalau aku sibuk dengan tumpukan cucian dan membiarkannya bermain sendiri, ia akan berteriak kencang dan meraung-raung sambil menangis. “Ma…ma…!” usianya 5 tahun dan ia hanya bisa mengucapkan dua kata, Mama dan Papa. Tapi aku akan menghentikan semua kegiatan kala mulut kecilnya memanggilku. Indah sekali suaranya walau terkaburkan tangisan, tapi benar-benar aku menyukainya lebih dari suara merdu para penyanyi yang menang  penghargaan Grammy. Gadisku yang cantik, jahat sekali kalau ada yang menganggapnya tidak cantik. Ia sangat cantik, dan kalau setiap kecantikan dianggap relatif, aku tidak akan segan-segan memberi orang itu 1001 ceramah tentang kenapa ia harus menganggap gadisku cantik. Gadisku tidak pernah meminta terlahir dengan dua kata seumur hidupnya, dengan ketakutannya akan lingkungan sosial yang berlebihan, dengan kesulitannya melakukan hal-hal kecil setiap hari. Tapi terlepas dari itu semua, ia sangat cantik, apalagi saat ia menumpuk pakaian sesuai warna. Ia sangat suka warna, semua benda yang ia punya selalu dikelompokkan sesuai warna. Ia tidak bisa menyebutkan satu per satu nama warnanya tapi hatinya tahu mana kuning, mana hijau, mana merah. Gadisku yang cantik, kalau ada yang bilang ia tidak cantik akan kutunjukkan pada orang itu video saat gadisku kuajak ke kebun raya dan berteriak gembira melihat gerombolan bunga berbeda warna. Gadisku lebih cantik dari bunga. Setiap hari saat ia tertidur, pikiran-pikiran burukku akan masa depannya selalu kembali. Tetapi dengkur halusnya yang berirama menenangkan hatiku, gadis cantik ini tidak rugi sepeserpun walau dunia tidak mengindahkan kehadirannya. Gadisku tetap cantik; absolut dan paripurna.


21st of March, World Down Syndrome Day.

Jangan jadi dunia yang tidak mengindahkan kehadiran mereka ya. If we have the chance to make a difference and a better world for them to live in, take it! Participate, the simplest act matters.

Advertisements

Update in Life: Entering New Phase

Tanggal 17 Januari lalu aku sidang skripsi. Takut? Enggak. In fact, aku udah ngerasa cemas sejak awal semester 7, yaitu sekitar bulan September 2018. Jadi waktu menjelang sidang skripsi aku nggak takut, I’m so used to crying out of nowhere–I’m so used with my anxiety. Senang? Enggak. Aku sama sekali kehilangan rasa bersemangat untuk selebrasi. The anxiety is still there, lingering in the deepest part of my brain. Sebenarnya apa yang bikin cemas? Banyak. Semakin kesini, satu-satunya impianku cuma lulus kuliah. Aku sangat berharap lulus 3,5 tahun (yang beruntungnya dipermudah dengan campur tanganNya) hanya agar aku tidak perlu lama-lama berkubang dalam perasaan bersalah. Bahkan bangun tidur aja aku capek, pengen tidur lagi. Tapi aku harus melawan, untungnya rasionalitasku masih jalan. Lulus jadi sarjana bukan akhir segalanya, justru ini adalah tahap awal yang sebenarnya. Sebentar lagi aku harus memasuki masa koas, tantangan yang lebih besar daripada preklinik (yang bahkan udah cukup membuat terpuruk). Setiap hari selalu ada satu doa buat diriku sendiri, semoga aku kuat, itu saja. Tapi aku ingin menambah doa, semoga aku kembali menemukan tujuan utama yang mulai kabur ditengah perjalanan. Belakangan aku juga mulai melatih diri untuk menulis pencapaian-pencapaian yang kudapat setiap hari supaya lebih bersyukur. It works sometimes, ternyata aku nggak worthless amat, haha. So here is to a new journey, welcoming koas life, wish me luck and happy. Doakan aku segera jadi dokter yang profesional, ya.

IMG-20190117-WA0029

p.s kalau kalian pernah merasakan mood swing/sedih, kehilangan semangat, mudah lelah lebih dari 2 Minggu, segera periksa ke dokter. It’s okay, it’s biological and it’s non of your fault.

Langit Biru

Sudah menjadi takdir bahwa Langit suka berganti warna. Pada beberapa masa saat Langit seringkali menjadi kelabu, berubah jingga sebentar, lalu kelabu lagi, aku melirik cemas, takut sewaktu-waktu Ia akan runtuh. Tapi bukan Langit namanya jika Ia tidak menepis risaunya dan berdiri lagi. Mungkin dalam hatinya tahu, sudah semestinya Ia tegak dan menaungi. Hari ini, Ia memilih biru. Hujan yang kemarin Ia turunkan tampak tak berbekas, birunya kuat dan terang dan tak menyisakan sedikitpun awan putih yang biasanya melekat. Hari ini miliknya. Dan aku, seperti kemarin dan sebelumnya, ratusan kali berkata dalam hati, “Kamu tinggi,” seraya menengadah, “semoga selalu begitu.” Salah satu hal yang kusukai saat menatap Langit ialah keatas sana doaku terbang. Langit tidak tahu, tapi di sekelilingnyalah doaku merengkuh. Hari ini saat Langit sedang biru-birunya, aku bersyukur. Aku tidak pernah meminta Langit menjadi milikkku, Langit akan selalu membentang bagi semua orang, dan hal itu membuatku tenang. Aku senang langit sangat cerah diatas sana dan dari semua warna, Ia memilih biru.

Selamat berubah warna untuk Langit hari ini.

 

Adulthood

“Kalau nggak bisa cerita ke siapa pun, ditulis aja ya, Mbak..”
Begitu pesan Papa suatu sore ketika kami sedang telponan. Kuakui, aku ini egonya tinggi sekali. Sudah egonya tinggi, orangnya gampang mikir pula. Tiap ada masalah, aku cuma bisa cerita blak-blakan ke dua orang, Papa dan Mbakku. Kedua orang tersebut merupakan orang yang paling kupercaya karena ya memang mereka terikat hubungan darah denganku, dari kecil sudah paham watak dan karakterku seperti apa. Selain mereka, aku ya cerita sih ke beberapa orang. Tapi filternya udah kayak mesin hemodialisis; berlapis-lapis sampai kadang yang sebenarnya jadi pokok permasalahanku malah nggak bisa dilontarkan. Alhasil ya sama aja, tetep overthinking.
Sebenarnya, buat nulis aja aku juga mikir banget, ya iyalah dibagikan ke dunia dimana semua orang bisa baca tulisanku bikin aku belajar memilah dan memilih apa yang harus dibagikan. Beberapa bulan ini bahkan aku nggak nulis apapun, terlepas dari banyaknya ide atau imajinasi yang lari-lari di otakku. Tapi setelah sore itu, akhirnya hari ini aku memutuskan buat nulis. Iya, nulis karena aku punya masalah.
Aku selalu berpikir, tidak bijak membagikan masalah di dunia maya. Tapi setelah Papaku bilang gitu, aku jadi mikir ulang. Aku sampai pada sebuah kesimpulan bahwa nggak apa-apa, coping mechanism orang berbeda-beda. Lha orang yang nggak bisa dengan mudah cerita, gimana caranya supaya bisa meredam stresnya? Hanya saja, jangan sampai dengan menulis di dunia maya, masalah kita di dunia nyata jadi bertambah. Coping mechanism should make us feel better, not worsening the situation. Jadi kalau mau cerita, nggak apa-apa cerita. Carilah orang yang benar-benar dipercaya, yang lapang dada mendengar keluh kesah. Kalau nggak bisa, ditulis aja. Boleh di platform manapun, yang bikin nyaman, yang benar-benar bisa meredam stres. Atau boleh di buku harian, di sticky notes, di halaman belakang textbook, dilembar manapun yang disuka
Jadi dewasa itu bukannya bebas terhindar dari masalah, tapi belajar mengendalikan masalah. Belajar gimana supaya masalah itu nggak membuat terpuruk terus-menerus, tapi juga memacu buat mencari jalan keluar. Nggak mudah, tapi bukan berarti nggak bisa. Nggak cepat, tapi bukan berarti nggak mungkin. Kalau bukan karena Papa suruh nulis, mungkin sampai akhir tahun blog ini nggak ada postingan baru. Ternyata karena ada masalah, aku jadi blogging lagi. Isn’t it good, actually, that I start using my brain again to write? 😀

Between the bars

there is this song I like that talks about the love of an alcohol bottle to an alcoholic person. drink up, baby, stay up all night, with the things you could do, you won’t but you might, it said, the potential you’ll be, that you’ll never see, promises you’ll only make. imagine how lonely it might feel for the person, not knowing will she ever make it or not, sitting on a cold seat at the bar with low lighting. the bottle, on the other hand, knew she had everything she needs, that she definitely will make it. people you’ve been before that you don’t want around anymore, that push and shove and won’t bend to your will, I’ll keep them still, it promised. and that’s how she loved the only thing which understand her, the alcohol bottle, promising her to be okay, and drive them away, the images stuck in your headI’ll kiss you again, between the bars, there, there is where they will be forever.
so where have the people gone? people she loved? people who loved her?
no one knows, it is the bottle again and her and their love to each other. what to say? it stays there, it stays when people don’t. it cares when people left.
for the happiness, it thinks, for her happiness to lingers when nothing else can. between the bars it will find her. drink up with me now and forget all about the pressure of days, do what I say.

How Little is a Little

“In spite of everything, I still believe that people are really good at heart.”
Anne Frank

I once read over a platform that said making Kartini as a noblewoman who fought for gender equality is not too much like a lot of people think, although there are many other women who build schools for women etc, because Kartini is the representative that even in the hardest situation where we cannot do anything, having the slightest spirit matters, thinking and writing are also counted as a fight. I haven’t read Habis Gelap Terbitlah Terang yet, but I read A Diary of A Young Girl which has the same spirit as it is. Anne Frank, trapped in attic for years when the world was in chaos, chose to read and write as her alter ego. She wrote about the smallest event, her deepest secret and protest, her thoughts toward anything. Just like Kartini, Anne chose to fight with her mind, picking up pens and wrote everything down.

Both Kartini and Anne wouldn’t know if one day their name would be phenomenal. Kartini wouldn’t know (although she wished) that Indonesia would allow women to go to school, to work, to pursue what they want to do. Anne wouldn’t expect that her teenage diary filled with random things would reach the heart of thousand people thanking her for reminding what war brings. Anne wouldn’t even think of her diary to be read by a 19 years old (who is now 21), dozen years after her last time writing, and made that girl feels less alone on her breakdown moment and thought that people grow, mentally, and that’s a hope.

Me, and all of you mostly, wouldn’t know that maybe one thing we’ve done in the past would be really impactful for some people. Who knows? even exchanged letters from Kartini could make me and hundreds of women goes to medical school, joining organizations we want. Even diary of a mere Jewish girl could wake the world up of how horrible they are and become less barbaric. So who knows if one smile from me (or you) maybe give a 10 years old boy we met randomly after school spirit to have the same dream we live? Who knows if one critical thought I (or you) accidentally murmured can change someone’s way of thinking?

Kartini has no idea, and so was Anne, and maybe so are me and you.

How little is a little, then, if everything we does might actually make changes?